Morning Dew

Morning Dew
291


__ADS_3

Yuki menolak, berusaha melepaskan diri dari ciuman Pangeran Riana yang dalam dan menuntut. Tapi Pangeran Riana menolak untuk melepaskan Yuki dan semakin mempererat pelukannya. Membuat Yuki tidak berkutik.


Yuki tahu tidak ada gunanya melawan Pangeran Riana. Akhirnya, Yuki hanya diam. Tidak lagi melawan atau membalas ciumannya. Membiarkan Pangeran Riana ******* bibirnya.


Tidak lama kemudian, Pangeran Riana akhirnya melepaskan ciumannya. Sorot matanya memandang Yuki tajam. Menunjukan emosi yang sangat besar, Yuki bahkan mempunyai perasaan Pangeran Riana akan menelannya hidup-hidup.


Lalu...


Tanpa di duga. Pangeran Riana memukul batang kayu di dekatnya dengan tinjunya. Dia memukul begitu kuat hingga helaian daun berjatuhan ke atas tanah.


Yuki tersentak mundur selangkah. Tidak menduga apa yang terjadi kemudian. Pangeran Riana berteriak, melepaskan semua amarah di dalam dirinya.


Semua kejadian lima tahun lalu kembali terulang di benaknya. Dia terus menyalahkan dirinya dengan kematian anaknya. Tapi Dia sama sekali tidak menyangka, semua yang terjadi telah di rencanakan oleh Sera.


Selain itu, Dia harus menahan perasaannya selama ini. Memendam cemburu yang seolah dapat membakar dirinya dari dalam, ketika melihat Yuki bersama dengan Sera. Seperti pasangan yang di mabuk cinta. Seolah Dia tidak pernah ada dalam hidup Yuki.


Semuanya, membuatnya sangat marah.


Pangeran Riana terus memukuli batang pohon dengan tinjunya sambil berteriak. Dia tidak berhenti meskipun buku-buku jarinya memerah karena darah.


Yuki berdiri diam. Terpaku di tempatnya.


Dia memutuskan untuk menunggu sampai Pangeran Riana reda dari amarahnya. 


Ketika akhirnya Pangeran Riana tenang, Pangeran Riana menyurukan wajahnya ke batang pohon dengan nafas tersenggal-senggal.


Kemudian Dia kembali memandang Yuki.


"Dengarkan Aku..." kata Pangeran Riana dingin. "Mulai sekarang, tanpa memperdulikan perasaanmu atau hal lainnya. Kau akan kembali menjadi wanitaku"


"Apa...tidak, Kau tidak bisa melakukannya" sergah Yuki cepat.


"Aku tidak perduli" sergah Pangeran Riana cepat, dengan nada tidak mau kalah. "Kau dengar Yuki, Aku tidak perduli"


Pangeran Riana menarik Yuki untuk mengikutinya ke arah Raldoft. Kemudian Dia memaksa Yuki naik ke punggung Raldoft. Meski Yuki memberontak, tapi Pangeran Riana tidak mengendurkan cekalannya. Yuki terpaksa mengalah, tenaganya tidak cukup melawan Pangeran Riana. Apalagi saat ini Dia diliputi amarah.


Mereka terbang tinggi di udara dengan mengendarai Raldoft. Menuju istana kerajaan Garduete.


 

__ADS_1


 


Bangsawan Voldermont langsung berlari mendekati Yuki ketika Raldoft baru saja mendarat di atas tanah dengan sempurna. Dia langsung membantu Yuki turun dari punggung Raldoft. Pangeran Riana mengikutinya dari belakang dengan rapat.


"Berikan itu" pinta Pangeran Riana pada seorang prajurit kerajaan Garduete yang ada di dekatnya.


Prajurit kerajaan Garduete yang di maksud langsung mengambil borgol yang di maksud Pangeran Riana dan memberikannya pada Pangeran Riana.


"Tidak...Kau tidak bisa melakukannya.." Yuki berusaha melepaskan tangannya saat Pangeran Riana menarik tangan Yuki dan memborgol  pergelangan tangan kiri Yuki. 


Pangeran Riana tidak mengatakan apapun. Tapi matanya tajam menatap Yuki. Bangsawan Voldermont langsung menepuk bahu Yuki lembut. Yuki menoleh ke arah Bangsawan Voldermont dan Bangsawan Voldermont menggelengkan kepalanya pelan, Meminta agar Yuki tidak lagi membantah Pangeran Riana. 


Pangeran Riana memasang sebelah borgol yang tersisa di pergelangan tangan kanannya.


Yuki menahan nafas. Tidak tahu harus mengatakan apa.


"Semua orang sudah menunggu di istana" ujar Bangsawan Voldermont memberitahu Pangeran Riana.


"Ayo" ucap Pangeran Riana singkat.


Ketika Mereka akan mulai berjalan, terdengar Gulf dari saku baju Yuki. Dengan gugup Yuki langsung mengambil Gulfnya.


