Morning Dew

Morning Dew
5


__ADS_3

Aku melangkah turun dari kereta kuda, Pangeran sudah dibawah menungguku bersama Bangsawan Xasfir yang baru saja dari dalam gedung. Seperti yang kuduga sebelumnya, semua mata memandang kearah Kami. Wajah-wajah penasaran terpampang jelas. Aku menundukkan kepala, tidak berani untuk membalas satu-persatu tatapan mereka. Terdengar gumanan, bagaikan lebah yang mengerumuti sarang. Pintu kereta ditutup, dan kusir menjalankannya pergi. Rasanya Aku ingin bersembunyi didalam lubang. Aku terus menunduk.


"Istirahat makan siang Kau harus datang keruanganku" bisik Pangeran ditelingaku. Dia begitu dekat hingga Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku berjengit dan mundur untuk menghindar. Aku tidak menjawab dan langsung pergi.


Di dalam kelas, hampir semua murid memperhatikanku.Aku berusaha tidak peduli. Elber datang dengan muka ditekuk, mengingatkanku bahwa Aku belum sempat mengabarinya sama sekali karena sibuk meratapi nasib semalaman. "Katakan padaku, sebenarnya Aku ini temanmu bukan" protes Elber kesal.


"Maafkan Aku, semalam Aku tidak mengabarimu" kataku menyesal.


"Bukan itu,kenapa Aku harus mendengar beritamu dari orang lain dan bukan dirimu sendiri"


"Aku ingin bercerita langsung, tapi kabar menyebar lebih cepat" ujarku beralasan.


Elber akhirnya menerima penjelasanku,"Aku melihatmu dari cendela ketika pangeran menarikmu." Elber menghempaskan pantatnya ke bangku didepanku.


"Lalu kenapa Kau tidak menolongku" kini giliran Aku yang merasa kesal.


"Apa Kau gila, cari mati dengan Pangeran, tidak...."


"Kau benar-benar teman yang baik" sindirku. Elber hanya nyengir. "Apa Kubilang, akhirnya kejadian kan"


"Aku tidak mengharapkan ini"


"Bersabarlah, menjadi kekasih Pangeran tidak begitu buruk. Kau akan menikmatinya nanti"


"Kalau begitu Kau saja yang menjadi kekasihnya"


"Yuki apa yang Kau lakukan sampai kakak bisa tertarik padamu" Putri Norah datang menghampiriku dengan wajah kesal. "Kau pasti telah mengguna-gunainnya"


Aku menghela nafas. Aku sendiri juga sangat ingin tahu.


"Putri Norah apa pantas Kau berbicara begitu pada Yuki" tanya Elber geli.


"Kenapa tidak!"


"Apa harus Kuingatkan status Yuki sekarang jauh lebih tinggi darimu. Jika...Yuki mengatakan cambuk dirimu kepada para penjaga karena Kau telah bersikap tidak sopan padanya, menurutmu penjaga itu akan menurutinya atau tidak walau mereka tau statusmu sebagai anak Raja?"


Putri Norah terdiam. Wajahnya memerah menahan amarah. Dia langsung pergi.


"Terimakasih" kataku pada Elber telah menghentikan kekacauan ini. Elber mengedipkan sebelah matanya membalas ucapanku.


Kami tidak jadi melanjutkan obrolan karena Nyonya Owel sudah masuk dan memulai pelajaran.


Bel berdering tanda istirahat siang. Aku bergegas mengemas bukuku. Jika Aku tidak salah ingat hari ini Bangsawan Dalto akan menyemai bibit mawarnya di pondok. Aku harus menemuinya agar tidak terjadi salah paham yang berlanjut. Tapi begitu Aku keluar kelas, Aku mendapati dua pengawal kerajaan sudah menungguku.


