Morning Dew

Morning Dew
165


__ADS_3

"Yukiii !!" Pangeran Sera berlari sekuat tenaga, untuk meraih Yuki. Tapi Dia hanya bisa menangkap hembusan angin. Tubuh Yuki terus melayang jatuh ke bawah dengan kecepatan yang tidak terkendali. Di tembok luar istana tidak ada penjaga sama sekali yang bisa memberikan pertolongan.


Yuki berteriak nyaring. Mencoba menggapai-gapai sesuatu. Tapi tidak ada. Tubuh Yuki terus ke bawah, mengikuti daya tarik bumi. Yuki memejamkan mata. Bersiap dengan benturan yang akan membunuhnya. 


Semua berjalan begitu cepat. Sebelum Yuki mendarat dengan keras di atas tanah berbatu karam. Seekor kuda hitam meloncat tinggi, sebuah lengan kekar dengan sigap langsung menangkap Yuki. Menariknya dengan kuat ke arahnya. Menyelamatkan Yuki dari benturan yang membunuhnya.


Dengan tangkas Kuda hitam itu mendarat ke atas tanah. 


Jantung Yuki masih berdebar cukup kencang. Nafasnya memburu. Tangannya terasa dingin. Dia mengerjap tidak percaya, Dia selamat dan masih hidup.


Setelah kesadaran Yuki cukup pulih, Dia mendongak untuk melihat penolongnya.


Orang itu menutupi wajah dan rambutnya dengan jubah dan tudung hitam. 


Tapi....


Jantung Yuki kembali berdebar dengan kencang.


Yuki mengenali dengan baik lengan kuat yang menyangga tubuhnya. Aroma tubuh yang familiar. Dan tubuh kekar yang memeluk Yuki. 


Sepasang mata dingin, berwarna biru es membalas tatapan Yuki. Menembus tepat ke jantung Yuki.


Nafas Yuki menjadi sesak.


"Ka..Kau" bisik Yuki tidak percaya.


Dari balik sosok bertudung, Yuki bisa melihat Pangeran Sera berdiri mematung di atas benteng. Jelas sekali terlihat jika Pangeran Sera juga tidak menduga akan kemunculan orang yang menolong Yuki. 


"Baru beberapa bulan tidak berjumpa, Kau sudah tidak mengenaliku Yuki" suara berat yang khas terdengar di telinga Yuki.


Yuki membuka mata lebar, tidak percaya dengan pendengarannya. 


Orang itu mengangkat tangannya yang bebas. Membuka tudungnya. 


Rambut hitam dengan seburat warna biru keabuan, seperti cahaya bulan di malam hari. Mata yang tajam, yang mampu menusuk orang hanya dengan memandangnya 


"Pa..Pangeran Riana"


"Kenapa ?. Apa Kau tidak senang bertemu denganku" 

__ADS_1


"Riana" teriak Pangeran Sera mengenali dari atas benteng.


Pangeran Riana mendongak. Menatap Pangeran Sera tenang. "Aku ambil kembali apa yang menjadi milikku" Kata Pangeran Riana sambil membalas tatapan Pangeran Sera.


Setelah berkata seperti itu, tanpa peringatan. Pangeran Riana langsung memacu kudanya dengan cepat, menjauh dari istana Pangeran Sera.


Para Prajurit masih berdiri terbenggong. Mereka terlihat binggung dengan semua kejadian yang begitu cepat, yang terjadi di depan Mereka.


Hanya Pangeran Sera yang sadar. Dia langsung berlari kembali menuruni tangga batu. Berteriak dengan suara nyaring penuh kemarahan. Menyadarkan semua orang dari keterkejutannya.


"Siapkan Pasukan, Kejar Mereka" terdengar suara Pangeran Sera dari jauh yang masih bisa di dengar Yuki, di antara deru angin dan derab langkah kuda di sekitarnya.


Yuki memegang Pangeran Riana kuat. Dia takut Dia sedang bermimpi dan Pangeran Riana akan menghilang lagi dari hadapannya.


Yuki tidak menyangka. Akan sesenang ini berjumpa dengan Pangeran Riana.


Bunyi lonceng di atas menara, sebagai peringatan adanya bahaya berbunyi saling bersahutan. Suaranya bahkan seolah bisa menggetarkan tanah.


Pangeran Riana terus memacu kudanya dengan lincah. Dia sama sekali tidak menenggok ke belakang. Pandangannya awas melihat ke depan.


Nun jauh di belakangnya, tepat setelah gerbang Istana Pangeran Sera terbuka. Satu pasukan berkuda dengan persenjataan lengkap keluar untuk mengejar Pangeran Riana. Mereka semua di pimpin oleh Pangeran Sera yang memacu kudanya di depan barisan.


Derap langkah kaki kuda dari pasukan Pangeran Sera yang mengejar terdengar bagaikan gemuruh ombak yang menakutkan.


