Morning Dew

Morning Dew
192


__ADS_3

"Tunggu apa lagi, cepat panggil tabib istana untuk memeriksa" Perintah Raja Bardhana dengan nada senang.


 


Yuki berbaring di sebuah sofa panjang tanpa sandaran. Sebuah selimut hangat di letakkan untuk menutupi kakinya. Pangeran Riana duduk di samping Yuki menunggu dengan perasaan cemas. Sementara itu Raja Bardhana dan Ibu Suri duduk di sofa lain. Bangsawan Voldermont berada di dekat tabib. semua tampak sangat penasaran.


Tabib Yandha mengusap keringat di tangannya beberapa kali. Seperti mimpi buruk, hanya Dia yang saat itu berada di ruang pengobatan. Ketika utusan Raja Bardhana datang menyampaikan perintah kerajaan, agar Dia segera datang untuk memeriksa apakah benar Putri Yuki hamil atau tidak.


Jika Diagnosanya benar Dia akan mendapat hadiah. Jika salah, kepalanya akan terlepas dari badannya. 


Mendiagnosis masalah sensitif seperti sekarang, Dia harus sangat berhati-hati melakukannya.


"Bagaimana ?" Tanya Raja Bardhana dengan tidak sabaran. Membuat Tabib Yandha terlonjak kaget. Dia kembali mengusap keringat di pelipisnya. 


"Ham..hamba sedang mendiagnosa Yang Mulia"


"Dari tadi Kau bilang sedang mendiagnosa tapi tidak juga Kau memberiku hasil"


"Maafkan Hamba Yang Mulia Raja. Persoalan ini sangat sensitif. Jadi Saya harus memastikan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan"


"Kau bisa diam dulu dan membiarkan Dia bekerja. Dari tadi Kau ini berisik saja" ujar Ibu Suri menegur Raja Bardhana. "Lanjutkan pemeriksaanmu" perintah Ibu Suri pada Tabib Yandha.


Tabib Yandha kembali memeriksa Yuki. Menanyakan beberapa pertanyaan pada Yuki. Kemudian setelah selesai, Dia berdiri dengan sopan.


"Selamat Yang Mulia Raja Bardhana, Putri Yuki sedang hamil. Kerajaan Garduete akan mendapatkan seorang cucu kerajaan"


Ibu Suri terpekik senang. Begitu juga dengan Raja Bardhana. Pangeran Riana tersenyum penuh kepuasan. Yuki telah hamil. Akhirnya tujuannya tercapai.


"Kau hebat juga Riana. Selamat Yuki, akhirnya Aku akan menjadi paman" kata Bangsawan Voldermont terkekeh.


"Usia kandungan Putri baru menginjak minggu ke enam. Saya harap Putri tidak terlalu di bebani pikiran yang tidak perlu, dan harus beristirahat dengan baik demi kesehatan janin yang sedang di kandung. Saya akan memberikan resep obat untuk mengurangi mual dan memberikan vitamin untuk janin Putri" 


"Ya..Ya...berikan yang terbaik untuk cucuku" Kata Raja Bardhana bersemangat.


 


Setelah mendapat wejangan dari Ibu Suri dan Raja Bardhana. Yuki dan Pangeran Riana akhirnya di perbolehkan untuk pulang ke istana Pangeran Riana.


Mereka sampai di istana Pangeran Riana ketika hari sudah larut malam. Yuki langsung melepaskan seluruh perhiasan dan berganti pakaian, begitu Dia masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Obat yang di berikan Tabib Yandha membuat badan Yuki lebih hangat. Mualnya juga sudah jauh berkurang dan Dia sudah bisa makan sedikit saja nasi.


Pangeran Riana keluar kamar mandi. Dia sudah berganti pakaian. Rambutnya sedikit basah. Dengan tenang, Dia duduk di dekat Yuki yang masih menyisir rambutnya di depan cermin rias.


"Sudah berapa lama Kau mengetahui kehamilanmu ?" Tanya Pangeran Riana membuka pembicaraan.


Yuki diam 


Pangeran Riana langsung mencekal tangan Yuki dan membuat Yuki menatapnya. "Kenapa Diam saja, untuk apa Kau merahasiakan kehamilanmu padaku ?"


Yuki menepis tangan Pangeran Riana. Menolak untuk berdebat. Tapi Pangeran Riana kembali mencekal Yuki. "Aku harus bagaimana ?" Tanya Yuki akhirnya.


"Harus bagaimana ?. Kau....Yuki, persoalan sepenting ini Kau harus memberitahukan padaku. Atau jangan-jangan Kau tidak menginginkan kehamilan ini ?"