"Maaf Putri, Pangeran memerintahkan Kami untuk menjemput Putri"


Aku meradang. Tidak bisakah Dia membiarkanku sendiri. Aku terpaksa mengikuti para pengawal, Aku berjalan dengan tatapan penasaran yang ditujukan padaku. Seperti seorang pesakitan. Para pengawal mengantarkanku diruang pribadi Pangeran, tempat Dia biasa berkumpul dengan teman-temannya. Saat Aku masuk para pelayan sedang menyediakan makanan. Bangsawan Asry sudah lebih dulu menyantap makanannya. "Duduk" perintah Pangeran.


"Halo kucing kecil, bagaimana harimu, cukup bahagia" sapa Bangsawan Voldermon senang. Aku memberengut. Saat Aku berjalan melewatinya,Aku sengaja menginjak kaki Bangsawan Voldermon keras. Dia mengaduh. Menatapku memprotes. Aku berpaling pura-pura tidak melihatnya.


"Makan" ujar Pangeran sembari menunjuk dengan dagunya makanan yang telah tersedia di meja.


"Aku tidak lapar". Pangeran menatapku dengan ekspresi dingin.


"Aku bilang makan" perintahnya lagi lebih tegas. Bangsawan Asry menatapku, Aku merasa bersalah jika Dia kehilangan selera makan karena pertikaian Kami. Tapi ini semua bukan salahku sendiri.Aku duduk disamping Pangeran. "Baik, sesuai perintahmu Yang Mulia". Aku mengambil piringku dan meletakkannya dipangkuan. dengan gaya yang tidak anggun sama sekali, Aku menyuapkan nasi kedalam mulutku besar-besar. Jika Nyonya Dolsom melihat cara makanku yang begini, Aku pasti langsung mendapat nilai jelek untuk pelajaran etika pergaulan dan kesopanan masyarakat. Bangsawan Voldermon sampai melongo dibuatnya. Aku berhasil memakannya dalam lima suapan besar. Kuambil segelas air dan langsung kuminum, melegakan tenggorokannku yang tersumbat nasi.


Aku mencuci dan mengelap tanganku dengan gaya yang sengaja kubuat berlebihan.


"Terimakasih makanannya Yang Mulia, Saya permisi pergi" kataku akhirnya. Aku berdiri dan tanpa menunggu persetujuannya langsung berlalu.


Semenjak Pangeran menjadikanku kekasihnya secara paksa, semenjak itulah hidupku kembali dirubah dengan brutalnya. Setiap hari dua orang pengawal kerajaan mengikutiku kemanapun Aku pergi. Aku tidak lagi bebas bergerak, pergaulanku diawasi ketat oleh Pangeran. Aku tidak bisa bertemu dengan Bangsawan Dalto, membuatku meradang.


Semua orang memandangku iri, tapi bagiku ini bukanlah anugerah. Jika boleh Aku lebih suka melimpahkan anugerah ini untuk orang lain. Aku tidak membutuhkannya.


Aku duduk diam ketika beberapa pelayan sibuk mendandaniku. Hari ini Pangeran akan membawaku keperjamuan makan penting di sekolah.Begitu membuka mata, para pelayan sudah berjajar rapi dengan membawa nampan berisi berbagai macam perlengkapan putri lengkap dari istana. Sehabis mandi Aku didudukkan di tengah kamar,seseorang menata rambutku dan yang lain mengikir kukuku. Rena didalam ruangan memperhatikanku, Dia mendengkur puas, menikmati mertamorfosisku yang anti pakaian putri menjadi harus berpakaian ala putri setiap waktunya. Aku bisa membayangkan betapa senangnya Dia ketika mendengar kabar Pangeran mengangkatku sebagai kekasihnya.


"Hormat kami pada Pangeran" .Aku berbalik. tampaknya Pangeran sudah berada disana dari lama. Pangeran berdiri dengan tenangnya didepan pintu. Sejak kapan Dia datang, tidak ada satupun yang menyadarinya. Bangsawan Voldermon menyeruak masuk. Aku berdiri diam. Para pelayan mengambil nampan mereka dan pergi.


