
Apa Kau juga sudah mengetahui siapa dirimu dan apa kemampuanmu ?. Pergunakan itu semua untuk kebaikan. Hidup di lingkungan kerajaan sangat keras, tidak seindah bangunannya. Aku harap Kau bisa menjalani semuanya dengan baik.
Oh Ya, Apa Kau juga sudah bertemu dengan tunanganmu. Dia adalah Pria yang baik. Kau pasti akan bahagia jika bersamanya. Mama pastikan itu.
Yuki mendesah.
Putri Ransah sudah bisa meramalkan semua dengan baik. Hanya satu yang sepertinya tidak Dia duga. Kenyataan bahwa Yuki adalah Calon Ratu Negeri Garduete yang di pilih oleh Dewa Aiswara.
Bagaimana jika Putri Ransah mengetahui masalah ini ?. Yuki jadi bertanya saran apa yang akan di berikan Putri Ransah sebagai Ibunya, jika melihat situasi yang di hadapi Yuki sekarang.
Apa ayahmu sudah mengajakmu bertemu dengan kakak laki-lakimu ?
Yuki mengernyitkan dahi.
Kakak ?.
Yuki mempunyai kakak laki-laki ?. Dia tidak mengetahuinya sama sekali. Baik Perdana Menteri Olwrendho maupun Rena sama sekali tidak pernah membahas masalah ini sebelumnya.
Sebelum membaca surat ini, Yuki bahkan tidak mengetahui Dia masih memiliki keluarga.
Dia adalah anak dari kekasih Ayahmu, jauh sebelum bertemu dengan Mama. Hubungan Mereka berakhir karena keadaan yang tidak memungkinkan Mereka untuk bersatu. Gadis itu memilih meninggalkan Ayahmu dalam keadaan sedang mengandung, untuk menghindari bahaya yang mengancam ayahmu.
Yuki ingat, Kedua orang tuanya di pertemukan saat Mereka berdua sama-sama sedang patah hati. Jadi sekarang Yuki mengerti mengenai kisah cinta Perdana Menteri Olwrendho.
Tolong jaga Ayahmu dan Kakakmu. Kakakmu agak sulit, tapi Dia bukan orang yang jahat. Mama yakin Kau bisa melakukannya.
Yuki mulai berpikir. Dia harus kembali ke kediaman keluarga Olwrendho jika ada kesempatan untuk mengetahui mengenai Kakak laki-laki yang di maksud Putri Ransah dalam suratnya.
Yuki, saat Kau kembali dan tinggal di dunia asal Kita. Aku yakin Kau akan melewati banyak sekali kesulitan. Tapi Kau adalah anakku, Mama Yakin Kau pasti bisa mengatasi semuanya dengan baik. Nantinya, Kau pasti juga akan mendengar mengenai kisahku. Jadi, Aku menulis surat ini agar Kau mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Semoga dengan ini Kau bisa memaafkannya seperti Mama memaafkan Dia semenjak awal.
Dia ?.
Sebelum bertemu dengan Ayahmu, Aku telah melewati banyak kesulitanku sendiri. Salah satunya Aku mencintai seorang Pemuda yang seharusnya tidak kucintai. Dia adalah penyelamatku, hidupku. Berkat Dia aku masih bisa bernafas sampai sekarang.
Dia mencintaiku, sama seperti Aku yang mencintainya. Tapi takdir berkata lain. Kami harus menjalani jalan Kami masing-masing.
Aku sudah berusaha melupakan Dia, menjauh dari hidupnya. Namun Dia terikat denganku tanpa bisa ku cegah. Keberadaanku hanya menjadi duri dalam daging bagi rumah tangga yang di jalaninya. Aku harus pergi. Menjauh sejauh mungkin.
Saat itulah, Aku bertemu dengan Ayahmu. Kami akhirnya saling mengobati. Dan jatuh cinta, lalu memutuskan untuk menikah. Tapi orang itu ternyata masih menginginkanku. Dia sangat marah ketika Aku menolak kembali padanya dan pada akhirnya, Dia memisahkanku dengan Ayahmu.
Yuki aku menceritakan kisah ini bukan agar Kau membenci dirinya. Maafkan Dia, Aku mohon. Seperti Mama yang memaafkan Dia. Di dalam hidup Mama, Dia tetap adalah penyelamatku. Aku menyayanginya.
Suatu saat nanti Kau akan mengerti kisah ini. Di dalam kisahku, ada banyak yang terluka. Namun itulah hidup. Kaupun akan menemukan lukamu sendiri dalam kisahmu. Jalani apapun itu dengan tersenyum. Kita lahir dengan membawa takdir yang tidak bisa kita abaikan.
__ADS_1
Aku menyayangimu Yuki. Aku harap Kau selalu bahagia di manapun Kau berada.
Yuki menghela nafas lagi setelah membaca surat Putri Ransah. Ada selembar foto yang di selipkan di lembar terakhir surat. Yuki mengambil foto itu.
