Morning Dew

Morning Dew
174


__ADS_3

Istana Pangeran Riana sunyi meskipun di siang hari. Sepertinya, Pangeran Riana masih tidak mengizinkan sembarang orang untuk tinggal bersamanya. Dia hanya mengizinkan orang-orang yang disukainya saja untuk berada di dekatnya.


Bekas cetakan kaki Yuki terlihat jelas di atas tumpukan salju yang menutupi jalan di belakangnya. 


Yuki terus saja berjalan. Dia ingin segera sampai di kamarnya. Berharap Pangeran Riana ada di sana. Andaikanpun jika Dia tidak ada, para penjaga kamar akan membantu Yuki untuk mengabarkan kepada Pangeran Riana terkait kedatangan Yuki.


Perasaan akan bertemu dengan Pangeran Riana kembali membuat Yuki merasa senang. 


Ketika berbelok di jalan kecil yang ada di taman tengah. Yuki menangkap sosok Pangeran Riana. Dia duduk dengan tenang di atas pagar, di sebuah gazebo yang di bangun dengan kolam ikan di bawahnya. Memandang tenang ke depan dengan segelas anggur di tangannya.


Yuki menangkap sosok lain di depan Pangeran Riana. Mereka tidak menyadari kehadiran Yuki karena sedang serius membicarakan sesuatu.


Yuki baru saja membuka mulut untuk memanggil Pangeran Riana, tetapi Dia segera mengurungkan niatnya ketika melihat sepasang tangan putih dan halus, milik seorang wanita sedang mengusap lembut rambut Pangeran Riana.


Jantung Yuki berdebar kencang. Tangannya bergetar. Dia menahan nafas, melangkah tanpa suara ke depan. Mendekati Pangeran Riana untuk melihat jelas pemilik tangan itu.


Seorang wanita yang sangat cantik dan bergaya. Wanita muda dewasa yang sudah matang. Umurnya mungkin hanya di bawah Pangeran Riana dua tiga tahun. Badannya sempurna. Padat berisi idaman setiap wanita.


Wanita itu mengibaskan rambut panjang sepinggang, bergelombang berwarna hitam. Memandang Pangeran Riana penuh cinta, di balik bulu matanya yang lentik. Bibir penuh yang di poles lipstik berwarna orange lembut tersenyum mesra. 


Seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.


Tiba-tiba wanita itu beringsut, berdiri dengan manja, mengalungkan kedua lengannya di leher Pangeran Riana. Seolah sudah menjadi hal wajar di antara keduanya, wanita itu mencium bibir Pangeran Riana mesra.


Semua adegan itu terlihat cukup jelas dari tempat Yuki berada. Kaki Yuki terasa membeku seketika. Yuki tidak tahu apa yang harus Dia lakukan. Pikirannya menjadi kacau. Yuki ingin pergi, tapi seluruh anggota geraknya seolah mati rasa. Tidak dapat di gerakan mengikuti keinginannya.


Diam mematung menyaksikan semuanya tanpa terkecuali.


"Putri Yuki...anda telah kembali" 


Seorang pelayan tua datang dengan tergopoh-gopoh mendekati Yuki. Dia mengabaikan rasa sakit di pergelangan kakinya, akibat hawa dingin yang menusuk.


Pelayan Jaine, Pelayan Pribadi dari Ibu Suri datang mengunjungi istana Pangeran Riana atas perintah Ibu Suri. Tidak di sangka, ketika Dia tiba. Dia melihat adegan berbahaya yang terjadi di depannya. 

__ADS_1


Ibu Jaine kembali berbicara dengan suara kencang. Berharap Pangeran Riana mendengarkan dari tempatnya alarm tanda bahaya yang di suarakan oleh Ibu Jaine.


"Aku sudah menduga, ini benar Anda. Senang sekali bertemu dengan Putri, akhirnya Putri kembali"


Ibu Jaine mendekati Yuki, mengoyangkan tangan Yuki dan terkejut ketika mengetahui betapa dinginnya tangan gadis itu. 


Yuki tersenyum pelan membalas sapaan Ibu Jaine. Ketika Dia kembali berpaling melihat ke arah Pangeran Riana. Pangeran Riana sudah menyadari kehadiran Yuki. 


"Permisi" Kata Yuki kepada Ibu Jaena. Berkat Ibu Jaena Dia sudah berhasil mengontrol kesadarannya kembali.


Yuki mundur dan langsung berbalik. Berjalan pergi dengan cepat.


"Yuki !" Panggil Pangeran Riana.


Mendengar panggilan Pangeran Riana, Yuki tidak menghentikan langkah. Dia justru malah mempercepat langkahnya dengan berlari pergi.


