Morning Dew

Morning Dew
110


__ADS_3

Yuki beruntung Dia berhasil lolos dari maut. Tapi sayangnya, Dia tidak bisa menyelamatkan orang yang penting untuknya.


Yuki tidak bisa menyelamatkannya dari tiang gantungan atas nama keadilan.


Kematian orang itu membawa duka yang dalam bagi Yuki. Dia adalah alasan Yuki berduka sepanjang waktu. Kesedihan yang di tinggalkan berdampak besar untuk Yuki. Rasa bersalah karena tidak bisa melakukan sesuatu membuat Yuki terpuruk.


Sampai sekarang Yuki terus menyalahkan diri. Dia menyesal kenapa tidak sensitif sebagai seorang teman. Andai saja Dia lebih peka, Yuki merasa kejadian itu seharusnya tidak akan terjadi.


Hati Yuki hancur lebur saat menyaksikan kematiannya. Di dalam hati, Yuki terus saja menangisi kematiannya. Kesedihan itu nyaris saja menggoyahkan akal sehat Yuki.


Untuk menjaga kewarasannya, Yuki seperti berpijak di lapisan es yang sangat tipis. 


Yuki sadar, yang mampu melawan kepedihan yang Dia rasakan hanya Yuki sendiri. Karena itu dengan bantuan Pangeran Sera, Yuki akhirnya dapat kembali ke dunia tempat Dia di lahirkan untuk memulihkan hatinya.


Pangeran Riana membopong Yuki yang pingsan, akibat perjalan antar Dimensi yang baru saja Mereka lakukan. Pendeta Serfa mengikuti dari belakang dengan tenang. Ketika Mereka telah sampai di kamar Pangeran Riana, Pangeran Riana berbalik untuk memberi perintah.


"Katakan pada Vold, Rapat pindah ke kamar kerjaku" 


"Baik Pangeran" jawab Pendeta Serfa dengan patuh. Dia kemudian pergi untuk menghubungi Bangsawan Voldermont, sementara Pangeran Riana melanjutkan untuk membawa Yuki ke dalam kamar.


Yuki di baringkan ke atas tempat tidur. Ada sisa air mata di pipi Yuki. Pangeran Riana dengan berhati-hati melepaskan sepatu Yuki dan menyelimuti Yuki agar tidak kedinginan. 


Setelah itu Dia berlalu ke ruang kerja. Para Pelayan masuk ke dalam kamar dan mulai membakar aromatherapi juga mempersiapkan keperluan Yuki jika Yuki sadar nanti.


 


Samar, Yuki seperti mendengar suara orang mengobrol dari kejauhan. Angin semilir berhembus lembut menerpa rambut Yuki. Perlahan, seluruh indra Yuki kembali berfungsi normal. Dia mencium aromatherapi yang di bakar.

__ADS_1


Perlahan, kelopak mata Yuki bergerak pelan, Dia membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut. Perasaan yang pernah di rasakan beberapa bulan yang lalu kembali terasa familiar.


Yuki tertegun ketika kesadarannya mulai pulih sepenuhnya, saat Dia mulai menyadari di mana dirinya berada. 


Kamar yang sama tempat Dia di kurung dan menjalani hari-harinya kala itu. Ranjang yang sama yang di gunakan Pangeran Riana ketika memperkosanya. Jantung Yuki berdebar kencang. Dia menatap ke sekeliling, Kamar ini tidak berubah seperti terakhir Dia meninggalkannya. Hanya saja sekarang, seluruh cendela kamar di lengkapi dengan teralis besi agar Yuki tidak lagi kabur dengan cara meloncat keluar kamar melalui cendela. 


Samar, terdengar suara orang mengobrol di luar kamar. Yuki mencoba bangkit. Menahan rasa pusing di kepalanya. Jantungnya seperti di tikam belati dengan keras, ketika Dia mencium aroma dunia yang telah di tinggalkannya. Rasanya, seketika Dia melihat luka yang belum kering kembali di sobek dengan keras. Darahnya kembali menetes keluar. 


Yuki memeluk dirinya dengan kuat. Mengepalkan kedua tangannya di tubuh. kesedihan menjalar sampai sum-sum tulang. Dia terus menekan dirinya dengan kedua tangan, Seolah dengan begitu, Dia bisa mencegah dirinya dari kehancuran.


