Morning Dew

Morning Dew
144


__ADS_3

Mereka berjalan menuju aula istana. Ketika pintu terbuka lebar, Yuki terkejut ketika melihat begitu banyak orang di dalam aula. Tadinya Dia berpikir, Mereka akan datang ke pertemuan keluarga biasa secara sederhana. Yuki tidak menyangka, Raja Jafar mengadakan pesta yang meriah untuk menyambutnya.


Yuki berpaling dan ingin bertanya kepada Pangeran Sera. Tapi Dia mengurungkan niatnya ketika menyadari tatapan Raja Jafar padanya. 


Dengan sopan, Yuki mengikuti Pangeran Sera berjalan ke tengah aula, berhenti di depan singasana Raja yang terletak di atas mimbar. Yuki membungkukan badan, mengikuti gerakan Pangeran Sera di dekatnya.


"Salam hormat kepada Yang Mulia Raja Jafar Madza" ucap Yuki menahan suaranya yang bergetar karena gugup.


Raja Jafar duduk di kursi singasana di temani Ratu Warda di sampingnya. Di anak tangga ke dua, Berdiri seorang gadis yang usianya nyaris sebaya dengan Yuki. Kulitnya berwarna putih dengan rambut gelap berwarna hitam, yang jatuh lurus ke bawah. Tubuhnya tinggi dan langsing. Yuki menebak Dia adalah Putri Magitha, Adik kandung Pangeran Sera.


 


Raja Jafar bertubuh tinggi dan gempal. Memiliki rambut hitam yang dihiasi uban berwarna putih di beberapa tempat. Kulitnya berwarna coklat karena terbakar matahari. Dia memiliki kumis tipis yang di cukur rapi. 


Yuki menundukkan kepala canggung ketika Raja Jafar menatapnya dengan tatapan menilai.


"Selamat datang ke negeri Kami Putri Yuki, Senang akhirnya bisa bertemu denganmu" Sapa Raja Jafar dengan suara nyaring. Yuki menundukkan kepalanya sopan untuk membalas sapaan Raja Jafar. Dia merasa tidak nyaman dalam situasi yang ada. Di mana Dia menjadi pusat perhatian seluruh orang.


"Yuki...wanita yang duduk di samping raja adalah Ratu Warda. Ibuku" ujar Pangeran Sera tenang, memperkenalkan keluarganya.


Yuki mendongak dan terkejut ketika melihat sosok Ratu Warda. Di umurnya yang sekarang, Ratu Warda masih terlihat cantik dan menarik. Kerut-kerut halus di wajahnya semakin menambah pesona yang ada. Rambutnya panjang, bergelombang berwarna coklat keemasan. Seperti Pangeran Sera. Dia juga memiliki mata biru laut yang indah. Meski sudah pernah melahirkan, tapi Ratu Warda tetap memiliki badan yang langsing dan terawat. Kulitnya putih bersih. 


"Salam kenal Putri Yuki" ujar Ratu Warda sembari meneliti Yuki. Kemudian Dia melirik Pangeran Sera dengan menyunggingkan senyum misterius.


Yuki kembali menundukan kepala hormat membalas sapaan Ratu Warda.


,"Saat melihatmu, Aku sepintas seperti melihat diriku yang dulu. Aku sangat terkejut karena ternyata hari inilah moment seperti itu terjadi" ujar Ratu Warda lagi penuh arti. Yuki tahu Ratu Warda sedang membahas masalah hiasan rambut yang sekarang Ia kenakan. "Kau sangat cantik, pantas Sera begitu menyukaimu"


Wajah Yuki memerah. Dia tidak percaya di puji oleh seorang Ratu dari kerajaan besar seperti Argueda.


Cantik ??. Mimpi apa Dia semalam.

__ADS_1


"Terimakasih Yang Mulia Ratu" balas Yuki sopan.


"Kau sudah bertemu dengan Arana sebelumnya" kata Pangeran Sera dengan nada menekankan bukan bertanya. Membuat Yuki yakin, Pangeran Sera telah mengetahui kejadian dengan pada Putri tempo hari. Putri yang bertengkar dengan Yuki berada di aula. Wajah Mereka pucat pasi mendengar penuturan Pangeran Sera.


"Selamat datang Putri Yuki, senang akhirnya bisa menyambut kedatangan Putri dengan resmi" sapa Pangeran Arana ringan.


"Terimakasih Pangeran Arana"


"Lalu, Gadis di sana itu adalah Magitha, adik perempuanku yang keras kepala"


"Kakak, Kenapa Kau memperkenalkanku seperti itu, itu bisa membuat citra diriku jatuh. Orang akan mengira Aku Putri yang tidak mempunyai pendidikan" protes Putri Magitha cepat.