Foto Putri Ransah ketika seusia dirinya. Tersenyum riang di samping seorang Pemuda berambut hitam. Tangan Putri Ransah menggalung di lengan pemuda itu.
Tangan Yuki bergetar ketika mengenali pemuda di samping Putri Ransah.
Air mata tumpah membasahi wajahnya. Sekarang Yuki sudah menyadari semuanya dengan jelas.
Dia tidak mungkin salah, meskipun Pemuda itu sekarang tidak lagi sama. Dia sudah jauh berbeda di umurnya yang sekarang, tidak seperti ketika Dia masih muda.
Yuki masih mengenalinya dengan baik. Rambutnya memang sudah memutih seiring bertambahnya usianya. Begitu juga dengan badannya, sudah mengembang tidak seperti dulu. Tapi senyumnya tetap sama. Yuki mengenali senyum itu.
Senyum milik Raja Bardana, Raja negeri Garduete. Ayah dari Pangeran Riana.
Yuki teringat ketika pertama kali Mereka.bertemu. Raja Bardana memandang Yuki dengan penuh kerinduan. Sekarang Yuki tahu, Raja Bardana waktu itu tidak melihat Yuki, melainkan sosok Putri Ransah yang berada di dalam diri Yuki.
Raja Bardana masih mencintai Putri Ransah sampai sekarang.
Dia yang memisahkan Putri Ransah dan Perdana Menteri Olwrendho. Mungkin ketika mendengar Putri Ransah meninggal dalam pengasingannya, Dia jauh lebih bersedih daripada siapapun. Penyesalan yang dalam, Karena membawa Putri Ransah pergi jauh dari hidupnya. Dia akhirnya mengizinkan Perdana Menteri Olwrendho untuk membawa Putrinya kembali. Dia yang menjebak Putri Ransah. Raja negeri Garduete.
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Yuki.
Apakah Perdana Menteri Olwrendho mengetahui kenyataan yang terjadi ?. Apakah Dia tahu cinta Raja Garduete pada istrinya ?.
Apakah Pangeran Riana juga mengetahui masalah ini ?. Bagaimana perasaan Dia saat mengetahui ternyata Ayahnya mencintai wanita lain dan bukan Ibunya. Bagaimana perasaan Dia saat mengetahui ternyata Yuki adalah calon ratunya. Apakah sikap kasar dan semena-mena yang selama ini di tunjukan Pangeran Riana adalah karena dendamnya pada Yuki.
Yuki tidak bisa lagi membendung tangisannya. Dia menangis. Menumpahkan semua kesedihan yang di rasakan.
Hatinya terasa sakit.
Ketika Yuki sudah mulai tenang, dan berhasil mengontrol emosinya. Dia mengusap air mata di wajahnya. Matanya sembab. Tapi Yuki tidak perduli. Yuki meraba-raba, mencari amplop lain yang sempat Dia lupakan. Amplop milik Raja Bardana.
Setelah berhasil menemukannya, Yuki berjalan dengan gotai menuju pintu keluar.
__ADS_1
Dua orang penjaga pintu terkejut ketika melihat Yuki. Mereka lebih terkejut lagi saat menyadari Yuki berdiri di depan Mereka dengan wajah sembab.
Yuki menyodorkan amplop pada seorang penjaga sambil berkata lirih "Tolong bantu Aku memberikan surat ini kepada Raja Bardana"
Penjaga itu ingin mengatakan sesuatu. Tapi ketika melihat wajah Yuki, Dia urung untuk melakukannya dan akhirnya menerima amplop dari tangan Yuki dengan sikap hormat.
"Baik Putri, Hamba akan segera memberikan kepada Yang Mulia Raja Bardana secepat mungkin" kata Penjaga berjanji.
"Terimakasih paman" Kata Yuki sembari menganggukan kepala tenang.
Yuki kembali masuk ke dalam kamar. Pintu di tutup di belakangnya. Dia Kembali berjongkok di depan kotak kayu. Merapikan semua sisa barang ke tempatnya.
Raja Bardana sedang makan di sebuah ruangan kecil seorang diri. Hanya ada dua buah lauk dan satu sup di mejanya. Tapi itu sudah cukup.
Pelayan Pribadinya masuk ke dalam ruangan, ketika Dia baru saja menghabiskan sup nya.
"Yang Mulia, ada surat yang baru datang dari istana Pangeran Riana" ujar Pelayan itu sopan.
"Surat ?" Tanya Raja Bardana mengulangi.
Letak istana Pangeran Riana dan Istana kerajaan tidak begitu jauh. Untuk apa seseorang mengirim surat padanya.
"Letakkan saja di meja"
"Baik Yang Mulia"
Raja Bardana mengambil sendoknya dan mulai memakan makanannya.
"Dari siapa ?" Tanya Raja Bardana kemudian. Masih penasaran dengan keberadaan surat itu.
"Putri Yuki meminta seorang penjaga mengirimkannya pada Anda. Di amplop tertulis nama Putri Ransah"
Raja Bardana langsung menghentikan gerakannya. Berdiri dan menyambar surat di tangan pelayan.
__ADS_1