
Perkataan Yuki terhenti ketika Pangeran Sera menciumnya. Yuki menatap Pangeran Sera tidak percaya. Dia mundur satu langkah.
"Meski Kau mengusirku, Aku tidak akan pergi darimu. Kau milikku Yuki, jauh sebelum Kita saling bertemu Kau adalah milikku" Kata Pangeran Sera serius membuat Yuki terdiam tak berdaya.
Wanita manapun akan bahagia jika mendengar ungkapan perasaan Pangeran Sera sekarang. Tapi tidak dengan Yuki. Dia justru merasa sedih saat mendengarnya.
Yuki menyadari Pangeran Sera sama keras kepalanya dengan Pangeran Riana. Kedua Pangeran itu sama-sama mengklaim Yuki sebagai miliknya yang sah.
Jika hal ini terus berlanjut, Yuki khawatir perang antar kedua negara itu akan terjadi.
Yuki terus berpikir apa yang menarik dari dirinya, sehingga Pangeran Riana dan Pangeran Sera begitu keras kepala untuk mendapatkannya.
Dia hanya seorang gadis biasa. Tidak memiliki tata krama dan keanggunan seperti layaknya seorang Putri yang terhormat. Prestasi akademik Yuki memang bagus, tapi bukan yang menonjol. Jika alasan Mereka adalah kecantikan Yuki, Yuki lebih merasa di sekitar para Pangeran itu ada banyak wanita dewasa yang jauh lebih cantik dan menarik daripada dirinya.
Yuki tidak mengerti apa yang kedua Pangeran itu pikirkan.
Udara mulai terasa dingin. Siang mulai berganti dengan malam. Pangeran Sera mengajak Yuki untuk melihat teater. Dia sudah mempersiapkan semuanya.
Pangeran Sera dan Yuki duduk di bangku khusus, yang tidak terlalu mencolok. Pangeran Sera sengaja memesan untuk menghindari orang lain mengenali Mereka.
Yuki sangat menikmati pertunjukannya. Dia beberapa kali tertawa lepas, ketika melihat adegan humor yang di bawakan para pemain.
Mungkin karena terlalu lelah bermain seharian, di tambah udara yang mendukung serta musik merdu yang sedang di mainkan. Yuki tanpa sadar jatuh tertidur di pertengahan acara.
Pangeran Sera baru menyadari Yuki tertidur, ketika kepala Yuki bersandar di pundaknya. Dia menoleh dan mendapati Yuki tertidur pulas. Sontak, Pangeran melingkarkan tangannya ke leher Yuki dan menarik gadis itu untuk tidur di bahunya.
Waktu terasa lama berlalu. Pangeran Sera mengabaikan pertunjukan. Dia lebih memilih menghabiskan waktu untuk menatap Yuki.
Perlahan, Pangeran Sera kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Yuki lembut.
Sementara itu di dalam mimpinya, Yuki merasakan ada tangan yang membelai lembut rambutnya. Rasanya hangat dan menyenangkan. Yuki merasa aman.
Dia membiarkan dirinya jatuh semakin lelap dalam tidurnya. Menikmati kenyamanan yang ada.
Kuda hitam yang di tunggangi Pangeran Riana membelah jalanan yang masih dipadati penduduk sekitar. Di belakangnya Bangsawan Voldermont dengan cekatan mengikutinya.
__ADS_1
Sudah tiga jam Mereka menyisir setengah wilayah ibukota untuk mencari Yuki. Tapi sampai sekarang Mereka belum juga menemukannya.
Ketika Mereka kembali dari luar kota ke istana, Prajurit datang dan melaporkan bahwa Yuki menghilang dari dalam kereta di tengah kerumuman. Ada saksi yang mengatakan, seorang Pria yang menutupi wajah dan rambutnya dengan kain, membawanya pergi ketika terjadi keributan di tengah jalan.
Mereka semua terdiam. Berharap tidak terjadi apapun pada Yuki. Pasukan mengikuti Pangeran Riana di belakang. Mereka tidak ada yang berani bersuara.
"Pangeran" sebuah suara memecah keheningan ketika rombongan Pangeran Riana sampai di pinggir sungai yang membelah ibukota menjadi dua. Dua orang prajurit dari arah lain datang dengan kuda. Mereka bergegas turun untuk melapor.
"Kami sudah menyelidiki, Pangeran Sera tidak kembali ke penginapan semenjak pagi, dan baru saja pelayan di kediaman Perdana Menteri Olwrendho melapor bahwa seseorang telah di utus oleh Putri Yuki untuk mengantarkan perhiasan dan pakaian yang di kenakan sebelumnya ke rumah"
Pangeran Riana mencengkram tali kengkang sampai buku jarinya terlihat.
