Morning Dew

Morning Dew
34


__ADS_3

Yuki yang terpengaruh dengan pekerjaan Bibi Sheira dan Phil sebagai medis, memiliki nurani yang besar untuk menolong orang terluka.


Jadi Dia mengabaikan rasa takutnya, dan duduk di belakang Pangeran Riana untuk memberikan perawatan.


"Memar mu cukup parah, Pelayan tadi bilang meskipun sebelumnya sudah diobati, tapi ada kemungkinan malam ini Pangeran akan demam tinggi" ujar Yuki sembari mengoleskan salep ke memar Pangeran dengan perlahan. Dia memiliki sedikit pengetahuan medis dari Bibi Sheira dan Phil, jika orang biasa, pasti akan mengalami patah tulang, tapi tubuh Pangeran Riana nyatanya jauh lebih kuat daripada yang di bayangkan.


Yuki berusaha fokus ketika otot-otot di tubuh Pangeran menganggunya. Dia masih gadis normal. 


Setelah perban di rekatkan dengan kuat, Baru Yuki dapat bernafas dengan lega. Dia sudah melakukan tugasnya, perban sudah terbalut rapi. 


Yuki bangun dengan membawa keranjang obat dan meletakkan ke meja kecil di kamar. Dia mengambil nampan berisi makanan yang dibawakan pelayan sebelumnya. Duduk di depan Pangeran Riana.


"Buka mulutmu" kata Yuki pada Pangeran Riana sembari menyendok kan nasi. 


"Aku bisa sendiri" tolak Pangeran Riana segera.


"Tidak apa-apa, biarkan Aku menyuapimu kali ini, anggap saja ini pelayanan spesial dariku, Pangeran belum tentu akan mendapatkan layanan ini di kemudian hari" bujuk Yuki tidak mau kalah.


Pangeran Riana mengalah. Dia membiarkan Yuki menyuapinya. Yuki juga membantunya meminum obat dan membawakan segelas air untuknya.


"Apa lagi yang Kau lakukan ?" Tanya Pangeran Riana ketika Dia baru kembali dari ruang berpakaian untuk berganti baju. Yuki membungkuk di sebuah sofa besar, keringat mengalir di pelipisnya. Dia menarik sofa itu dari ujung ruangan ke dekat ranjang.


Yuki mendongak, Dia tersenyum malu. Wajahnya yang penuh keringat sangat menggoda. Pangeran Riana harus mengingat dengan keras gadis di depannya ini masih berumur lima belas tahun. 


"Bukankah kata pelayan Kau akan demam malam ini, Aku akan menjagamu"


"Tidak usah, kembalilah ke kamarmu" hardik Pangeran Riana yang tidak diindahkan Yuki.


Alih-alih pergi Dia malah menarik Pangeran Riana untuk berbaring di ranjang, dan menyelimutinya. Yuki sendiri duduk di samping Pangeran Riana, di sofa yang ditariknya dengan susah payah. "Tidak mau, Kau jangan terlalu banyak bergaya seolah semua bisa Kau lakukan sendiri. Sudahlah, lebih baik Pangeran cepat tidur. Aku akan menjagamu" 


Yuki menompang kepalanya dengan satu tangan sementara tangan yang lain mengelus rambut Pangeran Riana. Dia mulai bersenandung, menyanyikan lagu pengantar tidur yang sering dinyanyikan ibunya sewaktu Dia kecil.


Pangeran Riana memejamkan mata, Dia cukup percaya diri untuk menahan penderitaannya sendiri. Tidak membiarkan orang mengetahui kelemahannya. Tapi, Sekarang Dia mulai memikirkannya. Sedikit membagi beban pada seseorang juga tidak ada salahnya. 


Ada untungnya Dia membawa gadis ini ke dalam istananya. Awalnya Pangeran Riana ingin menunggu Perdana Menteri Olwrendho untuk meminta Yuki secara baik-baik. Tapi karena masalah di sekolah, Dia urung melakukannya.

__ADS_1


Pangeran membiarkan Yuki terus bersenandung sambil mengusap rambutnya. Dia mengingat kapan terakhir kali Dia bersikap manja seperti ini. Sepertinya saat Dia berumur lima tahun. Pangeran Riana tidak mempunyai kenangan yang indah di masa kecilnya tentang seorang ibu. Hanya ada neneknya, itupun Dia tidak bisa terlalu sering bermanja padanya.


Hawa dingin menerpa, menembus sampai ke tulang. Yuki menggigil, kakinya yang tanpa alas menginjak tanah yang basah dan berembun.


Yuki mendongak, melihat bulan purnama bersembunyi di balik awan hitam. Bayang-bayang pepohonan bagaikan cakar iblis yang menyeramkan.


Dimana Aku ?


Yuki memandangi sekeliling dan menemukan dirinya berada di tengah hutan yang gelap. Dia di kelilingi pohon besar yang menjulang tinggi seolah menyentuh langit.


