Morning Dew

Morning Dew
217


__ADS_3

"Yuki,Kau ada di sini rupanya. Aku mencarimu dari tadi" Pangeran Sera datang mendekat. Dia tersenyum lega saat akhirnya menemukan keberadaan Yuki. 


"Pemandangan di sini sangat indah" tunjuk Yuki pada keramaian di bawah sana. "Aku belum pernah melihat kebahagiaan di Rasyamsah seperti yang kulihat sekarang selama Aku berada di negeri ini" 


Pangeran Sera duduk di dekat Yuki. Menyodorkan minuman yang di bawanya. Yuki menerima minuman itu dan langsung meminumnya tanpa ragu. Rasanya hangat.


Yuki mendengar dari para pelayan yang berbicara dengan para tawanan di rumah singgah, bahwa Pangeran Riana menghilang bersama teman-temannya begitu Argueda mengumumkan kemenangannya. Yuki menduga Mereka telah kembali ke Garduete.


Itu sangat bagus. Dengan begitu Yuki tidak perluh kembali melihat Pangeran Riana dan mengingatkan dirinya bahwa hubungan Mereka telah berakhir.


Awalnya, Yuki sangat senang ketika melihat Pangeran Riana datang dan menyelamatkannya. Tapi Pangeran Riana ternyata membawa Putri Marsha bersamanya. Untuk apa ?. Apakah untuk memamerkan pada Yuki bahwa Mereka kini telah kembali bersama. 


Ssiiiuutttt......Duuaaarrr 


Sebuah kembang api raksasa di luncurkan di langit malam. Percikan api menyebar dengan cepat ke segala arah, membentuk bunga yang menaungi ibukota, berwarna orange.


"Wuaahhhhh" seru Yuki girang.


Terdengar lagi saat petasan kedua, ketiga dan seterusnya di luncurkan. Menghiasi langit malam dengan begitu cantiknya.


"Kau senang ?" Tanya Pangeran Sera di samping Yuki.


Yuki menganggukan kepalanya. Dia tersenyum lebar. 


"Ya, Aku senang" jawab Yuki bersungguh-sungguh. "Pertualanganku kali ini cukup menguras tenaga. Namun Aku lega karena sudah berakhir"


"Tapi ingat, jangan coba melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Apa Kau mengerti" Pangeran Sera mencubit pipi kiri Yuki membuat Yuki meringis kesakitan. "Jadikan pengalaman kali ini sebagai pelajaran agar Kau tidak lagi bertindak gegabah dan gampang mempercayai orang yang baru Kau kenal. Kali ini Kita beruntung keadaan berubah menjadi baik seperti yang di harapkan. Tapi tidak setiap saat keberuntungan selalu berpihak pada Kita"


"Aku mengerti...sakit..." Renggek Yuki. Pangeran Sera melepaskan cubitan di pipi Yuki. Yuki mengusap pipinya masih merasa kesakitan.


Pangeran Sera tersenyum lembut memandang Yuki. Kemudian Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menggengam lembut satu tangan Yuki yang terkulai di pangkuan.


"Yuki..." Panggil Pangeran Sera pelan.


Yuki menoleh, membalas tatapan Pangeran Sera. Tampak jelas ada sesuatu yang ingin di ucapkan Pangeran Sera padanya.


"Aku sudah meminta izin Ayah untuk mempersiapkan pernikahan Kita" 


Yuki menatap Pangeran Sera terkejut. Pangeran Sera menggengam tangan Yuki tenang. "Kita sudah tidak mempunyai alasan untuk menundanya. Apa Kau mengerti ?"


Menikah dengan Pangeran Sera...

__ADS_1


Yuki terdiam. Dia mencoba mengerti hatinya. Apakah benar jika Dia menikah dengan Pangeran Sera meskipun hatinya masih ragu. Tapi, Yuki mencoba berpikir lagi. Mengabaikan perasaannya, mencoba mendengarkan isi kepalanya dan bukan hatinya. Pangeran Sera sudah sangat baik pada Yuki selama ini. Dia bagaikan bintang jatuh yang selalu membawa keberuntungan bagi Yuki. 


Seperti oase di padang tandus.


Pangeran Sera tidak pernah menyakiti Yuki. Selalu mempercayai Yuki dan menerima Yuki dengan tulus. Selalu ada di kebahagiaan dan kesedihan Yuki. Yuki tidak mempunyai alasan untuk menolaknya.


Yuki tahu, Dia akan bahagia jika bersama Pangeran Sera. 


"Pangeran belum melamarku. Bagaimana bisa Pangeran langsung mempersiapkan pernikahan seperti itu" seloroh Yuki mencoba menyembunyikan keraguannya.


"Bukankah Kita sudah bertunangan ?"


"Ya...tapi Aku ingin di lamar seperti wanita pada umumnya, bukan karena perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tua Kita"


Pangeran Sera tersenyum. Dia beringsut berdiri dari duduknya.


