
Angin berhembus menusuk tulang. Seseorang menuntunku untuk berjalan. Kerumunan orang berpakaian serba putih berbaris disekitarku.Aku menyadarkan diri didada orang dibelakangku. Memejamkan mata sejenak, mencoba untuk tetap waras.
"Riana, semua sudah siap"
Bangsawan Voldermon mengendarai kuda. memimpin barisan pasukan.
"Ayo Yuki" ajak Pangeran yang ternyata sembari tadi berada dibelakangku. Memompangku didadanya. Aku membuka mata. Berjalan menuju lapangan luas yang sudah penuh dengan orang. Sepanjang jalan, tatapan iba memenuhiku. Raja datang dan langsung memelukku. "Tabahlah,mulai sekarang Aku yang akan menjagamu" bisik Raja ditelingaku.
Setelah Raja, berlanjut orang-orang khususnya teman Ayah menyalamiku. memberiku semangat. Elber turut hadir Dia hanya memelukku tanpa mengucapkan apapun.
Ayah telah meninggal. Dia dan rombongannya ditemukan didalam hutan oleh penduduk desa sekitar. Tidak ada yang hidup. mereka diserang saat perjalanan kembali ke istana. Malam itu ternyata Pangeran dipanggil untuk hal ini, itu juga alasan sebenarnya kenapa dia memaksaku untuk tidur bersamanya. Belum diketahui pasti motif penyerangan ini. Namun dipastikan bukan perampokan karena tidak ada satupun harta rombongan yang menghilang. Kali kedua Pangeran dipanggil bersamaku adalah untuk mendengar kepastian akan kematian Ayah.
Pertama kalinya Aku melihat lagi Ayah. Dia terbaring ditumpukan kayu. Tubuhku mengigil. Kenapa begini, kenapa begitu cepat.padahal Kami baru saja bersama. Aku mengikuti setiap proses pemakaman dengan hati hancur. Air mataku mengalir tidak terbendung. Saat Raja menyulutkan kayu dengan api, Aku tersentak. Sontak Aku berlari kearah Ayah. Pangeran mencekalku, memelukku kuat didadanya.
"Jangan bakar Ayahku...jangan...." teriakku histeris. "Ayahhhh.....Ayahhhhhh"
Kegelapan menyelimutiku. Aku ambruk tidak sadarkan diri.
Y**uki....
Suara itu terdengar familiar. Suara seorang wanita yang begitu kurindukan.
"Mama"
Kegelapan memudar, Aku berdiri dipinggir sungai yang airnya berwarna hitam. Diseberang sungai tampak kabut tebal, Hingga Akupun tidak dapat melihat apa yang ada disana.
"Yuki" Aku berbalik. Terkejut saat melihat Mama berdiri tak jauh dari tempatku. Dia sangat cantik hari ini. Senyumnya merekah.
"Mama" kataku senang. Aku berlari memeluknya. "Aku kangen"
"Yuki..." Ayah muncul dibelakang Mama. Aku balas memeluk Ayah. Kami bertiga berpelukan bahagia seperti sebuah keluarga pada umumnya.
Bunyi benturan terdengar. Ternyata dipinggir sungai, sebuah kapal kayu kecil yang dikayuh orang mengenakan tudung serba hitam muncul. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena Dia menunduk.
"Sudah waktunya" ujar Mama lembut kepada Ayah. Mereka melepaskanku dan berjalan menuju perahu.
"Tidak Yuki, Kau tidak bisa" Mama mendorongku lembut saat Aku akan ikut menaiki perahu.
"Kenapa tidak bisa Ma?"
"Belum waktumu untuk menaikinya"
"Apa maksud Mama"
"Ini adalah tempat batas antara yang mati dan yang hidup. Kau masih hidup Yuki.Waktumu masih panjang, banyak hal yang masih harus Kau lakukan. Kau tidak boleh menaikinya sekarang" jelas Mama lembut dan tegas.
"Aku sendirian Ma.."
"Mamamu benar Yuki, Kau tidak boleh menaikinya.Jangan khawatir Kami akan selalu bersamamu Nak. Kami akan selalu dihatimu. Dengarkan kata hatimu, Kau akan menemukan Kami disana"
"Ayah...Mama"
"Jadilah gadis baik" ujar Mama. Dia memelukku dan mengecup keningku bergantian dengan Ayah.
