
Akhirnya Yuki sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Namun Dia belum bisa berjalan terlalu lama. Untuk berjalan dalam jarak 100 meter saja, Yuki perlu dua tiga kali berhenti. Istirahat saat Dia merasakan sendi-sendinya berdenyut. Tapi Yuki tetap optimis dan yakin Dia akan kembali sembuh jika terus berlatih.
Hari ini Yuki berlatih di lorong istana. Dia di temani oleh Rena. Beberapa penjaga berdiri di sekitar tempat Yuki berlatih. Sengaja mengambil jarak agar Yuki tidak merasa canggung karena terus diikuti.
Yuki menyandarkan tubuhnya di tembok istana untuk mengambil nafas dan meredakan rasa sakit yang menyerang kakinya. Rena berdiri dengan setia di sampingnya. Yuki sengaja meminta agar Rena tidak menompangnya. Dia ingin berjalan dengan usahanya tanpa bantuan orang lain.
Rena sangat sabar dan tidak bosan menemani Yuki berlatih. Meskipun Dia harus memelankan langkahnya untuk mengimbangi Yuki. Dia memberikan botol air minum pada Yuki. Yuki menerimanya dan langsung meminum airnya.
"Bagaimana persiapan pernikahanmu ?" Tanya Yuki sembari mencoba mengatur nafas.
Di luar hujan turun dengan deras. Yuki harus memperhatikan langkahnya dan berjalan penuh perhitungan agar tidak terjatuh sehingga malah memperburuk keadaan.
Atas permohonan Yuki, Pangeran Sera mengizinkan Rena untuk menghubungi keluarganya terkait persiapan pernikahannya. Tentu saja saat Rena berbicara dengan keluarganya melalui Gulf, Dia di awasi dengan ketat oleh para Prajurit Argueda. Sedikit hal yang bisa membuatnya di curigai, pangeran Sera tidak segan akan memasukkan Rena ke ruang tahanan untuk di introgasi.
"Persiapan sejauh ini berjalan lancar Putri" jawab Rena sembari tersenyum menenangkan.
Yuki memegang punggung tangan Rena, menatapnya dengan perasaan bersalah. "Aku berhutang banyak padamu. Seharusnya Kau tidak perlu datang dan meninggalkan persiapan pernikahanmu" Kata Yuki dengan nada menyesal.
"Hamba melakukan dengan ikhlas Putri. Pesta pernikahan bisa di lakukan kapan saja. Tapi keselamatan Putri adalah yang utama"
Pangeran Sera sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia sedang menyelidiki pergerakan yang di lakukan oleh beberapa musuhnya. Terutama keluarga Borindo. Selain itu Dia juga masih mengurus masalah Pangeran Riana yang masih belum di ketemukan keberadaannya.
Yuki memahami betapa gentingnya masalah yang terjadi. Dia semakin merasa bersalah ketika memikirkannya.
Karena Yuki, Pangeran Sera mengucapkan sumpah ksatria yang membuat musuh Pangeran Sera mempunyai alasan kuat untuk menyingkirkannya. Yuki merasa karena adanya Dia, pasti kejadiannya tidak akan serumit sekarang. Yuki berpikir Dia seperti pembawa sial yang membawa masalah untuk orang-orang terdekatnya.
Yuki terus menatap ke luar. Di mana hujan tidak menunjukan tanda-tanda akan berhenti. Dia tercenung seorang diri. Tenggelam dalam pikirannya.
"Apa yang Putri pikirkan ?" Tanya Rena ketika melihat Yuki terdiam cukup lama, membuyarkan lamunan Yuki.
__ADS_1
"Aku memikirkan Pangeran Sera dan Pangeran Riana" jawab Yuki jujur. Dia memandang ke depan dengan wajah sedih. "Kedua Pangeran itu, menginginkanku untuk menjadi Ratu Mereka. Tapi, bahkan Aku sendiripun tidak yakin, Aku memiliki kemampuan untuk mendampingi Mereka memimpin negeri"
Yuki tidak bisa memastikan apakah dirinya akan sanggup menjadi seorang Ratu yang baik, yang di harapkan mampu membawa kemakmuran untuk Negerinya. Lebih dari itu, Dia juga tidak puny keyakinan apakah Dia bisa bertahan dengan segala intrik dan konflik yang ada di setiap sudut Istana. Dia tidak yakin siap untuk menanggung beban sebesar itu.
Jauh di lubuk hati Yuki, Dia masih menginginkan kehidupan yang normal. Yang selama ini di jalaninya sebagai seorang anak SMU biasa.
