
Belum Yuki terbebas dari rasa sakit yang ada. Tubuhnya di tarik paksa hingga terlentang. Kemudian dua buah tamparan mendarat keras di kedua pipi Yuki.
"Aku tidak ingin melakukannya, tapi Kau yang meminta" bisik Rafael di telinga Yuki.
Yuki sudah tidak bisa melawan. Sementara itu Rafael tanpa sungkan langsung mencumbui leher dan dada Yuki dengan rakus.
Yuki menangis, berusaha memohon dan memberontak dengan sisa tenaganya agar Rafael menghentikan tindakannya. Ketika Rafael nyaris menyetubuhi Yuki, terdengar suara berdebam yang cukup kencang menghantam bagian luar pintu.
Keributan terjadi membuat Rafael merasa terganggu. Dia berteriak dengan nyaring kepada Para penjaga di luar kamarnya.
"Sial, apa Kalian bisa tenang" teriak Rafael marah.
Namun sekali lagi. Terdengar lagi suara berdebam nyaring yang kembali terdengar. Pintu di dobrak dari luar sampai terbuka lebar.
Dua orang prajurit ambruk bersimba darah di luar pintu. Rafael langsung bangun. Yuki tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menghindar sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Pakaiannya sudah copang-caping. Robek di beberapa tempat.
Yuki nyaris tidak mempercayai penglihatannya ketika melihat Pangeran Riana berdiri dengan penuh amarah di depan pintu kamar. Sontak Dia menangis ketika menyadari semua bukan mimpi. Pangeran Riana langsung masuk ke dalam kamar, menghampiri Rafael dengan cepat dan langsung melayangkan tinjunya bertubi-tubi ke wajah dan kepala Rafael.
Rafael yang belum siap menerima serangan, tidak bisa menghindar.
Rafael terpental jatuh ke belakang. Yuki merapatkan tubuhnya ke dinding ketika Pangeran Riana kembali menerjang Rafael. Namun, kali ini Rafael telah siap terhadap serangan dan berhasil menghindar.
Dia memberikan perlawanan sehingga terlibat pertarungan satu lawan satu dengan Pangeran Riana. Keduanya bergumul. Saling memukul dan menyerang.
Wajah keduanya babak belur penuh luka. Pangeran Riana berhasil mengunci Rafael. Dia mengangkat Rafael di bahunya dan mendorongnya sehingga terlempar keluar jendela.
Terdengar suara berdebam yang cukup keras di sertai keributan dari luar kamar.
__ADS_1
Pangeran Riana melihat keluar jendela, memastikan keadaan Rafael. Kemudian Dia berbalik mendekati Yuki. Tangannya langsung meraih Yuki ke dalam pelukannya begitu Mereka berdekatan. Terdengar detak jantung Pangeran Riana di telinga Yuki. Yuki menangis terharu.
"Maaf, Aku terlambat" bisik Pangeran Riana di telinga Yuki dengan nada tulus.
Yuki tidak mampu menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Apakah Kau baik-baik saja ?" Pangeran Riana merengkuh wajah Yuki untuk meneliti luka Yuki. Ada memar bekas tamparan Rafael dan darah di sudut bibir Yuki. "Apakah Dia sudah..."
Yuki kembali menggelengkan kepalanya kuat. "Dia nyaris berhasil melakukannya, jika Pangeran tidak mendobrak pintu tepat waktu"
Pangeran Riana kembali merengkuh Yuki. Terdengar ledakan cukup keras dari kejauhan di susul suara lonceng menara yang di pukul berulang kali sebagai alarm tanda bahaya.
Pangeran Riana beringsut dari posisinya dan melepaskan pakaiannya kemudian memakaikan pada Yuki. Dia tampak tenang ketika melihat ada bekas ciuman di leher dan dada Yuki. Yuki mundur dan langsung mencoba menutupi dengan perasaan malu pada Pangeran Riana.
"Aku..." Kata Yuki malu dengan semua tanda di tubuhnya yang diberikan Rafael padanya. Dia menyilangkan tangannya di dada. Tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tidak perduli dengan apa yang terjadi padamu. Asalkan Kau selamat itu sudah cukup untukku" ujar Pangeran Riana sembari menatap mata Yuki.
"Tentu saja menyelamatkan wanitaku" jawab Pangeran Riana langsung tanpa keraguan.
Yuki menangkap kepedulian di matanya. Dia kembali membantu Yuki mengenakan pakaiannya.
Sementara itu di luar kembali terdengar ledakan yang keras. Lagi....dan lagi.
"Ada apa di luar sana ?" Tanya Yuki kebingungan dengan keributan yang terjadi.
