
Setiap malam, Yuki menemukan dirinya terbangun seorang diri, bersimba air mata.
Kenyataan bahwa Bangsawan Dalto telah mati membawa kesedihan yang cukup dalam di hati Yuki. Mimpi yang sama selalu menghantuinya setiap malam-lonceng di atas menara yang terus berdentang nyaring hingga gaungnya menggetarkan tanah, teriakan orang yang silih berganti, tali yang di lilitkan di leher dan terakhir...tuas kayu yang di tarik di susul suara retakan nyaring.
Yuki sudah melakukan segala cara agar tidak mengingat kejadian itu. Tapi, tetap saja bayangan kematian Bangsawan Dalto tetap membekas kuat dalam ingatannya.
Sebulan pertama setelah Dia kembali ke dunia ini, Yuki seperti berubah menjadi zombie yang menyedihkan. Dia mengurung diri di kamar dan tidak mau berinteraksi dengan siapapun termasuk Phil dan Bibi Sheira. Tatapan iba di mata Mereka membuat Yuki semakin tersiksa.
Yuki tidak tahan melihatnya dan memilih menghindari Mereka.
Namun, suatu hari di tengah malam. Ketika Yuki ke dapur untuk memgambil minum. Dia mendengar pembicaraan Bibi Sheira dan Phil di ruang keluarga.
Mereka sangat mencemaskan Yuki. Bibi Sheia bahkan menangis menceritakan kondisi Yuki pada Phil.
Yuki menyadari, sikapnya sudah keterlaluan dan membuat semua orang khawatir. Jadi Dia mulai berusaha bangkit dari ketepurukan. Alih-alih kembali mengurung diri di dalam kamar, Yuki mulai aktif dalam kegiatan sekolah untuk mencari kesibukan agar Dia dapat melupakan kesedihan.
Yuki mengikuti dua club sekaligus. Club menari dan club pencinta tanaman. Dua hal yang tidak pernah Yuki lakukan sebelumnya. Dia juga mulai merintis karir mengikuti jejak ibunya sebagai artis dengan menjadi model pakaian di sebuah majalah. Dia menghabiskan waktunya dalam berbagai kegiatan, seolah takut jika Dia senggang, Dia akan kembali teringat kesedihan dan meratapi nasibnya yang malang.
"Untuk apa Kau terus merawatnya jika itu malah membuatmu sedih ?"
Yuki terkejut, lamunannya buyar seketika saat sebuah suara menegurnya.
Tanpa di sadari Yuki, Raymond sudah berada di dalam rumah kaca. Yuki melirik pertandingan basket yang masih berlangsung. Kemudian Dia memilih diam, kembali fokus pada tanamannya.
"Aku tidak mengerti, Kau selalu terlihat sedih bahkan seperti menahan tangis ketika merawat mawar-mawar itu. Tapi Kau tetap saja melakukannya dan di tidak meninggalkannya begitu saja" ujar Raymond lagi ketika Yuki masih mengacuhkan keberadaannya.
Yuki masih diam. Dia telah selesai menyemprot obat hama pada tanaman mawarnya. Dengan tenang Dia melepas sarung tangan dan maskernya. Mencuci tangannya di air kran yang terletak di dekatnya.
__ADS_1
"Aku dengar Senior Albert menyatakan cinta padamu"
"Aku menolaknya" jawab Yuki dingin. Yuki mengemasi peralatannya. Dan meletakan ke ember hitam yang akan di bawanya ke ruang club. Ketika tanpa sengaja matanya menatap bayangan di depannya, yang terpantul di cermin yang di letakan bersandar dekat kran air. Refleks Yuki berbalik ke arah bayangan yang di lihatnya.
Wajahnya menjadi pucat. Dia terlihat tegang. Tapi tidak ada siapapun di rumah kaca selain Yuki dan Raymond.
Apa Yuki salah lihat ?.
Dia merasa seperti melihat sosok Pangeran Riana tadi. Tapi bukankah tidak mungkin, Pangeran Riana bisa datang ke rumah kaca. Bukan ke ruangan cermin yang berada di rumah.
Yuki tahu kerajaan akan menjemputnya suatu hari nanti. Entah itu Pangeran Sera ataukah Pangeran Riana yang datang. Untuk mengantisipasi hal itu, Yuki berusaha menghindari ruangan cermin yang ada di dalam rumah. Dia meminta untuk tinggal sendiri di sebuah apartement kecil. Karena Bibi Sheira tidak juga mengabulkan keinginan Yuki, dengan terpaksa Dia menggunakan status Yuki sebagai seorang Putri untuk memaksakan kehendaknya.
