
"Kau ingin membunuhku Hah ?!" Tanya Panglima perang itu sambil melemparkan mangkuk ke depan pelayan. Mangkuk itu jatuh ke lantai. Isinya berhamburan.
"Ma..Maafkan Saya Tuan" Kata pelayan kecil itu dengan suara bergetar.
"Aku tidak terima ini. Lihat saja, Akan kupastikan Kau mendapatkan hukuman" gertak Panglima perang lagi tidak puas.
"Mohon ampuni hamba Tuan. Hamba bersalah" pinta Pelayan Kecil itu semakin ketakutan mendengar ancaman Panglima Perang.
Baru-baru ini Dia melihat temannya di pukul sampai tidak bisa bangun selama dua minggu. Semenjak Ibu Suri sakit. Seluruh rumah tangga istana dan pelayan di pegang oleh Putri Marsha sebagai tunangan Pangeran Riana. Namun Putri Marsha sangat kejam. Dia tidak segan-segan menghukum para pelayan dengan keras karena kesalahan kecil.
Yuki mengetahui semua. Termasuk kekejaman Putri Marsha dalam mengurus pelayan terutama yang bekerja di sekolah dan di istana Pangeran Riana.
Dia sangat kasihan melihat Pelayan kecil yang gemetaran. Ada sirat ketakutan di matanya yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Yuki merasa Dia tidak bisa mengabaikan pelayan itu begitu saja. Jadi Yuki bangun dan berjalan dengan sopan di depan pelayan itu. Kemudian dengan penuh hormat Dia membungkukan badan kepada Panglima Perang yang masih menatap pelayan kecil dengan tatapan penuh amarah.
"Mohon berbaik hati dan memaafkan Kami Tuan. Kami akan segera mengganti semua dengan yang baru" kata Yuki sopan.
"Siapa Kamu...berani sekali Kamu menyela pembicaraan Kami" tunjuk Panglima Perang pada Yuki dengan marah.
Yuki kembali membungkukan badan dengan hormat. Tetap bertahan di antara Panglima Perang dan Pelayan kecil. Seseorang maju dan membisikkan sesuatu ke telinga Panglima Perang.
"Oh...Jadi Kau adalah Pelayan Pribadi Lekky Darmount. Lantas kenapa ?. Apa Karena Kau pelayan pribadinya lantas Kau bisa bersikap kurang ajar padaku ?"
"Hamba sama sekali tidak memiliki niat seperti itu. Mohon maafkan Kami Tuan"
"Memaafkan, apa semua bisa selesai dengan kata Maaf ?" Tanya Panglima Perang keras sambil mengebrak meja marah.
Yuki diam dan tetap tidak bergeming.
Sikap Yuki membuat kemarahan Panglima Perang semakin besar. Tanpa di duga Panglima perang tersebut menarik pinggang Yuki mendekat. Yuki mencium bau alkohol dalam mulut Panglima Perang. Membuatnya mengerti kenapa Panglima Perang bereaksi berlebihan hanya karena Pelayan salah memberikan sup.
Kerudung di rambutnya melorot jatuh ke lantai ketika Yuki memberontak melepaskan diri.
"Lekky Darmount memiliki kriteria yang tinggi terhadap wanita yang di tidurinya. Aku jadi penasaran, seperti apa Kriteria wanita yang menjadi pelayan pribadinya ?"
Tanpa peringatan Panglima Perang itu menarik cadar yang menutupi wajah Yuki hingga terlepas.
__ADS_1
"Putri Yuki.."
Yuki membeku saat mendengar suara yang memanggil namanya. Dia mengenali suara itu.
Itu adalah suara Kepala Prajurit Gererou. Yuki tidak menyangka masih ada orang kepercayaan Pangeran Sera di Garduete dan tidak mengikuti kepergian Pangeran Sera meninggalkan Ibukota.
Panglima Perang yang melepaskan cadar Yuki juga terkejut saat mengetahui identitas asli Yuki. Yuki menyentakan tangan Panglima Perang hingga terlepas. Dia sangat binggung dan panik.
Sementara itu Kepala Penjaga Gererou sendiri tidak menyangka akan menemukan Putri Yuki di ruang makan sekolah. Dia baru saja datang untuk makan ketika terjadi keributan di dalam.
"Putri Yuki" panggil kepala penjaga Gererou sekali lagi.
Semua orang memandang Yuki penasaran. Terdengar bisik-bisik yang memenuhi ruangan seperti dengungan lebah.
Yuki mundur perlahan. Kemudian dengan cepat Dia berbalik dan berlari menuju pintu keluar.
"Putri Yuki" panggil Kepala Penjaga Gererou lagi nyaring. Dia segera meloncat untuk mengejar Yuki.