"Putri memiliki hati yang tulus dan kebaikan hati yang cukup besar. Itu adalah modal utama sebagai seorang Ratu kelak. Sedangkan yang lainnya, Semua akan Putri pelajari seiring waktu yang berlalu"
"Rena, Apakah Kau sanggup membunuh seseorang ?"
Rena terkejut. Tidak menduga Putri Yuki akan menanyakan pertanyaan seperti itu. Dengan tenang, Dia memikirkan jawaban yang tepat untuk di berikan pada Putri Yuki.
"Jika memang itu Perlu dan Harus, Hamba akan melakukannya tanpa keraguan" jawab Rena kemudian. Dia menatap Yuki penuh keyakinan.
Yuki menghela nafas. Dia kembali berpaling untuk menatap hujan. "Kalau Kau sanggup, lalu bagaimana denganku. Apakah Aku sanggup ?" Tanya Yuki lirih seolah berbisik pada dirinya sendiri.
Yuki berdiri terpekur di tempatnya. Dulu, Yuki tidak pernah berpikir apakah Dia mampu membunuh orang lain seperti sekarang. Tapi di Dunia yang Ia tinggali sekarang, Yuki mulai memahami jika Dia ingin hidup, Dia harus sanggup bertahan meski harus membunuh orang lain.
Terus terang, Yuki belum siap mati. Dia juga tidak ingin mati sia-sia karena kedudukan yang sebenarnya tidak Dia inginkan. Pikirannya berkecamuk oleh berbagai pertanyaan.
Jika Yuki pada akhirnya di hadapkan situasi genting. Akankah Dia sanggup membunuh orang lain untuk menyelamatkan hidupnya ?. Apakah Yuki bisa melakukannya ?. Dan setelahnya Apakah Yuki tidak di hantui rasa bersalah ?.
Bahkan Pangeran Riana yang sudah sering berada di pertempuran pun, tidak bisa melupakan pembunuhan pertama yang di lakukannya.
Dia berdiri memperhatikan dengan tenang. Hujan mengguyur membasahi tubuhnya. Tapi Orang itu tidak perduli.
__ADS_1
Kebencian telah mengalahkan segalanya. Kenapa gadis itu masih hidup. Melihatnya bernafas saja, Dia merasa muak. Ingin rasanya menghancurkan wajahnya dengan belati yang ada di pinggang. Tapi Dia tidak boleh melakukannya dan harus menahan diri.
Tangannya terulur dengan posisi bersiap. Dia memicingkan mata, mengunci sasaran. Setelah yakin, Dia melepaskan anak panah dari busurnya.
Rena masih berdiri di dekat Yuki. Yuki tidak mengatakan apapun. Dia kembali melamun, sibuk dengan pikirannya. Saat mendongak, pandangan Rena menangkap anak anah yang melesat dengan cepat ke arah Mereka. Tanpa berpikir panjang, Dia langsung mendorong Yuki hingga Yuki terjatuh ke tanah.
Teriakan nyaring dan suara berdebam yang cukup keras terdengar di dekat Yuki. Yuki mencoba bangun, seluruh tubuhnya terasa sakit karena membentur lantai. Suara langkah kaki dan kepanikan terdengar di sekelilingnya.
Ketika Yuki mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dia membatu saat melihat pemandangan di depannya.
"Ti...tidak.." bisik Yuki lirih.
Rena terbaring dengan posisi menyamping. Sebuah anak panah menancap di punggungnya, tembus sampai ke dada. Darah mengalir deras dari tubuhnya.
Yuki merangkak ke arah Rena. Tubuhnya bergetar oleh emosi di dalam dirinya. Dia langsung meraih Rena dan meletakan kepalanya di bahu Yuki. Semua prajurit berjaga dengan posisi melingkar. Melindungi Yuki dari segala arah. Sementara yang lain berlari untuk mencari pelaku di luar.
Darah merembes membasahi baju Yuki. Nafas Rena lemah dan tersendat.
"Rena...tidak..Rena.." bisik Yuki lirih sembari memeluk Rena dan menggoyangkan tubuh Rena agar tetap sadar. Air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukan. Pikirannya kosong.
"Pu....Putri..." Bisik Rena terbata di pelukan Yuki.
"Diamlah. Jangan mengatakan apapun lagi. Aku akan menyelamatkanmu. Kau harus bertahan" bisik Yuki lirih penuh permohonan.
__ADS_1