Kembang Api bersinar di langit ketika Pangeran Sera berlutut di depan Yuki. Dia memegang kedua tangan Yuki yang duduk di depannya dengan hangat.


"Yuki....apakah Kau bersedia menikah denganku"


Yuki menatap mata Pangeran Sera dalam. Yakin akan kebahagiaan yang akan Dia berikan dalam kehidupan Yuki ke depannya. 


Pangeran Sera membalas senyuman Yuki dengan perasaan riang. 


Dia langsung berdiri dan menarik Yuki ke pelukannya. Kemudian, wajahnya mendekati Yuki. Mencium Yuki dengan lembut dan mesra. Tangan Yuki di tuntun untuk melingkar di leher Pangeran Sera. Sorot mata Pangeran Sera mengambarkan dengan jelas keinginannya pada Yuki. Ciuman Pangeran Sera mengaburkan akal sehat Yuki.


 


Saat sadar, Pangeran Sera sudah berada di atas Yuki. Sementara Yuki berbaring di kursi batu yang ada di dekat Mereka dengan kaki mengantung di bawah. Satu tangan Pangeran Sera menahan tengkuk Yuki. Sementara tangan yang lain, menelusuri lembut setiap lekuk tubuh Yuki. 


"Pangeran..." Bisik Yuki tertahan ketika berhasil melepaskan ciuman Pangeran Sera yang begitu memabukkan.


"Sstttt Diam..." Balas Pangeran Sera lembut sambil kembali mencium Yuki. 


Yuki menahan nafas saat Pangeran Sera mencium leher dan dadanya. Menurunkan tali bajunya di bahu. Sentuhannya begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang. Membuat Yuki merasa istimewa. Seperti barang berharga yang begitu di jaga dan diidamkan oleh seseorang.


Tapi...Yuki belum siap untuk melanjutkan semua sentuhan Pangeran Sera ke arah yang lebih dalam. Dia tidak tahu bagaimana harus menolaknya. Yuki sangat takut pada reaksi Pangeran Sera jika Yuki menolaknya sekarang. 


"Pa..Pangeran..ini di luar" Kata Yuki mengingatkan saat Pangeran Sera mulai menyentuh paha Yuki. Yuki semakin khawatir jika sampai ada yang datang dan melihat keadaan Mereka seperti sekarang.


"Kau mau pindah ke dalam kamar ?" 

__ADS_1


Yuki terdiam.


Wajahnya merona merah menahan malu dan hasrat yang naik akibat sentuhan Pangeran Sera di tubuhnya.


Namun, belum sempat Yuki memberi jawaban. Terdengar suara Gulf dari saku pakaian Pangeran Sera. Pangeran Sera mengerang marah. Yuki nyaris tertawa saat melihat ekpresi kesal Pangeran Sera karena terganggu oleh panggilan yang ada.


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Sera pada seorang prajurit yang menghubunginya.


"Mohon maaf Pangeran, tapi Rapat akan segera di mulai"


"Baik, Aku segera ke sana" 


Pangeran Sera menutup Gulf dengan wajah masam. Sementara Yuki telah selesai membenahi kembali pakaiannya. 


"Pangeran ada rapat ?" Tanya Yuki yang diam-diam merasa lega karena apa yang telah terjadi tidak berlanjut ke batas yang lebih jauh.


"Ya, maafkan Aku Yuki. Aku harus segera pergi"


"Apakah ada masalah ?"


"Tidak ada, hanya masalah penyatuan dua negara dengan para petinggi Rasyamsah"


"Pergilah Pangeran. Aku masih ingin berada di sini sambil melihat perayaan yang sedang berlangsung sekarang"


"Baiklah, jangan terlalu larut. Angin malam tidak baik untuk kesehatan"


"Ya.." jawab Yuki patuh.


Pangeran Sera membungkuk dan mencium pipi Yuki dengan mesra, sebelum Dia berjalan pergi meninggalkan Yuki seorang diri lagi. Yuki memandang punggung Pangeran Sera sembari berpikir.


Dia telah menerima lamaran Pangeran Sera. Menjadi istri Pangeran Sera. Apakah benar hal ini yang Yuki inginkan ?. 


 


 


Keesokan harinya, Raja Jafar mengirimkan perintah agar Pangeran Sera dan Yuki segera kembali ke Argueda untuk melapor sekaligus menentukan tanggal pernikahan.


Tampaknya, Pangeran Sera tidak mau membuang waktu lagi. Kepergian Mereka sangat mendadak. Setelah mengatur segala hal di Rasyamsah. Akhirnya Pangeran Sera mengajak Yuki untuk menaiki kereta kuda, untuk melakukan perjalanan panjang kembali ke Argueda.


 

__ADS_1


__ADS_2