
Teror di kerajaan memberikan kengerian sendiri bagi penghuninya. Dari Rena aku mendapat kabar bahwa mayat yang ditemukan dipanggung adalah mayat dari murid disekolah, salah satunya adalah mayat putri yang perannya kugantikan di festival pembuka. Pembunuhan yang dilakukan sangat kejam, mereka disiksa terlebih dahulu sampai mati pelan-pelan. Orang gila mana yang bisa melakukan hal seperti itu ?
belum diketahui apakah kematian mereka ada hubungannya dengan pemberontakan kerajaan, karena mereka yang terbunuh tidak hanya berasal dari garduete.
namun, rupanya pembunuhan terhadap keenam bangsawan itu barulah permulaannya saja. Setelahnya, beberapa bangsawan dan putri menghilang secara misterius. Tidak diketahui nasibnya sampai sekarang. Beberapa lagi diserang di tempat dan diketemukan sudah meninggal. Kondisi sekolah mencekam. Banyak murid yang akhirnya dijemput kembali kerumah masing-masing. Sisanya yang bertahan mendapat pengawalan ketat.
Pangeran Sera kembali mengunjungi negeri ini. Tujuannya jelas untuk menemuiku. Namun Pangeran Riana memblokir aksesku dengan cara mengurungku diistananya. Penjagaan super ketat dilakukan, tidak ada seorangpun yang bisa masuk tanpa izin dari Pangeran. Aku tidak diizinkan keluar kamar. Hidup bagaikan burung dalam sangkar. Aku hanya tau berita dari Rena.
Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Pangeran Sera menempuh resiko untuk kembali. Terjadi ketegangan antara kedua negara. Pangeran sama sekali tidak mau menyerah untuk membawaku pergi sebagai tunangannya. Jika Garduete menyerahkanku, mereka juga akan kehilangan muka. Aku sama sekali tidak senang akan situasi yang ada. Kepalaku rasanya bisa pecah sewaktu-waktu.
Dari Rena pula aku mendapat kabar baik, Bangsawan Dalto telah kembali dari masa pemulihan setelah peristiwa tengelam itu. Dia kini sudah bersekolah seperti biasa.Aku lega karena dia baik-baik saja, mengingat kondisi sekolah yang sedang tidak aman akhir-akhir ini.
Penculikan dan pembunuhan masih terus berlanjut. Semua tenaga dikerahkan untuk mengamankan situasi.
Aku duduk di cendela dan melamun ketika Pangeran Riana datang. Semenjak kejadian itu, Aku sengaja menghindari Dia. Untungnya Dia jarang pulang sehingga Kami hampir tidak pernah bertemu. Tapi larut malam ini Dia kembali dan masuk kekamar. Aku takut ini bukan hal baik.
Pangeran duduk dan meminum anggurnya didekatku. Aku mengengam rapat kerah bajuku. Rasanya Aku ingin melarikan diri dari ruangan ini. Dua kali dia berusaha menyerangku, dua kali pula Aku diselamatkan panggilan kerajaan. Tapi, Aku tidak mungkin terus seberuntung itu.
Kami hanya diam. "Kau sudah mendengar Sera kembali kemari kan ?,Dia beralasan untuk memantau keamanan orang-orangnya sampai mereka kembali dengan selamat ke negerinya. Tapi Kau pasti tau alasan sebenarnya Dia kembali kemari kan ?"
Pangeran membuka obrolan yang ingin kuhindari. Jika Aku salah ucap dan menyulut emosinya. Akibatnya bisa fatal.
"Aku tidak meminta semua ini. Pangeran juga tentu mengerti kan ?. Aku bertahan tinggal didunia ini karena Ayahku. Aku tidak ingin statusku yang sekarang,Aku juga tidak ingin semua kemewahan yang Kalian janjikan. Aku tidak menginginkan semua itu sama sekali. Aku tidak mengerti kenapa kalian meributkan ini sepanjang waktu seolah-olah penting bagiku"
Aku menarik nafas panjang.
