Morning Dew

Morning Dew
33


__ADS_3

Yuki diam, memutuskan untuk menyerah membahas hal ini pada Rena karena ujung-ujungnya Rena akan memintanya bersikap baik kepada Pangeran Riana dengan harapan Pangeran Riana akan merubah keputusannya.


Dia tahu ini adalah hal mustahil. Yuki sudah lama curiga Pangeran Riana akan mencari alasan yang tepat agar membawanya ke istananya, Dia hanya tidak segera melakukannya karena masih menghormati Perdana Menteri Olwrendho. Yang Yuki tidak menduga adalah, Dia bukan dibawa ke istana Harem tapi justru ke istana Pangeran, bersebrangan kamar dengan Pangeran Riana.


Di dalam kamar, Yuki bagaikan burung dalam sangkar. Dia tidak diizinkan keluar dari kamar sedikitpun bahkan untuk menikmati embun pagi dari teras kamar. Badannya terasa pegal semua karena jarang bergerak. Mau bagaimana lagi, memang apa yang bisa dilakukan dalam kamar selain duduk dan tidur.


Saat sedang melamun, tiba-tiba terdengar suara keributan di luar kamar. Yuki dan Rena saling berpandangan sejenak, Mereka tampak kebingungan, kemudian tanpa diperintah keduanya sama-sama menuju cendela untuk mengetahui apa yang terjadi.


Hari sudah larut malam, biasanya Pangeran masuk ke kamarnya di jam-jam segini tanpa ada keributan. Para pelayan akan datang membawakan keperluan lalu keluar dengan singkat. 


"Pergi kalian !!" Terdengar suara Pangeran Riana disusul suara pintu yang ditutup dengan keras.


Suasana kali ini tampak berbeda dari biasanya, wajah-wajah panik para pelayan terlihat jelas. Mereka coba mengetuk pintu kamar Pangeran Riana yang baru tertutup, tapi tidak ada respon sama sekali.


Wajah mereka menjadi pucat pasi.


Yuki tidak tahan lagi, jadi Dia melangkah keluar kamar dan membuka pintu. Sepasang pedang tajam menyilang di depan matanya. Dua orang pengawal yang berjaga menghalangi langkahnya dengan pedang.


Jadi Yuki urung melanjutkan langkahnya ketika melihat kilau pedang di depannya. Tapi, Dia tidak masuk kembali ke dalam kamarnya dan sedikit melonggokan kepala untuk melihat keluar lebih jelas.


"Paman ada apa ?" Tanya Yuki mencoba menggali informasi dari Pengawal yang menjaga.


"Pangeran sepertinya sedang terluka, Tapi Dia tidak ingin seorangpun mendekat untuk mengobatinya" jelas Pengawal itu sembari memandang lurus. Ada aturan seorang pengawal atau pelayan Pria dilarang menatap lurus ke arah Wanita atau keluarga kerajaan perempuan jika Mereka sedang berbicara langsung.


"Bisakah Aku berbicara sendiri dengan para pelayan itu ?" Tanya Yuki kemudian. 


"Saya akan Panggilkan" Penjaga itu menundukkan kepala sebentar, Dia kemudian berjalan menuju para pelayan yang berkerumun di depan pintu dengan wajah kebingungan.


Ketika penjaga tiba, kepala pelayan dalam kelompok maju. Mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya Mereka berdua berjalan menuju kamar Yuki.


"Ampun Putri, Pangeran baru saja tertimpa peti saat membangun gerbang festival sekolah. Meskipun sudah diobati, kemungkinan besar Pangeran akan mengalami demam tinggi malam ini. Tapi Pangeran tidak mengizinkan Kami untuk merawat. Jika terjadi sesuatu pada Pangeran Kami semua akan dihukum. Bagaimana ini Putri" ujar kepala pelayan dengan wajah memelas begitu tiba di depan Yuki.


"Kenapa Dia bisa tertimpa peti ?" Tanya Yuki lagi berusaha mencerna kejadian dengan baik. Jika dilihat dari sifatnya, Pangeran Riana bukanlah orang yang ceroboh dan sigap.

__ADS_1


"Pangeran hendak menolong seekor induk kucing dan anak-anaknya yang sedang tidur didekat peti yang di tumpuk, ketika peti-peti itu berjatuhan agar tidak menimpa Mereka, Pangeran menghalangi dengan badannya"


Kucing !!?


Yuki sama sekali tidak bisa membayangkan, orang yang kejam dan dingin itu masih punya hati nurani untuk peduli kucing.


Dia melihat kecemasan di wajah pelayan dan berfikir.


"Baiklah, Aku akan masuk dan membantu merawat lukanya" ujar Yuki akhirnya.


"Pangeran meminta Putri untuk tidak keluar kamar" tolak pengawal tegas.


