Morning Dew

Morning Dew
6


__ADS_3

"Bosan" Aku membuang buku yang sedang Kubaca ke lantai di depanku.


"Putri, bersikap manislah dengan begitu Pangeran mungkin akan memulangkan Putri kembali ke rumah" ujar Rena yang sembari tadi duduk menemaniku.


"Apa Kau tidak melihat, Dia sudah menyiapkan penjara ini untukku dengan baik" gerutuku kesal. Sudah satu minggu Aku berada disini. Selama satu minggu itu atas perintah Pangeran, Aku dikurung di kamar tepat disamping kamarnya. Dia tidak membawaku ke istana wanita melainkan langsung memasukkanku ke kamar yang berdampingan dengan kamarnya. Kamar Kami hanya terpisah taman kecil. Yang lebih mengejutkan, didalam ruang berpakaian, ada banyak sekali baju, sepatu dan perlengkapan wanita yang kesemuanya cocok dengan ukuranku. Tampaknya Pangeran berencana mengurungku lebih lama di istananya.


"Aku ingin pulang" rengekku. Aku menyurukkan wajahku di meja depanku. Aku ingin pulang. Memang kamar ini lebih luas dan lebih mewah daripada kamarku. Tapi Aku merindukan kamarku yang biasa, lebih tepatnya kamarku diduniaku sendiri.


"Apa Ayah belum bisa kembali ?"


Ayah sudah mendengar akan masalahku, namun sayangnya Dia belum bisa kembali. Ayah berjanji padaku akan langsung kembali begitu pekerjaannya selesai.


"Perdana Menteri sedang mengurus perjanjian penting, beliau tidak bisa kembali sebelum jadwal yang ditentukan. Putri harap bersabar, lebih baik Putri bersikap manis didepan Pangeran, siapa tau beliau akan berubah pikiran" bujuk Rena lagi.


Aku diam tidak mau lagi membalas Rena karena ujung-ujungnya Dia akan memintaku untuk bersikap baik dengan harapan Pangeran akan mengubah pendiriannya.


Di istana ini, Aku bagaikan burung dalam sangkar emas. Sedikitpun Aku tidak boleh keluar kamar walaupun hanya untuk menikmati embun pagi dari teras. Badanku terasa pegal semua karena kurang berolahraga, Mau gimana lagi...memang apa yang bisa kulakukan didalam kamar selain duduk dan tidur. Terdengar suara ribut dari kamar pangeran. Aku melirik cendela, hari sudah larut malam. Apa yang terjadi. Aku dan Rena bertatapan binggung.


"Pergi kalian" terdengar suara Pangeran keras disusul suara pintu dibanting. Aku mengintip dari balik pintu. Beberapa pelayan tampak kebingungan didepan kamar pangeran. Wajah mereka pucat pasi.


"Paman ada apa" tanyaku pada penjaga didepan kamar.


"Pangeran sepertinya terluka, tapi beliau tidak ingin ada seorangpun mendekatinya untuk mengobati"


"Bisakah Aku berbicara sendiri dengan para pelayan itu"


"Saya akan panggilkan"


Pengawal itu berjalan dan memanggil seorang pelayan untuk menemuiku.


"Ampun Putri, Pangeran baru saja tertimpa peti saat akan membangun gerbang festival disekolah. Walau sudah diobati tapi malam ini Pangeran akan terkena demam tinggi. Tapi Pangeran sama sekali tidak mengizinkan Kami masuk untuk merawat. jika terjadi apa apa dengan Pangeran kami akan dihukum. bagaimana ini Putri"


"Kenapa Dia bisa tertimpa peti" kalau dari sifatnya Aku tau dia bukan orang yang ceroboh.


"Pangeran hendak menolong seekor kucing yang tidur saat peti yang ditumpuk berjatuhan agar tidak tertimpa"


Hah...kucing. Aku tidak bisa membayangkan orang kejam itu masih punya hati untuk peduli pada seekor kucing..


"Baiklah biar Aku yang membantu" ujarku akhirnya.


"Pangeran meminta Putri untuk tidak keluar kamar" protes penjaga menolak.


