
"Biarkan Dia pergi untuk mengabarkan pada Negerinya, jika Kita berhasil menangkap wanita kesayangan Sera sekaligus calon ratu kerajaan Garduete. Tidak perlu Kita menghabiskan tenaga untuk mengejar sesuatu yang tidak penting" ujar Rafael dengan acuh dari atas kuda.
Tampaknya Rafael masih tidak tahu, jika yang di sangkanya Prajurit Argueda itu adalah Pangeran Arana.
Yuki di bawa kembali ke istana kerajaan Rasyamsah. Kedua tangannya diikat ke belakang. Ketika sampai di gerbang istana. Yuki di paksa berjalan untuk menjadi tontonan orang, supaya Mereka tahu bahwa kerajaan Rasyamsah berhasil membawa wanita yang di perebutkan oleh dua perwaris tahtah kerajaan besar.
Rafael mengendarai kuda, berjalan tenang memimpin barisan.
Dari percakapan para Prajurit Rasyamsah di sepanjang perjalanan, Yuki akhirnya mengetahui identitas Rafael yang sebenarnya.
Dia adalah kemenakan Raja Trandem yang di angkat sebagai anak sendiri semenjak kecil, dan membantu Raja Trandem selama ini untuk melebarkan kekuasaan. Tangan kanan Raja Trandem yang sangat di percaya. Otak penggerak setiap langkah yang di terapkan Raja Trandem selama ini dalam berpolitik.
Konon keberhasilan Raja Trandem dalam menyingkirkan Raja Barinda dan menduduki posisinya yang sekarang, berkat pemikiran dari Rafael.
Pangeran Arana pernah bercerita pada Yuki bahwa Raja Trandem memiliki keponakan yang membantu pemerintahannya selama ini. Tapi karena Pangeran Arana belum pernah bertemu dengan Rafael sebelumnya, Dia tidak mengenali Rafael sebagai keponakan Raja Trandem.
Tapi felling Pangeran Arana sangat kuat. Meskipun Dia tidak mengenali Rafael, tapi Dia mencium bahaya dari dalam diri Rafael semenjak awal Mereka berjumpa. Pangeran Arana terus memberi reaksi negatif pada Rafael.
Yuki menyesal tidak mempercayai Pangeran Arana.
Kedua pengawal mengapit Yuki di masing-masing sisi. Memegang tangan Yuki kuat. Yuki berjalan dengan menahan sakit di kakinya karena terluka akibat gesekan panah saat Dia di tangkap. Belum lagi luka goresan nyaris di sebagian tubuhnya karena meluncur turun dari atas bukit mulai terasa berdenyut.
Namun meski begitu, Yuki berjalan tegap. Memasang wajah seolah Dia takut pada siapapun.
Ketika Mereka memasuki aula kerajaan. Raja Trandem sudah menunggu di temani dua orang wanita yang berbeda saat terakhir kali Yuki bertemu dengannya.
"Jadi inikah Wanita yang di perebutkan dua kerajaan besar itu. Cantik, namun sayangnya Dia sedikit liar. Semoga Kau juga liar di atas ranjangku nanti"
"Mimpi saja Kau tua bangka" maki Yuki melawan.
Tengkuknya langsung di pukul dengan keras sampai Yuki terhuyung oleh prajurit di belakangnya. Yuki meringis kesakitan.
__ADS_1
"Berani sekali Kau melawan Raja" ujar Prajurit itu mengingatkan Yuki.
"Jangan bunuh Dia. Dia jauh lebih berharga jika Dia hidup. Kita bisa memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan dari Garduete dan Argueda sekaligus" ucap Rafael yang berdiri dengan angkuh di samping Raja Trandem.
Yuki menatap Rafael dengan kemarahan yang tidak terbendung. Dia menyesal telah mempercayai Rafael. Seharusnya Yuki sudah curiga dari awal. Tapi nafsu untuk segera menyelamatkan Putri Magitha dan Ratu Warda membuatnya bertindak ceroboh. Yang akhirnya malah membuatnya tertangkap.
Rafael terus mengikuti Yuki sampai ke istana Kerajaan, padahal sebelumnya Dia mengatakan hanya ingin bekerja sama sampai bisa memasuki wilayah Rasyamsah. Dia juga bisa mengatur letak kamar yang di tempati Yuki dan para prajurit yang mengawal saat Mereka pertama kali datang.
Selain itu, Yuki ingat. Ratu Cilia sangat ketakutan ketika melihat Yuki. Sekarang Yuki mengerti apa arti peringatan di mata Ratu Cilia.
Ratu Cilia tentu pernah melihat Yuki sebelumnya, meski hanya fotonya. Dia mengenali Yuki. Ratu Cilia memohon agar Yuki segera pergi sebelum terlambat. Atau...Dia memohon pada Rafael agar menghentikan rencananya ?.
