Morning Dew

Morning Dew
122


__ADS_3

Pagi itu, di istana Raja Bardana kesibukan sudah terasa semenjak kemarin sore. Koki di dapur membuat banyak makanan yang menggugah selera. Sementara para Prajurit sibuk menjaga setiap sudut istana. para Bangsawan, teman-teman Pangeran Riana berjalan berkeliling untuk menyambut para pejabat dan Tamu kerajaan yang baru saja datang.


Aula istana sudah penuh dengan orang. Tari-tarian dari para gadis di tunjukan dengan indah, untuk mengisi waktu para undangan menunggu acara di mulai.


Denting piring dan gelas yang beradu, suara orang yang sedang mengobrol dan iringan musik yang di mainkan. Bersatu dalam aula istana. Menimbulkan ritme sendiri yang unik bagi Mereka yang mendengar.


Yuki duduk di samping Pangeran Riana dengan wajah tegang. Sementara Pangeran Riana justru tampak acuh. 


Mereka duduk di meja khusus yang terletak di atas mimbar. Di samping kiri dari singasana Raja Bardana yang terletak satu tingkat di atasnya. Mereka duduk di lantai yang di beri bantal-bantal untuk alasnya. Di atas meja, Tersedia berbagai makanan yang menggugah selera. Buah, kue dan beberapa peganan lainnya. Meski begitu Yuki sama sekali tidak menyentuh Mereka. Dia tidak bernafsu karena terlalu tegang.


Yuki tidak habis pikir dengan keputusan Pangeran Riana yang membawanya untuk menghadiri penobatan calon ratu. Sementara itu Dia juga tidak nyaman dengan tatapan orang-orang yang di tujukan padanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Beberapa kali Dia melihat tamu undangan saling berbisik sembari menatap ke arah Yuki dengan pandangan aneh. Yuki menjadi risih di buatnya.


"Pangeran...Pangeran" bisik Yuki sembari menarik lengan baju pakaian untuk menarik perhatian. Berbeda dengan Yuki, Pangeran Riana tampak tenang. Dia menikmati jamuan yang di adakan kerajaan Garduete. Pangeran Riana yang sedang makan pegangan menoleh ke arah Yuki.


"Apa Kau yakin Aku tetap duduk di sini ?" Tanya Yuki mencondongkan tubuhnya mendekati Pangeran Riana. Suara sangat bising, Yuki bahkan nyaris tidak bisa mendengar ucapannya sendiri. "Aku bisa duduk di pojokan atau di manapun yang Kau mau" 


"Ada apa ?" Pangeran Riana bertanya balik pada Yuki. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan. Awas seperti seekor elang yang mengintai mangsanya. 


"Sebentar lagi calon ratumu akan datang. Apa kata Dia jika melihatku duduk di sini bersamamu ?" Ujar Yuki tidak percaya dengan sikap acuh Pangeran Riana. Padahal Yuki banyak sekali mendengar cerita mengenai bagaimana pedulinya Pangeran Riana kepada calon ratunya. Tapi sikapnya yang sekarang jauh berbanding terbalik dengan kabar angin yang di dengar Yuki.


Pangeran Riana tidak peduli jika calon ratunya datang dan melihatnya duduk bersama dengan wanita lain.


"Kau duduk saja dengan tenang dan tetap bersikap baik seperti sekarang atau Kau ingin bergadang semalaman denganku untuk melakukan apa yang Aku sukai ?" Kata Pangeran Riana ketika akhirnya Dia memandang Yuki. Ada sirat keseriusan yang di pancarkan di matanya. 

__ADS_1


Yuki terpekur mendengar ancaman Pangeran Riana. Dia langsung menundukkan kepala dan menggeser duduknya sedikit menjauhi Pangeran Riana. Yuki diam, tidak ingin berdebat lagi. Dia cukup mengenal watak Pangeran Riana. Berdebat sekarang akan memberikan hasil yang kurang baik untuk Yuki. Salah-salah Pangeran Riana justru akan melakukan hal yang paling di takuti Yuki.


Seorang kepala penjaga datang memasuki aula dan menghadap ke depan Raja Bardana. Kepala penjaga tidak mengatakan apapun dan hanya menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan yang tersirat di mata Raja Bardana.


Kepala penjaga kembali menundukkan kepala untuk memberi hormat kepada Raja Bardana sebelum akhirnya berlari menyeruak kerumunan. 


Wajah Pangeran Riana menjadi tegang. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Yuki dan menarik Yuki mendekatinya.


Saat Yuki berusaha menghindar, Pangeran Riana langsung menatap Yuki tajam. Membuat Yuki membatu di tempatnya. 


