Morning Dew

Morning Dew
25


__ADS_3

"Kalau begitu Kau saja yang jadi kekasihnya" Kata Yuki kesal.


Elber mengangkat tangan, pura-pura terkejut. 


"Yuki apa yang Kau lakukan sampai Kakak bisa tertarik padamu ?" Putri Norah datang dengan wajah kesal. Dia langsung menuju ke bangku Yuki untuk membuat kegaduhan.


Putri Norah tidak percaya, bahkan Ayahnya bersedia mengangkat Yuki sebagai Consort VIII di istana harem Pangeran Riana dalam semalam. Dia mendengar Pangeran Riana yang menghadap sendiri ke Raja Bardhana untuk meminta status Yuki dinaikkan ke level tersebut, dan Raja Bardhana langsung menyetujuinya.


"Kau pasti telah mengguna-gunainya" tuduh Putri Norah lagi dengan wajah tak puas.


Yuki menghela nafas dalam, Dia tidak ada minat bertengkar dengan Putri manapun hari ini. 


Yuki sendiri bahkan tidak mengetahui kenapa Pangeran Riana tiba-tiba bersikap mengesalkan begitu. Dia juga ingin mengetahui jawabannya.


"Putri Norah apa pantas Kau berbicara tidak sopan begitu pada Putri Yuki" ujar Elber geli.


"Kenapa tidak ?!" Tantang Putri Norah dengan sikap arogannya. 


"Apa harus kuingatkan status Putri Yuki sekarang lebih tinggi darimu, bahkan jika Putri Yuki mengatakan cambuk dirimu kepada para prajurit kerajaan karena Kau telah bersikap tidak sopan padanya, menurutmu mereka akan melaksanakan perintah Yuki atau tidak ?, Meskipun Mereka mengetahui statusmu sebagai anak Raja ?"


Putri Norah terdiam. Wajahnya memerah menahan amarah. Dia langsung berbalik pergi dengan kesal.


Yuki tergangga melihat kejadian itu. Dia menaikan alis menatap Elber menuntut penjelasan.


"Ibunya hanya Consort III di istana harem. Secara status Kau lebih tinggi bahkan dari status ibunya yang merupakan wanita raja. Jika Kau ingin membuat perhitungan atas kejadian di kantin tempo hari, Kau bisa melakukannya sekarang tanpa mengotori tanganmu"


Yuki tidak akan melakukannya. Dia tidak ingin membalas dendam dengan memanfaatkan posisinya.


"Terimakasih sudah membantuku menghentikan kekacauan ini" ujar Yuki tulus. 


Elber mengedipkan matanya membalas ucapan Yuki. Mereka tidak berani melanjutkan obrolan karena Nyonya Owel sudah masuk dan langsung memulai pelajaran.


Lonceng pertanda istirahat makan siang berdentang. Yuki buru-buru membereskan tas nya. Dia ingin mengejar waktu, menuju pondok mawar Bangsawan Dalto. Jika Yuki tidak salah ingat, hari ini waktunya Dia memberikan pupuk untuk mawar-mawarnya. Dia tidak mau ada salah paham diantara keduanya karena kejadian hari ini. 

__ADS_1


Tapi ketika Dia keluar kelas, Dua orang pengawal kerajaan sudah menunggunya. 


"Maaf Putri Yuki, Pangeran memerintahkan Kami untuk menjemput Putri"


Yuki langsung meradang dibuatnya. Tidak bisakah Mereka membiarkannya sendiri. Yuki tidak ingin menimbulkan keributan, apalagi lirikan penasaran terus mengikutinya sekarang. Jadi Dia memutuskan untuk mengikuti permintaan para pengawal kerajaan.


Dia diampit saat berjalan, seperti seorang pesakitan. 


Yuki sampai di ruang istirahat Pangeran Riana. Para pengawal mengantarkannya ke ruang pribadi, tempat biasa Pangeran berkumpul bersama teman-temannya di sekolah. Saat Dia tiba di sana, para pelayan sudah menyediakan makanan di meja.


Bangsawan Asry sudah lebih dulu menyantap makanannya. Sementara itu Bangsawan Voldermon yang duduk di sebelahnya sedang asyik bermain catur dengan Bangsawan Xasfir sementara Pangeran Riana duduk di antara Mereka, memperhatikan jalannya permainan.


"Duduk" perintah Pangeran Riana kepada Yuki sembari menarik sebuah bangku di dekatnya. 


"Halo kucing kecil, apa kabarmu hari ini ?, Cukup bahagia ?" Sapa Bangsawan Voldermon mendongakkan kepala sejenak dari permainan setelah Dia menjalankan pionnya.


Yuki memberengut kesal. Dia sengaja berjalan melewati Bangsawan Voldermon dan menginjak kakinya cukup keras. Yuki menyesal tidak menggunakan sepatu dengan hak runcing hari ini.