"Ini takdirmu. Kau tidak bisa memilihnya. Sekarang Kau harus tau, ketika Kau hidup menjadi anggota kerajaan,Kau akan mendapatkan penghormatan sekaligus bahaya yang mengancam setiap waktu.Ingat ini baik-baik"
"Apakah calon ratumu tidak marah ?" ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kau membiarkan Aku tinggal di istanamu, bahkan di kamarmu. Apa Kau tidak memikirkan perasannya ketika mendengar hal ini ?.Bukankah tugasmu untuk membuatnya mencintaimu agar negeri tetap stabil dibawah kekuasaanmu nanti"
"Kau begitu peduli hubunganku dengannya. kenapa ? apa Kau cemburu ?"
"Bukan seperti itu. Aku hanya berpikir apa yang Kau lakukan ini tidak akan adil baginya"
"Jika kondisi sudah terkendali nanti, Akan kuperkenalkan Dia padamu. Kau tenang saja....saat Kau resmi menjadi istriku tidak akan ada yang dapat mengoyahkan kedudukanmu"
Istri ?!. Apa artinya Dia berniat menjadikanku istri keduanya dan bukan hanya sebagai kekasihnya. Posisi yang begitu diinginkan wanita manapun. Wanita yang memiliki kekuasaan langsung dibawah Ratu.
Aku menghela nafas panjang.
"Aku tidak pernah berharap berbagi suami dengan orang lain. Di duniaku sana, Aku hanya mengenal satu suami untuk satu istri" kataku asal.
"Kalau begitu maumu, Jadilah Kau satu-satunya wanita yang akan mendampingiku nanti. Saat Kita menikah, Kupastikan tidak ada satupun wanita yang akan bersamaku selain dirimu"
Aku berdiri gugup. "Rayuanmu cukup bagus Pangeran.Darimana Pangeran mempelajari ini ?"
"Rayuan atau tidak, Kau bisa membuktikan sendiri"
"Berhentilah bercanda, Bagaimana jika calon ratumu mendengar.Aku tidak mau disebut sebagai perusak hubungan orang"
Pangeran ikut berdiri. Aku terkejut saat Dia memelukku dari belakang. Tanpa tendeng aling-aling Dia mencium leherku. Memberikan tanda merah disana.
"Tidak..." Aku berkilah menolaknya ketika Dia mencoba meraba tubuhku. "Pangeran...jangan.."
"Sshhhhh" Pangeran mendesis marah.
"Aku sedang halangan" kataku gugup."Kau tidak boleh melakukannya"
Pangeran diam sebentar berpikir. Lalu tanpa diduga dia mengangkat tubuhku ke dadanya. "Pangeran" panggilku panik. Dia membopongku begitu mudah.
Pangeran membawaku ke tempat tidur. Aku beringsut mundur. "Aku mohon jangan Pangeran"
Pangeran menarikku dan mendekapku kuat dalam pelukannya. Aku mengkeret ketakutan.
Tapi Pangeran tidak melakukan apapun. "Jangan memberontak atau Aku berubah pikiran" ujarnya ditelingaku menghentikan gerakanku. "Gadis pintar. Sekarang tidurlah" Ujar Pangeran pelan
Tidak berapa lama Pangeran sudah tertidur. Tapi gengaman tangannya begitu kuat membelenguku. Aku tidak berani melepaskan diri, khawatir Dia bangun dan melaksanakan ancamannya.
"Siapa kau" Aku mengerjap saat terdengar teriakan marah dari kamar sebelah.
Dimana Aku...?
Aku berada disebuah ruangan yang penuh dengan barang mewah. Penataannya yg sembarangan membuat semua barang ini seolah menjadi rongsokan. Ruangan ini terkesan norak dan terlalu dipaksakan.
