Morning Dew

Morning Dew
71


__ADS_3

"Bagaimana perkembangan penyelidikan Pangeran ?" Tanya Yuki merubah topik pembicaraan.


Pangeran Riana termenung sesaat. Kemudian Dia menggelengkan kepala merasa tidak berdaya. "Kita sudah mengetahui motif dan tujuan utama pelaku, tapi sampai sekarang Kita belum mendapatkan petunjuk di mana Para Bangsawan yang di culik berada"


Yuki berpikir sebentar, mencoba mengingat kembali semua mimpi yang Dia alami.


"Kita perlu mencari tau sebuah kuil yang sudah lama tidak di gunakan. Kuil itu berada di dalam hutan tapi seharusnya tidak jauh dari ibukota. Dalam mimpiku, Aku melihat Sei saat Dia .." Yuki tercekat sesaat ketika mengingat saat Sei di penggal di depan matanya. Kemudian Dia meneruskan perkataannya dengan lebih berhati-hati "Jika melihat waktu penyerangan di rumahku dan saat Aku bermimpi mengenai Sei, rentang waktunya tidak begitu jauh"


"Ada beberapa kuil tua yang sudah tidak berpenghuni di sekitar ibukota" Pangeran Riana mengambil Gulf dari sakunya dan menghubungi Bangsawan Xasfir.


"Kalian semua berkumpul ke ruang kerjaku sekarang" perintah Pangeran Riana begitu Mereka saling terhubung. "Beritahu Serfa untuk datang"


Bangsawan Xasfir menganggukan kepala tanda mengerti. Pangeran Riana menutup Gulfnya.


"Aku akan bersiap" ujar Yuki sembari berdiri untuk berganti pakaian.


Setengah jam kemudian Mereka semua sudah duduk di ruang kerja Pangeran Riana. Ada banyak berkas yang di keluarkan. Yuki menceritakan detail kuil tempat dimana Sei di bunuh. Para Bangsawan mendengarkan dengan seksama. Sesekali Mereka menyela untuk mendapat jawaban yang lebih rinci. 


Setelah mendengar penuturan Yuki, Bangsawan Asry mulai membuat daftar kuil berdasar ciri-ciri yang di jelaskan oleh Yuki. 


"Sebelum kemari Aku sudah membuat daftar tersangka, yang Aku beri tanda merah adalah orang yang berpotensi besar sebagai pelaku pemberontakan. Bangsawan Asry menyodorkan beberapa lembar kertas ke arah Pangeran Riana. 


Yuki mencondongkan tubuhnya ke arah Pangeran Riana, ikut membaca daftar nama yang di berikan Bangsawan Asry. Dahinya berkerut saat menemukan nama Bangsawan Dalto berada di urutan teratas dan di beri tanda merah pada namanya.


Yuki terus terang tidak menyetujui daftar nama yang di buat tanpa bukti. Tapi Dia tahu lebih baik tidak terlalu banyak berkomentar untuk kondisi sekarang.


Setelah daftar kuil selesai di buat Bangsawan Asry. Pangeran Riana langsung mengatur strategi untuk melacak keberadaan Para Pemberontak istana.


Bangsawan Xasfir pergi mengatur pasukan yang akan menyisir kuil-kuil yang di anggap mencurigakan, di pimpin oleh Dia, Bangsawan Asry dan Pendeta Serfa. Setelah semua pasukan siap, Mereka bergegas pergi untuk melaksanakan tugas. 

__ADS_1


Bangsawan Voldermont datang siang itu menemui Yuki yang duduk di ruang kerja Pangeran Riana. Dia memegang jarum dan es di tangannya. Duduk mendekati Yuki yang masih sibuk membaca berkas di depannya.


"Aku akan menindik kupingmu agar bisa memasang anting kerajaan di telingamu" kata Bangsawan Voldermont riang.


"Jangan berharap. Aku tidak pernah berniat menindik telingaku" tolak Yuki langsung sembari menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Dia memandang Bangsawan Voldermont dengan sorot mengancam.


Bangsawan Voldermont mengeluarkan kotak kecil dari saku bajunya dan meletakan ke tangan Yuki. Dengan penasaran, Yuki langsung membuka kotak kecil di tangannya.


Sepasang anting bermata batu berwarna biru gelap. 


"Ini adalah anting kerajaan yang di berikan khusus untuk wanita milik Pangeran Riana, sebagai pertanda statusmu. Jika Kau memakai di lubang telingamu yang lama, tanpa membuat lubang baru. Maka statusmu bukan sebagai kekasih Pangeran Riana yang menyandang gelar consort dua. Kau hanya akan di anggap sebagai dayang-dayang Riana. Jadi nantinya Riana boleh menyerahkanmu kepada tamu kerajaan sebagai penghibur. Apakah Kau ingin hidup seperti itu ?" Tanya Bangsawan Voldermont membuat Yuki ketakutan.