"Aku tahu, tapi jika sampai terjadi apa-apa dengan Pangeran apa kalian mau menanggungnya" tanyaku kesal. Penjaga tersebut terdiam. "Aku janji hanya akan merawatnya"


"Baiklah Putri, silahkan" ujar pengawal itu setelah berpikir panjang. Aku berjalan menuju kamar Pangeran.


"Putri berhati-hatilah" ujar Rena cemas. Aku menganggukan kepala. Rena mengulurkan perlengkapan dalam keranjang. Aku membuka pintu perlahan dan masuk kedalam.


Ruangan ini memiliki perabotan terbuat dari kayu yang berkualitas nomer satu. Di sebelah utara tepat berhadapan dengan kamarku, a


Ada cendela besar dan tinggi, dari sini Aku bisa melihat kamarku dengan jelas. Menyadarkanku untuk menutup rapat tirai cendela kamarku nantinya. Ada meja kerja dengan bangku yang tinggi besar. Dibelakangnya ada satu buah rak penuh berisi buku tebal. Disisi lain ruangan ada satu set meja dan kursi untuk tamu yang datang. Aku mengetuk sebuah pintu yang ada diruangan itu.


"Bukankah sudah kubilang keluar" teriak Pangeran dari dalam. Suaranya dingin dan tidak bersahabat.


"Ini Aku, apa Aku boleh masuk ?" tanyaku. Tidak ada jawaban, namun tidak berapa lama pintu terbuka. Pangeran bertelanjang dada. Memarnya jelas terlihat di bahu kiri sampai punggung kirinya.


"Ada apa ?"


"Aku dengar Kau terluka jadi aku ingin melihatmu"


"Sudah malam istirahatlah"


"Biarkan Aku melihatmu dulu" pintaku memohon. Pangeran tidak menjawab, Dia hanya masuk kembali kedalam kamar tanpa menutup pintu. Aku melangkahkan kakiku kedalam kamarnya. Kamar ini sekilas cukup sederhana untuk ukuran seorang Pangeran penerus tahtah kerajaan sebesar Garduete. Namun aku tidak mungkin tertipu, semua furniture dan kelengkapannya pasti dari bahan terbaik.


"Duduklah" pintaku lirih. Pangeran duduk dipinggir tempat tidur. Aku meletakkan keranjang disampingnya.


"Aku akan memeriksa lukamu, jadilah anak baik. jangan macam-macam"


Pangeran tersenyum sinis. "Jika Kau takut padaku kenapa Kau masuk kekamarku.


Bukankah ini sama saja dengan Kau yang mengundangku"


"Cukup main-mainnya. Aku kesini untuk merawatmu" Gerutuku kesal. Jika dibilang takut, tentu saja Aku sangat takut. Bayangan saat Dia menyerangku dulu masih membekas dalam ingatanku. Tapi Aku juga tidak mungkin diam melihatnya terluka begini. Aku memeriksa luka pangeran. Untuk urusan pengobatan setidaknya Aku punya sedikit wawasan dari Phil dan bibi Sheira. "Cukup parah, kata pelayan walau sudah diobati nanti malam kemungkinan akan terserang demam tinggi". Aku mengoleskan obat dimemarnya. berusaha fokus ketika otot ditubuhnya mengangguku. Aku bernafas lega ketika berhasil melakukan tugasku. Lukanya sudah terbalut rapi. Aku meletakkan keranjang obat dan mengambil makanan yang telah disediakan pelayan sebelumnya. "Buka mulutmu" kataku menyendokkan nasi untuk menyuapinya.


"Aku bisa lakukan sendiri"


"Tidak apa-apa, kali ini biarkan Aku yang menyuapimu. Ini pelayanan spesial untukmu" kataku sambil tertawa. Pangeran akhirnya tidak membantah,Aku menyuapinya. Setelah selesai Aku memberikan obat dan Dia meminumnya.


"Apa lagi yang Kau lakukan" tanyanya ketika Aku menarik kursi ke samping ranjang.


"Aku akan menjagamu"


"Tidak perlu, kembalilah kekamarmu"


"Aku tidak mau. Kau akan demam tinggi nanti malam. Sudahlah. Tidurlah saja" Aku merapikan selimutnya. Menepuk-nepuk rambutnya sambil bersenandung lirih seperti seorang ibu yang menidurkan anaknya.