"Berani sekali Kau masuk ke ruanganku"
Aku berjalan menuju ruang sebelah, mencoba melihat siapa yang berbicara. Suaranya terasa familiar, benar saja dugaanku. Bangsawan Doldores berdiri merapat ke tembok. Piyamanya bersimba darah segar dari lengannya yang terluka. Dia menatap garang kedepan. Di kakinya ada seorang gadis setengah telanjang terbaring. Jika melihat keadaannya, gadis itu sudah tidak bernyawa.
Seketika perutku diaduk. Aku ingin muntah. Perasaan mual menghantamku secara bertubi-tubi.
Bangsawan Doldores memegang pedang ditangannya, berusaha terlihat tegar. Seseorang yang mengenakan jubah dan penutup kepala hitam berdiri di depannya. Dia membisikkan sesuatu pada Bangsawan Doldores.
"Jadi itu kau ??" Bangsawan Doldores mengenali orang tersebut. Wajahnya merah padam karena amarah. Orang berjubah hitam tersebut memegang pedang yang berkilat,cukup tajam dan berbahaya. Tanpa peringatan Dia mengayuhkan pedang dan mencacah Bangsawan Doldores tanpa ampun. Lengkingan kesakitan terdengar pilu menusuk telinga.
Aku terbangun, tepat ketika pintu kamar dibuka dengan suara nyaring. Keringat membanjiri tubuhku. Lagi-lagi Aku bermimpi seperti itu. Kenapa mimpi-mimpiku semakin parah akhir-akhir ini. Pangeran Riana bergerak disampingku menatap kedepan dengan raut wajah tidak senang.Dia melirik ke cendela, diluar masih gelap. Hari masih malam. Bangsawan Voldermon melangkahkan kaki kedalam tanpa merasa bersalah.
"Aku senang melihat hubungan kalian sudah sejauh ini" Dendangnya nyaring.
"Ini tidak seperti yang Kau pikirkan" sergahku cepat. Aku beringsut dan turun dari ranjang. Kakiku masih gemetaran karena mimpi yang baru saja kualami.
"Ada apa denganmu, tampaknya Aku telah menganggu kesenangan kalian ?" Ujar Bangsawan Voldermon. Tampaknya Dia mengira keringat di wajahku sebagai sesuatu yang lain.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran langsung. Mengacuhkan candaan Bangsawan Voldermon.
"Norah diculik bersama dua putri lain ditempat berbeda"
__ADS_1
"Apa katamu ?"
"Lewat tengah malam, para pelayan yang melayaninya menemaninya untuk mandi, dengan alasan Dia tidak dapat tidur sebelum menyegarkan diri. Dia memasuki bak mandi sedang dua pelayan mempersiapkan keperluannya di ruangan sebelah. Mereka meninggalkannya tidak sampai lima menit dan saat mereka kembali Norah sudah tidak ada ditempatnya"
"Selain itu siapa lagi ?"
"Putri Zaneta dan Putri Fahrani, keduanya menghilang ditempat terpisah"
"Aku merasa masalah ini baru awal permulaan. Ada hal yang jauh lebih besar tersembunyi dibelakangnya. Bagi pelaku, pembunuhan Putri dan Bangsawan bukan tujuan sebenarnya, mereka hanya dijadikan selingan sementara sampai tujuan akhir terpenuhi"
"Maksudmu mereka hanya pengalihan. Tapi pelaku sangat nekat jika menggunakan para bangsawan sebagai peralihan"
"Justru dengan terbunuhnya para bangsawan kita akan lebih memfokuskan perlindungan dan penyelidikan terhadap mereka, pelaku dapat lebih mudah bergerak untuk bereaksi.Yang harus kita cari, apa yang diinginkan pelaku sebenarnya dari semua teror ini. Apa tujuan Dia yang utama"
Terdengar suara gulf. Bangsawan Voldermon meraba sakunya dan langsung mengangkat.
"Ada apa ?" Tanya Bangsawan Voldermon. Bayangan Bangsawan Asry muncul.
"Vold, Terjadi penyerangan Di rumah keluarga Doldores."
