Morning Dew

Morning Dew
278


__ADS_3

Bangsawan Voldermont juga meminta agar laporan perkembangan mengenai Nenek Marple terus diserahkan padanya.


"Terimakasih untuk kebaikan Putri dan Tuan Bangsawan" kata Nenek Marple terharu sebelum berjalan pergi bersama dua orang prajurit kerajaan Garduete yang mengapitnya.


 


 


Punggung Nenek Marple menjauh. Yuki tidak tahan lagi. Dia terhuyung ke depan, berpegangan pada lengan Bangsawan Voldermont. Tampak kepayahan.


"Kau baik-baik saja ?"


Yuki menggelengkan kepala. 


"Kakiku seperti mati rasa" bisik Yuki tidak tahan.


Bangsawan Voldermont langsung menarik Yuki keluar dari kolam. Yuki duduk di pinggir kolam. Kakinya sudah pucat seperti mayat.


"Apa yang sebenarnya terjadi ?. Apa Kau tidak tahu jika lebih lama lagi berada di dalam kolam, Kau bisa kehilangan kakimu karena membeku" ujar Bangsawan Voldermont sambil melepaskan mantelnya dan menutupi kaki Yuki agar hangat.


"Jangan berkata yang menakutkan seperti itu. Aku juga bukan orang bodoh yang mau masuk ke dalam kolam musim dingin jika tidak ada keperluan. Aku membantu Nenek Marple untuk mencari cincin kawinnya yang di lemparkan orang ke dalam kolam"


"Siapa orang yang tega melakukan hal seperti itu ?" Tanya Bangsawan Voldermont tidak percaya.


Yuki diam. Sementara Namura terlihat gelisah.


Bangsawan Voldermont membantu Yuki untuk berdiri dengan memapahnya di pundak. "Kalian pergilah dulu. Aku akan membantu Yuki kembali ke kamarnya"


"Tunggu...bisakah Aku bicara sebentar dengan gadis itu ?" Tanya Yuki langsung sambil melihat ke arah Namura.


"Ada perlu apa dengan calon istriku ?" Tanya Panglima Perang Jaibar tidak senang.


"Izinkan Aku berbicara empat mata dengannya sebentar saja" pinta Yuki sopan.


Namura mendengus. Dia menatap Yuki sinis. "Jika ada yang ingin Putri katakan..katakan saja sekarang" kata Namura enggan. Dia mengira Yuki tidak akan berani membuka permasalahannya di hadapan orang banyak. Namun rupanya Namura salah.


"Apakah Kau yakin ?" Tanya Yuki menegaskan.


"Ya...katakan saja apa yang ingin Putri bicarakan sekarang. Aku sama sekali tidak keberatan"


"Baiklah kalau itu maumu. Aku hanya ingin bertanya di mana hati nuranimu. Nenek Marple memang bukan ibu kandungmu. Tapi Dia yang telah menyelamatkanmu yang masih bayi dan membesarkanmu sampai seperti sekarang. Tapi Kau malah menyusahkannya dengan menjual semua tanah dan rumah miliknya lalu meninggalkannya begitu saja tanpa uang sedikitpun. Saat Kau menikah Dia datang hanya untuk memberimu cincin kawinnya sebagai kado pernikahanmu. Tapi Kau malah mengusirnya dan membuangnya ke kolam"


"Wanita Tua itu terlalu banyak bicara" kata Namura semakin kesal.


"Apa maksudnya Namura ?" Tanya Putri Marsha menimpali.

__ADS_1


"Aku tidak tahu selain hoby berselingkuh, Kau rupanya juga senang mengurusi urusan orang Putri" Namura tersenyum sinis di depan Yuki. Dia memandang Yuki dengan tatapan mencela.


"Jadi Kau tidak lagi menginginkan Nenek Marple ?"


"Untuk apa. Wanita itu sangat tidak berguna. Dia hanya akan menjadi parasit dalam kehidupanku"


"Kau bilang padaku Kau ini yatim piyatu ?" Tanya Panglima Jaibar pada Namura.


"Dia hanya wanita yang tidak sengaja menemukanku di hutan. Tapi Dia bukan ibuku" kilah Namura cepat.


"Nenek Marple tidak datang ke sini untuk menganggumu atau menginginkan balas budimu. Dia datang hanya untuk memberimu kado pernikahan. Kau sangat kejam, menjual semua aset miliknya lalu meninggalkannya begitu saja. Apa kau tidak tahu semua itu adalah sumber penghasilannya selama ini ?" Ujar Yuki sangat marah sambil menunjuk Namura.


"Sayang....Aku tidak berbohong padamu" isak Namura dengan manja pada Panglima Perang Jaibar. 


