Morning Dew

Morning Dew
185


__ADS_3

Pangeran Arana sempat berhenti dengan ragu di dekat Yuki, ketika melihat sesuatu di wajah Yuki. Tapi Dia segera kembali melangkah, ketika Raja Jafar memanggilnya lagi untuk segera mengikutinya.


Pintu di tutup. 


Sekarang hanya tinggal Yuki dan Pangeran Riana di dalam aula istana.


Yuki mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Kenangan saat Pangeran Riana berciuman dengan wanita lain kembali membayang di kepala Yuki. 


Bukan artinya Yuki sendiri tidak pernah berciuman dengan laki-laki lain ketika Dia sudah di angkat sebagai wanita Pangeran Riana. Tapi, Yuki merasa kenapa harus Pangeran Riana yang di lihat Yuki berciuman dengan wanita lain. Mungkin jika itu Raymond atau mungkin Pangeran Sera yang di lihatnya sedang berciuman, Yuki tidak akan ambil pusing.


Terdengar suara langkah mendekat. Yuki langsung menegang. Meskipun tidak melihatnya langsung, tapi Yuki sangat mengenal suara langkah kaki tersebut milik siapa.


Pangeran Riana tidak mengatakan apapun. Dia langsung menyambar pergelangan tangan Yuki dengan satu tangannya. Dan langsung menarik Yuki untuk mengikutinya menuju pintu keluar.


Yuki terhuyung ketika mencoba melawan, Dia berusaha melepaskan cekalan tangan Pangeran Riana yang membelenggunya.


"Lepaskan Aku" pinta Yuki memohon ketika Pangeran Riana tidak juga melepaskannya.


"Ayo Kita pulang" 


"Tidak mau" tolak Yuki langsung.


"Yuki.." Pangeran Riana memandang Yuki dingin dengan ekpresi tidak ingin di bantah. "Kita akan pulang sekarang" ulang Pangeran Riana dengan lebih tegas.


Dia kembali menarik Yuki agar mengikutinya. Sementara itu Pendeta Serfa yang menunggu di pintu Aula mengikuti Mereka dalam diam. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan pertingkaian yang sedang terjadi di antara Yuki dan Pangeran Riana. Bibirnya terkatup rapat.


Sepanjang jalan, Mereka menjadi pusat perhatian orang di sekitar. Keberadaan Pangeran Riana di Istana Raja Jafar saja sudah menjadi keanehan tersendiri. Siapa yang tidak tahu permusuhan di antara Pangeran Riana dan Pangeran Sera karena memperebutkan seorang wanita. Di tambah, sekarang Pangeran Riana menarik Yuki untuk berjalan mengikutinya, sementara Yuki mati-matian berusaha melepaskan diri dari cekalan Pangeran Riana.


"Lepaskan Aku, Kau tidak bisa memaksaku sekehendak hatimu" ujar Yuki marah, Dia mencengkram kuat pintu kereta, menolak saat Pangeran Riana memaksanya untuk naik ke atas Kereta kuda yang menunggu.


Di sekeliling Mereka terlihat pasukan Pangeran Riana yang berdiri dengan sikap siaga.

__ADS_1


"Kenapa tidak mau pulang ?. Apakah Kau begitu bernafsu tidur dengan Sera sampai menolak pulang"


Yuki tersentak kaget. Menatap Pangeran Riana tidak percaya. Kata-kata yang di ucapkannya sangat menyakitkan hati. Seolah Yuki adalah wanita murahan yang dengan gampangnya bisa tidur dengan laki-laki lain. 


Kemarahan memenuhi hati Yuki. Dia tidak perduli jika sekarang Pangeran Riana sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Lepaskan Aku" bisik Yuki memberi penekanan pada nada suaranya.


Bukannya melepaskan, Pangeran Riana justru semakin mempererat pegangannya. Seperti belenggu besi. Mata Pangeran Riana dingin menatap Yuki.


"Aku bilang lepaskan Aku" 


Sebuah tangan menarik Yuki dengan kuat. Membalik badan Yuki sehingga Yuki nyaris menabrak dadanya. Ketika Yuki akhirnya dapat menstabilkan kakinya, Dia terkejut karena melihat Pangeran Sera di depannya.


"Pangeran Sera..." Panggil Yuki tidak percaya. Kemunculan Pangeran Sera yang tiba-tiba membuat jantung Yuki seakan melompat dari rongganya. Setahu Yuki, hari ini Pangeran Sera pergi ke pinggiran Ibukota untuk mengawasi jalannya pembuatan senjata. 


Apa karena telah mendengar mengenai kedatangan Pangeran Riana, jadi Pangeran Sera memutuskan untuk kembali ke Ibukota.