Jantungku berdetak kuat. Mimpi itu masih nyata. Aku mendekati Bangsawan Voldermon dan merebut gulf ditangannya. "Apa...apa ada seorang wanita setengah telanjang ada disana, Dia terluka di bagian kepala dan punggung. Aku tidak tahu apakah Dia masih hidup atau sudah mati ?" Tanyaku langsung pada Bangsawan Asry.
"Iya putri, Kami menemukan seorang gadis bersamanya. Seperti yang putri ceritakan...tapi..."
"Bangsawan Doldores meninggal dengan banyak sekali luka sabitan. Tubuhnya dicacah dengan pedang. Aku benar kan ?" Nafasku memburu. Tanganku bergetar hebat.
"Putri bagaimana putri mengetahuinya dengan tepat"
Aku hampir ambruk. Bangsawan Voldermon menyanggaku. Dia mendudukan ku di atas tempat tidur. Pangeran merebut gulf dari tanganku. "Kita bicara nanti" ujarnya sambil menutup gulf.
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Tubuhku bergetar. Aku sudah menduga, Mimpi-mimpi itu bukanlah hanya bunga tidur saja. Aku berada disana, melihat mereka terbunuh.
"Apa Kau baik-baik saja" tanya Bangsawan Voldermon menguncangkan bahuku. "Apa perlu Ku panggilkan tabib untuk memeriksamu ?"
Aku mengeleng. Air mataku mengalir deras menyadari kenyataan ini. "Aku melihat mereka semua terbunuh melalui mimpiku. Ayah,Sei, Bangsawan Doldores, Aku berada disana...menyaksikan bagaimana mereka terbunuh. Tapi, walau Aku berteriak untuk menghentikan, Mereka tidak mendengarku, Aku tidak dapat menyentuh mereka. Aku hanya bisa menyaksikan kematian mereka didepanku"
"Sejak kapan Kau mengalaminya" Tanya Pangeran serius.
"Sebelumnya Aku juga pernah melihat Mama kecelakaan, namun Aku hanya berpikir ini sebagai mimpi. Tapi disini, Mimpi-mimpi itu sering terjadi dan Aku tidak tahu kenapa ?"
Pangeran memelukku yang histeris. Aku menyusupkan wajahku ke dadanya. Mencoba melupakan mimpi yang telah Aku alami.
"Aku rasa Serfa harus mendengarnya" Ujar Bangsawan Voldermon serius. Tidak ada lagi candaan dalam suaranya.
Pendeta Serfa datang tidak berapa lama kemudian. Kami duduk di ruang kerja pangeran. Aku menceritakan semua mimpi yang ku alami. Pendeta Serfa diam bertanya satu dua kali padaku. Wajahnya berubah tegang.
"Kita harus bertemu Paduka Raja untuk memastikannya"
"Apa maksudmu ?"
Malam itu juga, Kami berempat berangkat langsung ke istana raja untuk menemui raja.
Raja masih mengantuk saat Kami tiba. Dia sudah menunggu kami di ruang pribadinya bersama Bangsawan Asry dan Bangsawan Xasfir. Pelayan menyiapkan minuman untuk kami, setelah itu mereka pergi. Ruangan ini tertutup sama sekali. Hanya kami bertujuh disini.
Raja mendengarkan penjelasan kami dengan penuh perhatian. Setelah kami bercerita Dia menganggukan kepala mengerti.
"Jadi begitu rupanya" Guman Raja pada diri sendiri.
"Yang Mulia, Apakah kecurigaan saya benar ?" tanya Serfa was-was.
"Sebelumnya Aku meminta sumpah setia kalian padaku. Aku tidak ingin apa yang kita bicarakan ini keluar dari ruangan ini"
Para Bangsawan menyetujui.
"Benar dugaanmu, Yuki adalah Ciel"
Aku mendengar tarikan nafas. "Sepertinya darah Ciel pada Putri Ransah akhirnya menurun pada Yuki. Ketika itu hanya Aku yang mengetahui rahasia ini. Yuki Aku harap Kau tidak membocorkan identitasmu ini pada siapapun. Nyawamu akan semakin terancam jika semakin banyak orang yang tahu. Apa Kau mengerti ?" tanya Raja.
