Morning Dew

Morning Dew
117


__ADS_3

Yuki tidak tahu kenapa Dia bisa mengatakan hal itu. Tiba-tiba saja bibirnya telah menyuarakannya.


Yuki sadar, Pangeran Sera tidak mungkin mendengarnya. Dia juga tidak punya hak untuk meminta pertolongan Pangeran Sera. Yuki sudah terlalu banyak membuat masalah untuk Pangeran Sera. Tidak baik jika Yuki meminta bantuannya sementara Yuki tahu bagaimana perasaan Pangeran Sera padanya.


Yuki belum bisa membalas perasaan Pangeran Sera seperti yang Pangeran Sera inginkan.


Namun...untuk sesaat tadi Yuki seperti bisa melihat sosok Pangeran Sera berdiri di dalam cermin. Sehingga tanpa sadar Yuki memanggil namanya.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu" Kata Yuki lirih kepada Pangeran Riana.


Sudah beberapa hari semenjak Yuki di bawa kembali ke dunia ini. Baik Ibu Suri maupun Pangeran Riana serius dengan ucapan yang Mereka katakan tempo hari.


Ibu Suri menepati kata-katanya untuk mengurus guru pengajar yang melatih Yuki secara pribadi. Dia menyusun jadwal belajar Yuki. Bahkan membawa Yuki untuk ikut dalam tugasnya mengantikan Ratu di istana.


Ibu Suri akan berhenti menekan Yuki, hanya jika Pangeran Riana datang dan memaksa untuk membawa Yuki.


Tapi jika di suruh memilih, Yuki lebih baik menemani Ibu Suri ketimbang harus bersama dengan Pangeran Riana.


Pangeran Riana tidak main-main ketika mengatakan ingin membuat Yuki hamil. Jika ada kesempatan, Yuki sering di paksa untuk melayaninya. 


Yuki masih beruntung. Ketika Dia pernah kabur ke penjara untuk menemui Bangsawan Dalto, Yuki menyempatkan diri membeli ramuan obat yang dapat mencegah kehamilan untuk berjaga-jaga. Saat memeriksanya tempo hari, ternyata obat itu masih tersimpan rapi di laci bagian paling dalam, di kamar Pangeran Riana. Tempat Yuki menyembunyikan obat itu. 


Pangeran Riana tidak menjawab. Dia terus berpakaian. Yuki memilih bangun dan menuju kamar mandi sembari menutupi tubuhnya yang tanpa busana dengan selimut.  Dia membersihkan diri, mencoba menghilangkan bau Pangeran Riana di tubuhnya. Tapi Dia tidak bisa berlama-lama kali ini. Jadi Dia segera mengeringkan diri dan memakai pakaiannya.


Para pelayan biasanya akan masuk ke dalam kamar jika Pangeran Riana sudah keluar untuk mendadani Yuki, dan mempersiapkan Yuki mengikuti kelas belajarnya.


Yuki keluar kamar. Dia lega ketika Pangeran Riana masih duduk di sofa yang ada di bagian tengah kamar tidur. Segera, Yuki menghampirinya.


"Apakah Kau bisa membebaskan semua pelayan dan penjaga yang telah Kau penjara gara-gara Aku sebelumnya ?" Tanya Yuki langsung. "Terutama Rena"


"Mereka telah lalai dalam tugas sehingga Kau bisa kabur. Sudah sepantasnya Mereka di hukum" ucap Pangeran dengan wajah acuh.


Yuki menahan nafas. Mencoba mengendalikan kemarahannya. 

__ADS_1


"Mereka tidak bersalah, semua pelarian itu adalah rencanaku sendiri. Aku mohon padamu, bebaskan Mereka" pinta Yuki lagi dengan pandangan mengiba. 


Yuki berlutut di depan Pangeran Riana. Menatap dari balik bulu matanya dengan sorot memohon. Yuki meletakan telapak tangannya di lutut Pangeran Riana. 


Jika Voldermont, Dia pasti akan langsung mengabulkan keinginan Yuki ketika Yuki bersikap seperti seekor kucing yang teraniaya. Tapi Riana jauh lebih bisa mengendalikan diri. Meskipun Dia sempat nyaris tergoda. Setidaknya Riana akan memberikan keinginan Yuki dengan syarat-syarat tertentu yang harus di patuhi Yuki.


Pangeran Riana membungkukkan badan ke arah Yuki. Dia mengulurkan tangan, mendongakkan dagu Yuki untuk menatapnya. Sejurus kemudian, Pangeran Riana mencium bibir Yuki.


Ciuman panjang dan penuh tuntutan.