 


Pangeran Riana dengan cepat berbelok ke arah hutan. Melajukan kudanya dengan cepat, melewati jalan setapak. Yuki memejamkan mata saat semak-semak liar di sekelilingnya mengenai kulitnya. 


"Di sini" Pangeran Riana meloncat turun. Menarik Yuki untuk mengikutinya. Yuki memandang ke sekeliling dengan kebingungan. Tapi Dia tidak punya waktu bertanya ketika Pangeran Riana telah menepuk pantat kuda agar kembali berlari meninggalkan Mereka. Setelah itu Dia menarik Yuki untuk masuk ke rimbunan semak yang ada di pinggir jalan. 


Yuki dan Pangeran Riana bersembunyi di balik batang pohon yang cukup besar. Yuki merapatkan tubuhnya di batang yang ada di belakangnya. Sementara Pangeran Riana berdiri cukup dekat dengannya. 


Derab langkah kaki kuda dari pasukan Pangeran Sera semakin terdengar jelas. Jantung Yuki berdebar cukup kencang.


Yuki memberanikan diri mengintip. Dia melihat Pangeran Sera memacu kudanya di barisan depan. Memimpin pasukan. 


Raut wajah Pangeran Sera terlihat sangat marah. Yuki belum pernah melihat Pangeran Sera seperti itu. Sekarang Yuki paham, kenapa Putri Magitha sangat takut jika Pangeran Sera marah. Pangeran Sera sangat menyeramkan ketika marah. Yuki terus berdoa dalam hati agar Mereka tidak ketahuan.


Yuki berpaling sambil berbisik kepada Pangeran Riana dengan cemas. "Apakah aman di sini...bagaimana jika pasukan...mmmppppp" perkataan Yuki terputus. 

__ADS_1


Pangeran Riana tanpa peringatan langsung mendekatkan wajahnya dan mencium Yuki.


Ciuman yang panjang dan penuh tuntutan.


Pangeran Riana sama sekali tidak memberikan Yuki kesempatan untuk bernafas. Dia terus mencium Yuki kuat.


Yuki sangat senang bisa bertemu kembali dengan Pangeran Riana. Dia juga berterimakasih karena Pangeran Riana datang menyelamatkannya. 


Tapi bukan begini juga caranya.


Pangeran Riana terus mencium Yuki sementara di dekat Mereka masih banyak pasukan Pangeran Sera yang mengejar.


Dasar Pangeran Riana, Dia selalu tidak sabaran.


 


Air liur Mereka menetes di pipi Yuki. Pangeran Riana memeluk Yuki kuat. Menekan tubuh Yuki sedemikian rupa sehingga Yuki tidak dapat bergerak. Dia terus dan terus mencium Yuki, seolah Mereka tidak akan bertemu lagi ke depannya.


Wajah Yuki memerah dan nafasnya terenggah-enggah ketika Pangeran Riana melepaskan ciumannya. Pangeran Riana mengakhiri ciumannya justru ketika Pasukan Pangeran Sera sudah menjauhi Mereka. Yuki menyentuh bibirnya, Bibir Yuki seperti bengkak akibat gigitan Pangeran Riana.


"Kau" Protes Yuki sembari mengatur nafas.


Pangeran Riana tersenyum puas. Dia mengusap bibirnya dengan jempolnya. "Terimakasih" katanya sembari memandang Yuki seolah ingin memakan Yuki hidup-hidup.


 


Yuki ingin mengatakan sesuatu ketika terdengar suara burung dari kejauhan. Pangeran Riana menekan telunjuknya pada bibir Yuki. Meminta Yuki agar diam.


Pangeran Riana mendengarkan dengan seksama siulan burung yang terdengar dari suatu tempat. Setelahnya Dia sendiri membalas dengan cara menirukan suara burung. Membunyikan dengan nada-nada tertentu.


Yuki terperangah ketika melihatnya.


"Kemari" Kata Pangeran Riana menarik Yuki untuk mengikutinya. Yuki menurut. Keduanya menyibakkan semak dan memasuki hutan jauh lebih dalam. 


Yuki sempat heran ketika melihat Pangeran Riana sangat yakin dengan arah yang Mereka tuju. Tapi Dia tidak mau bertanya lagi. Dia percaya Pangeran Riana mempunyai rencana yang bisa membawa Mereka kembali dengan selamat ke Garduete.


Mereka juga tidak berbicara sama sekali. Terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Hingga akhirnya Mereka tiba di sebuah ceruk yang dalam. Pangeran Riana bersiul ringan. Kemudian menyibakkan semak yang menutupi ceruk itu dari pandangan.

__ADS_1


Seseorang berdiri dengan sikap menunggu. Kedua tangannya membentang menyambut Yuki.


 


__ADS_2