"Lihatlah dirimu, Kau sangat cantik" puji Bangsawan Voldermon yang malah terdengar seperti ejekan bagiku. "Aku benar kan Riana?"


"Dia sama saja seperti biasa" Jawab Pangeran acuh. Bangsawan Voldermon berdecak tidak puas.


"Kau payah"


Pangeran berjalan menghampiriku. Dia kemudian meletakkan tanganku di lengannya. "Ayo" ajak Pangeran. Aku berjalan mengikutinya.


Acara jamuan ini dihadiri oleh bangsawan dan putri yang pernah bersekolah disini. Kabarnya ada seorang Pangeran yang begitu dinantikan kedatangannya. Dia adalah Pangeran Sera Madza dari Negeri Garduete. Pangeran Sera adalah perwaris kerajaan Garduete. Aku pernah melihatnya dari foto yang ditunjukan Elber. Pangeran Sera memiliki rambut berwarna pirang keemasan dengan kulit putih bersih. Secara spesifik Dia sangat tampan,lebih tampan dari Bangsawan Voldermon. Pantas saja banyak putri yang memujanya, konon di negaranya sendiri ada putri yang menolak menikah hanya karena berharap suatu hari nanti Pangeran akan menjadikannya selir atau kekasihnya. Tapi yang Aku dengar sampai sekarang pangeran tidak memiliki selir atau kekasih, dan itu membuat para putri semakin penasaran terhadapnya. Postur badan Pangeran Sera tinggi dan langsing. Aku merasa Dia orang yang baik. Aku paling suka warna matanya, biru terang seperti laut. Dia begitu bersinar, hangat bagaikan matahari pagi.


Aku berjalan beriringan dengan Pangeran Riana. Kami duduk di sudut ruangan, Beberapa orang menghampiri dan menyapa Kami. Diantara mereka Aku menemukan tatapan penasaran yang diarahkan kepadaku. Rasanya Aku ingin melarikan diri dari sini.


"Kau harus menerimanya" ujar Pangeran Riana saat Kami hanya berdua. Aku menoleh kearahnya tidak mengerti. "Kau bisa mendapatkan seluruh harta didunia ini dengan posisimu yang sekarang, bahkan Kau bisa menggunakan seluruh emas dan berlian di setiap jengkal tubuhmu. Tapi Kau akan kehilangan sebagian lainnya, Kau tidak akan lagi sama seperti hidupmu yang sekarang"


"Kenapa harus Aku?" bisikku frustasi.


"Kenapa itu Kau?" jawab Pangeran Riana membuatku binggung. "Aku ingin tau kenapa harus Kau?"


Aku ingin mengatakan sesuatu tapi Pangeran sudah berdiri. Seorang pria separuh baya dengan janggut dan rambut yang sudah memutih sempurna berjalan memasuki ruangan bersama seseorang yang Kukenali. Aku terpana, itu Pangeran Sera. Dia lebih tampan daripada yang Kubayangkan, Wajahnya bersih dan mulus bagaikan pualam. Dia menatapku dan seperti mengenaliku. Aku mengerjap, saat ini pipiku pasti memerah. Aku menunduk menghindari pandangannya. Saat ini semua orang mengenalku sebagai kekasih Pangeran Riana. Walau Aku tidak menginginkannya, tapi tidak sopan juga Aku berpandang-pandangan seperti tadi dengan pria lain disamping Pangeran Riana. Jika Pangeran Riana mengetahuinya Aku bisa kena masalah.


"Guru " ujar Pangeran Riana memberi salam.


"Senang bertemu denganmu lagi Pangeran"

__ADS_1


"Pangeran Sera"


"Pangeran Riana" kedua Pangeran saling memberi salam. Pangeran Sera didampingi seorang pendeta yang berpakaian seperti Serfa. Dia adalah pengawal pribadi pangeran sera-Pendeta Naru. Aku agak tidak nyaman ketika Pendeta Naru terus menatapku tidak suka. Apa dia pikir Aku senang berada disini ?.