 Yuki terus berlari, Dia ingin secepatnya meninggalkan istana Pangeran Riana. Dia berlari hingga akhirnya sampai di area gerbang belakang istana. Yuki melihat seekor kuda ditambatkan di sebuah tiang. Kuda itu sedang makan dengan tenang.


Begitu kembali di dunia tempat Dia selama ini di besarkan, Yuki sengaja berlatih beberapa ketrampilan untuk bertahan jika Dia di serang. Yuki berpikir setidaknya, Dia masih bisa memberi perlawanan dan tidak terlalu menjadi beban bagi para pelindungnya jika terjadi sesuatu yang genting. Dan berkuda adalah salah satu keahlian yang di pelajari Yuki.


Yuki tanpa ragu menghampiri kuda berbulu coklat, melepaskan talinya. Para penjaga masih tidak menyadari situasi. Yuki berusaha menaiki punggung kuda, ketika Dia akhirnya berhasil. Pangeran Riana tiba dan langsung menyambar tali kemudi untuk menahan Yuki agar tidak pergi.


"Yuki.." panggil Pangeran Riana dengan suara cukup nyaring sehingga menarik perhatian orang di sekitarnya.


Yuki mendongakkan dagu. Menatap lurus ke depan. Menolak untuk menatap Pangeran Riana. Tangannya memegang kuat tali kemudi. Menolak saat Pangeran Riana berusaha menurunkannya dari punggung kuda.


"Maaf Pangeran, Aku baru saja tiba dan ingin segera pulang untuk beristirahat" kata Yuki dingin ketika Pangeran Riana terus saja menariknya agar turun ke bawah.


"Pulang kemana ?. Di sini adalah rumahmu" jawab Pangeran Riana tegas.


"Riana.." suara lembut memanggil Pangeran Riana dari belakang. Wanita yang bersama dengan Pangeran Riana di taman tengah, datang menyusul. Wajahnya Ayu. Dia memiliki keanggunan khas seorang Putri terhormat yang membuat siapapun iri saat melihatnya.


Sesaat genggaman tangan Pangeran Riana mengendur. Yuki yang menyadarinya langsung mengambil kesempatan. Dengan cepat Dia menepis tangan Pangeran Riana keras. Sehingga pegangan Pangeran Riana terlepas. Setelah itu, Yuki langsung memacu kudanya kencang. Keluar gerbang istana yang terbuka. 

__ADS_1


"Yukiii" 


Yuki tidak perduli dengan panggilan Pangeran Riana. Dia terus dan terus saja memacu kudanya. Tidak berbalik sama sekali.


 


Pangeran Riana berlari cepat menuju kandang kuda untuk mengejar Yuki. Tapi Putri Marsha, wanita yang bersamanya beberapa saat lalu, kembali menyusul dan mencoba mencegah Pangeran Riana.


"Riana biarkan saja Dia, jika sudah tenang Dia akan kembali sendiri" bujuk Putri Marsha memohon.


"Minggir Marsha" perintah Pangeran Riana dingin.


"Mengejarnya sekarang akan memperburuk situasi"


"Apa yang terjadi ?" Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermont muncul. Tadinya Mereka akan menemui Riana untuk membahas masalah perjanjian kerajaan. Tapi ketika baru tiba di taman tengah, Mereka melihat Ibu Jaine tampak mencemaskan sesuatu. 


Saat menghampiri Ibu Jaine, Ibu Jaine justru mendatangi Mereka dan meminta untuk segera mencari Yuki sampai ketemu. Ibu Jaine mengatakan kemungkinan besar Yuki menuju pintu belakang. 


Tapi sekarang, alih-alih menemukan Yuki. Mereka malah melihat Riana dan Marsha berada di dekat kandang kuda sedang berdebat akan sesuatu.


"Siapkan pasukan untuk mengejar Yuki" kata Riana tegas.


"Mengejarnya ?" Tanya Bangsawan Xasfir kebingungan. "Apa Sera membawanya pergi lagi ?"


"Tidak, gadis itu pergi karena melihat Kami bersama" jawab Putri Marsha cepat. "Kami tidak tahu bahwa Dia telah kembali dan berada di dekat Kami saat Kami berciuman"


"Ciuman ?. Kalian ?" Bangsawan Xasfir semakin terkejut. 


"Pangeran..." Seorang penjaga berlari mendekat dengan wajah panik. "Hormat Saya Pangeran"


"Ada apa ?"


"Ibu Suri memanggil Pangeran untuk segera datang ke istananya. Beliau berpesan, jika bukan Putri Yuki yang menemani lebih baik Pangeran datang sendiri"

__ADS_1


 


__ADS_2