Aku menganggukan kepala memahaminya.
Ciel.
Manusia yang diberikan beribu anugerah oleh dewa. Manusia istimewa yang konon segala doanya akan dikabulkan oleh dewa.
Tidak ada doa ciel yang tidak dikabulkan dewa. Di dunia ini keberadaan Ciel sangat langka. Hanya ada 1 : 2.000.000 manusia. Tidak semua keturunan Ciel mendapatkan darah Ciel, Namun sialnya...Aku mendapatkannya.
Seorang Ciel mempunyai kemampuan khusus yang tidak sama satu sama lainnya. Untukku, Aku dapat melihat kematian orang-orang terdekatku melalui mimpi. Namun Aku merasa, bukan itu, Daripada melihat kematian orang terdekat Aku lebih condong membawa dewa kematian kemanapun Aku berada yang membuat orang sekitarku mengalami kesialan. Aku yakin itulah kelebihanku yang sebenarnya.
Seorang Ciel sangat diburu oleh para penganut ilmu hitam. Karena jika di andaikan,syarat mendapatkan kekuatan luar biasa harus dengan membunuh satu juta perawan suci, maka dengan meminum darah satu ciel saja Dia sudah mendapatkan kekuatan berkali-kali lipat dasyatnya ketimbang harus membunuh satu juta perawan.
Hal yang lain dari seorang ciel adalah, sekali seseorang jatuh cinta pada Ciel, Dia akan mencintainya seumur hidup.
Apakah Pangeran Sera juga termasuk di dalamnya?. Apakah ini anugerah ?atau kutukan ?. Aku berusaha tidak memikirkannya.
Pangeran menduga seseorang mengetahui identitasku. Orang itu pasti sangat dekat denganku, jika tidak, Dia tidak akan mungkin mengetahui bahwa darah Ciel menurun kepadaku.
Sekarang terungkap, kenapa Ayah sangat ketakutan saat itu dan langsung memutuskan kembali. Dia mengetahui Aku seorang Ciel. Dia tau seseorang mengincarku, menginginkan darahku. Jika Aku sampai tertangkap bukan hanya Aku saja, Tapi akan banyak nyawa melayang akibat pengunaan kekuatan yang salah. Kenapa orang itu membunuh Ayah dan mencariku sampai membunuh sebagian besar pelayan di rumah ? Tentu saja Aku bisa menjawab sekarang. Aku ini seorang Ciel yang Dia butuhkan.
Mungkin benar kata pangeran, pembunuhan para bangsawan hanya sekedar pengalihan. Aku lah yang diincar.
Aku lah yang ingin dibunuh.
Hari ini Raja mengadakan jamuan untuk mengumpulkan para petinggi kerajaan dan bangsawan sembari membahas masalah yang terjadi. Aku didandani dengan perhiasan yang begitu banyak. Rasanya tidak nyaman sekali. Bukankah ini hanya perjamuan kecil yang dihadiri perwakilan saja. Tapi kenapa Aku harus berdandan seperti badut begini.
Pangeran menuntunku memasuki aula perjamuan. Kami duduk di meja panjang, sudah ada beberapa orang yang telah lebih dulu datang.
__ADS_1
Aku terkejut saat Pangeran Sera adalah salah satunya. Aku duduk di kursi disamping Pangeran Riana. Pangeran Sera bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Rasanya hanya Aku sendiri yang merasa tegang.
Raja datang tak lama kemudian. Perjamuan pun dimulai. Makanan disajikan, Aku berusaha mengikuti pembincangan yang ada, Tapi rasanya semuanya malah membuatku pusing.
"Aduh" Aku meletakkan sendokku.Tanpa sengaja lidahku tergigit saat aku mengunyah daging.
"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana sambil memegang bahuku. Menyuruhku untuk menghadap kearahnya.
