
Sebenarnya, beberapa bulan terakhir Yuki sudah mempersiapkan semuanya. Jika Dia harus kembali ke dunia asalnya.
Hanya Yuki tidak menyangka, secepat ini Dia harus segera kembali.
Phil datang ketika Yuki bersusah payah menarik tas ransel masuk ke dalam ruangan penghubung. Yuki menolak saat Bibi Sheira mengajukan diri untuk membantu Yuki. Bibi Sheira sedang hamil muda, usia kandungannya belum ada tiga bulan. Yuki tidak mau terjadi apa-apa dengan Bibi Sheira karena membiarkan Bibi Sheira mengangkat barang berat.
"Apa Kau yakin akan keputusanmu ini Sweetheart ?" Tanya Phil ketika Mereka bertiga sudah berada di dalam ruang penghubung.
Yuki berdiri dengan siap. Tas ransel dan tas sekolahnya menggelembung penuh di bawah kakinya.
Yuki tersenyum. Menganggukan kepala mantap kepada Phil. Ketiganya terdiam beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Mata Bibi Sheira sudah memerah, menahan tangis. Membuat Yuki merasa bersalah. Nyaris Dia mengurungkan niatnya untuk kembali. Melupakan semua hal mengenai dunia asalnya dan menetap di dunia ini. Tapi ketika mengingat Ratu Warda dan Putri Magitha yang sedang menunggu. Yuki terpaksa mengabaikan isak tangis Bibi Sheira yang membuat hatinya sakit.
"Ya Phil, Aku harus kembali ke sana" jawab Yuki dengan keteguhan baru.
"Kau pasti tahu, setelah Kau membuka pintu itu dan kembali ke sana, Kau tidak akan lagi bisa kembali ke dunia ini ?" Tanya Phil lagi untuk meyakinkan Yuki akan keputusan yang di ambilnya.
Yuki menganggukan kepala mengerti.
"Baiklah jika itu sudah jadi keputusanmu. Kau harus menjaga dirimu dengan baik di sana Sweetheart"
Yuki menghambur. Memeluk Phil erat. Sosok Pria yang lembut dan penyayang. Yang selama ini telah mengambil alih peran seorang Ayah dalam hidup Yuki. Air mata Yuki tidak terbendung. Dia menangis.
Yuki mengusap air mata. Kemudian memeluk Bibi Sheira yang berdiri di samping Phil. Phil ikut memeluk kedua wanita yang begitu di cintainya. Mereka saling berpelukan sambil menangis.
"Aku menyayangi Kalian" bisik Yuki sedih di pelukan Phil dan Bibi Sheira.
Berat rasanya harus meninggalkan keluarganya. Keluarga yang selama ini memberikan kehangatan dan kasih sayang yang Yuki butuhkan, sehingga dirinya mampu berkembang seperti sekarang.
Yuki tidak akan bisa bertemu Mereka lagi seumur hidupnya.
Itu adalah harga mahal yang harus di bayar Yuki. Yuki tidak memiliki keyakinan untuk meninggalkan dunia yang telah membesarkannya. Mengingat, bagaimana kehidupan di dunia asalnya, yang justru penuh bahaya dan nyaris membunuhnya berkali-kali.
__ADS_1
Yuki tidak siap untuk meninggalkan kehidupannya yang normal. Tapi Yuki tidak mempunyai pilihan. Ini adalah takdirnya.
Yuki melepaskan pelukannya. Mengusap air mata di wajahnya. Perlahan Dia berjalan mundur. Phil membimbing Bibi Sheira untuk ikut mundur ke arah berlawanan.
Yuki tidak boleh menyesalinya.
Memang belum terlambat untuk merubah keputusannya. Tapi Yuki tidak boleh bermain-main dengan nyawa seseorang. Ratu Warda dan Putri Magitha membutuhkan bantuannya. Yuki harus kembali dan menyelamatkan Mereka. Apalagi mengingat selama ini Putri Magitha telah banyak membantunya. Yuki tidak boleh egois.
Yuki membalikkan badan. Menghadap cermin. Dengan tenang, Dia melepaskan cincin pemberian Pangeran Riana di jari manis kirinya. Menempelkan batu safir yang menghiasi cincin tersebut ke permukaan cermin.
Sontak, seberkas cahaya putih menyilaukan keluar dari dalam cermin. Yuki mundur selangkah sembari menutup matanya sesaat. Ketika cahaya memudar, di depan Yuki sudah muncul pintu penghubung, seperti Black Hole berwarna putih.