Yuki memutar bola matanya, merasa konyol. 


"Aku tahu, tapi jika sampai terjadi apa-apa dengan Pangeran apa kalian mau menanggungnya" tanyaku kesal. Para penjaga itu terdiam, Yuki kemudian berkata lagi dengan nada lebih datar. "Aku janji hanya akan masuk dan merawatnya"


Para Penjaga saling berpandangan. Setelah berpikir panjang, Mereka akhirnya menyarungkan pedangnya dan menyingkir. "Baiklah Putri, silahkan" ujar Penjaga memberi jalan.


Yuki menepuk pundak Rena dengan ringan. Dia tersenyum menenangkan. "Jangan khawatir, jika ini berakhir dengan buruk, Kau adalah pelayanku tersayang, Pasti Aku akan mengajakmu ikut serta menikmati hukumannya"


Rena mendorong Yuki kesal. "Putri menyebalkan"


Yuki tertawa. Dia melangkahkan kaki menuju kamar Pangeran diikuti yang lain dari belakang. Rena menyodorkan keranjang berisi perlengkapan yang dibawa pelayan.


"Putri berhati-hatilah" ujar Rena tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.


Perlahan, Yuki membuka pintu dan masuk ke dalam. 


Ruangan ini cukup besar, diisi perabotan dari kayu dengan kualitas nomer satu.


Ada Rak besar di sebelah utara dengan meja kerja di depannya, jelas ini ruang kerja Pangeran. Ada satu set meja dan kursi yang digunakan untuk menerima tamu. Di sampingnya, ada cendela besar yang berhadapan langsung dengan kamar Yuki. Dari cendela itu, Yuki bisa melihat seluruh ruangan di kamarnya dengan jelas. Yuki mengingatkan dirinya untuk menutup semua tirai cendela nanti.


Ada sebuah pintu di ruangan itu. Yuki menghampiri pintu dan mengetuknya perlahan. Terdengar suara penuh ancaman milik Pangeran Riana dari dalam yang nyaris membuat Yuki berlari pergi. "Bukankah sudah kuperintahkan kalian pergi ?" 

__ADS_1


"Ini Aku, Yuki, Apa Aku boleh masuk ?" Tanya Yuki berusaha tenang.


Tidak ada jawaban. Yuki menunggu sejenak sembari berhitung dalam hati. Jika sampai hitungan sepuluh Pangeran Riana tidak keluar, Dia akan meninggalkan kamar ini.


Di hitungan ke tujuh, pada akhirnya Pintu kamar terbuka. Yuki menarik nafas dalam. Dia sangat tegang. 


Pangeran Riana keluar dengan bertelanjang dada, luka memar terlihat jelas di sepanjang bahu kiri sampai punggungnya. 


"Ada apa ?" Tanya Pangeran ketika melihat Yuki hanya diam mematung di depannya.


Yuki tergagap sebelum akhirnya Bisa menguasai diri.


"Aku dengar Kau terluka, jadi Aku datang untuk melihatmu" 


"Sudah malam, istirahatlah" Pangeran Riana hendak berbalik tapi Yuki langsung mencegahnya, Dia menatap Pangeran dengan pandangan memohon.


"Biarkan Aku melihat lukamu dulu" pinta Yuki cepat.


Pangeran Riana tidak menjawab, Dia masuk kembali ke dalam kamar tanpa menutup pintu. Yuki bimbang sesaat, namun pada akhirnya Dia melangkah masuk ke dalam kamar.


Kamar Pangeran Riana terbilang sederhana untuk ukuran perwaris tahtah sebesar kerajaan Garduete, tapi Yuki tidak akan tertipu, semua bahan dan perabotan di dalamnya pasti dari bahan berkualitas terbaik.


"Duduklah" pinta Yuki sembari menunjuk pinggir tempat tidur. Pangeran menurut. Dia duduk dengan tenang. Yuki menghampiri dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Dia meletakkan keranjang di samping Pangeran Riana.


"Aku akan memeriksa lukamu, jadilah anak baik dan jangan macam-macam" ancam Yuki cepat.


Pangeran Riana tersenyum sinis. "Jika Kau takut, kenapa Kau masuk ke kamarku ?, Bukankah ini artinya Kau yang mengundangku terlebih dahulu"


"Cukup main-mainnya, Aku ke sini untuk merawat lukamu" gerutu Yuki dengan wajah kesal. 


Dia masih ingat dengan jelas ketika Pangeran Riana menyerangnya, Jika dibilang tidak takut itu bohong. Tapi Dia tidak mungkin membiarkan lukanya tidak dirawat, meskipun sebenarnya bukan kewajiban Yuki untuk merawat Pangeran Riana.


 

__ADS_1


__ADS_2