Yuki tidak di culik oleh Penganut Sihir hitam. Dia yakin Sera yang merencanakan semua ini untuk membawa Yuki.
"Kita jangan gegabah" ujar Bangsawan Voldermont mengingatkan Riana.
"Aku akan bertamu ke tempat Sera" kata Riana dingin mengabaikan peringatan Bangsawan Voldermont.
Dia sudah lebih dulu memacu kudanya sebelum Bangsawan Voldermont sempat membalas.
Bangsawan Voldermont menghela nafas. Riana sangat marah kali ini. Kucing kecil itu akan mendapat masalah.
Yuki merasa bahunya di tepuk lembut. Dengan malas, Yuki membuka matanya perlahan.
Pangeran Sera duduk di samping Yuki, menatap Yuki dengan sikap sayang. "Sudah bangun putri tidurku"
Yuki mengerjap kaget. Dia memandang ke sekeliling dan mendapati hanya tinggal Mereka yang berada di dalam ruang teater. Semua penonton dan pemain sudah pergi.
Dia tidak tahu berapa lama Dia tertidur. Tapi memang sudah lama, semenjak minpi-mimpi itu Dia baru bisa tidur lelap seperti sekarang.
Pendeta Naru berdiri di dekat Pangeran Sera. Wajahnya tegang, membuat Yuki sadar sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Ada apa ?" Tanya Yuki langsung setelah kesadarannya cukup pulih.
"Kerajaan Garduete menyerbu paksa penginapan tempat Kami menginap. Jika Mereka mengetahui Pangeran sekarang berada bersama Putri, Aku khawatir..."
__ADS_1
"Cukup Naru" perintah Pangeran Sera tegas, dengan wajah tidak suka.
Pendeta Naru langsung terdiam.
"Pangeran tidak boleh terlihat bersamaku, Pergilah Pangeran" pinta Yuki menengahi suasana yang tegang.
"Yuki.." panggil Pangeran Sera memprotes.
"Aku mohon padamu Pangeran, Aku tidak ingin terjadi masalah denganmu. Aku mohon pergilah.."
"Pangeran tolong dipikirkan baik-baik, Jika kerajaan Garduete menemukan kalian bersama. Mereka bisa mempunyai alasan untuk memenjarakaan Pangeran. Selain itu, Pangeran Riana bisa menggunakan masalah ini sebagai alasan untuk menyentuh Putri Yuki"
Yuki langsung bergidik mendengar perkataan Naru. Sebuah kebenaran yang sangat di takuti Yuki.
Pangeran Sera memandang Yuki bimbang. Dia tidak peduli jika Dia mendapat hukuman dari Garduete. Tapi Yuki...Dia tidak rela jika tunangannya di sentuh orang lain meskipun hanya seujung rambutnya.
"Pangeran dengarkan Aku kali ini, pergilah..Aku mohon padamu" ujar Yuki lagi dengan nada membujuk. "Jangan sampai Mereka menemukan Kita bersama"
"Aku mengerti" ujar Pangeran Sera akhirnya dengan nada menyerah, membuat Yuki dan Pendeta Naru langsung merasa lega. "Yuki berhati-hatilah, Aku akan memerintahkan penjaga mengawasimu dari jauh. Kau akan tetap aman dalam perjalanan kembali"
Yuki menganggukan kepala. Dia tidak membantah Pangeran Sera.
Pangeran Sera berdiri, masih tampak bimbang. Yuki tersenyum menguatkan Pangeran Sera.
Pangeran Sera mengusap lembut pipi Yuki dan mengecupnya. Kemudian Dia berbalik meninggalkan Yuki diikuti Pendeta Naru di belakangnya. Sesekali Pangeran Sera menoleh ke belakang. Yuki terus memasang senyum hangat agar Pangeran Sera tidak mengubah keputusannya.
Yuki baru melepas senyumnya ketika Pangeran Sera sudah meninggalkan ruangan. Menghilang di balik pintu yang tertutup.
Yuki menunggu beberapa saat sampai yakin Pangeran Sera cukup jauh sebelum Dia beranjak meninggalkan tempatnya.
Hari sudah malam ketika Dia berada di jalan. Tidak ada lagi keramaian. Hanya satu dua orang yang melewati jalanan kota. Yuki berjalan sendiri menyusuri jalanan. Jika Dia beruntung, Dia akan mendapatkan penyewaan kereta kuda dua blok dari tempatnya sekarang.
Yuki memandang ke langit, malam ini begitu sunyi dan dingin. Bulan sedang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Cahayanya tertutup oleh awan yang mengantung di langit.
Di belakang Yuki, sepasang kaki berjalan cepat mendekatinya. Karena terlalu fokus pada pikirannya. Yuki tidak menyadari kehadiran orang itu sampai badannya di paksa berbalik arah oleh orang di belakangnya.
__ADS_1