Kami diantar oleh pelayan kesebuah meja yang telah disiapkan. Para tamu yang lain sudah duduk di meja mereka masing masing. Para pelayan berputar di setiap meja menghidangkan makanan yang aromanya mengiurkan. Aku berusaha mati-matian mencegah cacing di perutku berdemo. Kami duduk bersama Guru Besar, Pangeran Sera dan Pendetanya. Aku duduk diantara Pendeta Naru dan Pangeran Riana. Pangeran Sera beberapa kali melihatku secara terang-terangan, apa penampilanku terlihat aneh. Aku makan dalam diam sementara Pangeran berbincang dengan obrolan yang tidak sesuai untuk kapasitas otakku. Masakannya lumayan enak. Jadi beginikah makanan kalangan kerajaan itu. Semua terbuat dari bahan-bahan kualitas terbaik. "Ngomong-ngomong Riana, dari tadi Aku penasaran, siapa Putri kecil ini" tanya Guru Besar Alzare sembari menatapku. Aku menunduk, saking gugupnya sendokku sampai jatuh kelantai. Aku mengepal kedua tanganku dipangkuan. Pangeran mengenggam tanganku, Meremasnya untuk memperingatkanku agar menjadi anak baik. "Dia adalah Putri keluarga Olwrendho, Putri Yuki Olwrendho. sekarang Dia adalah kekasihku". Seketika Aku merasakan ketegangan. Apa ini hanya perasaanku saja. Pangeran sera menatapku dengan sorot mata yang tidak kumengerti.


"Baru kali ini Kau memperkenalkan seorang wanita secara resmi seperti ini padaku, Dia sangat cantik walau umurnya masih terlalu muda. keluarga Olwrendho..." Guru Besar berguman seperti mengingat sesuatu. "Tentu saja, Ransah juga adalah termasuk wanita tercantik yang pernah Kutemui"


"Terimakasih pujianmu Guru" Pangeran tersenyum puas. "Yuki masih perlu banyak belajar mengenai kehidupan kerajaan"


"Ya, bagus untuknya ikut dalam kegiatan seperti ini. Kau harus sering mengajaknya"


"Baik Guru"


Aku mendesah lirih.


Aku merasa muak dengan hidupku yang sekarang. Rasanya Aku seperti boneka tali yang digerakan Pangeran Riana dengan bebas. Hidupku bukan lagi milikku. Pangeran dengan seenaknya memerintahkan pengawal kerajaan untuk mengawasiku sepanjang waktu. Aku tidak bisa lagi mengatur kemana Aku pergi. Dia mengawasi pergaulanku, seringnya Aku yang dipaksa ikut untuk menemaninya melakukan kunjungan atau perjamuan. Akibat hal ini hubunganku dengan Bangsawan Dalto memburuk. Kami sudah tidak bertegur sapa, Aku sudah mengiriminya surat yang kutitipkan diam-diam pada Elber, tapi Bangsawan Dalto tidak membalas bahkan mengacuhkanku. Beberapa kali Kami berada dalam satu kelas, Dia malah menganggapku tidak ada. Aku semakin meradang dibuatnya.


"Putri" para Pengawal kerajaan sudah berada didepan pintu kelas seperti biasa. Pasti. Pasti jika sikap mereka seperti ini Pangeran memerintahkan untuk menjemputku ketempatnya. Aku menghela nafas. Rasanya untuk sejenak Aku ingin kabur dan menghilang.