"Aku mengigit lidahku sendiri" Mataku sampai berkaca-kaca menahan sakit. Aku mengambil sapu tangan putih di meja makan. Menempelkannya di lidah. Ada sedikit noda darah disana.
Dari sudut mata, Pangeran Sera berdiri. Dengan tenang, Dia berjalan ke arahku sambil mengulurkan sapu tangan yang telah dibasahi. "Tempelkan ini agar lukanya cepat kering" ujarnya lembut.
Aku menerima sapu tangannya yang ternyata dibasahi oleh air es, menempelkannya di lidahku.
"Terimakasih, rasanya sudah mendingan" Ujarku canggung. Pangeran Riana berdiri, menatap langsung kearah Pangeran Sera, siap mengajaknya bertarung. Sedang Pangeran Sera sendiri bersikap acuh. Pangeran Sera mengangkat dagunya sembari tersenyun penuh kemenangan. Para tamu undangan tampak gelisah, Khawatir jika terjadi pertingkaian diantara keduanya.
"Semua kembali ketempatnya" Perintah Raja tegas.
Aku menarik tangan Pangeran Riana agar duduk kembali. Pangeran Sera berbalik dan berjalan kembali ke bangkunya.
Jika Baginda Raja tidak ikut campur aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Maaf yang mulia, Apa saya boleh pergi ke balkon untuk merawat luka saya" Aku tahu Pangeran tidak akan memperbolehkanku berjalan jauh seorang diri apalagi ada Pangeran Sera disini. Karenanya, Aku meminta izin ke balkon yang dapat dipantau olehnya sewaktu-waktu.
"Ya pergilah,Tunggulah Kami disana sampai selesai" perintah Raja menyetujui.
Aku berdiri dengan hormat lalu segera berlalu pergi.
Aku duduk di balkon, menyaksikan pemandangan di bawahku. Lampu-lampu penerangan berkelap-kelip dibawah sana. Dari tempatku aku bisa melihat Aula yang lebih besar, tempat pertama kali Aku menginjakkan kakiku diperjamuan ini. Saat Raja mengadakan acara penyambutan untukku. Rasanya sudah lama sekali. Saat itu Ayah masih hidup, dengan bangga Dia mengajakku ke sana kemari, memperkenalkanku, kebahagiaan terasa disetiap tawanya. Aku berpaling, agar butiran air mata tidak jatuh. Ku alihkan pandanganku pada balkon tempat Bangsawan Dalto menemukanku sambil membawa seikat mawar besar. Kami pernah berdangsa disana. Menikmati alunan musik berdua. Apakah waktu itu Dia ingin menciumku ? Apa yang Kulakukan jika itu benar terjadi ?. Berbagai pertanyaan terus terlintas dikepalaku.
Rasanya aneh melihat situasi kami yang sekarang. Terpisah seolah tidak saling kenal. Aku tidak bisa mendekatinya seperti dulu. Andaikan boleh, Aku rela menukar semua posisiku sekarang hanya untuk kembali menjadi Yuki yang dulu.
Tiba-tiba dari kegelapan balkon di tempat Aku pernah berdansa dengan Bangsawan Dalto. Sesosok orang, mengenakan jubah hitam dan menutupi wajahnya dengan tudung muncul. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena jarak yang cukup jauh dan tudung yang menutupinya. Namun Aku tahu pasti, dalam mimpiku Aku telah beberapa kali melihatnya. Dia adalah orang yang telah membunuh Sei dan Bangsawan Doldores. Aku tidak mungkin salah.
Detak jantungku berdebar cukup keras. Rasanya tenggorokanku tercekat, Aku tidak dapat berteriak walaupun ingin. Aku hanya diam memandangnya.
Orang itu mengangkat tangannya. Dia membawa busur panah, membidikkannya kearahku.
Lari Yuki....Lariii......
Aku berusaha bergerak, Tapi Pikiran dan tubuhku tidak dapat berkerja sama. Aku hanya mampu bersandar ditembok. Menanti kematian.