 


Semua terdiam.


Pangeran Riana mengepalkan tangannya yang bebas hingga semua ototnya keluar. Wajah Pangeran Riana sangat tidak bersahabat dan dingin. Menyadari hal itu, Yuki segera memasukkan kembali Gulf ke saku bajunya. Menelan ludah dengan gugup.


 


Gulf di saku Yuki berhenti sebentar, namun kembali bergetar. Yuki diam. Tidak bergeming. Dia tahu ini yang terbaik untuk sekarang. 


Pangeran Riana mencekal pergelangan tangan Yuki kuat. Seolah borgol yang menghubungkan Mereka tidak cukup kuat untuk mengikat Yuki bersamanya. Menarik Yuki untuk melangkah mengikutinya.


 


 


Yuki terhuyung saat mengikuti tarikan tangan Pangeran Riana. Berjalan menuju istana kerajaan Garduete. Bangsawan Voldermont mengikuti Yuki dan Pangeran Riana dari belakang. Tidak ada yang berbicara. Semua diam dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


 


Di sepanjang jalan yang Mereka lalui, Semua orang berhenti untuk memandang Mereka dengan tatapan penasaran. Semua orang sudah mendengar keributan yang terjadi sebelumnya. Desas-desus tersebar dengan cepat dan menjadi kehebohan tersendiri.


 


Pangeran Riana terus berjalan dengan cepat sambil tetap menggengam pergelangan tangan Yuki. Tatapan matanya dingin masih menahan amarah. Mengacuhkan pandangan mata penasaran yang tertuju kepada Mereka. Sementara itu, Yuki yang berjalan di sampingnya hanya bisa tertunduk dalam. Merasa malu dengan apa yang terjadi.


 


 


Pendeta Serfa maju dan menyanbut Mereka ketika masuk ke dalam gedung istana. Memberitahu Pangeran Riana, Raja Bardhana menunggu di aula kecil.


Mereka langsung menuju aula yang di maksud.


 


Saat masuk ke dalam aula kecil, Raja Bardhana menunggu di kursi singasananya. Beberapa orang Menteri tampak duduk dengan rapi di kursi Mereka masing-masing. Putri Marsha duduk di kursi pesakitan yang ada di tengah ruangan. Dia di kawal dengan cukup ketat. Bangsawan Xasfir duduk di seberangnya, memandang Putri Marsha dengan wajah kecewa.


"Riana....tolong dengarkan Aku" pinta Putri Marsha sambil mencekal Pangeran Riana dan Yuki yang berjalan melewatinya. Dia tidak peduli dengan pedang yang di arahkan kepadanya. Menatap Pangeran Riana dengan pandangan memohon. Tampak jelas kehancuran yang terjadi di dalam dirinya. Air mata membasahi kedua pipinya. "Aku tahu Aku salah, Tapi ini semua Aku lakukan karena Aku mencintaimu. Aku mohon mengertilah"


Pangeran Riana menepis tangan Putri Marsha dengan kasar. Mendorongnya hingga Dia jatuh kembali di kursinya. Matanya memandang Putri Marsha dingin, penuh kebencian. 


Tidak ada belas kasihan yang di tunjukan Pangeran Riana pada wanita, yang selama lima tahun ini setia menemaninya. Wanita yang begitu setia untuk menunggu cinta Pangeran Riana.


"Jangan biarkan Dia menyentuhku lagi" perintah Pangeran Riana pada prajurit penjaga sambil memandang Putri Marsha dengan tatapan mencela. 


Pangeran Riana kembali berjalan diikuti Yuki di belakangnya. Yuki langsung di dudukan dengan paksa di kursi yang terletak di tengah ruangan. Hanya berjarak beberapa langkah dengan kursi tempat Putri Marsha berada.


Borgol di tangan Yuki di lepas. Dua orang prajurit kerajaan berdiri di belakangnya untuk berjaga. Pangeran Riana berjalan dengan acuh meninggalkan Yuki. Menuju kursi kebesarannya di mana Pendeta Serfa telah menunggu dengan berdiri di sampingnya.


"Karena semua sudah berkumpul. Maka Aku nyatakan pengadilan kerajaan di buka" kata Raja Bardhana ketika semua orang yang di butuhkannya telah berada di ruangan dan duduk di tempatnya masing-masing.


Putri Marsha mulai menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana Dia bisa bekerjasama dengan Pangeran Sera. Rencana Pangeran Sera ketika mengetahui kehamilan Yuki. Bagaimana Dia menyebarkan berita bohong mengenai kandungan Yuki. Bahkan Pangeran Sera juga memperhitungkan langkahnya dengan melakukan sumpah ksatria yang akhirnya membuat Yuki mantap untuk pergi dari Pangeran Riana dan melepaskan posisinya sebagai calon ratu negeri Garduete.


 


Visual Putri Marsha

__ADS_1



__ADS_2