
"Apa yang Kau lakukan sekarang akan membuat Pangeran Sera bersedih" ujar Yuki mengingatkan.
Pangeran Sera mengikuti Putri Alena dengan sikap waspada. Berkali-kali Dia mengingatkan para penjaga agar tidak bertindak gegabah.
"Diam, tahu apa Kau soal kesedihan !" Bentak Putri Alena keras.
Dia berpaling dan melihat ke arah Pangeran Sera dengan pandangan penuh kemarahan. "Singkirkan semua penjaga itu atau Aku akan menusuknya sekarang" ancam Putri Alena sembari menekan ujung pisau sehingga menggores Yuki. Darah mengalir di leher Yuki. Yuki diam tidak bergerak, wajahnya memperlihatkan kesakitan.
"Baiklah..Baiklah...semua mundur...ini perintah" Kata Pangeran Sera mengalah.
Benteng tempat Mereka sekarang, memiliki luas tidak lebih dari satu meter. Hanya bisa di lalui oleh dua orang. Dengan pagar terbuat dari batu setinggi pinggang orang dewasa.
"Singkirkan para penjaga di bawah juga" pinta Putri Alena lagi.
Pangeran Sera langsung menuruti permintaan Putri Alena. Dia memberi kode kepada kepala penjaga yang memimpin di bawah, agar Mereka membubarkan diri.
Putri Nadira terus mengikuti di belakang Pangeran Sera. Sorot matanya tidak lepas dari Putri Alena. Dia tampak mencemaskan sahabatnya. Berusaha menyakinkan Putri Alena agar berhenti dan tidak berbuat lebih jauh lagi.
"Alena..Aku mohon padamu, hentikan semua ini. Lepaskan Dia" pinta Pangeran Sera dengan pandangan penuh permohonan, yang membuat siapapun menjadi luluh.
"Kenapa...Kenapa Pangeran..Kenapa Kau begitu mencintainya. Apa bagusnya Dia di bandingkan Aku...."isak Putri Alena dengan suara bergetar.
Yuki bisa merasakan perasaan Putri Alena. Dia sangat bersedih dan merana. Di dalam hatinya, Ada Seorang gadis yang menangis meraung karena patah hati. Laki-laki yang di cintainya mencintai wanita lain. Hatinya hancur berkeping. Kesedihannya seolah tersalur dari kulit Mereka yang bersentuhan.
"Aku mencintaimu sebagai adikku" ujar Pangeran Sera sendu.
"Adik, Aku tidak butuh rasa cinta yang seperti itu" bentak Putri Alena marah. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Kalian semua..Pergi dari sini" Perintah Putri Alena lagi dengan sikap tegas.
"Alena..." Panggil Pangeran Sera lembut. Berusaha membujuk Putri Alena.
"Pergi sekarang juga, Atau Aku akan menusuknya di hadapanmu" bentak Putri Alena dengan suara tidak mau di bantah.
Pangeran Sera memandang Yuki dengan perasaan ragu. Yuki menganggukan kepala, meyakinkan Pangeran Sera agar menuruti keinginan Putri Alena. Sekarang hanya itu cara yang terbaik. Putri Alena sedang kalap. Dia tidak akan segan melakukan hal nekat jika keinginannya tidak terpenuhi atau jika Putri Alena merasa dalam bahaya.
Pangeran Sera akhirnya mundur secara perlahan. Tapi Dia masih waspada dan siap siaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Apa yang sekarang akan Kau lakukan ?" Tanya Yuki sembari menahan belitan tangan Putri Alena di pundaknya.
Putri Alena masih fokus memperhatikan Pangeran Sera yang menuruni tangga. Tetapi cekalan tangannya kuat membelenggu Yuki.
"Aku pasti akan di hukum mati karena telah mencoba membunuhmu. Tapi tak apa, Aku tidak akan pergi begitu saja dengan tangan kosong" ujar Putri Alena dengan sikap puas. "Meskipun Aku kalah, tapi Aku akan membuat orang lain ikut menanggungnya"
Pangeran Sera sudah berada di anak tangga terbawah. Tidak ada satupun yang berani mendekat atas perintah Pangeran Sera.
"Aku akan membunuhmu dan membunuh diriku sendiri. Dengan begitu, Pangeran tidak bisa menjadi milikmu. Dia tidak akan bisa menjadi milik siapapun"
Tanpa peringatan, Yuki di dorong hingga menabrak pagar batu di depannya.
Yuki segera berbalik dan menghindar tepat ketika Putri Alena menghujamkan pisau hingga membentur batu dengan suara keras. Nyaris mengenai Yuki.