Yuki menarik nafas tercekat.
Dia berbalik, kembali menatap Bibi Sheira dan Phil.
Yuki pasti akan selalu merindukan Mereka.
Bibi Sheira masih menangis. Phil memeluk untuk menenangkan. Yuki dan Phil saling bertatapan. Phil menganggukan kepala, memberi isyarat pada Yuki untuk jangan ragu dan melangkah dengan pasti. Seperti seorang Ayah yang melepaskan Putri yang di cintainya, di hari pernikahannya.
Begitu menembus pintu penghubung, Yuki merasakan perasaan pusing dan mual yang bercampur aduk. Tubuhnya terhempas masuk ke dalam timbunan jelly yang cukup besar dan tidak berujung. Rasanya Dia ingin muntah. Perutnya seolah di aduk dengan cepat.
Hingga akhirnya kesadaran Yuki perlahan menghilang.
Hawa dingin menyesap di seluruh tubuh. Tembus sampai sumsum tulang. Yuki bergerak sedikit, perlahan Dia mulai sadar dari pingsannya. Suara lonceng menara berdentang keras. Terdenggar menggema di kepala Yuki.
Bulu mata Yuki bergetar, sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan.
__ADS_1
Kesadarannya semakin pulih. Yuki mulai menyadari, mengapa tubuhnya seolah membeku. Dia berbaring di atas lantai mamer, di dalam kuil pendeta. Kuil yang sama, di mana Yuki pernah di bawa oleh Pangeran Riana, ketika mengembalikan Yuki ke dunia asalnya. Yuki mengenali segala arsitektur Kuil.
Yuki bangun dari posisinya, tangan dan kakinya terasa kebas.
Yuki jadi mengerti, kenapa tadi Bibi Sheira memaksa Yuki mengenakan seragam musim dingin. Padahal waktu sedang memasuki musim semi di dunia sana. Beruntung Yuki tidak membantah Bibi Sheira, jika tidak, Dia pasti sudah mati membeku oleh hawa dingin yang seolah menusuk tulang.
Tas sekolah Yuki berada di punggung. Sementara tas ransel besar berada di kakinya. Satu hal lagi yang benar dari perkataan Bibi Sheira, Dia hanya harus menyeretnya masuk ke dalam pintu penghubung, tidak membawa tas ransel untuk berpindah dimensi.
Yuki melepaskan tas sekolahnya, mengambil botol air mineral dan meminum hingga setengah botol.
Dalam hati Dia bertanya-tanya, sudah berapa Dia pingsan. Yuki tidak ingin berteriak meminta tolong dan membuat kehebohan yang tidak perlu. Dia menunggu sampai rasa pusing di kepalanya dapat di atasi, dan kram di kakinya memudar.
Dari posisinya, Yuki bisa melihat halaman istana di penuhi warna putih yang menyebar. Musim dingin di Garduete.
Setelah Yuki berhasil mengatasi sakit di kepalanya, Dia berdiri dengan hanya membawa botol air mineral. Yuki akan mengambil tas nya nanti. Akan sangat merepotkan jika Dia harus membawa keduanya sekarang.
Jadi Yuki memutuskan untuk meninggalkan di dalam kuil dan akan meminta penjaga kamar untuk mengambilkannya nanti.
Yuki berjalan keluar kuil.
Tercium aroma dunia asalnya. Sudah lama Yuki tidak merasakannya. Dia menyungingkan senyum kecil ketika mengingat, ketika kali ke dua Dia datang ke dunia ini. Dia sangat membenci aromanya.
Musim dingin adalah musim di mana Bangsawan Dalto di hukum mati.
Yuki sudah tidak lagi menderita ketika merasakan sensasi udara di dunia ini. Lukanya telah sembuh.
Tidak.
Yuki berpikir lagi, luka di hatinya akibat kematian Bangsawan Dalto masih ada. Hanya saja sekarang, luka itu sudah di balut dengan rapi. Agar tidak lagi menetes setiap Yuki mengingat Bangsawan Dalto. Dan Pangeran Sera adalah orang yang telah membantu membalut luka itu. Yuki tidak tahu, bagaimana jadinya jika tidak ada Pangeran Sera dalam hidup Yuki.
Yuki terus berjalan dengan tenang dan tanpa suara. Kuil tempatnya sekarang berada, terletak di sebelah timur istana Pangeran Riana. Yuki masih ingat jalan pintas untuk menuju Istana Pangeran Riana. Melewati taman tengah yang akan langsung membawa Yuki ke kamarnya.
__ADS_1