
Pintu terbuka lebar, Tabib Istana masuk dengan beberapa perawat wanita. Mereka semua sudah siap dengan perlengkapannya.
Mereka semua terlalu cepat datang.
Tidak ada yang mengetahui kesakitan Yuki kecuali dua orang pelayan di dalam kamar. Tapi Mereka sudah datang tanpa pemberitahuan dari siapapun. Tidak ada yang keluar dari dalam kamar untuk memanggil Mereka. Kecuali...
Kesadaran menghantam Yuki dengan kuat.
"Sup itu, Apa yang Kalian berikan padaku.." kata Yuki tidak percaya dengan ekpresi wajah menahan sakit.
Dua orang perawat memaksa Yuki untuk tetap berbaring di atas tempat tidur. Tangan Yuki di pegang dengan kuat. Yuki berusaha memberontak. Berusaha melepaskan diri. Jarum-jarum di gelar di samping tempat tidur. Sebuah jarum di tusukkan ke lengan Yuki yang di kunci oleh dua orang perawat.
"Tidakkk..." Teriak Yuki histeris. Dia merasakan obat masuk dalam pembuluh darahnya melalui lengan.
"Maafkan Kami Putri, Kami hanya menjalankan perintah"
"Tidakk...anakku...jangan"
Akibat obat bius yang disuntikan. Yuki langsung melemah. Dia tertidur dengan cepat. Air mata mengalir membasahi pipinya.
Yuki tersadar dari tidurnya. Entah sudah berapa lama Dia pingsan. Setiap Dia akan sadar. Seseorang akan kembali menyuntikan obat bius padanya.
Para perawat dan pelayan mengelilingi Yuki. Yuki langsung menepis tangan yang berusaha menyentuh Yuki untuk memeriksa.
Yuki duduk dengan panik meraba perutnya yang kosong. Tidak ada lagi tanda kehidupan di sana. Anaknya sudah pergi.
"Putri tenangkan diri Putri. Kondisi Putri belum pulih. Jangan bergerak terlalu banyak" pinta pelayan ketika Yuki menangis histeris. Dia memberontak dengan kuat. Berusaha turun dari tempat tidur. Dua orang perawat datang untuk membantu memegangi Yuki. Ketika Yuki dengan kalap melempar semua alat medis yang di letakan di atas meja ke lantai.
"Pergi Kalian..pergi !!" Teriak Yuki mencoba melepaskan diri.
Yuki kembali di tarik dengan kuat di atas tempat tidur. Yuki berteriak histeris, air matanya tumpah membasahi pipi. Dia mengamuk, menangis, meraung karena kehilangan anaknya. Sesuatu yang sangat berharga untuknya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Yuki terus memberontak untuk melepaskan diri dari pegangan para perawat dan pelayan. Seorang pelayan mempersiapkan jarum suntik untuk membius Yuki kembali.
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Bangsawan Voldermont masuk dengan Ibu Suri. Dengan segera, Bangsawan Voldermont merebut jarum suntik yang ada di tangan perawat. Berteriak dengan marah. "Lepaskan Dia. Apa kalian pikir Dia ini hewan dengan terus membiusnya ?"
Bangsawan Voldermont melempar jarum bius ke lantai keras. Menarik seorang perawat yang masih memegangi Yuki, menjauhkan dari Yuki dengan kasar. Semua orang di dalan ruangan diam dengan wajah penuh ketakutan.
"Hazel" panggil Ibu Suri kepada kepala pelayan di istana Pangeran Riana yang mengikuti Ibu Suri masuk ke dalam kamar. "Kau yang mendidik Mereka. Atau Aku yang mendidikmu" tanya Ibu Suri tegas.
Semua orang langsung berlutut memohon ampunan.
Bangsawan Voldermont mengangkat Yuki ke gendongannya. "Aku tidak mau ada di sini" tangis Yuki sedih.
"Bawa Putri Yuki ke istanaku. Jika Pangeran keberatan, Suruh Dia langsung menghadapku" kata Ibu Suri tanpa kompromi.
Yuki langsung di bopong keluar oleh Bangsawan Voldermont. Ibu Suri mengikuti dari belakang. Tidak ada yang berani melarang.
Ketika tiba di lorong. Mereka berpapasan dengan Bangsawan Xasfir dan Putri Marsha.
"Nenek, apa yang Nenek lakukan di sini ?" Tanya Putri Marsha lembut.
Bangsawan Xasfir langsung membungkuk memberikan penghormatan.