Aku menginjakkan kakiku ditanah yang basah dan berembun.


Dimana aku ?


Aku melihat sekeliling dan menemukan diriku berada ditengah hutan yang gelap. Pohon-pohon tinggi menjulang sampai keatas langit. Bulan bersinar dengan angkuhnya.


Kenapa Aku ada disini ?


Seharusnya Aku berada didalam kamar Pangeran riana di istanannya. Bukan ditempat ini.


Apa Pangeran membuangku saat Aku tidur hanya karena menolak menjadi kekasihnya. Inikah hukuman yang dia berikan. Kenapa Dia begitu jahat ?


Aku mendengar suara denting besi dan teriakan orang. Ringkikan kuda menjadi satu diantara keduanya. Seperti ada pertempuran. Aku berbalik dan menemukan sumber suaranya. Didepanku terjadi pertempuran, Kereta kuda terbalik,Mayat bergelimpangan. Bau darah tercium menyengat, Membuatku mual. Para prajurit saling menyerang satu sama lain. Saling bunuh tanpa ampun. Bukankah itu pasukan Negeri Garduete. Kenapa mereka saling serang ?. Aku mengenali dari pakaian mereka.


Aku mendengar teriakan yang familiar. Spontan Aku berlari mendekat. jantungku berdegub kencang. Kakiku terasa lemas. Aku terus berdoa dalam hati. Tapi pendengaranku tidak mungkin salah mengenali.


Tidak...Aku mohon jangan orang itu...


Ayah mengayuhkan pedang. Membunuh penyerangnya. Kakiku bergetar seolah seluruh tenagaku terkuras habis. Darah mengalir dari tubuhnya. Tapi walau begitu, Dia tetap berjuang. Melawan.


"Ayahhh....ayahhhh" teriakku. Anehnya walau Aku disampingnya. Berteriak. Dia tidak mendengar atau menyadari kehadiranku. Aku berusaha menyentuhnya, tapi gagal. Dia bagaikan hologram, tembus tidak dapat teraba.

__ADS_1


"Ayahhhh...." saat Ayah bertarung menghadapi dua prajurit didepannya. Seorang prajurit dari belakang mengayuhkan pedangnya. Pedang itu berkilat tertimpa cahaya bulan."Ayahhhh...awasss....."


Aku terbangun. Keringat dingin membasahi keningku. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku mengigil.


Setelah kesadaranku kembali, Aku memperhatikan sekeliling. Aku berada didalam kamar Pangeran. Tertidur dikursi disamping ranjang.


Syukurlah hanya mimpi. Aku mengusap peluh. Mengambil segelas air dari atas meja disampingku dan langsung meminum habis.


Mimpi itu seolah nyata. Aku sering mengalami mimpi seperti ini, seolah aku benar berada ditempat tersebut. Seluruh panca indraku bereaksi secara normal merespon setiap rangsang. Terdengar rintihan kecil. Aku berpaling, melihat Pangeran Riana mandi keringat. Segera Aku menghampirinya. Pangeran membuka matanya "Yuki"


Aku memegang dahi Pangeran, astaga panas sekali. Sepertinya keputusanku untuk tidak meninggalkannya tadi tepat. "Tidak apa-apa semua akan baik-baik saja" bisikku pada Pangeran. Aku mengambil air dalam baskom. mengelap keringat yang mengalir di wajah dan tubuhnya. "Ini minumlah, ini akan meredakan demammu" Aku menompang badan Pangeran didadaku. Memasukkan obat kedalam mulutnya. Namun Dia memuntahkannya lagi. Bagaimana ini ?. Sekarang sudah larut malam. Diluar sepi.Aku tidak yakin apakah pelayan masih ada disana. Pangeran melarang mereka masuk, mungkin Dia tidak ingin terlihat dalam kondisi seperti ini. Aku meletakkan kembali Pangeran ke tempat tidur. Dia harus meminum obatnya. Akhirnya Aku memasukkan obat dan air ke mulutku, lalu mendekatkan ke wajahnya. Aku memasukkan obat kedalam mulutnya dengan menggunakan mulutku. Setelah yakin obatnya masuk,Aku langsung melepaskan diri. Aku terus menyeka keringatnya,Pada akhirnya Pangeran dapat kembali tidur. Sisa malam itu beberapa kali Aku terjaga untuk mengelap badannya. Saat suhu tubuhnya kembali normal, Aku langsung merebahkan diri disofa dan langsung tertidur.


