
Rafael duduk selonjoran di atas permadani yang mewah, di temani beberapa gadis cantik yang mengelilinginya.
Mereka semua melayani hasrat Rafael secara bersamaan. Yuki berusaha tidak berbalik pergi karena merasa mual melihat pemandangan kotor di depannya.
Ruangan ini tampak seperti rumah bordil bagi Yuki.
"Rafael Aku ingin berbicara denganmu" Kata Yuki menyela keasyikan yang sedang terjadi. Rafael menatap Yuki dengan malas. Tapi Dia tidak mengusir Yuki pergi.
"Untuk apa Kau ke sini. Sayang sekali Yuki, Kau tidak bisa bergabung. Aku lebih suka menikmati waktu berdua saja denganmu" ujar Rafael ketika Yuki sudah beberapa langkah di depannya.
"Aku tidak menemuimu untuk menyerahkan diriku" sembur Yuki kesal. "Aku ingin pergi ke rumah singgah. Izinkan Aku ke sana"
"Untuk apa Kau pergi ke sana ?. Apa Kau merencanakan sesuatu. Lupakan saja Nona. Rencanamu tidak akan berhasil"
"Aku ingin pergi melihat tawanan yang terluka di sana. Kau sangat kejam. Dengan mudahnya Kau menghilangkan nyawa orang seperti membunuh seekor lalat, dan membiarkan Mereka yang terluka mati perlahan tanpa pertolongan" kata Yuki lagi bersikeras.
"Sifatmu yang penentang inilah yang Aku suka" kata Rafael tersenyum dengan wajah menahan hasrat saat gadis-gadis di bawahnya terus memainkan area sensitifnya secara bergantian.
Yuki tidak mau ambil pusing dengan perkataan Rafael. Dia kembali berkata dengan nada medesak "Jadi bagaimana ?. Aku boleh pergi ke sana Kan ?"
"Terserahlah. Lakukan saja apa yang Kau suka. Aku sedang tidak ada niat berdebat denganmu. Tapi ingat, Kau harus pergi dengan pengawasan ketat dan jangan pernah berpikir untuk mencoba kabur dari istana ini. Jika tidak, Aku akan merantai kakimu di kamar"
"Baiklah. Terimakasih atas anugerahmu Raja Rafael" kata Yuki kentus sambil berbalik pergi. Meninggalkan Rafael dengan segala tindakan asusilanya pada gadis-gadis di dalam.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan Rafael. Yuki berjalan kaki ke sana diikuti oleh pelayan dan para prajurit kerajaan Rasyamsah. Udara sangat panas. Matahari seolah mampu membakar Yuki sewaktu-waktu. Butuh dua puluh menit perjalanan untuk mencapai rumah singgah.
Ketika akhirnya Yuki berada di depan pagarnya. Dia menatap bangunan di depannya dengan tidak percaya.
"Apa-apaan ini ?" Yuki menatap bangunan tua dan kusam di depannya. Tempat ini jelas sama sekali tidak terawat dan hampir rubuh. Bangunannya sudah miring ke kiri, siap jika rubuh sewaktu-waktu.
Ada beberapa lubang di dinding dengan pintu yang nyaris terlepas dari engselnya.
"Semenjak pemerintahan Raja Trandem, semua pegawai dan dana untuk rumah singgah di hentikan. Dulunya tempat ini adalah ruang perawatan yang nyaman bagi para tawanan perang" kata pelayan di samping Yuki. "Putri, lebih baik Kita segera pergi dari sini. Bangunanya sudah mau rubuh sewaktu-waktu. Terlalu berbahaya jika Kita masuk ke dalam"
Yuki sudah susah payah sampai kemari. Dia mendengar suara erangan kesakitan dari dalam bangunan tua di depannya. Dia tidak akan mundur hanya karena bangunan tua yang mau rubuh di depannya.
Yuki mendorong gagang pintu yang pintunya tidak menutup dengan benar. Dia langsung mundur beberapa langkah ketika mencium bau tidak sedap yang menguar keluar dari dalam ruangan gelap dan pengap di depannya.
Refleks Dia langsung menutup hidungnya.
Banyak orang sakit dan terluka tanpa perawatan, tergeletak sembarangan di setiap sudut ruangan.
