Morning Dew

Morning Dew
194


__ADS_3

Yuki selesai mandi. Hari sudah malam, warna orange sudah berubah menjadi gelap. Yuki menutup jendela kamar. Dia menolak para pelayan membantunya dan meminta Mereka dengan tegas untuk membiarkannya sendiri di dalam kamar. Terdengar keriuhan di taman tengah, tempat Pangeran Riana mengadakan acara makan malam. 


Yuki beralasan terlalu lelah dengan perjalanan yang Mereka lalui. Jadi Dia memilih untuk makan malam di dalam kamar dan tidak bergabung dengan acara yang di adakan Pangeran Riana.


Kehamilan Yuki menjadi alasan yang tepat sehingga Pangeran Riana tidak memaksanya pergi. Pangeran Riana belum kembali semenjak Mereka berpisah di pinggir pantai.


Yuki mendesah. Apa yang di harapkannya sebenarnya. Yuki bangun dan menuangkan air dalam gelas. Dia sangat lapar. Para pelayan belum datang untuk mengantarkan makanan. Jadi, setelah meneguk segelas air putih. Yuki berjalan keluar kamar. Tidak ada pelayan dan penjaga di sekitarnya. Dia berjalan sendiri menyusuri lorong istana. Menuju dapur belakang. Berharap dapat menemukan sesuatu untuk di makan.


"Apa maksudmu menyuruhku pergi. Kau tidak ingin kehadiranku ?" 


Saat Yuki berada di ujung lorong, Dia mendengar suara Putri Marsha. Suaranya tampak histeris dan ingin menangis.


Karena penasaran, Yuki menghampiri suara itu. Suaranya berada di balkon di atasnya. Putri Marsha hanya duduk berdua dengan Pangeran Riana. 


Yuki awalnya ingin pergi dan tidak mau mendengarkan perdebatan Mereka. Tapi Dia urung ketika mendengar namanya di sebut.


"Apa ini karena Yuki ?" Tanya Putri Marsha lagi dengan suara bergetar penuh emosi.


"Ya, Aku tidak ingin kehadiranmu membuatnya tidak nyaman. Marsha jangan Kau pikir Aku tidak tahu, Kau pergi menemui Yuki dan berbicara padanya. Apa maksudmu mengatakan pada Yuki, Kau dan Aku telah membicarakan pernikahan. Sejak kapan Aku menyetujui menikah denganmu ?" Tanya Pangeran Riana dingin.


"Jadi Dia mengadu padamu ?" Ujar Putri Marsha tersenyum sinis.


"Yuki tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku justru mendengar hal ini dari orang lain. Beraninya Kau mengatakan kebohongan seperti itu padanya. Marsha, ada baiknya Kau ingat posisimu dan jangan melangkah terlalu jauh"


"Melangkah terlalu jauh apanya, Kau tau tujuanku datang kembali untuk kembali padamu. Apa Kau masih tidak percaya, Aku sudah bisa menerimamu jika suatu saat nanti Kau akan menikahi banyak wanita selain menikah denganku. Aku siap untuk itu"


"Jangan terlalu percaya diri Marsha. Aku tidak akan pernah menikah denganmu. Atas dasar Apa Kau mengaturku. Ingat ini Marsha, hanya Yuki wanita yang berhak atas diriku" kata Pangeran Riana dengan tegas.


Yuki yang bersembunyi di balik tiang, mendengarnya dengan diam-diam. Hatinya menjadi hangat. Dia tidak menyangka Pangeran Riana memandangnya seperti itu.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin, Kau adalah perwaris tahtah kerajaan. Tidak masalah bagimu jika harus menikah dengan banyak wanita" bantah Putri Marsha cepat.


"Lalu kenapa jika Aku adalah pewaris tahtah ?. Kerajaan tidak melarang jika Aku hanya menikahi calon ratuku saja. Untuk apa Aku menikah dengan banyak wanita, jika pada kenyataan calon perwaris tahtah yang sah untuk menggantikan posisiku selanjutnya, hanya boleh berasal dari rahim Yuki. Bukan wanita lain" Pangeran Riana memandang acuh pada Putri Marsha di depannya. "Tampaknya, Kau tidak mengenalku Marsha"


"Apa bagusnya Dia. Aku jauh lebih baik dari Dia. Aku bisa memberikan apapun padamu"


"Yuki jauh lebih baik dari segala hal di bandingkan dirimu" Kata Pangeran Riana sembari berdiri dengan tenang. Dia tidak perduli apakah Putri Marsha akan terluka dengan perkataannya atau tidak. "Awalnya Aku tidak mengerti, Kenapa Dia yang dipilih menjadi calon ratuku. Namun, semakin Aku mengenalnya. Aku semakin yakin Dia adalah wanita yang kucari selama ini. Dia melengkapi segala kekuranganku"


Putri Marsha tampak mulai menangis.