Terdengar cicit burung, udara dingin


terbawa dari angin yang menyapu rambutku. Aku mendengar suara orang bercakap-cakap dari kejauhan,Aku mengenali salah satunya sebagai suara Pangeran Riana.Apa Dia sudah bangun ? jam berapa ini ?. Dengan malas, Aku berguling kesamping.Harusnya Aku jatuh.tapi nyatanya Aku tidak terjatuh. Aku tidur di sofa, Jika Aku berguling seperti ini harusnya Aku sudah jatuh kelantai. Dan lagi, tempat ini terlalu nyaman untuk ukuran sebuah sofa. Akhirnya Aku membuka mata, mendapati diriku berada diatas ranjang Pangeran. Pangeran sendiri sudah tidak ada ditempatnya. Matahari sudah beranjak tinggi. Aku benar lelap sampai tidak sadar diangkat keatas ranjang. Aku bangun, merapikan tempat tidur. Apa Pangeran ada di ruang kerjanya. Aku membuka pintu yang kemudian kusesali. Ternyata Pangeran sedang berbincang dengan dua orang menteri yang cukup berumur. Kedua menteri itu melihatku terkejut. Aku mengerjap binggung.


"Kau sudah bangun ?" tanya Pangeran tenang. Aku diam tidak menjawab.


"Aku akan mempelajari laporan ini. Kalian boleh pergi" ujar Pangeran kepada kedua menterinya. Kedua menteri berdiri memberi hormat. Mereka melirikku ketika akan keluar kamar lalu mengelengkan kepala.


"Kenapa Kau tidak menjelaskannya" tanyaku pada Pangeran ketika kami tinggal berdua.


"Menjelaskan apa ?"


"Menurutmu apa yang dipikirkan mereka ketika melihatku keluar kamarmu dengan penampilan begini" ujarku gusar. "Mereka pasti mengira yang tidak-tidak"


"Baguskan ?"


Aku mengenyitkan dahi tidak setuju. Tapi Aku tahu dia menikmati apapun yang dipikirkan kedua menteri tadi. Aku memutuskan diam tidak ingin membahasnya.


"Bagaimana lukamu" kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah sembuh"


"Benarkah ? tidak mungkin sembuh begitu saja" kataku tak percaya.


"Kau boleh memeriksanya kalau Kau mau"


"Apa pangeran pikir Aku tidak akan melakukannya?" Aku menghampiri Pangeran. mengangkat pakaiannya untuk melihat lukanya.


"Aku tidak menyangka Kau ternyata seagresif ini Putri"


"Jangan berbicara sembarangan" hardikku kesal. Aku melihat memang lukanya sudah hilang bahkan tidak berbekas. "Bagaimana bisa ?" tanyaku tak percaya.


"Berkat obat yang diberikan Serfa, ngomong-ngomong tidak adakah yang ingin Kau bicarakan padaku"


"Apa" tanyaku tidak mengerti.


Pangeran memeluk pinggangku dan menarikku kepangkuannya.


"Apa yang kaulakukan, lepaskan Aku" Aku berusaha membebaskan diri.


"Lihar dirimu,Sekarang Kau menolakku, padahal semalam Kau berani menciumku seperti itu"


"Aku tidak menciummu" kataku gusar. "Aku berusaha memasukkan obat kedalam mulutmu karena Kau terus saja memutahkannya"


"Ya" aku tentu saja tau. festival empat negara dari empat negeri besar yang bertetangga dekat. Negeri Argueda, Garduete,Humaira dan Celfana. Setiap negeri akan mengirim murid-murid terbaiknya untuk berlomba dan saling menunjukan kebolehan. Tujuan festival ini adalah menjalin kerukunan dan kerjasama antar negara besar yang wilayahnya berbatasan.Aku sangat ingin ikut dalam persiapan festival tersebut. Pasti sangat menyenangkan dan meriah. Pangeran menatapku, membaca isi hatiku. "Jika Kau menciumku, Aku akan membawamu ke sekolah"


Aku terkejut dengan syarat yang Dia gunakan.