Bangsawan Voldermon mengaduh, Dia menatap Yuki memprotes. Tapi Yuki berlagak tidak melihatnya.


Yuki tidak mengerti kenapa Pangeran Riana menyuruhnya datang ke ruangannya ?. Apakah Dia memintanya menonton pertandingan catur ?. 


Yuki bukan pengangguran yang bisa meluangkan waktu mengikuti kegiatannya. Dia ingin memprotes, banyak hal yang harus Dia lakukan bukan hanya sekedar duduk seperti orang bodoh di sini.


Pangeran Riana mengalihkan fokusnya kepada gadis di sampingnya. Wajahnya muram, jelas terlihat jika Yuki tidak sukarela datang kemari. Tapi Pangeran Riana tidak peduli. Masih banyak waktu untuk mengurus gadis itu. Dia tidak perlu terburu-buru.


Pangeran  Riana menunjuk piring di depannya dengan dagunya.


"Makan" perintah Pangeran Riana kepada Yuki yang langsung disambut dengan dingin oleh Yuki.


"Aku tidak lapar" 


Ada sebersit cahaya melintas di mata Pangeran Riana. Dia tidak peduli jika gadis itu tidak suka berada di sini, tapi sifat membangkang yang berkali-kali di tujukan gadis itu sering membuat kesabarannya diuji.

__ADS_1


Pangeran Riana menatap Yuki dengan ekpresi dingin.


"Kuperintahkan Kau untuk makan" Pangeran jelas tidak ingin di bantah.


Bangsawan Asry menatap Yuki dan Pangeran Riana bergantian. Dugaannya tepat, Mereka akan sering bertengkar jika bersama. Yang satu otoriter dan tidak mau dibantah, yang satunya lagi mempunyai sifat pembangkang dan tidak mau dikengkang. Kehidupannya akan berat kedepannya karena harus menjaga mereka berdua yang memiliki sifat menyebalkan seperti itu.


Yuki melihat Bangsawan Asry menyelesaikan makannya dengan cepat. Dia merasa bersalah karena pasti Bangsawan Asry tidak nyaman dengan pertengkaran yang terjadi di depan matanya.


Tapi ini bukan salah Yuki sepenuhnya.


Pangeran Riana Lah yang tiba-tiba bersifat aneh dan menyusahkan Yuki.


"Baik sesuai perintahmu yang mulia" ujar Yuki akhirnya sambil mengambil piring di depannya., Meletakkannya di pangkuan. Yuki sengaja menekan kata Mulia untuk menyindir Pangeran Riana yang bersikap semena-mena hanya karena Dia adalah Pangeran penerus tahtah kerajaan.


Yuki mengambil suapan besar dengan gaya yang tidak anggun sama sekali, Dia memasukkan  nasi ke dalam mulutnya, sampai mulutnya terasa penuh. Jika Nyonya Dolsom, guru di pelajaran etika pergaulan dan kesopanan Masyarakat melihat hal ini, Yuki akan langsung mendapat nilai jelek dan di suruh mengulang kelas tahun depan.


Bangsawan Voldermon tercengah saat melihat cara makan Yuki. Dia tidak seperti wanita yang pernah di temui selama ini. Sifat pembangkangnya justru membuatnya menjadi pribadi yang menarik.


Yuki menghabiskan makanan di piringnya dengan lima kali suapan besar. Dia mengambil segelas air di atas meja, dan langsung meminum isinya sampai habis. Melegakan tenggorokannya yang tersumbat nasi.


Kemudian dengan gaya yang berlebihan, Dia mengelap mulut dan tangannya dengan sapu tangan.


"Terimakasih atas Makanannya Yang Mulia, sekarang Saya permisi pergi" ujar Yuki sembari berdiri dengan wajah acuh.


Tanpa menunggu persetujuan Pangeran Riana, Yuki berdiri dan meninggalkan ruangan.


Pintu di tutup dengan keras.


"Aku masih tidak percaya Kau memiliki selera gadis yang aneh seperti Putri Yuki" ujar Bangsawan Asry setelah Dia merasa Yuki sudah cukup jauh dan tidak dapat mendengar pembicaraan Mereka.


"Apa asyiknya dengan para Putri yang terlalu datar..tidak ada tantangan sama sekali" bela Bangsawan Voldermon lebih kearah Yuki. 


"Tapi gadis itu terlalu liar" Bangsawan Asry kembali mengutarakan pikirannya.

__ADS_1


"Bukan Putri Yuki yang liar, Kau lah yang terlalu kaku menjalani kehidupan. Ayolah teman, Rubah pola pikir mu, tidak akan ada gadis yang mau menikahimu jika Kau masih menganut paham orang tua jaman dulu"


__ADS_2