"Cukup mengurusi istriku. Kau sama sekali tidak punya hak untuk melakukannya"


 


 


"Baiklah, karena Kau telah membuangnya. Maka Aku akan mengambil Nenek Marple untuk menjadi keluargaku. Mulai sekarang, apapun yang terjadi padamu jangan lagi menggangunya. Dan Kau juga harus bersikap sopan padanya karena sekarang kedudukan Nenek Marple jauh lebih tinggi darimu" kata Yuki tegas pada Namura.


"Kau ini memang terlalu banyak mulut Putri" Putri Marsha maju dan hendak menyerang Yuki. 


Bangsawan Voldermont menatap Namura dengan ekpresi jijik. Tapi Dia tidak berkata apapun dan justru melingkarkan tangannya di bahu Yuki. Menarik Yuki untuk mengikutinya agar menghindari konflik.


"Aku akan antar Yuki dulu" Kata Bangsawan Voldermont sambil berjalan pergi.


 


 


 


"Aku tidak percaya Aku pernah meniduri iblis seperti Dia" sungut Bangsawan Voldermont saat Mereka sudah cukup jauh dari jangkauan Pangeran Riana dan rombongannya.


Yuki menghentikan langkah dan menatap Bangsawan Voldermont tidak percaya dengan apa yang di dengar.


"Apa ?" Tanya Yuki menuntut penjelasan.


"Gadis yang bernama Namura itu, Aku mengenalnya saat Dia masih bekerja di bar. Dia terlihat sangat baik. Tapi Aku tidak menyangka ternyata prilakunya seperti itu"


Yuki mengatupkan rahang. Tidak tahu harus berkata apa dengan kebiasaan Bangsawan Voldermont yang senang berganti-ganti wanita. 


"Kau harus lebih selektif memilih pasanganmu, jika tidak suatu saat nanti Kau bisa celaka"

__ADS_1


"Aku memilihmu dan nyatanya Kau lebih sering membuat nyawaku terancam"


"Kalau begitu, pergi.." Kata Yuki sambil menepis tangan Bangsawan Voldermont di bahunya. Bangsawan Voldermont menggelengkan kepala dan kembali memeluk Yuki dengan erat. 


"Tenang saja kucing kecil. Matipun..asal untukmu,Aku rela"


"Lepaskan Aku..sesak"


 


 


Pangeran Sera tidak marah saat Yuki mengutarakan keinginan untuk merawat Nenek Marple dan mengangkatnya sebagai keluarga Yuki. Pangeran Sera bahkan memberi pengobatan yang baik untuk Nenek Marple. 


Di luar dugaan Nenek Marple sangat pandai memasak. Meskipun masakannya sederhana ala rakyat biasa, tapi rasanya sungguh enak dan membuat siapapun tidak dapat menolaknya. 


Sekarang, Lekky bahkan sering berada di sekitar Nenek Marple ketika Dia sedang memasak. Lekky mampu menghabiskan apapun yang di masak Nenek Marple untuknya. Curly juga menjadi dekat dengan Nenek Marple. Karena Nenek Marple sering membuatkan kue atau sesuatu dengan bahan dasar apel merah untuknya.


Masakan Nenek Marple sesuai dengan selera lidah Lekky. Yuki jadi curiga jika Lekky akan mengajak Nenek Marple untuk tinggal bersamanya.


 


Awalnya, Nenek Marple meminta izin untuk kembali ke kampung halamannya. Tapi Yuki menolak karena Nenek marple sudah tidak memiliki siapapun yang menjaganya di sana. Lekky bahkan jauh lebih menolak. Dia bersikap sangat manja dan terus membujuk Nenek Marple agar tetap bertahan bersama Mereka. 


 


 


Pangeran Sera memutuskan untuk mengajak Yuki pindah dari sekolah dan tinggal untuk sementara di kediaman Perdana Menteri Olwrendho. Putri Marsha dan Namura menyebarkan cerita yang menghasut orang untuk membenci Yuki. Demi kenyamanan, Yuki menurutinya dan Mereka kini berpindah di rumah Perdana Menteri Olwrendho. Sesaat setelah Yuki pindah, keluarga Darmount pun ikut menyusul tinggal di rumah keluarga Olwrendho. Lekky juga tidak lupa untuk menculik Nenek Marple mengikuti Mereka pindah.


 


Yuki senang saat melihat kedekatan yang terjadi antara Lekky dan Nenek Marple. Lekky sering bermanja dan menggoda Nenek Marple. Membuat Nenek Marple tertawa senang. Perlahan, Nenek Marple sudah tidak lagi mengutarakan keinginannya untuk pulang ke kampung halamannya.


Nenek Marple telah mendapatkan sebuah keluarga.


Dia tidak menyangka, mendapatkan seluruh kasih sayang dan kehangatan keluarga di sisa usianya. Bahkan Dia sudah menganggap Yuki, Lekky, Pangeran Sera dan Varmount sebagai anaknya sendiri.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2