"Tidak mau, Siapa yang Mau hidup seperti itu" jawab Yuki gusar. Dia menautkan kedua alisnya tanpa sadar. "Aku tidak pernah mendengar soal ini sebelumnya"


"Kau baru di dunia ini belum ada satu tahun, Banyak hal yang masih belum Kau ketahui" Kata Bangsawan Voldermont tenang.


"Tapi kenapa bukan para pelayan yang melakukannya ?. Kenapa malah Kau yang akan menindik telingaku ?" Tanya Yuki masih ragu.


"Kau ingin Riana yang melakukannya sendiri" tawar Bangsawan Voldermont membuat Yuki tidak bisa berkutik. Dia tidak dapat membayangkan jika Pangeran Riana yang menindik telinganya. Yuki memberengut, merasa tidak berdaya.


"Kau saja yang melakukan. Silahkan" ujar Yuki akhirnya.


"Kucing pintar"  


Bangsawan Voldermont mendekati Yuki. Dia memegang daun telinga Yuki dan menjepit telinganya dengan memegang batu es. Perlahan, Dia mulai menusuk jarum ke telinga Yuki untuk membuat lubang anting baru.


Yuki menggengam kuat rok di pangkuannya, menahan perih ketika jarum di tangan Bangsawan Voldermont menusuknya. Telinganya berwarna merah. Ada darah keluar dari sana. Dengan sigap Bangsawan Voldermont membersihkannya.


"Sudah selesai" kata Bangsawan Voldermont puas setelah memasang anting di kedua telinga Yuki. Yuki melihat ke cermin kecil, memastikan sendiri semua baik- baik saja. Telinganya masih merah, tapi anting kerajaan sudah di pasang di lubang yang baru di buat Bangsawan Voldermont.

__ADS_1


"Bagaimana hasil penyelidikan kuil kemarin ?" Tanya Yuki tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Pangeran Riana belum pulang semenjak menyusul Bangsawan Xasfir siang kemarin. Yuki merasa sangat cemas menunggu di dalam kamar. Jadi Dia memutuskan untuk membaca berkas kasus agar lebih memahami permasalahannya sembari menunggu kabar dari Pangeran Riana.


"Kita sudah menemukan sebagian besar korban"


Yuki membelakan mata terkejut. "Benarkah ?, Di mana ?"


"Di bekas kuil yang terbakar. Ada di sebelah utara ibu kota." Bangsawan Voldermont menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Penyelidikan awal, sebagian besar korban di buang ke sana setelah di bunuh, jadi kuil itu bukan markas Mereka melainkan hanya tempat pembuangan mayat. Kami telah mengindentifikasi semua pelayanmu yang menghilang"


Yuki sakit hati mendengarnya, Tapi Dia juga lega Mereka akhirnya di temukan.


"Apakah Kau bisa membantuku memberikan pemakaman yang layak untuk Pelayan di rumah yang menjadi korban. Aku juga ingin memberi santunan pada Keluarga Mereka"


"Kepala pelayan di rumahmu sudah mengurus semuanya, Ada orang kepercayaan dari Perdana Menteri Olwrendho datang dan membantu mengatur perbaikan rumah dan bisnis keluargamu. Awalnya Riana akan membantu mengurus permasalahan di rumah tangga keluarga Olwrendho pasca penyerangan, tapi kepala pelayan mengatakan orang kepercayaan Perdana Menteri akan datang dan mengurus semua.  Dia juga memberikan santunan yang cukup besar kepada para pelayan yang meninggal dan selamat"


"Orang kepercayaan Ayah ?" Yuki sama sekali belum mendengar masalah itu. 


"Kau tidak tahu ?"


"Aku akan menanyakan kepada Rena, keluarganya sudah turun temurun ikut bersama Kami. Dia pasti tahu"


Yuki mengetuk tangannya ragu sesaat. "Apakah, kuil yang terbakar itu adalah kuil tempat orang tua Bangsawan Dalto melakukan kejahatannya ?"


"Ya, tapi Kau jangan khawatir, Dia bersih. Sampai sekarang Dia sibuk dengan mawar-mawarnya" guman Bangsawan Voldermont tenang. 


Yuki merasa lega mendengarnya. Dia terlalu berpikir jauh, Bagaimana jika Bangsawan Dalto di fitnah dan di tuduh hanya karena kuil tempat di temukan para korban adalah kuil dimana kedua orang tuanya telah mengunci dan membakar orang di dalamnya.


"Kau masih begitu perhatian padanya ?" Tanya Bangsawan Voldermont tiba-tiba.


 

__ADS_1


__ADS_2