Pangeran Sera tersenyum mendengar kemarahan Putri Magitha.


"Salam kenal Putri Yuki" ucap Putri Magitha pada akhirnya.


Tanpa di duga Dia kemudian bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Yuki. Dia lebih muda satu tahun dari Yuki, tapi postur tubuhnya tinggi sempurna seperti seorang model. "Apa Putri ingin berjalan-jalan bersamaku"


"Magitha" tegur Raja Jafar mengingatkan. 


Putri Magitha berbalik menatap Raja Jafar. Dia memperlihatkan wajah manjanya untuk memohon agar keinginannya terpenuhi. "Boleh kan Ayah, Kakak...Aku sangat ingin bisa berbincang berdua dengan Putri Yuki"


"Memangnya tidak bisa lain kali, Putri Yuki baru saja tiba dan Kau sudah mau mengajaknya keluar" protes Ratu menimpali.


"Kakak..." Renggek Putri Magitha kepada Pangeran Sera agar Pangeran Sera mau membelanya di hadapan Raja Jafar dan Ratu Warda.


Pangeran Sera menghela nafas menyerah.


"Dasar Magitha, Jika sudah mempunyai kemauan susah sekali di belokkan" Putri Magitha tersenyum senang mendengar penuturan Pangeran Sera. Jelas keinginannya telah dipenuhi oleh Pangeran Sera. "Kau boleh membawanya tapi hanya sampai taman tengah. Tidak lebih dari itu" lanjut Pangeran Sera kembali dengan nada memperingatkan.


"Baik Kakak, jangan khawatir Aku nengerti. Ayo Putri Yuki Kita pergi sekarang" Putri Magitha menarik lengan Yuki tiba-tiba, membawanya untuk mengikutinya. Yuki nyaris tidak bisa memberi hormat dengan benar kepada Raja Jafar dan Ratu Warda karena Putri Magitha sudah keburu membawanya pergi. Mereka berjalan keluar Aula dari pintu samping.

__ADS_1


"Kita ke taman tengah Putri" ajak Putri Magitha sambil menuruni tangga batu dengan lincah. Yuki mengangkat roknya dan menyusul Putri Magitha dengan langkah yang penuh perhitungan. Tangga batunya sedikit licin karena basah akibat rintik hujan, dan Yuki mengenakan sepatu hak tinggi sekarang. Dia tidak ingin jatuh dan mempermalukan diri sendiri di hari pertamanya bertemu dengan Raja Jafar dan Ratu Warda.


 


 


Terdengar suara debur ombak dari kejauhan ketika Mereka tiba di taman tengah. Pemandangannya sangat indah jika di nikmati pada pagi atau sore hari. Dengan latar belakang lautan luas di ujung mata memandang dan bunga-bunga cantik yang tumbuh di taman.


"Maaf sudah membawamu Putri Yuki. Aku sangat tidak suka pertemuan formal seperti tadi. Sangat menjemukan dan membuatku mengantuk" ujar Putri Magitha dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa Putri. Terimakasih sudah membawaku kemari"


"Sepertinya Putri juga tidak terlalu suka pertemuan seperti itu ya ?"


Yuki memang tidak suka sama seperti Putri Magitha. Tapi Dia tidak berani untuk menjawab pertanyaan dari Putri Magitha. Jadi Dia hanya tersenyum kecil, dan tidak mengatakan apa-apa.


"Di dalam sana meskipun diadakan Pesta, Tapi isinya hanya seputaran orang tua. Adapun yang muda, tapi pembahasannya hanya seputar politik dan masalah negara. Selain itu para Putri di sana juga sama saja, Mereka hanya taunya berdandan dan bergosip. Sangat menjemukan" keluh Putri Magitha.


"Pemandangan di sini pasti sangat indah di pagi dan sore hari" ujar Yuki berusaha mengalihkan topik. 


Putri Magitha mengangguk menyetujui ucapan Yuki.


"Sebenarnya Aku ingin mengajak Putri ke pantai. Tapi Aku takut Kakak akan marah jika mengetahuinya"


"Apakah Pangeran Sera bisa marah ?" Tanya Yuki tidak percaya. Sepengetahuan Yuki, Pangeran Sera adalah sosok yang baik hati dan lembut. Dia tidak pernah membayangkan Pangeran Sera bisa marah.


"Kakak itu penyabar orangnya. Tapi sekalinya Dia marah, sangat menyeramkan. Tidak ada yang berani menganggunya jika Kakak sudah marah"


 


 

__ADS_1


__ADS_2