"Kami sangat menyayangimu...hiduplah dengan baik dan penuhi takdirmu"
Mama mendorongku makin menjauhi perahu. Perlahan perahu itu berjalan menjauh. Aku menatap mereka sedih saat mereka mulai memasuki kabut tebal dan kemudian sosok mereka menghilang. Sedetik kemudian sungai didepanku ikut menghilang. Aku seperti merasa dejavu, berada di padang rumput yang luas seorang diri. Sunyi...tidak ada apapun. Apa yang akan terjadi sekarang ?. Kali terakhir Aku bermimpi seperti ini, besoknya Aku dipindah paksa keduniaku yang sekarang. Apa setelah ini Aku bisa kembali keduniaku yang dulu ?.
"Yuki..." seseorang memanggilku. Aku merasa pemandangan didepanku mulai memudar. "Yuki...bangunlah" Aku kembali terombang-ambing dikegelapan yang menyesatkan.
Perlahan....Aku memperoleh peganganku. Aku mencoba merayap naik dari kegelapan.
"Yuki..."
Aku membuka mata dan mendapati diriku berada dikamar pangeran. Air mataku terus mengalir membasahi pipiku.
"Ayah..." bisikku lirih. Pangeran membantuku bangun. Memelukku didadanya.Aku menangis tersedu-sedu.
"Aku akan menyelidiki masalah ini Kau tenanglah"
Pangeran mengambilkan Aku segelas air disamping meja. "Minumlah ini agar perasaanmu tenang"
"Tidak.." tolakku nyaring. Aku mencengkram Pangeran erat. "Pulangkan Aku....Kau yang membawaku kemari kan...pulangkan Aku...Aku tidak mau tinggal disini" Pangeran meletakkan kembali gelasnya.
"Yuki tenang"
"Pulangkan Aku..apa Kau dengar...pulangkan Aku" aku menubruk Pangeran marah hingga Dia berbaring diatas tempat tidur dan Aku duduk diatasnya. Air mataku kembali mengalir deras, jatuh membasahi wajah Pangeran.
"Aku tidak bisa memulangkanmu. Disinilah tempatmu, bersamaku.Kau harus pahami itu"
"Brengsek Kau" makiku marah. Aku memukuli dada Pangeran marah. Pangeran menarikku mencoba memelukku, tapi Aku menolak. Namun, tetap saja tenagaku kalah.Tiba-tiba Aku merasakan kantuk yang luar biasa hingga Aku tidak dapat membuka mata.
"Apa...apa yang Kau lakukan padaku" bisikku lemah.
"Tidurlah...semua akan baik-baik saja". Apa Aku tidak salah dengar. Dia berbicara lembut seperti ini padaku. Aku merasakan detak jantung Pangeran didadaku. Aroma tubuhnya membuatku tenang, menyadarkanku bahwa Aku tidak sendiri didunia ini.
Sudah dua minggu semenjak kematian Ayah, sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai penyebab penyerangan Ayah. Satu hal yang cukup diketahui, malam sebelum kepulangan Ayah, tiga orang pelayan tempat Ayah menginap, sempat melihat Ayah menerima tamu larut malam. Tamu itu menutup dirinya dengan jubah dan tudung sehingga tidak jelas apakah Dia perempuan atau laki-laki. Namun, dari gerak gerik mereka, Perdana Menteri sangat mengenal orang itu dan tidak menganggapnya berbahaya. Perdana Menteri bahkan menyuruh para pelayan menyiapkan jamuan makan malam untuk tamunya. Namun, setelah menerima tamu tersebut Perdana Menteri menjadi marah dan ketakutan. Dia memerintahkan pasukannya untuk segera kembali malam itu juga. Tidak peduli akan urusan negara yang belum selesai.
"Jika putriku jatuh kepada orang itu, dunia akan dalam bahaya. Aku harus mencegahnya. Kerajaan akan memaklumi keputusanku" ujar Perdana Menteri ketika berpamitan dengan pemilik penginapan saat sang pemilik mengingatkan tugas negaranya belum selesai. Perdana Menteri tidak bercerita banyak, namun Dia sempat mengirim pesan kepada pelayan kepercayaannya, untuk disampaikan kepada Raja. agar Raja melindungiku seperti Raja melindungi Putri Ransah, jika terjadi sesuatu pada Perdana Menteri disepanjang jalan.
