Morning Dew

Morning Dew
147


__ADS_3

"Telusuri semua informasi yang di terima tanpa terkecuali. Cari di seluruh ibukota dan tangkap semua yang mencurigakan" terdengar suara Pangeran Sera dari dalam gedung. Yuki terpekur seorang diri. Pangeran Riana belum diketahui keberadannya sampai sekarang. Dia bagaikan menghilang dari permukaan bumi. 


"Loh..loh Kenapa Dia ada di sini ?" 


Yuki berbalik dan mendapati beberapa orang Putri berdiri tidak jauh dari tempatnya. Yuki mengenali salah satu dari Putri itu sebagai Putri Nadira. Putri tercantik di Argueda. Anak dari Raja Jafar dengan selir ketiganya. Namun sayangnya, sifat Putri Nadira tidak secantik parasnya. Dia sangat suka menindas yang lemah. Sangat arogan dan keras kepala. Dia memandang Yuki dengan pandangan merendahkan.


Sudah lama Putri Nadira dan teman-temannya menunggu moment seperti ini. Yuki selalu bersama dengan Pangeran Sera atau Putri Magitha. Jadi Putri Nadira dan teman-temannya tidak berani menyentuh Yuki secara langsung. Mereka hanya berani menyindir Yuki jika Yuki tidak sengaja lewat di dekat Mereka. 


Setiap hari Putri Nadira selalu saja mengeluarkan perkataan yang tajam dan menyakitkan untuk Yuki. Jika Putri lain membenci Yuki karena Pangeran Sera. Putri Nadira membenci Yuki karena Dia merasa tersaingi. Beberapa bangsawan mulai membicarakan kecantikan Yuki yang di gandang-gandang mampu menyaingi daya tarik Putri Nadira. Itulah sebabnya Dia menjadi sangat membenci Yuki.


Di lain pihak, Sikap Putri Nadira mengingatkan Yuki akan sosok Putri Norah.


Membuat Yuki berpikir, apakah anak-anak dari selir Raja selalu mempunyai sifat yang buruk.


"Astaga..lihat Dia. Mana ada Putri yang mengangkat gaunnya dan mencelupkan kakinya ke kolam ikan seperti yang di lakukannya sekarang. Kelakuannya seperti orang yang tidak berpendidikan" sindir seorang Putri yang berdekatan dengan Putri Nadira.


Gelak tawa terdengar menimpali ucapan Putri itu. Yuki mengepalkan tangannya. Menahan emosi. Dia tidak ingin bertengkar dengan siapapun. Tapi prilaku Putri Nadira dan teman-temannya sudah sangat keterlaluan. Mereka selalu saja mengkoreksi apapun yang di lakukan dan di kenakan Yuki.


Yuki merasa muak. Dia menahan keinginan untuk menimpali ucapan Mereka. 


Yuki memalingkan wajah. Mengacuhkan keberadaan Mereka tanpa membalas satupun ucapan Mereka. Dengan begitu Dia berharap Mereka akan segera pergi dan meninggalkan Yuki seorang diri.


"Sudah teman-teman. Lebih baik Kita pergi atau Dia akan mengadukan Kita yang bukan-bukan lagi kepada Kakak. Dia ini seperti ular, pintar mencari muka" 


Putri Nadira melangkah dengan gaya di buat-buat.


"Permisi Putri Yuki" Ketika Dia akan melewati Yuki, Dia sengaja mencondongkan tubuhnya untuk menabrak Yuki. Yuki terkejut dengan gerakan yang di lakukan Putri Nadira. Sebelum Dia sempat menyadarinya, tubuhnya sudah terlebih dulu terdorong masuk ke dalam kolam.


Bbyyuuurrrr 


Suara ceburan yang cukup keras terdengar.


Para Putri tertawa riuh melihat Yuki yang menggapai mencari keseimbangan. Rambut dan bajunya basah kuyup. Ketika pada akhirnya Dia mampu mengendalikan diri, Yuki berenang ke tepi kolam dan berpegangan pada dinding kolam. Dia menatap Putri Nadira yang terbahak, berdiri dengan angkuh di atasnya. Memandang Yuki dengan sorot puas.

__ADS_1


"Putri Nadira..." Bisik Yuki tidak percaya.


Putri Nadira menunjuk Yuki sembari tertawa senang. "Lihat Dia...lihat..betapa memalukannya Dia"


"Putri Yuki, jika ingin berendam lebih baik di kolam pemandian. Bukan di kolam ikan"


"Aku tidak percaya, gadis seperti ini akan menjadi istri Pangeran. Dia tidak pantas sama sekali bersanding dengan Pangeran Kita"


Wajah Yuki merah, menahan rasa malu dan marah yang berkecamuk di dada. Dia menahan air mata yang berusaha membobol dinding pertahannya. Yuki tidak mau menangis di depan Mereka. Dia tidak mau terlihat lemah.


