
Pangeran Riana memandang Yuki sesaat. Dia dengan tenang duduk di depan Yuki. Lutut Mereka saling bertemu. Kemudian Pangeran Riana mengulurkan tangan pada penjaga yang memegang piring di tangannya.
"Berikan itu padaku" ujar Pangeran Riana kepada Penjaga.
Penjaga maju dan memberikan piring berisi kue buah plum kepada Pangeran Riana. Yuki menundukan kepala, masih memasang aksi tutup mulut.
Pangeran Riana memandang Yuki dalam, menilai Yuki. Setelah itu Dia meletakan piring di pangkuan Yuki. "Makan" perintahnya tegas setelah terdiam beberapa saat.
"Aku tidak lapar" tolak Yuki dengan berani. "Kau tidak akan bisa memaksaku"
Para pelayan telah selesai membersihkan pecahan kaca. Mereka berdiri di pojok ruangan dengan sikap sopan.
"Kau yakin ?" Tanya Pangeran Riana sinis. Yuki menundukan pandangan, tidak menjawab.
Pangeran Riana mengambil sepotong kue dan mengigitnya di mulut. Yuki terkejut ketika Pangeran Riana tiba-tiba menarik tangannya dan menahan tengkuknya. Pangeran Riana memasukkan kue ke mulut Yuki dengan mulutnya.
Yuki tersentak mundur. Dia sangat terkejut. Tidak mengira Pangeran Riana akan senekat itu. Yuki refleks mendorong kembali kue di mulutnya dengan lidah sampai kue itu terjatuh di telapak tangan.
Para penjaga dan pelayan hanya menundukkan kepala ketika semua itu terjadi.
"Silahkan kalau Kau bersikeras tidak mau makan. Tapi Aku akan terus menyuapimu satu persatu seperti ini" ancam Pangeran Riana dingin membuat nyali Yuki menjadi ciut.
Pangeran Riana terus menatap lurus ke arah Yuki, sembari mengulurkan tangan untuk mengambil kembali kue buah plum di pangkuan Yuki. Dia mengigit Kue tersebut di mulutnya. Dan kembali menarik Yuki untuk mendekat.
Yuki langsung menahan pangeran dengan kedua tangannya. "Aku akan makan sendiri" kata Yuki dengan tergesa-gesa. Pangeran Riana menghentikan gerakannya. Dia memasukkan kue di mulutnya dan mengunyah. Tapi gestur tubuhnya memperlihatkan bahwa Dia menunggu Yuki membuktikan ucapannya.
Yuki mengambil sepotong kue buah plum dan memakannya. Pangeran Riana melihat puas. Dia kemudian berkata dengan tenang. "Kau harus ingat Yuki, semakin Kau melawanku. Semakin Aku mempunyai alasan untuk menyentuhmu" Ujung jarinya mengelus bahu Yuki yang terbuka. Bulu kuduk Yuki merinding di buatnya. Dia mengkeret, mundur untuk menjauhi Pangeran Riana. Dengan terpaksa Yuki makan kue plum meski sebenarnya Dia berniat untuk mogok makan sebelumnya.
Tapi jika karena aksinya, Pangeran Riana malah menyentuhnya. Dia lebih memilih mengurungkan niatnya.
Pangeran Riana mengubah posisinya. Duduk dengan tenang sembari menyilangkan kaki. Punggungnya di sandarkan dengan nyaman di sofa yang Dia duduki.
__ADS_1
Kdesokan harinya, Yuki terbangun dari tidurnya. Badannya sakit semua. Semalam Pangeran Riana tinggal di dalam kamar dan kembali memperkosanya berulang kali.
Pangeran Riana tidak memberikan waktu untuk Yuki beristirahat. Dia bahkan tidak perduli ketika Yuki bersikap dingin saat Pangeran Riana menyentuhnya.
Pangeran Riana tetap saja melakukan niatnya sampai tuntas.
Yuki memalingkan wajah untuk menengok ke belakang punggungnya. Tempat Pangeran Riana seharusnya berada di sana. Tapi Pangeran Riana sudah tidak ada di tempat tidur.
Yuki hanya ingat, pagi hampir menjelang ketika Pangeran Riana menjamah Yuki. Yuki yang kelelahan akibat pemerkosaan sebelumnya, di tambah fisiknya masih lemah akibat perjalanan antar dimensi akhirnya tidak sadarkan diri.
Dia bahkan nyaris tidak percaya jika Pangeran Riana ternyata terus memperkosanya meski Yuki sudah dalam keadaan pingsan.
Yuki menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Bergelung rapat menyembunyikan rasa frustasi yang menekan. Dia ingin kembali memejamkan mata dan tertidur ketika Yuki merasakan beberapa pasang mata sedang mengawasinya.