Tidak ada yang tau bahaya apa yang mengincarku seperti yang dimaksud Ayah. Tapi kerajaan merespon cukup cepat peringatan ini. Pangeran menambahkan pengawal di sekitarku. Teman-teman bangsawannya secara bergiliran menjagaku Jika Pangeran tidak sedang bersamaku. Namun,Raja memerintahkan Pangeran untuk tetap membiarkanku pergi ke sekolah. Dia tau Aku sedang berkabung atas kematian Ayah. Dia juga tau Aku sama sekali tidak menyentuh kotak-kotak hadiah yang dikirimkan padaku. Semua kotak itu tertumpuk rapi di ruangan berpakaian milikku. Mengurungku di istana bukan keputusan yang baik. Raja berharap festival kali ini dapat meredakan duka yang masih menyelimutiku. Aku bisa mengalihkan kesedihanku pada persiapan festival, dan tidak larut dalam duka.
Aku berjalan terlatih-tatih. Lututku terluka karena tersandung akar pohon. Tadi Aku kembali bertemu dengan Bangsawan Dalto, Aku senang saat melihatnya sudah sehat. Kabarnya Dia baru saja kembali dari tempat bibinya untuk memulihkan diri. Saat Aku berusaha mengejarnya Dia berpaling dengan cepat. Bahkan, saat Aku terjatuh Dia sama sekali tidak berbalik.
"Kenapa dengan kakimu ?" Aku berbalik dan melihat Pangeran Sera berada dibelakangku. Pangeran baru saja menyambut rombongan kerajaannya yang baru datang, untuk pergelaran festival yang beberapa hari lagi akan dimulai. Beberapa orang putri dibelakang Pangeran menatapku tidak senang.Mata mereka sinis menilaiku.
Pangeran berjalan menghampiriku meninggalkan rombongannya.
"Aku baru saja terjatuh" ujarku akhirnya. Akan tidak baik jika Aku berlama-lama dengan Pangeran Sera. jika Pangeran Riana mengetahuinya Dia pasti akan marah. "Permisi Pangeran" Aku menunduk memberi hormat. Aku berjalan menuju gedung sekolah. terdengat suara langkah kaki dibelakangku.
"Pangeran..." kataku terkejut saat Pangeran Sera mengangkatku didadanya. Dia mengendongku begitu mudah, Aku tidak menyangka Dia memiliki tenaga yang besar dibalik tubuhnya yang langsing. Beberapa Putri berteriak histeris. "Apa yang Pangeran lakukan" Aku berusaha memberontak. "Turunkan Aku ..Aku mohon Pangeran"
Pangeran Sera berjalan memasuki gedung. Sontak suasana lorong yang Kami lewati jadi riuh terdengar. Para putri memandangku dengan iri sekaligus benci.
"Diam Yuki" perintah Pangeran karena aku terus memberontak. Aku mengkeret tidak menyangka Dia juga bisa menjadi sosok yang tegas seperti itu. Pangeran membawaku ke ruang pengobatan.
__ADS_1
Banyak botol obat dan juga nampan berisi bahan mentah atau ramuan obat yang tersusun rapi. Aku didudukkan disebuah kursi. Pangeran menciumi obat dalam sebuah lemari. Setelah menemukan apa yang dicari, Dia berjalan kearahku sambil membawa baskom berisi air hangat.
"Aku bisa melakukannya sendiri" kataku canggung saat Pangeran duduk didepanku dan menarik kakiku kepangkuannya.
"Diam" katanya lagi. Pangeran dengan lembut membersihkan lukaku.
Jantungku berdebar tak terkendali saat tanpa ragu Dia menghisap darah dilututku.
"Sudah selesai" Pangeran telah membalut lukaku dengan baik. Aku berpaling dan menyembunyikan wajahku yang terasa panas.
"Terimakasih" Aku segera menurunkan kakiku. Pangeran mengembalikan obat ketempatnya. Kami baru saja akan keluar ruangan ketika Pangeran Sera kembali menarikku masuk.
"Ada apa ?"