"Xasfir, jika temanmu ini tidak punya adap. Jangan biarkan Dia berkeliaran di istana dan bermimpi mendekati keluarga kerajaan. Dia bukan siapa-siapa di sini. Suruh Dia melihat dengan jelas apa posisinya"
Setelah berkata seperti itu. Ibu Suri melenggang pergi diikuti Bangsawan Voldermont. Meninggalkan Putri Marsha yang berdiri dengan wajah masam.
Yuki di bawa ke salah satu kamar yang ada di istana Ibu Suri. Di sana, Dia diperlakukan oleh para pelayan dengan jauh lebih baik. Setelah selesai mengurusi Yuki. Para pelayan meninggalkan Yuki sendiri di dalam kamar. Yuki memegangi perutnya. Menangis tergugu.
Dia tidak habis pikir kenapa kerajaan sangat tega hingga membunuh bayinya dengan kejam.
Putri Ransah benar. Kehidupan kerajaan sangat kejam. Tanpa memikirkan perasaan Yuki. Mereka memutuskan seenaknya sendiri. Mengorbankan bayinya dengan alasan untuk kepentingan Negeri.
Yuki dengar, Ibu Suri yang paling marah atas keputusan itu. Dia marah kepada Raja Bardhana dan Pangeran Riana. Bahkan mengizinkan Yuki ketika Yuki menolak kedatangan Pangeran Riana yang ingin bertemu dengannya dan membawanya kembali ke istana Pangeran Riana.
__ADS_1
"Jika Yuki tidak ingin kembali. Maka biarkan saja. Kau harus melangkahi mayatku dulu untuk bisa membawanya pergi dari istanaku" ujar Ibu Suri ketika Pangeran Riana memaksanya untuk membiarkan Pangeran Riana membawa Yuki pergi.
Yuki jatuh sakit. Dia mengalami panas tinggi dan sempat mengalami dehidrasi parah karena tidak ada satupun makanan masuk ke dalam tubuhnya dengan benar.
Raja Bardhana dan Pangeran Riana mencoba beberapa kali untuk menemui Yuki. Tapi berkat pelindungan dari Ibu Suri. Yuki tidak harus bertemu dengan Mereka jika Dia tidak menginginkannya.
Bangsawan Voldermont datang hampir setiap hari hanya untuk memeriksa kondisi Yuki dengan mata kepalanya sendiri. Menghibur kesedihan Yuki dan menenangkan hatinya yang kacau.
Suatu kali Bangsawan Voldermont datang dengan wajah penuh lebam. Tapi ketika Yuki menanyakan luka-luka di wajahnya, Bangsawan Voldermont tidak mau mengakui bahwa itu luka karena perkelahian.
Namun pelayan memberitahukannya, bahwa Bangsawan Voldermont dan Pangeran Riana terlibat perkelahian. Bangsawan Voldermont mengkonfrontasi Pangeran Riana. Dia sangat kecewa dengan Pangeran Riana yang di butakan cemburu dan tidak mempercayai Yuki.
"Apa yang Kau baca ?" Bangsawan Voldermont masuk ke dalam kamar ketika Yuki sedang duduk melamun sambil memangku buku. Yuki yang tersadar, secara refleks langsung menutup buku di tangannya. Bangsawan Voldermont mengambil buku di tangan Yuki. Alisnya naik ketika membaca judul buku yang di bawa Yuki.
"Apa Kau berniat menjadi pendeta seperti Serfa ?"
"Tidak ada buku yang menarik di sini. Aku hanya mengambil secara acak dari dalam lemari" Kata Yuki membela diri.
"Pembatalan calon ratu ?" Tanya Bangsawan Voldermont lagi ketika Dia menemukan lipatan kecil yang di buat Yuki pada buku yang di bacanya. Ada kertas catatan milik Yuki yang di selipkan dan lupa untuk di sembunyikan. "Kau ingin membatalkan posisimu sebagai calon ratu"
Yuki diam.
Awalnya Dia memang hanya mengambil buku itu secara acak seperti yang di katakannya. Namun isi buku itu justru memberi Yuki sebuah ide yang tidak pernah dipikirkannya sebelum ini.
Doa seorang Ciel yang di lakukan setulus hati, akan di kabulkan oleh dewa.
Jika Yuki berdoa kepada Dewa dan memohon agar Dewa melepaskan posisi Yuki sebagai Calon Ratu, sehingga Pangeran Riana bisa menikahi wanita manapun yang diinginkan. Kemungkinan besar doa itu akan di kabulkan.
Pangeran Riana akan bahagia dengan pilihannya. Dan Yuki akan terbebas dari istana.
Saat ini, Hanya itu penyelesaian terbaik untuk semuanya.
__ADS_1