Morning Dew

Morning Dew
241


__ADS_3

Ibu Suri memejamkan matanya. Nafasnya berat seolah tinggal menghitung kapan waktunya tiba. Tidak ada ketegasan yang  biasanya terlihat dalam diri Ibu Suri, yang biasa ada dalam dirinya selama Yuki mengenal Ibu Suri. Yang tersisa hanya perjuangan dan tekad untuk tetap hidup sedikit lebih lama.


"Maafkan Aku datang tiba-tiba dan dengan cara begini" Kata Yuki lagi kepada Ibu Jaena.


"Akhirnya Anda datang, Ibu Suri sudah lama menanti kedatanganmu Putri"


Ibu Jaena berdiri untuk memberi tempat Yuki duduk. Dia sendiri berputar ke sisi ranjang yang lain. Yuki mengulurkan tangan untuk menggengam tangan Ibu Suri yang gemetar dan lemah. Curly yang berada di dekat Yuki, membisikan sesuatu pada Yuki.


"Ibu Jaena maafkan jika Aku bersikap tidak sopan. Untuk sementara waktu awasi semua makanan dan minuman termasuk dupa yang di bakar di kamar Ibu Suri"


"Apakah ada sesuatu ?" Tanya Ibu Jaena perlahan.


"Dupa yang setiap hari Kalian bakar mengandung obat bius meski dalam dosis kecil. Tapi jika di gunakan sesering mungkin dan tanpa pengawasan, Dia bisa menyebabkan kecanduan. Selain itu penggunaannya yang terlalu sering membuat tubuh jauh lebih lemas dan seolah tidak memiliki tenaga untuk beraktifitas"


"Apa maksud Putri, Ibu Suri sengaja di bius ?"


Yuki menggelengkan kepala perlahan dengan wajah serius. "Ibu Suri di buat seolah sedang sakit, Obat bius itu hanya akal-akalan agar Ibu Suri tidak lagi keluar kamar. Namun yang lebih berbahaya adalah obat yang di minum Ibu Suri. Karena merasa sakit dan lemah akibat efek yang sebenarnya berasal dari dupa, Tabib akan memberikan obat-obatan sesuai dengan penyakit yang di keluhkan Ibu Suri. Namun, yang namanya obat pasti memiliki efek samping. Dia bisa menyembuhkan di satu sisi dan merusak di sisi lain. Aku dengar ibu Suri memiliki riwayat sakit lambung dan ginjal. Jika Dia terlalu sering di bius dan minum ramuan obat terlalu banyak dari yang seharusnya. Aku khawatir akan mempengaruhi kondisi lambung dan ginjalnya"


"Tapi, Dupa ini di kirimkan dari Istana Pangeran Riana"


"Bukan tugasku untuk menyelidiki masalah ini Ibu Jaena. Yang jelas semakin sering Ibu Suri menghirup obat bius, semakin banyak komplikasi yang terjadi pada tubuhnya."


"Apakah Putri ingin mengatakan ada seseorang yang berusaha membunuh Ibu Suri perlahan dengan cara membuat Ibu Suri sakit ?"


Yuki diam sesaat. 


"Aku tidak bisa berspekulasi lebih jauh. Ibu Jaena bisa memutuskan sendiri akan mempercayaiku atau tidak" kata Yuki kemudian. 


Tanpa di duga, Ibu Suri membuka matanya. Dia tampak terkejut ketika melihat Yuki sudah duduk di sampingnya. 

__ADS_1


Yuki langsung menahan tubuh Ibu Suri, ketika Dia ingin bangun. Ibu Suri meletakan tangannya di wajah Yuki, seolah meyakinkan dirinya bahwa Dia sedang tidak bermimpi. Kemudian Dia dengan keras menepuk lengan Yuki menggunakan tangannya yang ringkih.


"Anak nakal, kemana saja Kau ini. Kenapa baru sekarang datang menemui nenekmu ini" kata Ibu Suri sambil memukul Yuki. Yuki meringis menerima pukulan dari Ibu Suri.


"Sakit Nek...maafkan Aku" 


Ibu Suri menghentikan pukulannya. Menatap Yuki dalam.


Mata Ibu Suri berkaca-kaca menahan tangis. Yuki kemudian memeluk Ibu Suri dengan hangat. 


"Kemana saja Kau ini, dasar anak bodoh. Kenapa tidak pulang selama ini"


Yuki menghela nafas. Pulang. Dia tidak menyangka masih ada yang menunggu kedatangannya di sini setelah sekian lama berlalu.


"Aku sudah kembali Nek..." Bisik Yuki lembut di telinga Ibu Suri.