Pangeran meletakkan telunjuknya ke bibirnya, memberiku kode supaya diam. Aku kembali ditarik kedalam ruangan yang lebih dalam. Bersembunyi dibalik rak buku yang terletak membelakangi cendela. Rak ini agak tertutup letaknya. Kami berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup rapat. Pangeran berdiri membelakangi cendela.Aku bisa merasakan detak jatung pangeran didadaku. Hembusan nafasnya terasa dipipiku.
BRRAKK
Terdengar suara pintu dibuka dengan kasar.
"Tidak ada siapapun disini" terdengar suara Bangsawan Voldermon.
Jantungku berdetak cukup cepat. Kepanikan melandaku. Pasti Pangeran sudah mengetahui kejadian saat Pangeran Sera membopongku masuk kedalam gedung. Sekarang Dia kemari untuk mencariku. Jika mereka menemukan Kami dengan kondisi begini. Aku tidak tau apa yang akan dilakukannya. Aku tidak mau membayangkannya.
Pangeran Sera memelukku hangat seolah Dia tau ketakutanku. Dia menarikku semakin kesudut rak untuk bersembunyi.
"Cari dia sampai ketemu" perintah Pangeran Riana tinggi.
Dia sendiri turun untuk mencariku. Semoga Dia tidak menemukan kami.
"Kenapa kau tidak menghubungi Yuki lewat gulfnya. Bukankah Dia punya ?"
"Tidak ada,Aku telah menghancurkan gulfnya"
"Bagus" ujar Bangsawan Voldermon lirih. "Tenangkan dirimu, banyak saksi yang melihat bahwa Sera lah yang memaksa mengendong Yuki, jangan terlalu keras padanya"
"Kau selalu membelanya Vold"
"Aku tau Kau ini seperti apa, tapi Riana...dengan Kau mengurungnya, mengekangnya dan menekannya untuk menerimamu ..Kau malah akan membuatnya menjauh." Bangsawan Voldermon kembali mencoba berbicara dengan Pangeran. "Yuki itu seperti burung, Dia lebih bahagia jika Kau memberi kebebasan untuk terbang bukan dengan mengurungnya disangkar emasmu."
"Ketahuilah Vold, andai jika Dia punya sayap sekalipun Aku akan bersedia mematahkan sayap itu agar Dia tetap bersamaku"
Aku langsung merinding mendengarnya,
Bangsawan Voldermon tertawa lirih. "Kau sudah jatuh cinta padanya"
"Apa maksudmu"
"Kau tidak bisa berbohong padaku, Aku cukup mengenalmu. Alih-alih berusaha agar Dia tertarik padamu...nyatanya, sekarang Kau lah yang lebih dulu tertarik padanya"
"Hentikan omong kosongmu itu"
"Kenapa Kau tetap tidak mengakuinya, apa yang Kau lihat...Kau beruntung,Dia sangat cantik, Jika bukan karena Kau saudaraku Aku pasti akan mati-matian mengejarnya"
"Apa yang Kau pikirkan tentangnya ?"
"Aku pikir Dia seperti kebanyakan gadis, jika Aku memberikan status sosial tinggi dan harta melimpah, Dia akan tunduk patuh padaku. Tapi Gadis itu jelas menolakku. Dia tidak menginginkanku sama sekali dan itu membuatku marah."
"Jelas sudah Dia tepat untukmu" ujar Bangsawan Voldermon lagi.
"Dia tidak ada disini, Aku akan pergi mencarinya sebelum Kau menghancurkan sekolah ini karena tidak menemukannya" Terdengar pintu dibuka, dan kemudian ditutup. Aku tidak tau apa Pangeran Riana masih didalam atau tidak. Tidak ada suara apa-apa. Sinar matahari silau membuatku berkeringat.
"Panas" bisikku lirih. Pangeran Sera menutupi wajahku dengan telapak tangannya agar tidak terkena sinar matahari. Aku mendongak untuk berterimakasih, tapi.....
Bibir kami nyaris bersentuhan. Pangeran menatapku dalam dan intens. Tidak ada yang pernah menatapku seperti itu sebelumnya. Jantungku berdebar cukup keras. Ini tidak boleh terjadi, walau bagaimanapun statusku adalah kekasih Pangeran Riana. Bagaimana bisa Aku seperti ini dengan Pangeran lain. Aku menundukkan wajahku, menahan malu atas pikiranku sendiri.
"Pangeran"
"Apa kalian sudah menemukannya ?"
