Morning Dew

Morning Dew
104


__ADS_3

Jika bukan Pangeran Sera, pasti ketika pertama kali mengetahu hubungan Yuki dengan Pangeran Riana. Laki-laki itu akan berpaling meninggalkan Yuki. Melupakan janji pertunangan yang telah di lakukan kedua orang tua Mereka.


Jangankan berbicara, Memandangpun tidak akan sudi saat tahu tunangannya telah di tiduri orang lain.


Yuki menemukan banyak kebaikan dalam diri Pangeran Sera. Cintanya tidak main-main. Pangeran Sera seperti oase di gurun pasir. Selalu memberi kenyamanan di saat Yuki membutuhkannya. 


Membuat Yuki berarti, ketika Yuki sendiri merasa dirinya sangat tidak berguna. Tidak berpaling meski Yuki tidak membalas cintanya.


Mampu merendam segala kesedihan dan emosi negatif yang bercongkol di hati Yuki. Sering Yuki berpikir, andaikan Dia dan Pangeran Sera terlebih dulu bertemu. Pasti, Dia akan jatuh cinta pada Pangeran Sera.


"Pergilah dan damaikan hatimu. Jika sudah saatnya tiba, Aku akan datang kembali untuk menjemputmu"


Yuki terkejut dengan perkataan Pangeran Sera. Dia membuka mulutnya ingin memprotes. Tapi Pangeran Sera sudah lebih dulu menutup mulut Yuki dengan telunjuknya yang di tempelkan di bibir Yuki.


"Aku hanya mentoleransimu untuk menyembuhkan lukamu, bukan melepaskanmu. Suka atau tidak suka Kau adalah tunanganku. Kita akan menikah suatu saat nanti. Apa Kau mengerti ?" 


Yuki tidak menjawab. Dia menutup bibirnya rapat tidak berani berjanji apapun pada Pangeran Sera. Yuki tidak ingin memberi harapan yang pada akhirnya justru melukai Pangeran Sera.


Yuki tidak ingin kembali ke dunia ini lagi. Tidak sekarang ataupun nanti.


Dia ingin melupakan semua yang telah terjadi dan kembali hidup sebagai gadis normal yang telah di jalaninya selama lima belas tahun. 


Membiarkan semua berlalu sebagai mimpi. 


Tapi Yuki memutuskan untuk tidak membantah ucapan Pangeran Sera. Yuki takut Pangeran Sera akan berubah pikiran dan tidak mau membantunya jika Yuki membantah Pangeran Sera.


Hanya Pangeran Sera harapan Yuki untuk dapat kembali. Yuki tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


"Pangeran, harap menyingkir sekarang" perintah Pendeta Naru lagi lebih tegas. Kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. Pangeran Sera melepaskan gengamannya dan mundur beberapa langkah ke belakang.


Pangeran Sera terus memandangi Yuki dengan sorot sedih. Pendeta Naru mulai merampalkan mantera untuk memulai ritual.


Yuki merasa tidak berdaya melihat tatapan Pangeran Sera. Seolah Pangeran Sera tahu niat Yuki yang tidak akan kembali ke dunia ini lagi. Yuki semakin bersalah di buatnya.

__ADS_1


Pendeta Naru berguman cepat mengucapkan mantera. Suaranya seperti dengungan lebah yang memenuhi seluruh ruangan. Kedua tangannya di katupkan ke dada. Matanya terpejam dengan raut wajah yang serius.


Sesuatu di kepala Yuki menyuruh Yuki untuk lari. Trauma ketika di kuil Balgira kembali membayanginya. Yuki berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja. Dia mempercayai Pangeran Sera.


Yuki tidak akan merusak semua usaha yang di lakukan Pangeran Sera untuknya. Pangeran Sera mengambil resiko besar kali ini dengan membantunya pulang ke dunia lamanya. Jika Kerajaan Garduete mmengetahui ini, Mereka akan marah besar dan Pangeran akan berada di posisi sulit.


Pendeta Naru membuka matanya setelah berteriak dengan kencang. Dia mengambil kendi kecil terbuat dari emas dan mengeluarkan isinya ke telapak tangan. Kemudian menuangkan ke atas abu yang di sebarkan Pangeran Sera di atas lingkaran. 


Seketika, munculan kobaran api yang membakar seluruh simbol. Namun anehnya, Yuki tidak merasakan panas terbakar. Api itu menjalar di sekitar Yuki di sertai sinar merah kehitaman. 


"Tetap tenang dan fokus Yuki" teriak Pangeran Sera memperingatkan. Ketika Yuki tampak panik. Wajahnya pucat pasi. Bayangan saat Dia nyaris terbunuh di Kuil Balgira kembali terlintas dalam kepalanya.


Yuki nyaris kehilangan akal sehatnya jika saja Pangeran Sera tidak meneriakinya untuk memberi peringatan. 


