Morning Dew

Morning Dew
213


__ADS_3

Yuki kembali ke istana larut malam. Dia sangat lelah tapi perasaannya jauh lebih tenang ketika meninggalkan rumah singgah. Dalam hatinya, Yuki berjanji akan kembali keesokan harinya untuk meneruskan pengobatannya dan memberi perawatan di rumah singgah bagi para tawanan.


 


 


Sudah lebih dari sepuluh hari semenjak Yuki datang ke rumah singgah. Dia berhasil membuat perubahan yang besar di sana. Banyak tawanan yang mulai sembuh dari sakitnya berkat perawatan yang di berikan Yuki. Wajah Mereka jauh lebih bersinar daripada ketika Yuki bertemu dengan Mereka untuk pertama kalinya.


Yuki senang dengan perkembangan yang terjadi. Meskipun tawanan perang, tapi Mereka punya hak untuk hidup dengan layak sebagai seorang manusia.


"Kau akan pergi lagi ke rumah kumuh itu ?" Tanya Rafael ketika bertemu dengan Yuki yang baru saja akan berangkat ke rumah singgah, di tengah jalan. "Apa yang menarik di sana ?" 


"Lebih menarik daripada Aku harus melihatmu terus-terusan" Kata Yuki kesal dan berusaha melanjutkan perjalanannya yang di halangi oleh Rafael.


Saat Yuki melewati Rafael, Rafael langsung menarik Yuki mendekat dan memeluknya dengan kuat. "Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Yuki terkejut. Dia berusaha menggeser tubuhnya tapi Rafael menolak melepaskan Yuki.


"Kau pikir apa tidak lebih baik, daripada mengurusi para sampah itu. Kau belajar bagaimana mengurusi suamimu ini ?" Bisik Rafael di telinga Yuki. Tanpa segan Dia langsung meremas pantat Yuki. Membuat Yuki membantu sesaat.


Yuki langsung menepis tangan Rafael kasar ketika kesadaran sudah merasukinya.


Dia memandang Rafael dengan sorot mengancam. Tanpa berkata apa-apa lagi, Yuki langsung berjalan pergi meninggalkan Rafael.


Kejadian barusan membuat Yuki sadar,  Dia harus segera mencari cara untuk meninggalkan tempat ini. Sekarang Yuki masih aman, karena Rafael sangat sibuk mengurusi ancaman peperangan yang di kumandangkan Negeri Argueda di bawah pimpinan Pangeran Sera, sehingga Dia mengabaikan keberadaan Yuki.


Tapi Yuki tidak yakin Rafael akan terus sibuk dan mengabaikan Yuki terus-menerus. Ada saatnya Dia akan kembali menganggu Yuki. Yuki harus segera meninggalkan tempat kni sebelum terlambat. Tapi bagaimana caranya ?.

__ADS_1


Keberuntungan tidak selalu berpihak pada Yuki setiap waktu.


 


"Silahkan di makan" Kata Yuki sembari menyodorkan piring berisi umbi rebus yang di temukan para pelayan tumbuh liar di sekitar rumah singgah. Hari ini Yuki merasa beruntung mendapatkan umbi untuk bisa di berikan kepada para tawanan. Tadinya, Dia sangat kebingungan bagaimana cara memberi makan para tawanan. Rafael sangat kejam. Saat mengetahui Yuki memakai sisa bahan makanan yang sudah tidak layak saji dari pembuangan dapur istana. Dia memerintahkan para pelayan untuk membakar semua bahan makanan jika sudah tidak di gunakan. Sepertinya Dia tidak rela makanan itu di berikan pada tawanan perang.


Para tawanan mengambil umbi rebus yang di sodorkan Yuki dengan senang. Mereka tidak perduli apa yang di berikan Yuki. Bagi Mereka, di anggap sebagai manusia saja sudah cukup.


"Ini makankah..." Ujar Yuki menyodorkan piring ke hadapan seorang tawanan yang sangat misterius.


Tawanan ini meringkuk di sudut gelap, menyepi dari sekitar. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai ke rambutnya. Dia terus menundukkan kepala sehingga Yuki tidak bisa melihat wajahnya. Yuki tidak tahu kapan tawanan ini datang ke rumah singgah. Yuki baru menyadari kehadiran tawanan ini tiga hari yang lalu. Tapi Dia tidak terluka dan menolak di periksa. Dia hanya diam menyendiri di tempatnya.


Mungkin Dia ingin menyelamatkan diri di rumah singgah. 