Kenapa Aku di sini ?.


Yuki memandang ke sekeliling, tampak kebingungan. Dia seharusnya berada di istana Pangeran, di dalam kamar Pangeran Riana yang baru terluka, bukan di tengah hutan seperti ini ?.


Apa yang terjadi sebenarnya ?


Yuki mengigit bibirnya, alisnya mengkerut, Dia berpikir keras. 


Apa Pangeran Riana membuangnya saat Dia tertidur karena Yuki menolak menjadi kekasihnya ?. Apakah ini hukuman yang di maksud Pangeran Riana ?.


Terdengar suara denting besi dan teriakan orang disusul suara kaki yang berlari secara serempak di belakang Yuki. Yuki berbalik. Ringkikan kuda menjadi satu dengan semua suara itu. Seperti suara pertempuran yang sedang berlangsung. Dengan rasa penasaran, Yuki berjalan menuju sumber suara.


Suara itu berasal dari balik pohon besar didepannya. Dia melangkah maju dan mengintip. 


Sebuah pertempuran terjadi. Kereta kuda terbalik, mayat bergelimpangan dan bau darah tercium menyengat membuat mual.


Para Prajurit saling menyerang satu sama lain, membunuh tanpa ampun.


Yuki mengenali pakaian Mereka, Mereka adalah pasukan dari Negeri Garduete. Tapi kenapa Mereka saling membunuh satu sama lain ?.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Yuki. Dia tidak berani maju lebih jauh untuk melihat jelas, Yuki tidak terbiasa melihat adegan pembunuhan secara langsung.


Terdengar teriakan yang sangat familiar, sontak jantung Yuki berdegub kencang. Dia melupakan rasa takutnya, berlari mencari sumber teriakan itu sambil berdoa semoga Dia hanya salah mendengar. 


Tidak, Aku mohon jangan orang itu...

__ADS_1


Perdana Menteri Olwrendho mengayuhkan pedangnya dengan kuat. Melawan dua orang prajurit yang menyerangnya secara bersamaan.


Kaki Yuki gemetar seolah seluruh tenaganya terkuras habis dalam sekejap, Dia sangat ketakutan menyaksikan pemandangan di depannya. Perdana Menteri Olwrendho bersimba darah segar di tubuhnya, Namun Dia terlihat tangkas saat menyerang lawannya.


"Ayaahhh...Ayaaahhh...!!"  Teriak Yuki saat Perdana Menteri Olwrendho berhasil membunuh lawannya. Nafas Perdana Menteri Olwrendho memburu. Dia awas mengamati sekeliling.


Namun anehnya, Perdana Menteri Olwrendho tidak melihat atau mendengar teriakan Yuki, padahal gadis itu berada di sampingnya.


Yuki berusaha menyentuh Perdana Menteri Olwrendho, namun Dia bagaikan hologram, sosoknya tembus tidak teraba.


Dua orang Prajurit lain muncul, Perdana Menteri mengangkat pedangnya bersiap menyerang.


"Aaayyyaahhh !!!" Teriak Yuki, seorang prajurit muncul diam-diam di belakang Perdana Menteri saat Perdana Menteri Olwrendho fokus pada lawan di depannya. 


Prajurit itu mengayuhkan pedangnya, pedang itu berkilat tertimpa cahaya bulan.


"Ayyaahhh...Awaass !!" Teriak Yuki nyaring mencoba memperingatkan.


Yuki tersentak bangun, keringat mengalir deras di pelipisnya, telapak tangannya terasa dingin. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dia menggigil.


Di tengah lampu yang temaram, Dia memperhatikan sekelilingnya, kesadarannya kembali. Yuki mulai fokus.


Dia berada di dalam kamar Pangeran Riana. Tertidur di samping ranjang saat menjaga Pangeran. Seingatnya, lampu belum di matikan tadi, tapi ketika Dia bangun, hanya menyisakan lampu tidur di meja kecil yang terletak di masing-masing sisi tempat tidur.


Mungkin para pelayan masuk untuk memeriksa. Yuki tidak mau begitu memikirkannya, Dia mengusap keringat di wajahnya. Masih dengan tangan gemetar, Dia mencondongkan tubuhnya, menuangkan segelas air dari teko yang diletakkan tak jauh dari lampu tidur di dekatnya.


Yuki lantas meminum segelas air putih dengan cepat. 


Dia menarik nafas lega, menyadari semua adalah mimpi. 


Yuki tidak habis pikir, Bagaimana Dia bisa bermimpi seperti itu, sebenarnya bukan kali ini saja Dia mengalami mimpi yang seolah nyata. Seluruh panca indera Yuki bereaksi secara normal di dalam mimpi. Bukankah ini sangat aneh ?.


Terdengar rintihan di dekatnya, Yuki berbalik menyadari suara itu berasal dari Pangeran Riana.


 

__ADS_1


 


__ADS_2