Semburat warna merah mewarnai langit di malam hari. Terdengar keributan di luar sana. Derap langkah dan ringkikkan kuda bersatu padu dengan dentingan logam dari baju jirah para prajurit kerajaan Rasyamsah.
"Xasfir dan Voldermont sedang memimpin pemberontakan pada tawanan di luar. Yuki, Kita harus segera pergi dari sini. Sebentar lagi akan ada pertempuran besar antara negeri Rasyamsah dan negeri Argueda. Asry memberi informasi tiga hari yang lalu, seratus ribu pasukan yang dipimpin oleh Sera berhasil menerobos perbatasan dan menuju Ibukota. Sekarang tampaknya Mereka sudah tiba dan mencoba menembus benteng Ibukota. Tempat ini akan menjadi pertarungan hidup dan mati di antara dua negara"
__ADS_1
Yuki terkejut. Dia tidak menyangka Pangeran Sera juga sudah berada di Rasyamsah. Bahkan Dia membawa seratus ribu pasukannya. Kenapa semua serba kebetulan ?.
Seolah mengerti jalan pikiran Yuki, Pangeran Riana kembali berkata "Sepertinya Dia melihatmu melalui cermin di bawa oleh Rafael"
Yuki mulai mengerti. Kenapa serangan yang terjadi begitu mendadak. Pangeran Sera berusaha menolong Yuki dari jauh dengan melancarkan serangan. Sehingga Rafael akan urung menyentuh Yuki.
Yuki berlari mengikuti tarikan tangan Pangeran Riana. Para pelayan tampak panik. Mereka semua berhamburan dengan wajah kebinggungan. Sementara itu asap mulai terlihat dari luar istana. Tepat di gerbang masuk Ibukota.
Asap semakin tinggi di beberapa tempat yang ada di luar istana. Pertempuran besar sedang terjadi.
"Bagaimana Pangeran bisa ada di sini ?" Tanya Yuki tidak bisa membendung rasa penasarannya.
Pangeran Riana muncul tiba-tiba di saat yang tepat dan menyelamatkan Yuki dari Rafael yang mencoba memperkosanya. Jika Pangeran Riana terlambat sedikit saja, Yuki tidak tahu bagaimana Dia akan menjalani hidup ke depannya.
Mereka terus berlari meninggalkan istana. Pangeran Riana menggengam tangan Yuki erat, seolah takut jika Yuki akan menghilang dari hadapannya.
"Aku langsung bergerak kemari ketika Rafael menghubungi Voldermont untuk pertama kalinya menggunakan Gulfmu. Kami berhasil menyusup masuk sampai istana dan mengetahui Kau setiap hari berada di rumah singgah untuk merawat para tawanan yang terluka. Jadi Aku memutuskan untuk berada di sana sembari menunggu informasi dari Xasfir dan yang lainnya untuk menyelamatkanmu" jelas Pangeran Riana tenang. "Saat Aku melihatmu di bawa oleh Rafael. Aku tahu Dia berniat tidak baik denganmu. Jadi Aku membongkar penyamaranku, dan para tawanan ikut membantuku. Sekarang Mereka bergerak di bawah komando dari Xasfir dan Voldermont. Bergabung dengan rakyat yang memberontak untuk melawan Rafael dan para pengikutnya"
"Pangeran berada di rumah singgah ?" Tanya Yuki semakin kebingungan. Dia tidak melihat siapapun yang mirip dengan Pangeran Riana selama berada di rumah singgah. Jika memang ada, tidak mungkin Yuki tidak mengenali sosoknya.
"Kau ingat dengan tawanan yang menutupi tubuh dan rambutnya dengan kain ?. Saat Kau mencoba mengintip wajahnya Dia segera berbalik memunggungimu"
Yuki ingat. Tawanan misterius itu. Jadi itu adalah Pangeran Riana yang menyamar. Yuki sempat mencurigai keberadaan tawanan misterius itu. Tapi Dia tidak mempunyai bayangan sama sekali jika tawanan itu adalah Pangeran Riana.
Terdengar genderang perang yang di bunyikan nyaring saat Mereka telah sampai di bukit yang tinggi. Dari tempatnya sekarang, Yuki bisa melihat isi di dalam istana dengan leluasa. Pangeran Riana menarik Yuki untuk bersembunyi.
__ADS_1
Di halaman istana. Beratus-ratus pasukan berbaris rapi untuk berperang. Rafael berdiri di depan pasukan, memimpin pasukannya. Suatu keajaiban Dia masih hidup setelah di lempar cukup keras oleh Pangeran Riana dari lantai dua kamarnya.