Bau semakin menyengat karena ruangan di dalamnya sangat kotor dan tidak ada ventilasi udara di dalam ruangan.
"Panggil bantuan kemari cepat. Kita akan membersihkan tempat ini" perintah Yuki langsung setelah Dia berhasil menguasai dirinya.
__ADS_1
"Tapi, Putri.."
Yuki berbalik dan memandang Pelayan di depannya dalam. "Kau dengar sendiri tadi, Raja Kalian memberiku izin untuk bertindak sesuka hatiku. Jika Kau tidak mau membantu. Tidak apa-apa. Aku akan mengerjakan semua sendiri"
Yuki masuk ke dalam bangunan. Dia harus melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak tawanan yang terbaring di lantai. Membuka semua jendela yang ada agar sirkulasi udara dapat masuk ke dalam.
Dia tidak tahu harus memulai dari mana. Yang pasti Yuki akan mencoba sebisa mungkin membantu para tawanan di rumah singgah. Lebih baik bertindak daripada hanya diam dan berdoa memohon pertolongan Dewa. Itu bukan sifat Yuki.
Para pelayan dan penjaga akhirnya ikut membantu membersihkan ruangan. Bantuan datang ketika Mereka masih memiliki segudang pekerjaan. Yuki mengumpulkan semua pakaian kotor layak pakai yang ada di ruangan dan langsung mencucinya di sungai.
Membersihkan semua perabotan, menyikat lantai, menyingkirkan semua debu dan sarang laba-laba yang bergelantungan di atap. Akhirnya setelah bekerja lebih dari delapan jam lamanya, dengan di bantu dua belas pelayan dan dua puluh orang prajurit kerajaan. Rumah singgah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Atap sudah di tambal begitu juga dengan dinding yang lubang. Pintu sudah di perbaiki. Hawa jauh lebih bersih dan tidak berbau kurang sedap. Bangunan bahkan sudah tidak miring lagi. Yuki optimis dengan begini, setidaknya bangunan tidak akan mudah rubuh dan angin dan hujan tidak mudah masuk ke dalam ruangan. Terutama di malam hari.
Setelah memastikan ruangan sudah bersih dan siap untuk di pakai. Yuki meminta para prajurit untuk menggelar matras bekas yang sudah tidak terpakai, yang Mereka ambil dari area pembangunan sumur kerajaan.
Semua tawanan yang terluka di baringkan dengan rapi di atasnya. Di pisahkan sesuai tingkat keparahannya.
Berbekal sedikit kemampuan medis yang Yuki punya, Dia tanpa ragu langsung membersihkan luka dan mengobati tawanan yang di prioritaskan terlebih dahulu.
Sementara itu, para pelayan yang di perintahkan Yuki untuk mengambil bahan makanan yang tidak lagi terpakai, sisa dapur kerajaan kembali. Mereka membawa satu keranjang besar berisi berbagai sayur yang sudah layu dan memang tidak layak lagi untuk digunakan di istana kerajaan.
Meskipun Rafael mengatakan Yuki boleh melakukan apapun yang Dia suka. Tapi Yuki tahu Dia tidak boleh seenaknya sendiri karena pasti akan berdampak pada para tawanan nantinya. Jadi Yuki hanya memanfaatkan barang-barang yang tidak di pakai untuk memperkecil kemungkinan Rafael membuat masalah bagi para tawanan.
Setelah memilih beberapa sayuran yang masih layak untuk di pakai. Para pelayan langsung memasaknya dalam sebuah panci besar.
__ADS_1
Setelah makanan matang, Para pelayan dan penjaga langsung membagi-bagikannya pada para tawanan yang ada. Hanya bubut jagung yang di campur dengan wortel, sawi dan daun bawang yang di potong kecil-kecil. Yuki hanya bisa menyediakan makanan itu. Tapi raut wajah para tawanan sangat senang saat memakannya. Dalam waktu sekejap bubur yang ada langsung habis tidak tersisa.
Yuki memandangi para tawanan sambil mengobati yang lainnya, Dia bersyukur setidaknya malam ini para tawanan itu bisa tidur dengan perut terisi makanan.