Yuki semakin mempercepat langkah kakinya. Dia menarik pintu dengan panik dan melangkah keluar.
Mata Yuki bertatapan langsung dengan mata dingin milik Pangeran Riana.
Mereka saling berhadapan dengan jarak dua langkah. Tepat di depan Yuki. Pangeran Riana tidak sendiri. Ada Putri Marsha, Bangsawan Xasfir dan Pendeta Serfa di dekatnya. Mereka semua sangat terkejut ketika melihat Yuki. Kemudian masing-masing memiliki reaksi yang berbeda terhadapnya.
Putri Marsha melotot tidak percaya. Wajahnya menunjukan amarah dan kebencian yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Bangsawan Xasfir masih memandang Yuki dengan sorot tidak percaya. Sementara Pendeta Serfa diam tanpa ekpresi.
Waktu seolah berhenti.
Semua membeku dalam satu waktu sampai ada suara Panggilan yang menyadarkan Yuki kembali.
"Putri Yuki.." panggil Kepala Prajurit Gererou yang hampir mengejar Yuki.
Yuki langsung menerjang ke depan dan menyeruak di antara Pangeran Riana dan Pendeta Serfa untuk mencari jalan melarikan diri.
__ADS_1
Langkah kaki yang mengejar semakin dekat. Yuki semakin panik hingga Dia hampir jatuh saat berlari sambil melompat menuruni dua anak tangga sekaligus. Lengannya di cekal dari belakang. Kepala Prajurit Gererou memanggil Yuki kembali dengan suara yang jauh lebih keras.
"Putri berhenti..."
Yuki berusaha melepaskan diri tapi tidak berhasil. Dalam kepanikan, Dia kemudian berteriak. "Lekky....Lekkkyyy" teriak Yuki memanggil nama Lekky untuk meminta bantuan.
Terdengar suara geraman binatang buas. Detik berikutnya Kepala Prajurit Gererou terpental ke atas dan kemudian jatuh berdebam di atas tanah. Darah keluar langsung dari mulutnya.
Yuki membuka.mata dan mendapati Curly sudah berdiri di depannya.
Tubuhnya sudah membesar sebesar beruang gunung. Menatap Kepala Prajurit Gererou dengan matanya yang berwarna merah cermerlang. Kedua tangannya terentang di samping tubuh dengan posisi mengancam. Kuku-kukunya runcing bahkan sanggup menggores besi baja. Air liurnya menetes di sela taringnya yang tajam, saat Dia menyeringai lebar ke arah Kepala Prajurit Gererou.
Semua orang jelas terkejut dengan kemunculan Curly. Apalagi dengan wujudnya yang sekarang.
Bangsawan Xasfir sudah mencabut pedangnya siap untuk menyerang. Yuki mengangkat tangannya memberi peringatan agar Bangsawan Xasfir tidak menganggu Curly.
"Curly...jangan...Curly" teriak Yuki panik ketika Curly menggesekkan kuku-kukunya yang setajam pisau sampai menimbulkan suara berderit yang membuat gigi menjadi ngilu di gigi. Bersiap untuk menyerang Kepala Prajurit Gererou yang masih berusaha berdiri dari tempatnya jatuh.
Curly berlari ke arah Kepala Prajurit Gererou. Mengindahkan teriakan Yuki. Satu tangan Curly terangkat tinggi ke udara. Siap mengayunkan ke arah Kepala Prajurit Gererou.
Semua orang berteriak panik.
Saat cakar Curly nyaris menyentuh tubuh Kepala Prajurit Gererou terdengar siulan panjang dan nyaring di udara.
Curly langsung merespon siulan itu. Dia langsung berpaling dan berdiri tegak. Melupakan Kepala Prajurit Gererou di bawahnya.
Lekky berdiri tenang tak jauh dari lokasi keributan. Dia terlihat tenang namun ketenangan yang justru sangat berbahaya. Di tangannya Dia menggengam kacang mete yang di goreng. Memakannya perlahan sambil melirik ke sekeliling untuk menilai.
Wajahnya datar tanpa ekpresi.
"Tuan Lekky.." panggil Curly penuh kasih sayang. Dia langsung merubah sosoknya kembali menjadi kecil dan melayang senang, terbang ke arah Lekky.
Yuki merasa lega ketika melihat kedatangan Lekky.
Yuki bertatapan mata dengan Lekky. Lekky merentangkan tangan menyambut Yuki. Tanpa berpikir panjang. Yuki langsung berlari ke arah Lekky dan memeluk Lekky erat. Lekky tidak mengatakan apapun. Setelah Yuki cukup tenang. Lekky melepaskan pelukannya dan merangkul bahu Yuki untuk mengajaknya pergi.
__ADS_1