"Tidak mungkin" kataku marah.


"Aku tidak memaksamu Putri"


"Kau licik" Dia sangat mengerti Aku ingin pergi. Ini kesempatanku untuk bebas menghirup udara segar lagi. Jika Aku menolak, belum tentu besok Aku bisa mendapatkan kesempatan yang sama mengingat mood Pangeran yang berubah-ubah. "Licik sekali" kataku goyah. Pangeran tersenyum penuh kemenangan.


"Beri Aku satu ciuman, itu saja"


"Hanya satu ciuman ?" tanyaku meyakinkan.


Pangeran tersenyum.


Aku masih duduk dipangkuan Pangeran. Tanganku berada didadanya. Perlahan, Aku mendekatkan wajahku, lalu secepat kilat Aku mencium bibirnya.


"Apa itu ?" tanya Pangeran tak puas.


"Ciuman kan" jawabku berlagak polos.


Pangeran mendesah.Aku terkejut saat tau-tau Dia sudah merebahkanku ke sofa. "Apa yang Kau lakukan"


"Diam" perintah Pangeran. Dia mengelus pipiku. Aku memalingkan wajahku binggung. "Aku tidak membuat masalah apapun" kataku mengingatkan.


Pangeran mendekatkan wajahnya. Aku menutup mulutku dengan tangan. "Katamu satu ciuman"


"Bukan ciuman yang kekanakan seperti itu" Pangeran menarik tanganku, Menekannya kesamping kepalaku. Dia langsung menciumku. Tidak memberiku kesempatan untuk bernafas. Aku selalu kewalahan dengan ciumannya yang penuh tuntutan. Jantungku berdebar terlalu kencang. Entah berapa lama Kami berciuman. Saat Dia melepaskan ciumannya, nafasku sudah tersenggal-senggal. Wajahku memerah, rasanya panas.


"Bersiaplah, jangan sampai Aku berubah pikiran nanti"


Aku bangun. merapikan rambut dan pakaian. Kemudian berlari keluar menuju kamarku sendiri.


Aku turun dari kereta, menyaksikan pembangunan gerbang festival yang dibangun murid-murid tanpa bantuan pengawal atau pekerja. Rasanya menyenangkan bisa keluar dari istana. Bangsawan Xasfir sedang membuat ukiran dari kayu. Aku tidak bisa membayangkan jari tangannya yang terlihat besar itu bisa membuat ukiran rumit yang begitu indah. Pangeran berdiri disampingku berbicara dengan dua orang pengawal yang memberinya dokumen. Tanpa sengaja Aku melihat Bangsawan Dalto. Refleks Aku hendak pergi mengejarnya, tapi Pangeran sudah lebih dulu mencekalku.


"Jika Aku melihatmu berbicara dengan Dalto ataupun Sera tanpa izinku, Aku akan membawamu kembali keistana dan tidak akan membiarkanmu keluar lagi" Ancamannya dingin.


"Sudahlah Yuki,kemarilah bantu Kami" Bangsawan Xasfir masih membuat ukiran. Dia melambaikan tangan supaya Aku ikut bergabung. Bangsawan Voldermon mengaduk cat lalu menguaskan ke ukiran yang telah diselesaikan Bangsawan Xasfir sebelumnya.


"Kau tampak sehat kucing kecil, Bagaimana ? menyenangkan bukan berciuman dengan Pangeran" seloroh Bangsawan Voldermon membuatku kesal.


"Lebih menyenangkan daripada Aku harus berciuman denganmu"


Bangsawan Voldermon terkekeh. "Saat umurmu genap enam belas tahun nanti, bersiaplah jika Riana melakukan lebih padamu"


"Apa yang Kau katakan, Pangeran tidak akan seperti itu" kataku setengah ketakutan.


"Gerakan tangan Riana cukup cepat, jangan khawatir Kau akan baik baik saja" Aku melempar lap kotor pada Bangsawan Voldermon. Dia tertawa puas saat melihatku ketakutan.