"Ah Paman, disana ada apa" teriakku tiba-tiba sambil menunjuk kearah cendela. Kedua pengawal yang mengawalku menoleh untuk mencari tau apa yang terjadi. "Itu..didekat pohon" seruku lagi dengan wajah yakin. Kedua pengawal maju dan melongok ke cendela. Saat itulah Aku langsung berbalik dan berlari kencang. "Putri Yuki" panggil para pengawal. Aku terus berlari. Aku berbelok disudut ruangan dan bersembunyi. Para pengawal berlari melewatiku. Aku tahu, apa yang Kulakukan ini berakibat buruk nantinya. Pangeran pasti akan marah. Tapi, Aku perlu waktu untuk sendiri. Aku menyelinap memasuki ruang kelas menari yang kosong. disana Aku membuka cendela. Melongok dan melihat beberapa pengawal berlari masuk kedalam gedung. Sial. Mereka pasti mencariku. Aku membuka cendela didekat pohon yang rimbun. Perlahan, memanjat selusur tembok. Jika salah sedikit saja Aku bisa terjatuh. Kembali Aku menutup cendela dari luar dengan pelan. Merayap sedikit demi sedikit.


"Kita berpencar. Kalian cari di setiap ruangan. Kalian cari diluar gedung. Cari Bangsawan Dalto, Putri Yuki kemungkinan besar akan menemuinya" ujar Kepala Pengawal di lorong terdengar sampai tempatku. Aku tidak bisa menemui Bangsawan Dalto. Padahal tujuanku melarikan diri seperti ini untuk menemuinya. Untuk menjelaskan secara langsung. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman hingga Kita menjauh seperti ini.


Aku juga tidak mungkin keluar lagi dan menemui pengawal. Pangeran pasti sudah mengetahui Aku kabur. Sudah terlanjur basah bagiku. Aku terus saja berjalan dengan berhati-hati. Ada sebuah cendela yang terbuka. Aku mengintip, tidak ada orang. dengan berhati-hati Aku menyelinap masuk. ini adalah gudang perlengkapan memasak Dikelas memasak. Aku menampakan kakiku kelantai lega. Terdengar suara langkah kaki. Aku menoleh panik. Ternyata Pangeran Sera. Dia melihatku terkejut. Kami terdiam beberapa saat. Kenapa Pangeran ada disini. didalam kelas memasak seperti ini. Kelas tampak kosong. Tidak ada siapapun. Terdengar ketukan pintu. Aku langsung merapatkan diri di tembok untuk bersembunyi.


"Maaf Pangeran, apa Pangeran melihat seorang Putri berada disini"


ternyata itu seorang pengawal yang sedang mencariku dari ruang-keruang. Habislah Aku. Aku akan tertangkap. Kenapa Aku masuk keruangan ini.


"Putri ?" tanya Pangeran kalem


"Putri Yuki, Pangeran sudah bertemu dengannya diperjamuan kunjungan Guru Besar Alzare"


"Aku tidak melihat siapapun disini. Seperti yang Kau lihat,Aku sendiri" Pangeran menghela nafas. "Sekarang kalian bisa meninggalkan tempat ini. Aku sedang tidak ingin diganggu"


"Baik Pangeran, maaf menganggu waktu Pangeran" Pengawal itu pergi dan menutup pintu. Pangeran berjalan kemudian mengunci pintu dari dalam. Tidak berapa lama kemudian Dia kembali menghampiriku.


"Mereka sudah pergi" ujar Pangeran halus. "Kau bisa keluar sekarang"


"Terimakasih Pangeran" Kataku tulus.


"Tapi tampaknya Kau belum bisa pergi sekarang, Mereka masih mencarimu." Pangeran tersenyum manis. Dia begitu tampan. Membuatku terpesona. "Jika Putri bersedia, bagaimana kalau menemaniku minum teh sebentar" tawarnya lagi.


" Apa Aku tidak menganggu ?" tanyaku ragu.


"Tidak, kemarilah Yuki" Pangeran memanggil namaku langsung. Dari caranya bicara Dia seolah sudah mengenalku sangat lama. Hanya perasaanku saja.


"Teh apa ini, enak sekali" Aku mencicipi teh itu dengan perasaan senang. Aromanya membuatku rileks.