"Nenek, Sekarang Aku sudah ada di sini. Jadi jagalah kesehatan Nenek dengan baik" ujar Yuki tulus.


"Apakah Dia sudah tahu Kau kembali ?" Tanya Ibu Suri perlahan. Yuki tahu yang di maksud oleh Ibu Suri pasti adalah Pangeran Riana. Dia menggelengkan kepala pelan.


"Tidak ada yang tahu Aku sudah berada di dalam istana Garduete. Aku sengaja merahasiakan kedatanganku. Apakah Nenek bisa membantuku untuk tetap merahasiakannya juga ?"


Ibu Suri menatap Yuki dalam. Mencoba membaca pikiran Yuki. Gadis itu sudah banyak berubah, jauh lebih matang dan dewasa. Namun tetap memiliki kebaikan dan ketulusan hati yang murni. 


"Apa rumah tanggamu baik-baik saja ?" Tanya Ibu Suri tiba-tiba. Membuat Yuki terkejut sesaat. Dengan cepat Dia menyembunyikan perasaannya. Namun sayangnya Ibu Suri sudah melihat perubahan sikap Yuki meski hanya sepintas. "Suamimu tidak tahu Kau ada di sini ?"


"Ya.." jawab Yuki lirih. 


Ibu Suri menghela nafas sesaat. Dia menepuk lembut punggung tangan Yuki. 

__ADS_1


"Kunjungilah orang tua ini sesering mungkin" pinta Ibu Suri setelah Dia terdiam cukup lama.


Yuki menganggukan kepala mengerti.


Setelah berbincang sebentar dengan Ibu Suri. Yuki segera berpamitan pergi. Dia tahu, sebentar lagi Baginda Raja Bardhana, Pangeran Riana atau Bangsawan Voldermont akan datang untuk mengunjungi Ibu Suri.


Sebelum pergi Dia mengingatkan kembali kepada Ibu Jaena untuk meneliti lagi dupa yang dikirim dari istana Pangeran Riana. 


 


Sesampainya di kamarnya, di area sekolah. Yuki duduk tercenung di depan cermin. Dia tidak yakin apakah keputusan yang akan di ambilnya benar atau salah. Tapi Dia tidak bisa terus menerus menjadi seorang pengecut dan membiarkan orang lain menanggung kesalahannya.


Yuki membuka kotak make up di depannya. Sementara Curly baru datang dengan membawakan gaun untuk Yuki. Yang di ambil secara diam-diam dari kamar Yuki yang ada di kediaman Perdana Menteri Olwrendho.


Yuki mengganti pakaian pelayan yang di kenakannya dengan gaun yang di bawa Curly. Dia terkejut ketika gaun tersebut masih muat di badannya. Yuki mulai menyapukan bedak di wajahnya dan mulai berdandan.


 


Lampu berkelap-kelip menghiasi lorong di sepanjang jalan yang Yuki lewati. Ketika pada akhirnya Dia masuk ke dalam ruangan yang jauh lebih temaram. Terdengar alunan musik lembut yang mengalun, beberapa orang tampak berdansa. Sementara yang lain ada yang sibuk berkumpul atau hanya menepi berdua. 


Dua orang wanita Bangsawan dengan penampilan yang sangat menggoda berjalan melewati Yuki. Wangi farfum Mereka menyengat tajam, membuat Yuki mengernyit. Berbagai macam orang dari kalangan menengah ke atas berkumpul di tempat ini. Curly sudah memastikan bahwa Pangeran Riana dan Pangeran Sera tidak ada. Ada Lekky bersama teman wanitanya. Dan beberapa orang yang kemungkinan besar masih mengenali Yuki. 


Yuki menuruni tangga ketika musik berhenti dan terdengar tepukan ringan kepada para pemusik sebagai penghargaan. Ruangan tempat Yuki berada sekarang terkesan romantis. Namun memberikan nuansa yang sangat mewah dan elegan.


Beberapa kelompok terlihat mengobrol di meja Mereka sambil menikmati anggurnya. 


Lekky terlihat bersama seorang gadis di sudut ruangan yang gelap. Sementara itu Yuki mengenali Putri Nadira berada di ruangan yang sama, tak jauh dari meja Lekky. Sedang mengobrol bersama kelompoknya. Yang membuat Yuki terkejut adalah adanya Bangsawan Asry di tempat itu. Meskipun Bangsawan Asry tidak bersama Pangeran Riana dan teman-temannya, tapi tetap saja membuat Yuki gugup.


 

__ADS_1


__ADS_2