Ketika Yuki akhirnya membuka mata. Dia mendapati para pelayan sudah berjejer rapi mengelilingi tempat tidurnya, dengan di pimpin oleh pelayan tua suruhan ibu suri.
Mereka semua membawa perlengkapan di atas nampan. Pelayan Tua memberi hormat kemudian berkata dengan nada suara yang tidak dapat di bantah.
Yuki masih belum sepenuhnya sadar. Dia duduk dengan pikiran linglung. Pakaiannya yang berserakan di lantai semalam, telah di rapikan di keranjang pakaian kotor. Bercampur dengan pakaian milik Pangeran Riana.
Yuki hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana. Wajahnya memerah menahan malu, ketika menyadari semua pelayan pasti sudah menebak apa yang terjadi di antara Dia dan Pangeran Riana saat malam menjelang.
Yuki mencengkram selimut di dadanya, Dia binggung. Tidak tahu harus berbuat apa.
Pelayan tua kembali berkata begitu melihat Yuki yang masih terdiam di tempatnya. "Mari Putri, Kita harus bergegas. Ibu Suri sudah menunggu"
Yuki menatap pelayan terkejut. "Ibu Suri ?"
Yuki pernah mendengar sebelumnya dari Bangsawan Voldermont bahwa Pangeran Riana memiliki seorang nenek yang merupakan Ratu Garduete terdahulu. Karena penyakitnya Dia memilih tinggal di istana kecil sambil menggantikan tugas Ratu sebelum Ratu yang baru di tunjuk.
"Beliau adalah ibu kandung Raja Bardana dan juga wanita yang pernah menjadi Ratu di kerajaan Garduete" jelas Pelayan Tua kembali ketika melihat Yuki kebingungan.
__ADS_1
Yuki turun dari tempat tidur sambil membungkus tubuhnya menggunakan selimut. Aroma percintaan dengan Pangeran Riana tercium begitu lekat. Yuki ingin segera membersihkan badannya.
Lantai yang di pijak terasa dingin di kaki Yuki. Dia tidak mengenakan alas kaki. Berjalan menuju kamar mandi.
Alis Yuki bertaut, tampak kebingungan. Dia belum pernah bertemu dengan Ibu Suri sebelumnya. Dia tidak punya bayangan seperti apa Ibu Suri nantinya. Biasanya Rena akan menceritakan terlebih dahulu jika Yuki akan mengunjungi ke tempat atau orang-orang yang di anggap penting.
Rena...
Yuki terlonjak kaget. Menyadari sesuatu yang salah. Dia lantas berhenti dan berbalik dengan cepat menghadap Pelayan Tua yang berdiri di sampingnya, untuk mengawasi pekerjaan para pelayan di bawah tanggung jawabnya.
"Di mana Rena..pelayanku ?" Seharusnya Rena sudah mengetahui niat Pangeran Riana untuk membawa Yuki kembali. Tapi kemana Dia ?. Kenapa Dia tidak juga muncul di depan Yuki ?.
"Apakah Kalian bisa memanggilkan Rena untukku ?"
Para pelayan tampak diam dengan wajah kebingungan.
"Rena...pelayanku...Kalian mengenalnya kan ?" Tanya Yuki lagi dengan sikap tak sabar. Yuki mengenali beberapa pelayan yang ada di ruangan adalah pelayan yang dulu bertugas untuk melayaninya di bawah pengawasan Rena. Jadi tidak mungkin Mereka tidak mengenali Rena.
"Tentu saja Kami mengenalnya Putri. Tapi mohon maaf Dia tidak bisa melayani Putri kembali" kata Pelayan Tua itu dengan wajah angkuh.
"Apa...Kenapa ?" Yuki tampak terkejut.
"Dia sedang menjalani hukuman di penjara istana"
"Penjara ?" Yuki semakin binggung. "Kenapa Dia di penjara ?. Apa kesalahan yang di lakukannya ?. Kenapa tidak ada yang memberitahukanku sebelumnya ?"
"Maafkan Kami Tuan Putri, Kami tidak berani memberitahukan masalah ini pada Puteri karena melihat Putri masih bersedih. Ampunin Kami Putri" Para Pelayan muda yang mendengar nada kemarahan Yuki langsung berlutut untuk meminta maaf.
"Lancang sekali Kalian" seru Pelayan Tua tidak suka. Pelayan Tua tahu jika Rena kembali, Dia akan kehilangan otoritasnya yang sekarang.
"Siapa yang Kau sebut lancang ?" Tanya Yuki balik dengan suara jauh lebih keras daripada Pelayan Tua. Yuki tidak di ajari untuk bersikap tidak sopan pada yang lebih tua. Tapi kelakuan Pelayan Tua sudah kelewat batas. Meskipun Yuki sedang meratapi nasib, Dia masih bisa melihat bagaimana Pelayan Tua ini terlalu arogan pada pelayan lain yang berada di bawahnya.
__ADS_1