Akhirnya Yuki kembali tenang dan diam di posisinya. Pangeran Sera menatap lurus ke dalam matanya memberitahu Dia semua akan baik-baik saja. Yuki mempercayainya.


Benar saja, tidak berapa lama api yang menjalar padam. Secara ajaib dari abu yang berada di atas lingkaran, sinar Merah meredup dengan cepat dan kemudian pecah membentuk cahaya kelap kelip berwarna keemasan. Seperti kunang-kunang di malam hari.


Yuki mengulurkan tangan untuk menggapai kunang-kunang di sekitarnya. Tepat ketika pintu di dobrak dengan keras dari luar. Suaranya nyaring sehingga membuat Yuki nyaris meloncat saking kagetnya.


Pangeran Riana masuk ke dalam ruangan dengan wajah penuh amarah. Yuki merasa ketakutan melihat kemarahan yang di tujukan Pangeran Riana.


Prajurit Pangeran Sera berkumpul. Berusaha menahan Dia agar tidak mendekat.


"Yuki kembali !!" Teriak Pangeran Riana memerintah. Ada dominasi yang tidak terbantahkan dalam suaranya. "Keluar dari simbol itu sekarang juga" perintah Pangeran Riana lagi ketika Yuki tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Menatap Pangeran Riana dengan sorot ketakutan.


Pangeran Riana berusaha melawan lima orang Prajurit yang berusaha menahan langkahnya dari depan. Tiga orang prajurit lain menariknya untuk mundur. Meski begitu, Mereka semua tampak kewalahan menghadapi Pangeran Riana seorang diri. 


Sementara itu kunang-kunang terbang berkumpul membentuk sesuatu yang abstrak di depan Yuki.


"Yuki, keluar sekarang" perintah Pangeran Riana lagi dengan suara yang semakin garang membuat nyali Yuki menjadi ciut.


Yuki mengepalkan kedua tangan di dada. Mencoba mengumpulkan kembali keberanian yang telah porak poranda akibat dominasi dari Pangeran Riana.

__ADS_1


"Menyingkir Kalian..Yuki..!!" Pangeran Riana terus berusaha merangsek maju. 


Berbeda dengan Pangeran Riana yang di liputi amarah. Pangeran Sera tetap tenang di tempatnya. Memandang Yuki dengan serius, bersikap seperti tidak ada Pangeran Riana di dalam ruangan yang meraung penuh kemarahan.


"Tetap tenang Yuki, fokus pada keinginanmu. Jangan terpengaruh oleh sekelilingmu" teriak Pangeran Sera memperingatkan dengan nada tidak kalah tegas. 


Yuki memandang Pangeran Riana dan Pangeran Sera bergantian. Hatinya menjadi goyah. Dia mengkhawatirkan Pangeran Sera. Jika di biarkan Pangeran Sera akan mendapat masalah serius.


"Yuki.." panggil Pangeran Sera dengan dagu terangkat penuh kepercayaan diri. Suaranya lembut namun jelas. Yuki tersentak menatapnya. Pangeran Sera tersenyum lembut, masih menatap lurus ke arah Yuki. Yuki terpana melihatnya. Pangeran Sera penuh dengan cahaya. Dia seperti malaikat.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu Kau cemaskan" ujarnya tenang. "Sekarang pergilah..tenangkan hatimu"


Kunang-kunang membentuk sebuah pintu yang sempurna, dengan gumpalan asap putih berkilau di dalamnya. Yuki tidak dapat melihat apapun di dalam kabut itu.


"Sudah waktunya. Putri cepatlah, Aku tidak dapat menahannya terlalu lama" teriak Pendeta Naru mengingatkan.


"Tidakk Yuki, Kembali !!"


Pasukan Pangeran Riana menyeruak masuk ke dalam ruangan bersama Bangsawan Xasfir. Membantu Pangeran Riana melepaskan diri. 


"Putri Yuki" panggil Bangsawan Xasfir terkejut. Perkelahian terjadi di dalam ruangan.


"Yuki sekarang" perintah Pangeran Sera tegas.


Yuki menatap Pangeran Sera untuk terakhir kali ,sebelum Dia melangkahkan kaki dengan mantap memasuki pintu kunang-kunang. Yuki tidak tahu apakah Mereka akan bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Tapi Dia tidak akan melupakan kebaikan Pangeran Sera. Yuki menganggukan kepala pelan, memberi kode kepada Pangeran Sera untuk berpamitan dan mengucapkan terimakasih atas bantuannya.


Saat memasuki pintu, rasanya Dia seperti melewati plastik yang di rentangkan kuat menghalanginya. Yuki terus menekan maju. Mengabaikan rasa sesak yang menyerangnya. 


"Yukiiii !!" Yuki masih sempat mendengar raungan kemarahan Pangeran Riana sebelum akhirnya jatuh ke lubang tidak berdasar.


 


 

__ADS_1


__ADS_2