
"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini. Lebih baik Aku membunuh seribu perawan daripada harus meminta darahmu. Tapi Kau justru tidak bekerjasama dengan baik, saat Aku menghindarimu. Kau justru menangis, merengek, mengoyahkan keputusanku" bisik Bangsawan Dalto dengan nada menyesal.
"Apa yang akan Kau lakukan ?" Tanya Yuki dengan sikap waspada. Dia berusaha tidak menunjukan rasa takut yang menyerangnya. Yuki sangat yakin, kecil kemungkinan untuk Dia selamat dari semua ini.
"Hanya sedikit Yuki. Sedikit saja Aku meminta darahmu, lalu Kita bisa menguasai dunia bersama. Mungkin sekarang Kau tidak menyadari bagaimana rasanya menjadi pemimpin di atas segalanya. Tak apa, Aku akan menunjukan padamu nanti agar Kau paham"
"Apa Kau tidak mengerti akibat perbuatanmu ini, jika Iblis itu meminum darahku. Dia akan memiliki kekuatan tanpa batas. Dunia akan kiamat" Ujar Yuki mencoba menyadarkan Bangsawan Dalto, dari kegilaan yang memenuhi kepalanya. Bangsawan Dalto tetap tenang, sikapnya tidak perduli. Dia seperti sudah di cuci otak oleh Iblis yang di pujanya.
"Perlu banyak pengorbanan untuk menciptakan dunia yang damai" jawab Bangsawan Dalto lantang.
"Jutaan manusia akan mati karena ini" ucap Yuki meminta pengertian Bangsawan Dalto. "Aku mohon, berhentilah. Sebelum terlambat"
Bangsawan Dalto berdiri memandang Yuki. Ada sirat kesedihan dalam matanya. Kesedihan itu menusuk sampai ke dalam hati. Yuki terkesiap, Dia seperti bisa memahami penderitaan dalam sudut pandang Bangsawan Dalto.
Apa yang sudah Bangsawan Dalto alami selama ini, bukanlah hal indah. Kesedihan dan kemalangan yang menumpuk terlalu lama, menimbulkan kebencian dalam dirinya.
Bangsawan Dalto tidak mengatakan apa-apa. Dia berbalik, berjalan menuju altar doa.
"Sudah waktunya" bisiknya lirih sembari memandang bulan biru yang tepat di atas kepala Mereka.
"Bangsawan Dalto...dengarkan Aku..hentikan semua ini sebelum terlambat" pinta Yuki memohon.
Bangsawan Dalto tidak mengindahkan permintaan Yuki. Dia mengadahkan tangannya ke atas sembari mengucapkan mantera dengan cepat.
Sebuah geraman yang terdengar memenuhi ruangan, membuat bulu kuduk Yuki berdiri.
Ledakan keras terdengar di sertai muncul api besar di depan Bangsawan Dalto.
"Kakek"
__ADS_1
Yuki terperangah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Di dalam api besar, terbentuk sebuah wajah iblis berwarna merah menyala. Sekilas Dia seperti orang tua pada umumnya, memiliki janggut dan rambut panjang berwarna putih. Sepasang tanduk kerbau di kepalanya dengan bola mata berwarna merah darah.
Tawa iblis menggelegar memenuhi seisi kuil.
"Ohh...Ciel yang sangat cantik. Pantas saja Kau tergila-gila padanya dan memohon untuk tidak membunuhnya" Seru Balgira Radit ketika melihat Yuki.
"Yuki perkenalkan, Kakekku Balgira Radit" kata Bangsawan Dalto dengan bangganya.
Yuki menatap wajah api di depannya. Manusia yang menjual jiwanya kepada kegelapan dan bermertamorfosis menjadi iblis.
"Untuk mendapatkan kekuatan terhebat, Kakek bahkan rela menjual jiwanya untuk menjadi apa yang Kau lihat sekarang. Dia berhasil membentuk pasukan dan merekrut pengikut yang setia. Tapi Ibuku membujuk Ayah untuk meninggalkan Kakek dan membunuh semua pengikut tanpa tersisa"
"Sudah hentikan cerita masa lalu yang buruk itu. Aku tidak ingin lagi membahasnya" Yuki merasa Balgira Radit tidak senang ketika Mereka menyinggung pengkhianatan yang di lakukan anak dan menantunya. "Bulan biru sudah di kepala. Kita harus bergegas atau Kita akan melewatkan kesempatan yang langka ini" katanya lagi dengan suara geraman yang menggetarkan sekelilingnya.
Bangsawan Dalto kembali bersiap untuk menjalankan ritual. Para Prajurit datang dengan membawa nampan berisikan perlengkapan upacara yang akan di lakukan.
Sambil mengucapkan mantera, Bangsawan Dalto melanjutkan ritualnya.