Sebab, jika sampai menyinggung negara Argueda dan Garduete sekaligus. Nasib rakyat Rasyamsah akan semakin menderita.
Tapi Rafael tidak mengindahkan permintaan Ratu Cilia.
"Aku sengaja mengikuti pergerakan Kalian dengan bersandiwara. Tapi agak sulit mengelabui Prajurit Pengawalmu yang berambut hitam itu. Dia curiga dan tidak mempercayaiku sama sekali" ujar Rafael tenang.
"Memancingmu masuk ke dalam negara ini, dan menghindari pertemuanmu dengan para prajurit dari Argueda dan Garduete. Rencanaku nyaris berhasil ketika Kau malah menghilang bersama tawanan Kami tanpa jejak dari Istana Kerajaan. Aku tidak mengerti bagaimana Kau bisa melakukannya ?"
Yuki diam.
Dia tidak akan bercerita mengenai ruang dan jalan rahasia yang ada di kamar Raja Trandem. Pangeran Arana sangat tidak ingin Raja Trandem dan pengikutnya mengetahui jalan-jalan rahasia yang ada di bangunan istana kerajaan Rasyamsah.
Pangeran Arana pasti memiliki alasan tersendiri.
"Sudah Rafael, Aku akan mengintrogasinya sendiri nanti di dalam kamar. Aku sudah tidak sabar ingin mencicipi seperti apa rasanya wanita yang di perebutkan dua negara itu" potong Raja Trandem tidak sabar. "Riana Bardansah dan Sera Madza ternyata menyukai seorang gadis kecil. Selera Mereka kekanakan sekali"
Yuki mengepalkan tangannya marah. Dia bisa terima jika Dia di hina. Tapi Yuki tidak terima jika Pangeran Riana dan Pangeran Sera ikut terkena hinaan Raja Trandem.
"Jika Kita bisa memiliki gadis ini, otomatis Garduete akan hancur karena kehilangan calon ratunya. Mereka akan kehilangan kejayaan Negeri Mereka akibat kekacauan di dalamnya. Sera Madza telah melakukan sumpah ksatrianya, jika Dia melanggar sumpahnya. Argueda akan kehilangan satu Pangerannya. Benar-benar keberuntungan. Sekali menepuk Kita bisa mendapatkan dua lalat sekaligus"
Raja Trandem tampak berbinar senang ketika membayangkan bisa menguasai dua negara besar sekaligus. Dia membayangkan dirinya sebagai satu-satunya penguasa di dunia ini.
__ADS_1
Rafael berjalan mendekat. Tersenyum penuh arti pada Raja Trandem. "Paman benar, dengan memanfaatkan gadis ini Kita bisa menguasai seluruh kerajaan yang ada di dunia ini. Tapi....dengan Aku sebagai Rajanya"
Tanpa peringatan. Rafael mencabut pedangnya dan langsung menebas leher Raja Trandem hingga putus. Dua gadis yang berada di dekat Raja Trandem berteriak histeris. Mundur dengan ketakutan.
Kepala Raja Trandem mengelinding di depan Yuki. Darah membuncar dari tubuhnya. Bergerak beberapa kali sebelum akhirnya ambruk di kursi singasananya.
Yuki membeku di tempat.
Dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Dengan dingin, Rafael menendang jatuh tubuh Raja Trandem dari kursi singasana ke lantai.
Yuki teringat satu lagi ucapan Pangeran Arana mengenai Rafael.
Kemenakan Raja Trandem jauh lebih kejam daripada Raja Trandem.
Dia kembali mempercayai ucapan Pangeran Arana.
Yuki mulai mengerti. Rafael sebenarnya hanya memanfaatkan Raja Trandem. Selama ini Dia membantu Raja Trandem adalah semata untuk mendapatkan kekuatan dan kedudukannya sekarang.
Dia adalah Raja yang sebenarnya.
"Sudah Aku bilang bukan, Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu" Kata Rafael pada Yuki yang masih terpaku dengan sorot puas.
Rafael memberikan pedangnya yang masih berlumuran darah pada seorang prajurit di dekatnya.
"Kenapa.." bisik Yuki dengan suara bergetar. Tubuhnya terasa lemas.
"Akuilah Yuki, Kau juga sangat menginginkan kematiannya" Kata Rafael datar.
"Sekejam apapun Raja Trandem, bukankah Dia adalah Pamanmu. Orang yang mengambilmu ketika kecil dan merawatmu dengan baik" Kata Yuki nanar. Yuki menelan ludah untuk mengisi tenggorokannya yang kering. Kemudian melanjutkan dengan sedih. "Dia yang memberimu pendidikan dan penghidupan yang layak. Bahkan....bahkan Kau bisa mencapai posisimu yang sekarang, berkat bantuannya"
__ADS_1