"Aku tahu perlakuanmu Padaku sangat jauh berbeda ketika Kau memperlakukan Yuki. Kau tidak pernah mengizinkaku berkendara berdua denganmu. Tidak pernah mau makan malam hanya bersamaku. Dan Kau juga tidak pernah mengizinkanku masuk ke dalam kamarmu apalagi tinggal di sana seperti Yuki sekarang. Semua hal yang Kau lakukan pada Yuki, tidak pernah Aku dapatkan darimu" 


Pangeran Riana memincingkan mata dengan wajah dingin. Dia tidak membantah tuduhan Putri Marsha. "Aku tidak pernah mencintaimu Marsha. Hubungan Kita di masa lalu jelas merupakan kesalahan. Dan tanpa adanya Yuki sekalipun. Aku tidak akan pernah kembali padamu. Jadi pergi dan lanjutkan hidupmu sendiri"


Plakk !!


"Karena memandang Xasfir sebagai teman. Aku tidak mempermasalahkanmu hari ini. Tapi Aku ingatkan Kau untuk tidak melewati batasanmu Marsha"


Putri Marsha berjalan cepat meninggalkan Pangeran Riana. Wajahnya sangat sedih dan terluka. Mengingatkan Yuki akan sosok Putri Alena. Yuki tidak tahu bagaimana kabar Putri Alena, Karena masalah Putri Magitha Dia nyaris melupakan mengenai Putri Alena saat Dia di Argueda. Dan tidak sempat bertanya mengenainya pada Pangeran Sera.


Cinta Putri Marsha seperti Putri Alena. 


Yuki memutuskan untuk mundur dan berpura-pura tidak melihat kejadian yang baru saja terjadi. Tapi sayangnya, ketika bergerak meninggalkan persembunyian. Yuki justru tanpa sengaja menendang ember yang di letakkan di dekat tiang, sehingga membuat Pangeran Riana menyadari kehadiran Yuki.


"Apa yang Kau lakukan malam-malam begini ?" Tanya Pangeran Riana tenang sembari berjalan mendekati Yuki.


Yuki berdiri dengan sikap serba salah. Dia merasa tidak enak telah terpergok mendengarkan pembicaraan Pangeran Riana dan Putri Marsha.


"Aku sangat lapar, jadi Aku menuju dapur untuk menemukan sesuatu yang bisa ku makan" ujar Yuki mencoba menjelaskan kehadirannya di tempat itu. Dia tidak ingin Pangeran Riana berpikir, Yuki sengaja menguping pembicaraannya dengan Putri Marsha 

__ADS_1


Pangeran Riana melepaskan jubahnya dan menyelimuti Yuki. Membuat Yuki merasa hangat.


"Terimakasih" Kata Yuki tulus.


"Jika Kau lapar, Aku akan meminta pelayan segera menyajikan makanan untukmu" Kata Pangeran Riana lagi sembari memperhatikan Yuki. "Ayo Kita kembali ke kamar dan menunggu makanan di sana"


Yuki menggelengkan kepala. Menolak saat Pangeran Riana memeluk bahunya untuk menuntun Yuki mengikutinya. 


Pangeran Riana menatap Yuki binggung.


"Tidak perluh, Aku ingin memasak sendiri makan malamku" Kata Yuki tenang.


 


 


Yuki dan Pangeran Riana duduk berhadapan di sebuah meja kecil yang di letakan di depan perapian. Di depan Mereka masing-masing, ada sepiring nasi goreng dengan telur yang asapnya masih mengepul. Masakan sederhana yang di buat Yuki di dapur istana.


Pangeran Riana belum pernah memakan jenis masakan yang di buat Yuki. Tapi Dia seorang Pangeran terlatih. Dia tidak takut mencoba sesuatu yang baru. Apalagi jika itu di buat sendiri oleh calon ratunya.


"Aku tidak menyangka, Kau pandai memasak Yuki" Kata Pangeran Riana setelah mencicipi masakan Yuki.


"Mama dan Bibi Sheira jarang di rumah karena harus bekerja mencukupi kebutuhan Kami. Jadi Aku sudah biasa hidup mandiri" jawab Yuki sambil meniup nasi yang masih mengepul lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Terasa hangat. Pas jika di makan di dalam cuaca dingin seperti sekarang.


Entah karena cuaca atau emang suasana hati Yuki yang sedang baik. Dia menghabiskan nasi goreng di piringnya dalam waktu sekejap.


 


 

__ADS_1


__ADS_2