Pikir Yuki kala itu tidak mau ambil pusing. Dia juga memilih diam dan tidak menceritakan masalah tawanan itu pada orang lain termasuk para pelayan dan penjaga yang mengikutinya.


Yuki sangat penasaran. Dia membungkuk untuk mengintip wajah tawanan itu. Namun, dengan cepat tawanan itu mengambil umbi di piring dan berbalik memunggungi Yuki.


Yuki sangat terkejut dengan sikap yang di ambil tawanan misterius di depannya. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi seorang tawanan lain mengulurkan tangan meminta makanan pada Yuki.


Yuki memandangi tawanan misterius sesaat. Kemudian Dia memutuskan tidak menganggu dan melanjutkan membagikan makanannya.


Selesai membagikan semua makanan, Yuki duduk tenang di antara para tawanan untuk memakan makanannya sendiri. Dia mengupas kulit ubi rebus yang masih mengepul asapnya.


"Maafkan Hamba Putri, Hamba dengar anda adalah wanita yang di tunjuk dewa sebagai calon ratu Negeri Garduete berikutnya. Anda sangat cantik dan baik hati. Meskipun Anda sendiri di sini sebagai seorang tawaman. Tapi Anda tetap tidak berhenti untuk menebar kebaikan. Anda melihat semua orang sebagai manusia yang sama. Tanpa memandang status dan kedudukan Mereka. Sangat rendah hati dan memiliki sikap teguh atas prinsip yang anda percayai. Beruntunglah negeri Garduete memiliki Ratu seperti Anda. Tidak seperti Kami, penguasa Kami sangat zolim tidak memikirkan rakyatnya. Hanya berusaha memperkaya diri sendiri. Semua mencari aman. Membuang Kami ketika kalah pertempuran untuk menyelamatkan diri sendiri seolah Kami bukan manusia." Kata Pria tua yang kebetulan duduk di dekat Yuki.

__ADS_1


Pria itu sebenarnya adalah seorang jendral besar yang bertempur membela negerinya dari serangan Rasyamsah. Tapi Rajanya yang pengecut memilih mengalah dan membuang semua pasukannya kepada Rasyamsah. Sang Jendral yang tidak mau tunduk pada pemerintahan Rasyamsah, di masukkan sebagai tawanan perang hingga Dia berada di rumah singgah sekarang.


"Sabarlah paman, Aku yakin suatu saat nanti semua ini akan segera berakhir" Kata Yuki mencoba menenangkan. 


"Aku mendengar, Pangeran Sera dari Argueda juga sangat mencintai anda sampai berani melakukan sumpah ksatria. Sebelumnya Aku pernah berpikir, Putri seperti apakah yang mampu membuat kedua perwaris tahtah dari kerajaan besar memperebutkannya sampai nyaris memicu pertempuran" kata paman yang lain menimpali. "Tapi ketika bertemu dan melihat bagaimana Putri dengan mata kepala sendiri. Sekarang Aku paham. Putri memiliki banyak keistimewaan yang patut untuk di perjuangkan"


"Hentikan memujiku terlalu berlebihan seperti itu paman" Kata Yuki malu. "Aku hanya manusia biasa. Kita berbuat baik adalah satu kewajiban" 


"Putri tenanglah, kedua Pangeran itu pasti akan datang menolong Putri. Sampai saat itu tiba, Kami yang akan menjaga Putri dengan kemampuan Kami"


"Terimakasih paman" Kata Yuki tulus.


"Sebenarnya apa yang menarik di sini sampai Kau betah datang kemari" 


Rafael tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam ruangan bersama satu lusin pasukan kerajaan Rasyamsah. Dia menaikan satu alisnya sembari memandang berkeliling. "Mereka sudah bisa di gunakan" Kata Rafael kepada Prajurit kepala yang berdiri di sampingnya.


Yuki langsung meletakan ubi di pangkuannya dan langsung menghampiri Rafael dengan marah.


"Mereka belum sembuh benar" ujar Yuki memprotes.


"Mereka hanya bersikap manja dan malas" bantah Rafael acuh. "Semua prajurit segera kumpulkan semua tawanan di sini dan suruh Mereka segera kembali bekerja. Jika ada yang membangkang, langsung bunuh di tempat" perintah Rafael lagi kepada para prajurit tanpa keraguan.


Semua prajurit langsung bergerak untuk menjalankan perintah.


"Kau tidak bisa melakukan hal itu" sembur Yuki marah.

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa. Aku Raja di sini. Perintahku adalah mutlak. Mereka sudah kubiarkan menumpang hidup di negeri ini. Jadi sudah sewajarnya jika Aku menuntut balas jasa"


 


__ADS_2