
Teman-teman Bangsawan Pangeran Riana secara bergantian akan menemani Yuki jika Pangeran Riana sedang tidak bersamanya.
Namun, untunglah Yuki tidak terlalu merasa tertekan. Raja Bardana dengan tegas memerintahkan Pangeran Riana untuk membiarkan Yuki bersekolah dan berkumpul bersama teman-temannya. Raja Bardana tahu jika Yuki masih berkabung atas kematian Perdana Menteri Olwrendho. Dia telah mengirimkan banyak hadiah untuk menghibur Yuki. Tapi semua kotak hadiah yang diberikan, tertumpuk rapi di ruang berpakaian setelah dibuka isinya untuk menghormati Yang Mulia Raja Bardana. Yuki sama sekali tidak menyentuh hadiahnya.
Raja Bardana sangat paham jika mengurung Yuki di dalam istana bukan keputusan yang baik. Raja Bardana berharap, dengan adanya festival yang akan berlangsung dapat meredakan kesedihan Yuki atas kematian Perdana Menteri Olwrendho.
Yuki bisa mengalihkan kesedihan pada persiapan festival dan tidak larut dalam duka.
Hujan turun dengan deras, di langit yang gelap, kilat menyambar dengan ganasnya. Dia berjalan dengan langkah mantap. Postur tubuhnya tidak terlihat jelas karena jubah yang menutupinya. Dia bahkan mengenakan tudung untuk menyembunyikan dirinya meski sebenarnya itu tidak diperlukan di tempat ini. Dibelakang, rombongannya terus mengikuti dengan setia. Seperti seekor anjing yang mengekori tuannya.
Dia membuka pintu tinggi di depannya, menimbulkan derit mengerikan. Saat masuk, seorang wanita duduk santai di depan perapian. Matanya tertutup dengan tenang.
Di dekatnya ada sisa sapu tangan yang telah di sobek dengan rapi. Sobekan yang di butuhkan Dia simpan dalam botol kaca di atas meja.
"Aku rasa itu cukup" kata sosok bertudung melirik ke arah botol kaca berisi sisa sapu tangan dengan noda darah diatasnya.
Wanita di depannya membuka mata, melirik botol kaca dengan malas.
"Kau seharusnya bisa mendapatkan lebih banyak dengan mudah, Dia akan menyerahkan dengan sukarela"
"Kita tidak butuh bantuannya" jawab orang bertudung itu sinis.
"Ayah tidak menganggap seperti itu"
"Dia tidak ada di rencana Kita"
"Itu sebelum kita tahu jati dirinya" kilah Perempuan itu tidak mau kalah. "Ayah hanya akan mengambil sedikit darahnya bukan membunuhnya. Pikirkanlah dengan matang, jika semua ini berhasil, Kau bahkan bisa mendapatkannya dengan mudah tanpa ada yang menghalangi"
__ADS_1
"Pikirkanlah tugasmu sendiri Bibi" jawab Pemuda itu acuh.
Wanita itu tertawa tergelak sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Tugasku hanya memastikan anak di dalam kandunganku selamat. Kau harusnya senang Kita mendapatkan penerus murni dari keluarga kita. Tapi wajahmu tidak menunjukan kesenangan itu, apa karena Aku ini Bibimu ?"
"Jika bukan karena perintah Kakek, Aku tidak akan sudi melakukan denganmu" jawab Pemuda bertudung itu dengan nada jijik.
"Akuilah Kau menikmati pelayananku, anggap saja Aku melakukan tugasku sebagai walimu, mengajarkan permainan ranjang terbaik untuk Kau dengan gadis itu"
Wanita itu maju dan merengkuh wajah dalam tudung di depannya. "Sekarang adalah waktunya, Apa Kau ingin Kita bermain dengan pengawasan Mereka" tanya wanita itu sembari melirik ke belakang pemuda di depannya.
Ayahnya berpesan Mereka harus bersetubuh di malam-malam tertentu untuk menguatkan darah murni pada bayi di dalam kandungannya. Tugas yang di rasa tidak berat jika keponakannya mau bekerja sama. Tapi pemuda di depannya jelas tidak memiliki minat padanya. Bahkan Pemuda itu justru membayangkan bersetubuh dengan gadis pujaannya ketika Mereka berhubungan. Dia berdecak, Sekarang Dia memang sudah tua. Tapi dulunya Dia adalah gadis yang cantik.