"Ini teh bunga Alsara. Bunga yang hanya dapat tumbuh di negeri kami"


Aku menganggukkan kepala mengerti. Pangeran mendorong sepiring kue kearahku. Dia duduk sambil memandangi cendela. Dia bagaikan lukisan yang dilukis oleh pelukis ternama. Aku terpesona melihatnya. Rambutnya berombak berwarna keemasan saat terkena sinar mentari. Pangeran tampak serius memikirkan sesuatu. Aku memandangi sekeliling. Kami berada dikelas memasak yang terhubung dengan gudang peralatan memasak. Dia duduk sendirian disini tidak ditemani siapapun.


"apa yang pangeran lakukan disini ?"


"Menyendiri"


Menyendiri ?.


Aku menatap Pangeran. Kemanapun Dia berjalan selalu dikelilingi para putri yang riuh ingin berkenalan dengannya. Selain itu belum lagi tugas dan bebannya sebagai seorang perwaris tahtah yang dijalankan. Jadi...sekarang Aku mulai mengerti kenapa Dia menyendiri seperti ini ditempat ini. Dia butuh waktu untuk bernafas dan menjadi dirinya sendiri. Itu juga yang menjadi alasanku kenapa Aku kabur dari para penjaga sekarang ini. Semuanya membuatku sesak,setiap gerak gerikku diatur dan diawasi. Aku tidak lagi bisa menjadi diriku yang sebenarnya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu" tanya Pangeran tiba-tiba.


Aku menganggukan kepala.


"Kau ini benar kekasih Riana?"


Aku terdiam sebentar. "Tidak seperti itu ceritanya" Ujarku sedih.


"Jadi bagaimana ceritanya"


"Aku juga tidak tau, Aku tidak pernah bersinggungan dengan Pangeran sebelumnya, bahkan Aku menghindari berurusan dengan keluarga kerajaan. Raja memang beberapa kali mengundangku makan malam tapi hanya itu karena aku putri sahabatnya saja. tidak lebih."


"Jadi Riana tiba-tiba memintamu menjadi kekasihnya ?"


"Dia tidak memintaku, jika iya Aku pasti akan menolaknya"


"Lalu kenapa Kau tidak menolaknya"


"Aku sudah memohon padanya tapi Pangeran tahu sendiri bagaimana peraturan kerajaan itu. Jika Aku terus membantah, keluargaku akan dihukum" bisikku lirih.


Pangeran sera terdiam.


"Jadi begitukah ceritanya, Aku paham" ujarnya setelah beberapa saat. "Pasti sangat berat untukmu"


Pangeran kembali tenggelam dalam pikirannya. Dia memejamkan mata, terlihat lelah. Harusnya Aku tidak menganggunya. Jika pengawal menemukan Kami disini, Dia akan mendapat masalah. Aku meletakkan tehku. Pangeran membuka mata. "Ada apa?"


"Aku harus pergi, terimakasih teh nya Pangeran. Maaf telah menganggu waktunya"


Pangeran menangkap tanganku. Menahanku ditempatnya. "Sebentar saja, tetaplah disini" pinta Pangeran. Aku terdiam. Pangeran melepaskan tanganku. Dia kembali memejamkan mata.

__ADS_1


Apa dia tidur.


Aku mengambil kembali cangkir tehku dan mengisinya kembali dari teko dengan berhati-hati agar tidak membangunkannya. Entah berapa lama kami disini. Waktu seolah berhenti berjalan. Anehnya, walaupun Dia dari negara yang sering bersitegang dengan negara ini, Aku merasa tenang. Tidak takut sama sekali dengannya.