"Mohon maaf Kami sedang mencari ?"
"Lalu untuk apa kalian kemari ?" tanya Pangeran dingin.
"Raja memerintahkan Pangeran untuk menemuinya diruangan Pangeran"
Pangeran tidak menjawab, tapi terdengar langkah kaki dan pintu yang terbuka lalu tertutup. Setelahnya hening.
Kami menunggu cukup lama sampai yakin tidak ada siapapun disini. Setelah cukup yakin, Kami keluar dari persembunyian.
"Terimakasih telah menolongku Pangeran, Aku permisi dulu" kataku berpamitan. Aku bergegas pergi. Tidak ingin melibatkan Pangeran Sera masalah lagi.
Aku berjalan disepanjang lorong. Beberapa putri berbisik menatapku tidak suka. Aku harus kemana ?.Aku menyusuri lorong, bel pelajaran berbunyi. Serentak semua murid masuk kedalam kelasnya masing-masing. Aku menuruni tangga yang sepi, dibawahku Bangsawan Dalto muncul. Dia berjalan menaiki tangga,melewatiku dengan acuh.
"Apa Kita akan selamanya seperti ini ?" tanyaku ketika Dia sudah tiba di anak tangga teratas. "Tidak bisakah Kita kembali seperti dulu lagi ?"
"Anggap saja Aku sudah mati. Aku juga menganggapmu seperti itu" balas Bangsawan Dalto dingin tanpa berpaling. Dia berjalan menjauh. Aku menatap punggungnya sedih.
Aku berada digerbang masuk istana dan terkejut saat melihat pasukan Pangeran Riana sudah berkumpul. Bangsawan Xasfir mengecek perbekalan pasukan. Apa telah terjadi sesuatu ?.
"Rupanya Kau sudah pulang ?, puas berkencan dengan Sera" Pangeran Riana muncul dengan mengendarai kuda hitam yang sangat gagah. Dia memakai jubah dan bersiap untuk melakukan perjalanan.
"Aku tidak berkencan dengannya" bantahku marah.
Pangeran turun dan berjalan kearahku.
"Kau akan pergi kemana ?"
"Penduduk desa menemukan seorang prajurit perdana menteri yang terluka parah, mereka berhasil menyelamatkan dan Dia sudah siuman. Kita akan kesana untuk bertanya langsung padanya" Pangeran memasangkan jubah dibahuku. "Sebenarnya berbahaya untuk membawamu kesana karena Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini. Tapi Aku tidak akan tenang meninggalkanmu disini dengan para lelaki yang mengelillingimu. Kau akan ikut denganku"
Tanpa menunggu persetujuan, Pangeran sudah mengangkatku keatas kuda. Aku langsung memeluk pinggangnya erat, takut jatuh.
"Tidak biasanya Kau berani memelukku seperti ini" Aku diam, tidak mau membalas sindirannya.Pangeran memacu kudanya diikuti Bangsawan Xasfir dan pasukannya.
Kami terus melaju kencang seolah tidak mengenal waktu. Hanya beristirahat untuk mengisi perut dan membiarkan kuda makan sejenak. Setelah itu langsung melanjutkan perjalanan. Pangeran tidak ingin menghamburkan waktu, siapapun pelaku penyerangan jika Dia mengetahui ada satu saksi yang hidup, khawatirnya desa tersebut akan diserang. Dan semakin banyak korban tidak bersalah yang berjatuhan. Di hari ketujuh Kami telah sampai di desa yang dimaksud. Kami disambut oleh kepala desa dan dibawa ke sebuah penginapan yang telah disediakan.
__ADS_1
Aku langsung mandi dan membersihkan diri. Seminggu tidak mandi membuat badanku terasa lengket semua. Seorang pelayan membantuku berganti pakaian dan berdandan. Aku mengenakan pakaian dari kain biasa, tanpa perhiasan selain kalung peninggalan Mama yang selalu kupakai semenjak dulu. Rambutku dikepang kebelakang.
"Putri sangat cantik walau hanya mengenakan pakaian kain seperti ini,Langeran sangat beruntung. semoga nanti calon ratupun akan secantik Putri" ujar pelayan itu ketika aku selesai berdandan.