Ketika pada akhirnya Pangeran Riana melepaskan ciumannya. Dia berbisik lirih di telinga Yuki "Jika Kau berjanji padaku untuk melupakan dunia lamamu dan tinggal di sisiku selamanya, Aku berjanji akan membebaskan Mereka semua".


Yuki terkejut dengan syarat yang di berikan Pangeran Riana. 


Pangeran Riana menatap Yuki dalam, menilai respon Yuki. Menunggu.


Yuki memalingkan wajahnya dengan gusar. "Aku tidak bisa" Katanya cepat. Pangeran Riana melepaskan cekalan tangannya begitu mendengar jawaban Yuki. Membuat Yuki nyaris tersentak ke belakang. Dia berdiri dengan marah, matanya menatap Yuki dingin.


Pangeran Riana keluar kamar. Pintu di tutup dengan keras. Yuki berdiri tergugu.


Apa yang harus di lakukan. Pangeran Riana memberikan syarat yang sangat sulit diterima. Yuki merasa bimbang. Di satu sisi Dia tidak bisa membiarkan orang lain menanggung kesalahan yang tidak Mereka lakukan. Tapi di sisi lain Dia tidak punya keinginan untuk tinggal di samping Pangeran Riana.


Yuki tidak bisa memilih. Dia hanya bisa terduduk di sofa dan menangis.


Pangeran Riana duduk di sebuah meja bulat. Beberapa minuman tersaji di depannya. Bangsawan Voldermont baru saja datang dengan bersenandung kecil. Dia duduk di dekat Pangeran Riana dan langsung menuangkan minuman di gelas kosong.


"Kenapa dengan dirimu ? Apa Kau bertengkar lagi dengan Yuki ?. Jika Kau tidak puas dengan satu wanita, Kau bisa mengunjungi istana wanitamu dan bermanja dengan Mereka di sana. Aku dengar sudah hampir tiga tahun Kau tidak pernah menjenguk Mereka"


"Apakah Kau datang ke sini hanya untuk memberiku omong kosong mengenai kehidupan pribadiku ?" 


"Aku hanya memberi saran" sangkal Bangsawan Voldermont acuh. "Tidak mengapa jika Kau mendapatkan anak selain dari rahim Ratumu. Tapi Kau bersikeras untuk menjaga diri dengan baik agar tidak mendapatkan keturunan dari wanita-wanitamu. Itu tidak adil bagi Mereka"


"Mereka tidak ku nikahi untuk menjadi sapi peranakan"

__ADS_1


"Jadi Kau berencana membuat Mereka seorang diri seumur hidup Mereka"


"Status dan kemewahan yang Mereka dapat, cukup untuk menukar waktu Mereka" jawab Pangeran Riana tenang.


"Lalu bagaimana dengan Yuki ?"


Riana telah menguji Yuki secara diam-diam. Dia sengaja memberikan kemewahan, harta dan status yang tinggi untuk Yuki demi melihat reaksinya. Tapi gadis itu bersikeras menolak Riana. Bahkan Dia berulang kali menunjukan sikap ingin pergi dari hidup Riana.


Yuki tidak tertarik dengan kemewahan, harta atau status sosial. Dia juga tidak gila hormat. Gadis itu mempunyai prinsip hidup yang baik meskipun Dia sebenarnya sangat plin plan dan mudah di manfaatkan orang.


Bahkan Yuki tidak perduli dengan harta Perdana Menteri Olwrendho. Dia tidak pernah bertanya dan tidak pernah mencari tahu kekayaan yang di wariskan untuknya. 


Beberapa keluarga jauh Perdana Menteri Olwrendho yang serakah berusaha merebut harta yang menjadi hak Yuki. Beruntung Perdana Menteri Olwrendho telah memperhitungkan semua dengan mengutus orang kepercayaannya mengurus semuanya jika terjadi sesuatu.


Semua harta peninggalan Perdana Menteri Olwrendho yang menjadi hak Yuki di simpan dengan aman dan terdata seluruhnya di Bank Negara.


Yuki terlihat lebih bahagia mengenakan pakaian kain biasa daripada mengenakan perhiasan mewah ala puteri kerajaan.


Kesederhanaan dan kebaikan hati Yukilah yang membuat Riana mempertahankan Yuki di sisinya.


"Wanita yang berada di sisiku seharusnya memang memiliki prinsip yang tegas"


"Tapi Dia sangat sulit di tangani" ujar Bangsawan Voldermont menyayangkan. "Ngomong-ngomong Kau tidak berencana memiliki anak dengan Yuki dalam waktu dekat ?" 


"Lebih bagus Dia segera hamil"


"Kalau begitu Kau singkirkan obat pencegah kehamilan di kamarmu. Untuk apa Kau memberikan Dia obat itu jika Kau sekarang menginginkan kehamilannya"


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2