Suasana semakin tegang. Yuki menjadi khawatir, jika sampai terjadi keributan. Pendeta Serfa berjaga ketat di antara kedua Pangeran, untuk mengantisipasi jika terjadi pertingkaian.


"Lepaskan Dia" Pangeran Riana memecah kesunyian. Dia menyentakan tangan Yuki yang di pegang oleh Pangeran Sera, sampai genggaman tangan Pangeran Sera lepas. Kemudian, Dia segera menaikkan Yuki ke atas Kereta Kuda.


Kedua tangan Yuki di genggam erat di pangkuan, Dia bagaikan seorang tawanan yang sedang di belenggu. Tangan Pangeran Riana meremas Yuki dengan kuat, membuat Yuki meringis kesakitan.


"Permisi Pangeran Sera" ujar Pangeran Riana tenang. 


Pangeran Sera diam, tidak menjawab. Tatapannya kosong ke depan dengan wajah tanpa ekpresi.


Kereta berjalan perlahan.


Yuki melihat Pangeran Sera dengan perasaan khawatir. Dia tidak pernah melihat Pangeran Sera bersikap seperti itu. Sangat menakutkan. Tidak seperti Pangeran Sera yang selama ini di kenal Yuki.

__ADS_1


 


Kereta bergerak menuju gerbang istana yang terbuka. Yuki menepis tangan Pangeran Riana. Tapi kembali Pangeran Riana mencekal tangan Yuki dengan lebih kuat. Matanya menatap Yuki dengan pandangan memperingatkan.


Yuki memalingkan wajah, tidak mau melihat Pangeran Riana. Dari Jendela Kereta Yuki masih melihat Pangeran Sera berdiri di tempatnya dengan ekpresi yang sama.


 


"Ayah, apa Kita akan diam begini saja. Membiarkan Pangeran Riana membawa Putri Yuki sama artinya membiarkan orang melihat Kita seperti orang lemah yang tidak bisa menjaga wanitanya" protes Pangeran Arana ketika kereta kuda kerajaan Garduete menghilang di balik pintu gerbang yang perlahan tertutup.


"Lalu apa Kau ingin terjadi pertingkaian yang tidak perlu di Istana. Jika sampai itu terjadi, Kerajaan Garduete akan menyerang Kita. Dampaknya, Kita akan menghadapi dua negara besar sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Garduete dan Rasyamsah. Apa Kau pikirkan itu ?" Tanya Raja Jafar balik. Dia masih memandang Pangeran Sera yang masih berdiri diam di tempatnya.


"Militer Kita sangat kuat, apakah Ayah meragukan kemampuan pasukan Kita ?".


"Aku tidak meragukan kekuatan Negaraku, Tapi Arana, Aku adalah seorang Raja. Menghindari kerugian yang membahayakan rakyat dan negara adalah tugasku. Dan lagi...Kau harus percaya Kakakmu bisa menyelesaikan masalah ini tanpa menimbulkan kerugian yang besar bagi Negara dan Rakyat Argueda" jawab Raja Jafar tenang 


Pangeran Sera telah berpaling. Dia kemudian berjalan dengan tenang menuju Istana. Dari langkahnya, Raja Jafar tau, Putranya sudah memutuskan sesuatu. Jadi Dia memerintahkan kasim kepercayaannya, untuk memanggil Pangeran Sera agar Mereka bisa saling berbicara secara pribadi hanya berdua.


 


Rombongan Kerajaan Garduete terus melaju meninggalkan Negeri Argueda. Selama itu Mereka tidak beristirahat sama sekali. Hanya berhenti untuk makan dan buang air. Baru ketika Mereka tiba di perbatasan Garduete, Rombongan akhirnya berhenti di sebuah istana kecil untuk beristirahat sejenak dan mengisi perbekalan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


Yuki membiarkan guyuran air dingin membasahi tubuhnya. Di luar dua orang pelayan sedang menunggu. Yuki sengaja tidak membiarkan Mereka masuk dan melayaninya. Saat ini Yuki sangat ingin sendiri.


Bayangan ketika Pangeran Riana berciuman dengan wanita lain, terus dan terus saja menghantui Yuki. Membuat Yuki merasa sesak dan marah. Dia sangat ingin mengkonfrontasi Pangeran Riana mengenainya. Tapi Yuki urung karena Dia sadar, Dia tidak punya hak untuk melakukannya.


Perasaan Yuki bercampur aduk.


Pangeran Riana adalah seorang perwaris tahtah. Bahkan jikalaupun Dia hanya laki-laki biasa, memiliki lebih dari satu istri adalah hal yang biasa di dunia ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2