"Terimakasih" kataku canggung. pelayan itu meminta izin pergi. Pangeran melarangku keluar kamar selama Dia pergi untuk menemui prajurit yang terluka. Aku dijaga ketat oleh pengawal didalam penginapan.
Saat larut malam Pangeran baru saja kembali. Wajahnya sangat lelah. Aku menuangkan anggur untuknya. Dia duduk di sofa dan melamun. Aku membiarkannya, menunggunya dengan sabar. Jujur saja, diluar sikapnya yang menyebalkan itu, Aku salut padanya karena mau repot peduli pada urusan keluargaku. Aku tahu Dia banyak sekali permasalahan yang harus diselesaikannya sebagai pewaris tahtah kerajaan. Tapi Dia masih mau meluangkan waktu untuk menolongku. Aku sangat berterimakasih padanya.
"Aku tidak mengerti" ujar Pangeran akhirnya.
"Ada apa ?"
"Prajurit yang terluka itu sangat yakin bahwa yang menyerang Perdana Menteri adalah prajurit kita sendiri"
"Apa ?" kataku terkejut. "Apa maksudmu akan terjadi pemberontakan terhadap kerajaan"
"Sejauh ini itu yang kutangkap. mereka mengincarmu karena Kau mempunyai sesuatu yang mereka inginkan." Pangeran mengebrak meja. menatap dingin kearah cendela. "Aku sudah curiga dari awal saat melihat mayat prajurit yang ditemukan, beberapa diantaranya bukan prajurit yang biasa mengawal Perdana Menteri"
"Aku ?" Aku menatap diriku. Apa yang kupunya, yang begitu diinginkan orang sampai membuat Ayah terbunuh.
"Tampaknya orang itu menemui Perdana Menteri untuk mengajaknya bersekongkol.Tapi, karena ajakannya ditolak, Dia membunuh Perdana Menteri dan pasukannya untuk menghilangkan jejak"
"Jadi Akulah penyebab Ayah dibunuh"
"Cukup menyalahkan dirimu Yuki. Sekarang Kita pikirkan bagaimana mengungkapkan kebenaran ini" hardik Pangeran. "Apa Kau tidak ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi ?"
Aku menatap Pangeran. Benar, tidak baik jika Aku terus bermuram durja. Ayah tidak akan kembali. Satu-satunya yang bisa Aku lakukan adalah mengungkap kematian Ayah.
"Prajurit yang menyerang itu, Mereka seperti orang tidak sadar. Seperti ada kekuatan yang mengendalikan mereka dari jauh"
"Apa kita membicarakan soal sihir ?"
"Ya...tapi Aku merasa ini tidak sesederhana seperti yang terlihat". Pangeran menghabiskan anggurnya. Aku menguap. Lelah sekali. Rasanya Aku ingin tidur sejenak.
"Sudah malam, sebaiknya Kau tidur" Pangeran berdiri dan hendak menuju pintu keluar. Aku langsung menahannya.
"Kau akan kemana ?" tanyaku panik.
"Tentu saja Aku akan kekamar untuk tidur"
"Kenapa Kita tidak tidur bersama, tidurlah disini Aku tidak berani tidur sendiri"
Pangeran menghela nafas. "Justru Aku yang takut padamu"
"Pangeran takut padaku" Aku mengerjap. Ah ya....sekarang Aku adalah sasaran pembunuhan. Sangat bodoh jika berani berada didekatku dalam kondisi seperti ini. "Aku paham, sangat berbahaya jika Pangeran berada didekatku. Sewaktu-waktu bisa saja para penyerang itu datang"
Pangeran tersenyum sinis. "Bodoh sekali, Aku tidak takut mereka, Tapi Aku takut padamu, Bahkan semenjak Aku memasuki kamar ini"
"Kenapa ?" tanyaku tidak mengerti.
"Aku ini lelaki, Aku bisa kehilangan akal melihatmu yang sekarang, rasanya Aku ingin memakanmu" Aku langsung menutup dadaku dengan kedua tanganku.
"Akhirnya Kau mengerti" ujar Pangeran mengejek.
Aku tidak ingin tidur sendiri. sangat menakutkan bagiku sekarang ini.
Pangeran bersiap untuk pergi lagi.
"Apa...apa kalau Aku menciummu Kau akan tinggal disini ?" bisikku lirih. Pangeran berhenti dan berbalik untuk melihatku. Dia tidak menyangka Aku akan mengatakan hal itu. "Jika Aku menciummu, Kau akan tinggal disini ?"