Sssyuuuuuttttt
Panah dilepaskan, menghantam tepat disampingku.
Jjleppp !!!
Menancap menembus tembok. Dia kembali membidikkan panahnya.
Entah kekuatan dari mana, Akhirnya suaraku keluar. Aku berteriak sejadi-jadinya. Panah tersebut melesat, menancap di atas kepalaku. Jika tadi Aku tidak menunduk. Aku pasti sudah mati. Panah itu pasti sudah akan menembus tengkorakku.
Terdengar derap kaki mendekat.
"Yuki ada apa ?" Pangeran Riana muncul. dibelakangnya kerumunan orang berdatangan. Aku menatap Pangeran ketakutan. Tidak mampu bersuara. Tubuhku mengigil.
Pangeran segera merespon rasa takutku. Dia menyadari ada bahaya.
"Serangan...ada serangan...Lindungi Paduka Raja, Lindungi Pangeran dan Putri Yuki" Teriak Bangsawan Xasfir lantang. Pangeran menarikku ketika panah kembali melesat, mengores bahuku. Membawaku masuk kedalam ruangan.
Cendela-cendela besar ditutup rapat. Gorden diturunkan. Pangeran merengkuhku kuat dalam dadanya, sementara Aku masih mengigil ketakutan.
"Kalian ikut Aku ke aula utama sekarang. Blokir pintu masuk dan keluar, periksa dan tangkap semua yang mencurigakan di istana" Bangsawan xasfir berlalu pergi bersama pasukannya.
"Yuki apa kau baik-baik saja ?" tanya Raja cemas.
Aku menganggukan kepala. Tapi gigiku masih bergemeletuk menahan takut.
"Dia tidak baik-baik saja" Geram Pangeran marah. "Panggilkan Serfa sekarang" Perintah Pangeran lagi pada penjaga istana yang ada.
Tidak berapa lama Pendeta Serfa masuk dan memeriksa lukaku. Di luar sana para prajurit terdengar sibuk mencari sosok yang memanahku. Derap langkah mereka terdengar silih berganti.
"Orang tadi...adalah orang yang Ku lihat dalam mimpi...Dia yang membunuh mereka semua" bisikku lirih kepada Pendeta Serfa.
Pendeta serfa memberiku minuman, setelah meminumnya perasaanku menjadi lebih tenang. Dia mengobati lukaku dan membalutnya dengan perban dengan berhati-hati.
"Hanya panah biasa, tidak ada racun apapun. Saya sudah mengobati lukanya. Putri akan baik-baik saja"
Bangsawan Xasfir datang sambil membawa panah dan busur ditangannya. "Kita sedang menyisiri seluruh istana. Dia hanya meninggalkan ini ditempatnya"
"Tambah jumlah pasukan untuk mencari orang itu. Temukan dan seret Dia kehadapanku hidup atau mati." Perintah Pangeran tegas.
"Riana, Aku sudah menyiapkan pasukan. Kita bisa kembali ke istana sekarang" Bangsawan Asry muncul dibalik punggung Bangsawan Xasfir. Semua tampak tegang.
"Raja maaf, Aku harus membawa Yuki pergi dari sini" ujar Pangeran sembari memberi hormat pada Raja. Raja mengangguk memahami.
"Kalian jaga diri baik-baik. Siapapun Dia..selain gila Dia juga nekat karena berani menyerang Putri Yuki didekat kita. Kita harus sangat waspada"
"Terimakasih pengertiannya Yang Mulia. Kami pamit undur diri"
Aku menundukkan kepala memberi hormat. Pangeran Riana tanpa diduga langsung membopongku. "Aku bisa jalan sendiri"
Tapi pangeran sama sekali tidak mau melepaskanku. Dia mengendongku sampai ke kereta kuda yang telah menunggu. Wajahnya tegang mengandung amarah.
Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermon berjalan mengawal dengan pasukan terlatih. Pendeta Serfa ikut serta dalam kereta kuda. Bersiap jika ada serangan tak terduga.
__ADS_1