Tidak ada yang akan menolongnya sekarang. Tidak ada yang tahu Dia berada di sini.
Dia tidak mengira, di kuil tua inilah akhir dari hidupnya.
Yuki akan mati dengan membawa penyesalan yang terdalam. Kenyataan Dia menjadi penyebab bencana yang menimpa seluruh umat manusia, membuatnya merasa bersalah.
Geraman nyaring mengelegar di udara. Nyala api semakin besar, menjilat sekitarnya. Udara di ruangan menjadi panas seperti terbakar.
Sulur-sulur berwarna merah menyala keluar dari dalam api. Berjalan pelan menuju tempat Yuki berada. Yuki mundur, bersandar pada jeruji besi yang mengurungnya. Dia tidak mampu melakukan apapun selain berdoa, agar kematiannya tidak terlalu menyakitkan.
Mata Yuki awas, memandangi sulur-sulur yang bergerak konstan ke arahnya. Jantungnya berdegub dengan kencang menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Bangsawan Dalto kembali mengucapkan mantera. Dia memandang ke arah Yuki, berharap semua akan selesai dengan cepat tanpa meninggalkan luka yang cukup parah untuk Yuki.
Jleebb !!
Jantung Yuki seakan berhenti ketika sebuah sulur menusuk tubuhnya dari belakang. Belum hilang rasa sakitnya, tusukan lain menyusul masuk, menembus tubuh Yuki di beberapa tempat.
Yuki terhempas ke bawah. Tersuruk tidak berdaya menahan sakit dengan nafas tersenggal-senggal. Rasa nyeri menyebar di sekujur tubuhnya. Darah menetes di bibir.
Tapi rupanya ini baru permulaan.
Ketika iblis itu membuka matanya yang terpejam, berbarengan dengan teriakan Bangsawan Dalto yang mengucapkan mantera terakhir. Terdengar jeritan Yuki yang melengking, nyaring.
Sulur panjang itu mengebor menembus daging Yuki. Kemudian menghisap darahnya. Aliran darah perlahan terlihat dari dalam sulur. Menuju ke arah iblis yang sedang menunggu dengan pandangan lapar.
Yuki merasakan seluruh organ tubuhnya seperti di tarik ke segala arah. Dia terus menjerit kesakitan, meminta untuk menyudahi penderitaannya dengan cepat.
"Hentikan...Aaaaa" jerit Yuki sambil menggelempar kesakitan. Dengan tangan yang terbelenggu, Yuki berusaha menarik sulur yang dapat digapainya. Namun seberapapun keras usahanya melepaskan diri, menarik sulur yang menghisap darahnya bagai seekor lintah lepas dari tubuhnya, darah akan muncrat keluar dan sulur itu akan kembali menghujamnya bahkan jauh lebih keras daripada sebelumnya.
Lolongan kesakitan Yuki terdengar sampai ke ubun-ubun. Dalam pergulatan antara hidup dan mati, Tatapan matanya bertemu dengan Bangsawan Dalto.
Bangsawan Dalto membatu ketika melihat Yuki. Darah sudah membanjiri tubuh Yuki. Yuki sudah tidak melawan lagi. Dia ambruk di atas cawan batu. Nafasnya tersenggal-senggal.
Darah sudah terlalu banyak keluar tubuhnya. Jauh lebih banyak daripada yang di harapkan Bangsawan Dalto. Entah akibat di hisap oleh iblis jelmaan Balgira atau mengalir keluar dari luka yang terbuka ketika Yuki mencabut sulur yang menusuk dirinya.
Seluruh tubuh Yuki memerah oleh darahnya sendiri.
Seketika Bangsawan Dalto tersadar, Balgira berbohong padanya ketika mengatakan membutuhkan setidaknya satu gelas darah Yuki.
Seharusnya Bangsawan Dalto sudah menebak, bagaimana rakusnya Balgira terhadap kekuasaan. Jika Dia bisa mendapatkan seluruh darah Yuki, yang artinya membunuh Yuki untuk mendapatkan kekuatan mutlak. Balgira tidak akan segan mengkhianati janjinya.
__ADS_1
Yuki terbaring lemah. Dia merasa ajalnya akan datang sebentar lagi. Pandangannya tetap mengarah kepada Bangsawan Dalto. Entah kenapa, di saat terakhirnya Yuki justru merasa melihat kembali sahabat yang di kenalnya selama ini.
Yuki terus saja menatap Bangsawan Dalto. Dia ingin mengucapkan maaf untuknya. Jika ini adalah akhir dari hidupnya, setidaknya Yuki ingin Bangsawan Dalto mengetahui bahwa Dia masih menyayanginya seperti dulu. Yuki sangat menyesal tidak bisa menyelamatkan Bangsawan Dalto, sehingga Dia mengambil keputusan yang salah seperti sekarang.