"Seolah Kau mampu"
Aku bangun dari dudukku. Perlahan mendekati Pangeran.Kami berdiri dengan jarak yang cukup rapat. Aku gila karena melakukan ini. Tapi disisi lain Aku tidak ingin sendirian. Tidak mau.
Pangeran menelan ludahnya, tampak kesal. "Kau membuatku semakin sulit"
Aku diam tidak membalas. Satu tanganku menyentuh dadanya. Sedangkan yang lain menariknya agar mendekatiku. Pangeran menunduk untuk membantuku. Aku melingkarkan tanganku dilehernya. Dan menciumnya.
Pangeran menciumku seperti biasa Dia menciumku. Penuh tuntutan dan gairah.
Aku membuka mulutku, membiarkan lidahnya memasuki rongga mulutku. Air liur kami bersatu, bahkan menetes kesela bibir kami. Kedua tangannya memelukku erat.Saat tersadar, Dia sudah merebahkanku keatas tempat tidur.
"Pa...pangeran" panggilku terkejut.
"Kau yang memulai" ujarnya mengingatkan. Pangeran menaiki tubuhku. Aku merasakan beban tubuhnya diatasku. Dia kembali menciumku. Aku merasa ikatan pakaianku dilepas olehnya. Tanganku menahannya, tapi Pangeran menepisnya. Ciumannya turun menuju daguku, berlanjut ke leherku. Tali baju dibahuku sudah turun sampai lenganku. Sambil menciumku, Pangeran terus menarik pakaianku kebawah hingga buah dadaku terpampang jelas didepannya. Aku tidak pernah membiarkan seorangpun melihatnya apalagi menyentuhnya seperti apa yang Pangeran lakukan sekarang. Dia menciumi keduanya, menyentuh keduanya bahkan sesekali meninggalkan tanda di kulit sekitarnya.
"Pangeran...ah....Aku...Aku mohon...jangan" kataku terbata. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Sensasi aneh terasa ditubuhku setiap Dia menyentuh kedua payudaraku. Gejolak aneh memenuhi setiap panca indraku. Pangeran menghentikan ciumannya. Menatapku yang tersenggal senggal menahan gejolak aneh dalam diriku. Dia tersenyum mengangumi ekpresiku.
"Kau sangat sensitif" bisiknya ditelingaku membuat wajahku memerah. "Tenanglah, Aku akan mengajarimu pelan-pelan, satu persatu sampai Kau mengerti"
Pangeran kembali menciumku. Kini tangannya tak segan lagi untuk meraba pahaku. Menaikkan pakaianku keatas. Aku tercekat saat tangannya menyentuh area terlarangku
"Pangeran..." kataku terkejut.
DOK DOK DOK
Terdengar suara pintu digedor dengan keras. Aku terkejut dan berusaha bangun. Tapi Pangeran menahanku.
"Ada apa" kata Pangeran kesal. Dia merasa terganggu.
"Riana Kita harus segera pergi" Bangsawan Xasfir terdengar panik.
Pangeran bangun dan merapikan pakaiannya. Aku juga langsung merapikan pakaian dan rambutku. Pangeran Riana meliriku, memastikan penampilanku tidak berantakan sebelum membuka pintu.
"Barusan Asry memberi kabar, telah terjadi penyerangan dikediaman Olwrendho. Hampir seluruh penghuninya dibunuh dan sisanya menghilang."
"Apa katamu ?" Pangeran tampak terkejut. Kakiku rasanya langsung lemas. Aku membayangkan wajah-wajah para pelayan disana.
"Kemungkinan besar mereka diculik untuk dimintai informasi mengenai keberadaan Putri Yuki setelah sebelumnya mereka menyusup keistana dan tidak berhasil menemukan Putri disana. Mungkin mereka berpikir Putri kembali kekediamannya"
Pangeran bergerak cepat, Dia menyambar mantel, memakaikan padaku. Aku ditarik keluar penginapan. Para pasukan sedang bersiap.
"Tidurlah" kata Pangeran saat Kami sudah diatas kuda.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan Pangeran. Sama seperti sebelumnya, Aku langsung merasa mengantuk yang amat sangat.
__ADS_1