Akhirnya, Yuki tinggal seorang diri di sebuah apartement kecil yang terletak di dekat stasiun. Dekat dengan sekolah dan juga tempat kerja Phil, sehingga Mereka masih bisa mengawasi Yuki setiap saat.
Yuki tidak ingin kembali ke dunia asalnya. Dia berharap Bibi Sheira mau mengerti keinginannya.
"Aku tidak apa-apa" jawab Yuki acuh sambil memindahkan pot mawarnya kembali ke rak tanaman.
"Kau bohong. Aku tidak mempercayai ucapanmu. Pasti telah terjadi sesuatu" desak Raymond cepat. "Aku tidak akan tertipu, Kau sering tersenyum namun Aku melihatmu seperti menangis di dalam hati. Sikapmu seperti seorang gadis yang baru saja di tinggal mati kekasihnya. Apa yang sebenarnya terjadi ?"
"Apapun yang terjadi padaku Raymond. Itu bukan urusanmu" kata Yuki akhirnya dengan kesal. Dia sudah berusaha bersikap normal. Namun tetap saja Dia tidak bisa menipu semua orang. Itu membuat Yuki merasa jengkel kepada dirinya sendiri.
Emosinya selalu meledak jika ada yang menyinggung kesedihannya. Apa Yuki terlalu menyedihkan sampai Raymond pun menyadarinya ?.
"Aku tahu Kau sebenarnya tidak sakit. Aku sudah menyelidiki rumah sakit yang Kau klaim telah merawatmu selama ini. Kau tidak pernah datang ke sana, Tidak ada namamu di sana" ujar Raymond tegas.
Yuki lupa, dengan status keluarga Raymond tentu sangat mudah baginya untuk membongkar kebohongan yang telah di susun Yuki bersama Phil.
__ADS_1
"Aku peduli padamu Yuki. Apa Kau mengerti ?" Ujar Raymond lagi melihat Yuki kembali diam.
"Terimakasih atas kepedulianmu Raymond. Tapi Aku tidak ingin Kau mencampuri urusanku. Hubungan Kita sudah lama berakhir, Aku pun tidak pernah menganggumu selama ini. Jadi Aku mohon jangan lagi bersikap seperti seorang kekasih denganku" kata Yuki mengingatkan.
"Bukan Aku yang mengakhiri hubungan secara sepihak" tuding Raymond cepat.
"Kau yang berselingkuh. Apa Kau lupa ?"
"Aku sudah menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi. Tapi Kau yang tidak mau mendengarnya"
Yuki menatap Raymond sejenak. Dia tahu spa yang di katakan Raymond adalah benar. Semua yang terjadi dahulu hanya salah paham. Tapi Ibunya tidak mengizinkan Yuki bersama Raymond. Yuki tidak ingin terus bertengkar dengan Ibunya, jadi Dia memanfaatkan kesalahan yang di lakukan Raymond untuk memutuskan hubungan.
Saat itu, perpisahan adalah keputusan terbaik bagi Mereka.
"Jika Kau tidak ada urusan di sini lebih baik pergilah" ujar Yuki merasa lelah. Tidak ada gunanya berdebat dengan Raymond. Dia pemuda yang keras kepala. Perdebatan ini tidak akan menuai hasil yang di harapkan Yuki. Dia menyadari hal itu. "Kau sudah punya pacar. Tidak baik jika ada yang melihat Kita berdua di sini. Aku tidak mau ada kesalahpahaman nantinya"
Yuki telah selesai berberes dan kembali mencuci tangan untuk memastikan semua obat hama telah lenyap dari tangannya. Dia mengambil sapu tangan dari saku untuk mengeringkan tangannya.
"Aku akan memutuskannya jika Kau mau" ujar Raymond enteng membuat Yuki mengelus dada.
"Raymond tolong, sampai kapan Kau akan terus begini ?. Apa Kau tidak merasa lelah ?" Ujar Yuki sembari menatap Raymond dengan pandangan memohon pengertian.
Dia tidak ingin menambah masalah dengan kesalahpahaman di antara Mereka. Yuki hanya ingin hidup damai sekarang.
"Kau tahu perasaanku dengan baik Yuki" ujar Raymond lirih.
__ADS_1