Semakin banyak Putri yang datang untuk melihat kejadian. Mereka mendapat kabar dari Putri lain yang telah lebih dulu datang. Semua tidak ada yang menolong Yuki. Mereka hanya memandang Yuki dari atas.


Saling berbisik dan menertawakan Yuki.


"Ada apa ini ?"


Suasana yang tadinya ramai mendadak hening. Tidak ada suara apapun selain bisikan lirih dari beberapa orang yang baru saja datang.


Pangeran Sera berjalan menyibak kerumunan. Wajah para Putri pucat pasi begitu melihat sosok Pangeran Sera.


"Apa yang terjadi.." Dia sedang mengadakan rapat ketika terdengar ceburan keras di susul keramaian di sekitar ruangan. Karena penasaran, Pangeran Sera menghentikan rapat untuk melihat apa yang sedang terjadi. 


Perkataannya terputus ketika melihat Yuki berada di dalam kolam ikan. 


"Yuki" panggil Pangeran Sera terkejut. Dia kemudian berpaling dan menatap Putri Nadira dengan tajam. "Nadira apa yang terjadi ?" Bentak Pangeran Sera cukup kencang. Yuki terkejut ketika melihat kemarahan Pangeran Sera. Sekarang Dia memercayai ucapan Putri Magitha. 


Pangeran Sera sangat menyeramkan ketika sedang marah. Yuki belum pernah melihat ekpresi Pangeran Sera seperti yang di tunjuk pada Putri Nadira.


Putri Nadira mengkeret ketakutan. Kesombongannya menghilang seketika. "Kami...Kami tidak melakukan apapun Kakak....sangat tidak sopan jika menganggu Putri Yuki yang ingin berenang bersama ikan di kolam" 


Teman-temannya tidak berani menatap Pangeran Sera. Semua menunduk ketakutan.


"Benarkah ?" Tanya Pangeran Sera dingin dengan wajah datar. Dia menatap lurus ke arah Putri Nadira. 

__ADS_1


Semua diam ketakutan.


"Aku..Aku terjatuh ketika melihat ikan di kolam" ujar Yuki memecah keheningan. 


Pangeran Sera berpaling dan menatap Yuki. Yuki terlihat menyedihkan. Tubuhnya basah kuyup dan Dia menggigil kedinginan.


Pangeran Sera mendesah lirih. "Apa yang harus Aku lakukan padamu Yuki ?" Tanya Pangeran Sera sendu. 


Dengan tenang, Dia melangkahkan kaki mendekati kolam. Dan langsung menceburkan diri menyusul Yuki yang masih berpegangan di pinggir kolam.


"Aku menjadi gila setiap kali berpikir Kau akan pergi sewaktu-waktu dari hidupku" 


Ketika Pangeran Sera meraih pinggang Yuki untuk mendekat. Yuki secara natural langsung melingkarkan tangannya ke leher Pangeran Sera. Beberapa Putri melihatnya dengan pandangan iri. Tapi Mereka tidak berani memprotes Pangeran Sera.


"Kepalaku ini selalu di penuhi soal dirimu. Aku jatuh cinta...cinta kepadamu Yuki" Pandangan lembut milik Pangeran Sera menyapu hati Yuki. Tatapannya penuh cinta dan pemujaan.


Waktu seolah berhenti berputar. Dunia menjadi milik berdua. Pangeran Sera terus menatap Yuki dalam, seolah ingin menyampaikan seluruh cintanya pada Yuki melalui tatapan matanya.


Yuki terdiam, terpesona akan tatapan Pangeran Sera. Seolah dirinya tersedot ke dalam mata Pangeran Sera.


Dia seperti lupa bagaimana caranya bernafas. 


Dahi Pangeran Sera dan Yuki bertemu. "Aku tidak bisa hidup tanpamu Yuki. Kau adalah segalanya bagiku" 


"Pangeran.." Pangeran Sera merengkuh wajah Yuki dengan kedua tangannya. Kemudian Dia mencium Yuki mesra di hadapan para Putri yang memujanya.


Suara pekikan terdengar. 


"Pangeran" Panggil Yuki lagi ketika akhirnya Pangeran Sera melepaskan ciumannya.


Pangeran Sera mendongak. Memandang sekeliling dengan rahang terkatup rapat. Tangannya memeluk Yuki erat, sikapnya sangat protektif terhadap Yuki. Terlihat dari bagaimana Pangeran Sera memeluknya.


"Semua yang ada di sini dengarkan, Kalian adalah saksiku" sontak semua orang berlutut untuk menerima titah Pangeran Sera. "Atas nama Dewi Sakala, Aku Sera Madza Putra dari Jafar Madza dan Warda Ansmar, Perwaris tahtah kerajaan Argueda bersumpah, bahwa Aku hanya akan menikahi satu wanita dalam hidupku"

__ADS_1


 


__ADS_2