"Yuki" Pangeran Sera kembali berlari sekuat tenaga menaiki tangga ketika Putri Alena kembali menghujamkan pisaunya untuk membunuh Yuki. Yuki berhasil menahan tangan Putri Alena dengan kedua tangannya. Keduanya bergulat, saling dorong di atas benteng.
Teriakan riuh rendah terdengar dari bawah, saat semua menyaksikan pergulatan yang sedang terjadi.
Putri Alena begitu bernafsu menyerang Yuki. Dia seperti orang yang kesetanan. Akal sehat sudah tidak ada di dalam dirinya. Rasa panik, takut, marah dan benci begitu menguasainya.
Di dalam kepala Yuki terus tergiang perkataan Rena, ketika terakhir kali Mereka berbincang. Sebelum sebuah panah melesat membunuh Rena.
Berkali-kali tiada henti. Seperti pita kaset yang di putar berulang.
"Jika saat itu tiba, apakah Putri siap membunuh seseorang"
Yuki berhasil menarik pisau lepas dari tangan Putri Alena. Tangannya tergores ketika Mereka berebut untuk menguasai pisau yang kini berada di tangan Yuki.
Sekarang posisi Mereka terbalik. Yuki berada di atas tubuh Putri Alena dengan pisau di tangannya. Nafas Yuki tersenggal tidak beraturan.
Putri Alena menatap Yuki penuh kebencian. Dagunya terangkat untuk melawan Yuki. Sikapnya menantang dan tidak ada rasa takut.
"Lakukan...Bunuh Aku" ujar Putri Alena sembari menatap Yuki tajam.
Wajah Rena sesaat sebelum kematiannya tergiang jelas di kepala Yuki. Yuki memegang pisau erat hingga buku-buku jarinya memutih. Menahan Putri Alena, berbaring di bawah tubuh Yuki.
Satu hunjaman di jantung. Yuki pernah belajar medis dari phil. Setidaknya Dia tahu di mana titik tercepat untuk membunuh orang. Cukup sekali dengan tenaga yang di perluhkan. Dendam Rena sudah terbalas.
__ADS_1
Ini adalah moment yang selalu di tunggu Yuki selama beberapa minggu terakhir. Membalaskan dendam Rena.
"Kenapa, Kau takut ?" Ejek Putri Alena lagi mencoba memprovokasi Yuki.
Lagi dan lagi
Suara Rena terus tergiang di kepala Yuki.
"Yuki"
Yuki tersentak dari lamunannya. Pangeran Sera sudah berdiri di atas benteng dengan nafas terenggah sehabis berlari.
Yuki melihat ke arah Pangeran Sera, kemudian Putri Alena. Kesadaran memenuhi Yuki. Tanpa di duga, Yuki berdiri. Melempar pisau dengan acuh melewati tembok benteng. Meluncur ke bawah. Menatap Putri Alena dengan perasaan simpati.
"Aku tidak bisa membunuhmu" bisik Yuki kelu. Yuki menggelengkan kepalanya, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa melumuri tanganku dengan darah meski Aku sangat membencimu, Aku bukan dirimu"
Putri Alena tertawa mengejek.
Yuki terdiam beberapa saat. Kemudian Dia berkata lagi dengan lebih tenang. "Aku melakukannya karena Aku bersimpati pada kesedihanmu. Atau Kau bisa menjabarkan dengan Aku merasa kasihan padamu. Yang mana saja yang Kau mau Putri Alena"
Yuki berbalik, memandang Pangeran Sera dengan senyum kemenangan. Dia berhasil memadamkan api dendam di hatinya dan memaafkan Putri Alena.
Mungkin suatu hari nanti, Yuki akan di hadapkan dalam situasi yang sama. Di mana Dia harus memilih apakah akan mengotori tangannya dengan darah atau tidak. Tapi yang pasti, sekarang Yuki memilih tidak.
Sudah berakhir.
Yuki tidak dapat membunuh orang hanya karena kebencian di dalam hatinya. Dengan langkah tenang Yuki melangkahkan kaki, menghampiri Pangeran Sera yang merentangkan tangan untuk menyambutnya.
Yuki hampir mencapai Pangeran Sera Ketika sepasang tangan di belakangnya menariknya dengan kuat.
"Kau menyesal telah melewatkan kesempatan membunuhku" Kata Putri Alena memandang Yuki bengis. Dengan kekuatan yang tak terduga, Yuki langsung di dorong hingga terlempar jatuh melampaui dinding benteng.
Tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat.
__ADS_1