Nafasnya terasa sesak. Yuki membuka mulut lebar, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam tubuhnya. Dia menahan keras agar tidak menangis. Dia tidak mau ada yang melihat kesedihannya.


Punggungnya sedikit membungkuk, dan bahunya mulai bergetar menahan tangis.


Yuki hanya diam, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Dia terus berusaha mengontrol diri hingga akhirnya Dia merasa cukup tenang.


Dia memfokuskan pendengarannya kepada suara orang yang sedang bercakap di luar. Yuki mulai mengenali suara itu. 


Yuki berjalan seperti seekor hewan yang telah kalah bertarung. Dia hanya bertahan untuk sisa harga diri yang masih ada.


Semua orang yang ada di ruang kerja Pangeran Riana sontak menoleh ketika gagang pintu yang menghubungkan ruang kerja dengan kamar tidur berputar.


Terdengar suara klik sebelum akhirnya pintu terbuka.


Yuki muncul dengan wajah muram. Dia jauh lebih kurus. Matanya sembab menunjukan jelas Dia baru saja menahan air mata.


"Hay Yuki, Kau sudah bangun ?, Senang bertemu lagi denganmu" sapa Bangsawan Voldermont memecah keheningan. Dia mengangkat gelasnya ke udara, condong ke arah Yuki untuk mengajak gadis itu bertoast ria.

__ADS_1


Bibir Yuki terkatup rapat. Dia memandang semua orang yang ada di dalam ruangan. Di kepala meja duduk Pangeran Riana. Di seberang Bangsawan Voldermont, ada Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Asry. Mereka semua memandang Yuki seolah Yuki adalah mahkluk antah berantah yang baru saja Mereka lihat seumur hidup Mereka.


Yuki tidak mengubris Bangsawan Voldermont. Luka yang Dia rasakan semakin lama semakin terbuka, tetesan darahnya terdengar jelas di kepala Yuki seiring makin lamanya Dia menghirup udara di dunia asalnya.


Sadar Yuki tidak ingin bercanda, Bangsawan Voldermont meletakan gelasnya. Dia bersandar dengan santai untuk menyaksikan pertunjukan yang akan terjadi di ruangan ini.


Yuki langsung berjalan menuju Pangeran Riana untuk mengkonfrontasinya. Dia tidak peduli jika masih ada teman-temannya di dalam ruangan.


"Kembalikan Aku !!" Pinta Yuki dengan nada gusar.


Pangeran Riana memalingkan sedikit kepalanya untuk melihat Yuki. Dia tampak tenang namun sesuatu di dalam matanya menyiratkan sirat dingin yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.


Yuki berdiri di samping Pangeran Riana dengan alis bertaut karena marah. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat di samping tubuhnya. "Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan dunia ini. Tapi kenapa..Kenapa Kau masih saja mengangguku. Ada tidaknya Aku di dunia ini tidak ada pengaruhnya apa-apa untuk kerajaanmu. Tapi kenapa Kau terus saja mengganguku !!" Kata Yuki menahan emosi yang berkecamuk di dadanya.


Pangeran Riana duduk tenang dengan menyilangkan kaki ke depan. Dia memegang gelas anggur di tangan. Pangeran memandang gelas anggurnya, tangannya melakukan gerakan memutar untuk menggerakan anggur di dalam gelasnya.


Pangeran Riana tidak mengatakan apapun, Dia hanya diam memandang ke gelas anggur dengan wajah dingin.


"Pangeran.." panggil Yuki lagi karena Pangeran Riana tidak juga memberikan respon padanya.


Bangsawan Voldermont beranjak dari duduknya dan berdiri. Dia mengangkat tangannya untuk meregangkan ototnya karena terlalu lama duduk hari ini. "Lebih baik Aku pergi, Aku sedang tidak ingin melihat perdebatan sepasang kekasih hari ini" katanya dengan nada malas.


"Aku ikut, Riana..Kita pergi dulu" kata Bangsawan Xasfir ikut berdiri di susul dengan Bangsawan Asry.


Yuki tahu Dia telah mengacaukan pesta. Tapi Dia tidak peduli. Dia melihat tatapan simpati yang di tujukan teman-teman Pangeran Riana padanya. Bangsawan Voldermon menepuk bahu Yuki, memberinya kode agar Yuki tenang dan tidak menyulut masalah. 


Yuki mengabaikan peringatan Bangsawan Voldermont.

__ADS_1


 


 


__ADS_2