"Jangan menakutinya Vold" hardik Bangsawan Xasfir membelaku.

__ADS_1


"Aku hanya berbicara kenyataan. Apa Kau mau bertaruh padaku"


"Tidak mungkin seperti itu, Pangeran bukan orang yang seperti itu" kataku lagi mencoba meyakinkan diriku sendiri.


"Siapa bilang ?, Aku tidak akan segan melakukannya, terutama jika Aku mencium tanda-tanda yang tidak menyenangkan darimu" ujar Pangeran menghampiri Kami. Rupanya Dia mendengar pembicaraan kami. Aku langsung mengkeret ketakutan.


"Aku sudah sering tidur dengan gadis yang baru berusia enam belas" ujar Bangsawan Voldermon bangga. Aku menunjukkan tangan kearahnya dengan wajah serius.


"Kau penjahat wanita"


Aku berjalan sendirian dilorong yang ramai. Semua murid sibuk dengan persiapan festival yang akan diadakan di akhir bulan ini. Tepat hari pertama di musim gugur. Tanpa sengaja aku melihat sosok Bangsawan Dalto memasuki ruang musik. Aku menengok kekiri dan kekanan. Memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutiku. Setelah memastikan aman, Aku berjalan cepat menuju ruang musik. Aku bersyukur hanya ada Kami berdua diruangan ini. Aku bisa menjelaskan kesalahpahaman ini.


"Bangsawan Dalto" Aku menghampirinya dan memeluk lengannya senang.


Bangsawan Dalto yang sedang merapikan alat musiknya berhenti.


"Maaf Aku baru bisa menemuimu, Aku beberapa kali mengirimimu surat tapi Kau tidak membalasnya"


"Aku memang sengaja tidak membalasnya" Aku mengerjap. Bangsawan Dalto menatapku dingin.


"Dengarkan Aku, Aku akan menjelaskan semuanya"


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Yuki" ujar Bangsawan Dalto melepaskan tanganku dengan kasar. "Mulai sekarang anggap Kita tidak saling mengenal"


"Aku tidak mau...kenapa ??"


"Apa Kau tidak mengerti Aku sudah tidak mau berhubungan lagi denganmu" bentak Bangsawan Dalto kasar. "Berteman denganmu membuatku sulit. Sekarang pergilah. Jangan ganggu Aku lagi"


"Aku tidak mau"


"Baik" ujar Bangsawan Dalto. "Aku yang pergi" Bangsawan Dalto mengambil alat musiknya dan langsung mendorongku sampai sikuku terantuk meja. Dia berjalan pergi tanpa menoleh padaku.


Aku tercengang dengan perubahan sikapnya. Apa yang terjadi ?.


Aku bersama dengan Elber. Dia baru saja selesai berlatih menari untuk upacara pembukaan festival. Sekolah tampaknya sangat mempersiapkan acara ini. "Terimakasih" Elber menerima gelas yang berisi air dan langsung meminumnya sampai habis. Aku tidak mendapatkan tugas apapun dalam festival ini atas perintah Pangeran. Jadinya Aku hanya menjadi penonton mereka berlatih.


"Bangsawan Dalto sepertinya salah paham padaku. Aku tadi bertemu dengannya dan Dia tidak mau berbicara denganku"


"Kau ini padahal sudah menjadi kekasih Pangeran tapi masih saja mengurusinya, jika Pangeran tau Kau akan dapat masalah" Ujar Elber mengingatkan.


"Aku dan Dia adalah teman. Dia adalah teman pertamaku disekolah ini. Aku tau banyak kesalahpahaman diantara Kita akhir-akhir ini. Aku sudah berusaha menjelaskan, tapi Dia tidak mau mendengar dan mengusirku" ujarku meradang.


"Aku sudah menjelaskan padanya dan memberikan surat-suratmu. sudahlah...Kau ini juga aneh...sudah mendapatkan Pangeran masih saja belum puas"


Elber menatapku curiga. "Hubungan kalian hanya sebatas temankan ?"


"Tentu saja"


"Atau Kau yang hanya menganggapnya begitu"


"Apa maksudmu ?"


"Kalian bukan lagi anak kecil, apa tidak ada perasaan apapun diantara kalian mengingat kalian sangat dekat satu sama lain"


Aku diam berpikir. Perasaan lain ?