Terdengar suara gong di pukul nyaring, menarik perhatian seluruh orang yang ada di aula. 


Kemudian disusul teriakan lantang dari arah luar Aula, di balik pintu yang tertutup rapat. 


Yuki tersentak saat mendengarnya. Jantungnya berdebar tidak karuan sampai Yuki khawatir Dia tidak dapat mengendalikannya. 


Pintu di buka perlahan dari luar, mata Yuki terus menatap ke arah pintu. Jantungnya masih berdegub kencang. Yuki sampai menelan ludah untuk meredakan ketegangan yang Dia rasakan.


Akhirnya, setekah waktu yang seolah berhenti. Sosok Pangeran Sera muncul dari balik pintu. Rambut pirang keemasan, tubuh tinggi dan langsing. Dia berjalan dengan penuh ketenangan memasuki aula.


Beberapa menteri saling berbisik dengan wajah gusar. Menyadarkan Yuki adanya ketegangan yang terjadi akibat kedatangan Pangeran Sera. Jelas sekali, Pangeran Sera bukan orang yang di harapkan ada di saat berbahagia seperti sekarang.


Pangeran Riana mencengkram pinggang Yuki erat dan menarik Yuki semakin mendekatinya. Wajahnya datar tapi sorot matanya tajam mengikuti Pangeran Sera.

__ADS_1


Saat Yuki berpaling untuk melihat Pangeran Sera, mata Mereka tanpa sengaja bertemu. Pangeran Sera menganggukan kepala pelan sembari tersenyum penuh kelembutan pada Yuki. Seolah mengucapkan betapa senangnya Pangeran Sera dapat bertemu lagi dengan Yuki.


Pangeran Riana kembali menarik Yuki mendekat, seolah jarak Mereka belum cukup rapat. Mengalihkan perhatian Yuki. "Tundukan pandanganmu" perintah Pangeran Riana dingin di telinga Yuki.


Yuki langsung memalingkan wajahnya, menatap ke meja di depannya. Dari sudut mata Yuki melihat Ibu Suri mengawasi gerak-geriknya. Dia tampak tidak suka melihat pertemuan mata antara Yuki dan Pangeran Sera yang terjadi. Terutama reaksi dari Pangeran Sera kepada Yuki. Semua tampak tegang. 


Pangeran Sera telah sampai di depan mimbar. Menghadap Raja Bardana yang telah menunggu di singasana. Dia membungkukan kepala memberi hormat.


"Salam hormat kepada Raja Bardana, Raja negeri Garduete" salam Pangeran Sera sopan diikuti rombongannya yang berdiri di belakang Pangeran Sera.


Raja Bardana mengangkat tangannya, menerima salam dari Pangeran Sera.


"Selamat datang kembali ke negeri Garduete, Pangeran Sera dari Argueda. Aku cukup terkejut melihat anda begitu menyukai negeri ini" sindir Raja Bardana secara halus.


"Aku dengar jamuan ini di adakan untuk mengesahkan sekaligus memperkenalkan calon ratu yang di tunjuk dewa untuk Pangeran Riana. Sebagai ucapan terimakasih atas undangan yang di berikan, sekaligus ucapan selamatku pada Negeri Garduete. Terimalah hadiah kecil dari Kami mewakili negeri Argueda" ucap Pangeran Sera sopan. Pangeran Sera tersenyum santun, mengacuhkan sindiran Raja Bardana. Dia terlihat tenang tanpa rasa tersinggung di wajahnya. Senyumnya masih menghiasi bibir Pangeran Sera, meluluhkan hati kaum hawa yang melihatnya.


Seorang pelayan kerajaan Argueda beringsut berdiri. Dia membawa nampan yang di tutupi kain berwarna merah dengan sulaman benang emas. Dengan sikap takjim berjalan mendekati Pangeran Sera yang telah menunggu. Diikuti Pendeta Naru di dekatnya. 


Pendeta Naru menarik kain yang menutupi nampan. Memperlihatkan sebuah patung wanita yang terbuat dari emas, berkilau mempesona. Setinggi tiga puluh sentimeter dengan lebar sepuluh sentimeter. Membuat takjub siapapun yang memandangnya.


Ukirannya halus, memperlihatkan lekuk tubuh seorang wanita dengan sempurna. Dibuat oleh seorang seniman kelas atas dari kerajaan Argueda. 


Decak kagum terdengar di seluruh aula. Pelayan Argueda maju dengan hati-hati. Menyerahkan nampan berisi patung wanita kepada seorang Menteri Garduete yang bertugas untuk menerima hadiahnya. Setelah itu Menteri tersebut memberikan kepada pelayan Garduete untuk di simpan.

__ADS_1


__ADS_2