Aku berjalan pelan, kelas telah sepi. Dari lorong samar terdengar suara dari dalam kelas yang sedang memulai pelajaran. Aku akan terlambat dikelas kedisiplinan. Setelah berpamitan dengan Pangeran Sera, Aku berjalan mengendap-endap keluar ruangan hingga Aku berhasil mencapai lorong ini tanpa ketahuan oleh para penjaga. Aku tidak tahu sampai kapan Aku bisa lolos dari mereka. Aku juga belum menemukan alasan apa yang tepat kepada Pangeran Riana atas sikapku hari ini. Aku tidak bisa membayangkan kemarahannya.


Aku terpekik kaget saat melihat sosok Pangeran Riana berjalan diujung lorong membelakangiku. Dari gerak-geriknya Dia sedang mencariku. Pasti. Kenapa Dia ada disini. Aku tidak menyangka Dia sendiri yang akan mencariku. Aku merapatkan tubuh di tembok Sebisa mungkin agar tidak terlihat.


"Putri Yuki"


DEG


Seorang Bangsawan dengan tubuh jangkung menghampiriku. Dia tidak menyadari kehadiran Pangeran Riana. Akibat seruannya tadi, Pangeran Riana sudah menyadari kehadiranku.


"Senang sekali bisa bertemu dengan Putri Yuki secara langsung, beberapa kali Aku meminta Elber untuk menyampaikan undangan makan malam tapi Putri belum membalasnya"


Aku diam merapat. Sementara itu Pangeran Riana memperhatikan Kami dari jauh dengan wajah tidak bersahabat. Astaga, apakah Bangsawan didepanku ini tidak menyadari aura jahat yang terpancar disini. "Perkenalkan Saya Padro Alxias dari Negeri Javaica" Aku membalas salam dari Bangsawan Padro. "Bagaimana Putri, apakah Putri ada waktu untuk makan malam bersama"


Aku mendesah. Pangeran berjalan maju dengan cepat tanpa suara.


"Dia tidak akan pergi kemanapun apalagi dengan orang yang punya maksud lain" ujar Pangeran mengagetkan Bangsawan Padro. Bangsawan Padro terkejut ketika menyadari kehadiran Pangeran. Pangeran menarikku kebelakangnya. Aku merapatkan diri ke tembok tidak ingin berkomentar apa-apa untuk membela Bangsawan Padro karena posisiku sendiri sedang sulit. "Kau harusnya paham Dia sudah menjadi milik anggota kerajaan, nyalimu sungguh besar Tuan"


Bangsawan Padro merasakan ancaman dalam suara Pangeran. Dia kemudian langsung pamit mengundurkan diri. Sekarang Kami hanya berdua. Kedua tangan Pangeran mengurungku ditembok.


"Dari mana saja Kau, Aku sudah katakan padamu untuk datang tapi Kau malah mengindahkannya. Kemana saja Kau tadi"


"Aku hanya bersembunyi sebentar untuk menenangkan diri" kilahku tidak berani menatapnya.


Pangeran mencekal pipiku dengan satu tangannya dan mendongakkan secara paksa untuk menatapnya. Aku mengaduh kesakitan. Berusaha memberontak. "Kemana saja Kau,apa Kau bertemu dengan Dalto ?"


"Aku tidak bertemu dengannya"


"Kau dan Dia tidak ada dalam waktu yang sama, sungguh kebetulan bukan"


"Aku tidak berbohong,Aku sama sekali tidak bersamanya"


Pangeran menatap mataku, mencari tanda-tanda kebohongan yang tidak dia temukan. Dia merapatkanku ketembok. aroma nafasnya terasa dipipiku, membuatku takut.


"Kau tau Aku tidak suka dibantah, Kau pasti sudah tau resikonya karena berani melawanku"Aku menggeleng ketakutan. "Jangan..." bisikku. Pangeran tidak peduli. Dengan kasar Dia mendekatkan wajahnya dan langsung menciumku. Ciuman yang memaksa dan penuh tuntutan. Aku sampai gelagapan. Aku berusaha mendorongnya namun Dia malah merapatkanku ketembok. Air mataku sudah mengalir.