"Aku akan melakukan dengan cepat" jawab Pemuda itu tanpa menyembunyikan perasaan tersiksa atas perintah yang harus di jalankan. Dia tanpa peringatan, membalikkan tubuh wanita di depannya, memunggunginya. Tangannya mendorong wanita itu ke atas meja, dan kemudian menarik rok nya ke atas.
Tak lama, kedua orang itu sudah bergerak melakukan hubungan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh Mereka berdua, di saksikan beberapa pasang mata di belakang yang dengan setia menunggu Mereka.
Dia menunduk, membersihkan sisa tanah yang menempel di siku tangannya. Tadi Dia tanpa sengaja bertemu dengan Bangsawan Dalto. Tapi ketika Yuki menghampiri untuk menanyakan keadaannya pasca tenggelam tempo hari, Bangsawan Dalto justru mengusirnya dengan kasar. Dia mendorong Yuki sehingga Yuki kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Bukannya berbalik untuk sekedar meminta maaf, Bangsawan Dalto justru memandang Yuki penuh kebencian. Dia berpaling dengan cepat dan pergi. Meninggalkan Yuki yang masih terduduk di atas tanah berlumpur.
"Kenapa kakimu ?".
Yuki berbalik ketika suara yang dikenalnya menegurnya dari belakang.
Pangeran Sera sedang melintas bersama rombongan kerajaan Argueda yang baru saja datang untuk persiapan festival, ketika Dia melihat Yuki berjalan di sudut taman dengan kaki di seret. Pakaian Yuki terkena lumpur. Pangeran Sera melihat sekilas air mata yang berusaha disembunyikan gadis itu darinya.
__ADS_1
Di belakang Pangeran Sera, Para Putri dari kerajaan Argueda memandangi Yuki dengan tatapan tidak suka.
Pangeran Sera mengabaikan rombongannya. Dia tanpa rasa bersalah menghampiri Yuki.
"Aku terjatuh" kata Yuki cepat sebelum Pangeran Sera di dekat Yuki. Yuki berusaha mengambil jarak, ada begitu banyak orang yang melihat. Dia tidak ingin terlibat masalah dengan Pangeran Riana.
Tanpa menunggu lagi, Yuki menundukan kepala untuk memberi hormat. "Permisi Pangeran"
Dia berbalik, meninggalkan Pangeran Sera. Yuki tahu sikapnya saat ini kurang sopan, Pangeran Sera sangat baik padanya. Tapi Dia tidak ingin membuat Pangeran Riana marah.
Lagipula ada banyak pertanyaan mengenainya yang belum terjawab. Lebih baik Yuki mengambil jarak.
Terdengar suara langkah kaki di belakang Yuki. Yuki baru saja akan menoleh untuk mengetahui siapa yang berada di belakangnya ketika tiba-tiba tubuhnya diangkat ke atas.
Tangan ramping milik Pangeran Sera menompang tubuh Yuki di dadanya. Yuki terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Pangeran Sera akan mengangkatnya seperti ini.
"Pangeran !!" Seru Yuki tidak percaya. Dia berusaha melepaskan diri sementara di belakang Para Putri semakin menatap Yuki dengan pandangan siap membunuh.
Pangeran Sera mengendong tubuh Yuki dengan mudah.
Pangeran Sera membawa Yuki memasuki gedung sekolah. Sontak suasana di sepanjang jalan yang Mereka lalui menjadi riuh. Yuki berusaha beberapa kali turun dari gendongan Pangeran Sera, tetapi Pangeran Sera menahannya sehingga Dia tidak dapat berkutik.
"Diam Yuki" perintah Pangeran Sera akhirnya karena Yuki terus saja memberontak. Yuki tidak menyangka Pangeran Sera akan bersikap tegas padanya, Dia langsung mengkeret tidak lagi melawan.
Mereka menuju ruang pengobatan. Saat Mereka masuk tidak ada seorangpun di dalam. Pangeran Sera mendudukan Yuki di kursi kayu yang terletak di dekat cendela. Ada banyak rak berisi botol. Di dalam botol tersebut berisi berbagai bahan obat yang siap di racik.
Pangeran Sera berdiri dan memilih beberapa botol. Sementara Yuki duduk terpekur canggung. Setelah menemukan apa yang di cari, Pangeran Sera mengambil penggiling obat. Terdengar gesekan batu saat Pangeran Sera menghaluskan bahan obat.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri" Yuki akan berdiri ketika Pangeran Sera berjongkok di depannya sambil membawa ramuan obat yang telah di haluskan.