"Wow...wow siapa ini" Putri Norah menghampiri Kami bersama rombongan putri lain yang merupakan teman-temannya. "Bukankah Dia tidak terpilih sebagai penari pembuka nanti untuk apa Dia datang kemari"


"Ini tempat bebas untuk murid disini Norah" balas Elber kesal.


"Lihatlah Dia, Aku heran bagaimana bisa Pangeran menyukai orang ini dan malah membawanya untuk tinggal diistananya bukan di istana wanita. Aku juga dengar, gara-gara Dia Pangeran Riana dan Pangeran Sera terlibat keributan yang hampir membatalkan jalannya festival"


"Benar, sekarangpun hubungan kedua negara kembali buruk itu semua gara-gara Dia"


"Sudahlah, mungkin Dia kemari karena Dia ingin melihat tarian Kita. Harap dimengerti Ibunya adalah penari terburuk disekolah ini dulunya. Bukankah Dia sering membolos kelas menari. Mungkin Dia malu jika bakat Ibunya sebagai penari terburuk ternyata menurun padanya"


"Apa kalian sudah cukup" Elber membentak keras.


"Hey, ayo bertanding denganku" kataku akhirnya kepada Putri Norah. "Kita menari, Siapa yang kalah, harus menuruti permintaan pemenangnya. Bagaimana apa Kau setuju"


"Kau menantangku" tanya Putri Norah geli.


"Ya, Aku menantangmu. Bagaimana?"


"Yuki apa Kau gila" Elber menarik tangankku. Dia mendelik marah. Tapi Aku sudah tidak peduli. Mereka boleh saja menjelekkan Aku tapi tidak Ibuku.


"Baiklah, kita lakukan siang ini disini"


"Setuju"


"Jika Aku menang Kau harus mencium seratus ekor kambing dihalaman sekolah"


"Baiklah, tapi jika Aku menang berhentilah menghina Ibuku dan menganggu Bangsawan Dalto"


"Baiklah. setuju"


Putri Norah berbalik dengan gaya angkuh. "Ayo teman-teman sebentar lagi Kita akan menyaksikan pertunjukan seru" ujar nya. Mereka tertawa sembari berlalu pergi.


"Apa Kau gila" Elber langsung menyemprotku marah begitu mereka menghilang. "Kau tidak tahu siapa Norah, Dia adalah pemenang festival empat negara selama tiga kali berturut turut. Aku tidak pernah melihatmu menari dikelas menari, bagaimana bisa Kau malah menantangnya seperti itu"


"Aku juga tidak tahu, tapi Aku akan bertanggung jawab akan ucapanku"


"Kau mempermalukan dirimu sendiri, jika Kau sampai kalah tidak hanya Kau yang malu, Bangsawan Dalto juga akan terkena imbas dari kekalahanmu"


"Karena itu Kau doakan Aku supaya tidak kalah, ngomong-ngomong apa Kau punya pakaian menari untuk ukuranku. Aku harus bersiap-siap"


Aku berjalan dilorong diikuti oleh Elber. "Pangeran tidak akan suka jika Dia mendengar hal ini" ancam Elber lagi.


"Aku akan bertanggung jawab, sekarang bantulah Aku untuk mempersiapkan semuanya. Aku janji tidak akan sedikitpun melibatkanmu jika nanti Pangeran marah"


Elber memandangiku dengan tatapan berpikir. Kedua alisnya berkerut dengan bibir dikatubkan rapat. Sejurus kemudian Dia mendesah. Aku tersenyum senang, Dia melewatiku berjalan menuju ruang penyimpanan barang. Disana juga sudah ada Putri Norah dan kelompoknya. Mereka menatapku dengan tatapan menghina. Ada senyum kepuasan diwajah mereka membayangkan apa yang akan kualami nanti jika Aku sampai kalah. Aku berusaha bersikap tidak peduli.


Elber membuka lemarinya. Dia memandangku lagi."Kau janji kan"


"Iya aku janji padamu" kataku meyakinkan.


Dia kembali mengacak-acak isi lemari sementara Aku menunggunya dibelakangnya

__ADS_1


__ADS_2