"Berteriaklah jika Kau mau, Orang-orang akan keluar dan melihat Kita" bisik Pangeran.


Aku menutup mulutku rapat. Pangeran menurunkan tali bajuku kebahu. Menyibakkan rambutku dan mencium leherku. Aku merasa dia menghisap kulitku.


"Tidak..." Aku terus memberontak. Berusaha membebaskan diri. Satu tanganku dicekal kebelakang, sementara Dia masih menciumi Bibir dan Leherku secara beringas.


"Aku tidak tahu kalau Kau begitu tertarik padanya sampai seperti itu Riana"


Aku terkejut. Entah sejak kapan, Pangeran Sera sudah berada didekat kami. Pangeran melepaskanku. Aku merosot jatuh. Kakiku terasa lemas. Seluruh tubuhku bergetar.


"Jangan ikut campur urusan pribadiku Pangeran, Dia adalah kekasihku. Aku mau melakukan apa pun padanya itu adalah urusanku" ujar Pangeran tegas. suaranya terdengar jelas sehingga Aku yakin terdengar sampai kelas terdekat. Benar saja seorang Guru keluar diikuti murid lain yang melongok penasaran.


"Yuki adalah urusanku"


"Apa maksudmu"


"Yuki apa Kau ingin menjadi kekasihnya ?" aku terkejut ketika Pangeran Sera menanyakan pertanyaan seperti itu sambil memandangku serius.


"Dia milikku" Pangeran Riana tampak marah. suaranya semakin keras.


"Aku tidak bertanya padamu" balas Pangeran Sera tidak mau kalah. "Katakan Yuki, Kau ingin jadi kekasihnya atau tidak !!"


Pangeran Riana menyambar tanganku untuk berdiri. tapi Pangeran Sera menarik lenganku yang lain.


"Sakit, lepaskan Aku" pintaku memohon pada keduanya.


"Lepaskan Dia"


"Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya"


"Aku bilang lepas"


Pangeran Riana melayangkan pukulan yang langsung menghantam dagu Pangeran Sera. Aku menjerit. Aku akan menghampiri Pangeran Sera yang tersungkur, tapi Pangeran Riana menarikku kearahnya.


"Ada apa ini ?"


Raja muncul bersama rombongannya dan tamu kerajaan. Pendeta Naru terkejut saat melihat Pangeran Sera terjatuh dengan sudut bibir mengeluarkan darah.


"Apa yang terjadi hari ini merupakan penghinaan untuk negara kami" serunya marah.


"Sudahlah Naru" ujar Pangeran Sera sambil berdiri.


Raja menatapku yang menangis dengan baju berantakan dan leher penuh bekas ciuman Pangeran Riana, lalu berpaling pada Pangeran Sera yang terluka dan terakhir pada Pangeran Riana yang masih menatap Pangeran Sera dengan wajah ingin membunuh. "Tenanglah Pendeta Naru, masalah ini akan Aku selesaikan dengan baik" ujar Raja menenangkan. "Pengawal bawa Putri Yuki kembali kekediamannya"


"Tidak, bawa Dia ke istanaku dan kurung Dia dikamar sampai Aku kembali" Aku hampir menangis histeris mendengarnya."Ingat jangan biarkan Dia keluar selangkahpun dari sana atau akan kupenggal kalian"


"Riana" tegur Raja mengingatkan.


"Maafkan Saya Yang Mulia, tapi Yuki adalah masalahku. Aku harap Yang Mulia tidak terlalu ikut campur dengan hubungan kami" tolak Pangeran Riana lagi. "Apa yang kalian tunggu, cepat bawa Dia pergi" perintahnya lagi. Aku diampit dua pengawal kerajaan. Aku menatap Pangeran Sera meminta maaf ketika berjalan melewatinya.


"Riana, Aku harus berbicara denganmu nanti" ujar Raja yang terdengar dibelakangku.

__ADS_1


__ADS_2