"Ini anakku" Kata Yuki tegas. Dia menundukkan kepala. Menghela nafas berat sembari memegangi perutnya yang masih datar. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu"


Yuki sadar Dia tidak bisa lagi menghindari perdebatan yang terjadi. Pangeran Riana sudah mengetahui kehamilannya. 


"Kehamilan ini terlalu cepat untukku. Usiaku masih delapan belas tahun dan Aku belum menikah. Aku tidak tahu apa yang harus Aku lakukan" 


Pangeran Riana mendesah. Dia kemudian menarik Yuki dan memeluknya erat di dada.


 


 


"Putri Yuki, apa Kita bisa berbicara sebentar" 


Yuki yang baru saja berjalan-jalan di taman tengah untuk menikmati suasana sore berbalik. Semenjak mengetahui kehamilan Yuki, Pangeran Riana tidak lagi mengurung Yuki di dalam kamar. Dia membebaskan Yuki untuk kemanapun selama masih berada di lingkungan istana Pangeran Riana.


Bahkan, Raja Bardhana sering datang berkunjung dan mengirimkan segala macam bahan makanan bergizi tinggi untuk Yuki dan bayinya.


Putri Marsha berdiri di belakang Yuki. Menatap Yuki tenang penuh rasa percaya diri.


Para pelayan yang mengikuti Yuki tampak tegang. Terlihat jelas, Mereka tidak menyukai kehadiran Putri Marsha. Yuki telah mendengar aduan dari para pelayan, Putri Marsha berani mengatur semua pekerja di istana Pangeran Riana. Seolah Dia adalah nyonya rumah di istana ini.


Putri Marsha berbadan ramping, gerak-geriknya memperlihatkan Putri Marsha sebagai Putri yang mendapat pendidikan tinggi.


"Aku ingin berbicara hanya berdua denganmu Putri" ujar Putri Marsha melirik ke arah pelayan di belakang Yuki.

__ADS_1


Yuki berbalik dengan tenang, mengabaikan sikap angkuh yang di tujukan Putri Marsha padanya.


"Kalian pergilah" pinta Yuki kepada Para pelayan.


Mendengar perintah Yuki, semua pelayan meninggalkan Yuki dan Putri Marsha hingga Mereka hanya tinggal berdua di taman tengah.


"Kita bisa bicara di sana ?" Tawar Putri Marsha sembari berpaling ke arah Gazebo, tempat di mana Yuki pernah melihat Pangeran Riana dan Putri Marsha berciuman di sana.


Yuki menganggukan kepala. Mengikuti Putri Marsha berjalan did epannya menuju Gazebo. Keduanya duduk berhadap-hadapan tanpa suara.


"Apa yang ingin Putri katakan ?" Tanya Yuki memecahkan keheningan. Dia tidak ingin berlama-lama bersama Putri Marsha. Nalurinya menyuruhnya untuk segera pergi menjauh.


"Putri pasti sudah tahu siapa Aku" ujar Putri Marsha dengan pandangan penuh arti.


Yuki diam.


"Aku dan Pangeran Riana telah menjalin kasih ketika Kami masih muda. Hubungan Kami berakhir ketika Aku tahu, bukan Aku wanita yang di pilih Dewa sebagai calon Ratunya. Waktu itu Aku sangat marah dan kecewa. Jadi Aku memutuskan pergi meninggalkannya dan menikah dengan orang lain"


Yuki masih diam mematung. Tidak memberikan respon apapun. Dia mendengarkan dan menunggu Putri Marsha melanjutkan ceritanya.


"Tapi meski Aku sudah menikah, bahkan pernikahanku sempurna. Aku masih belum bisa melupakan Pangeran Riana. Jadi, ketika Suamiku meninggal dunia. Aku memutuskan kembali untuk memperbaiki hubungan Kami yang sempat kandas" jelas Putri Marsha. "Dulu, Aku sangat egois dan tidak ingin ada wanita lain yang dinikahinya. Sekarang, Aku sudah bisa menerima keadaan. Aku bisa menerima jika Pangeran Riana menikah dengan Putri sebagai Calon Ratunya dan membiarkan diriku berada di posisi ke dua sebagai istrinya yang lain"


"Istri yang lain ?" Tanya Yuki terkejut.


"Ya, Pangeran Riana adalah seorang perwaris tahtah kerajaan besar. Suatu saat nanti Dia akan menjadi Raja Garduete mengantikan ayahnya. Putri tidak bisa berharap Dia hanya akan menikahi satu wanita saja sepanjang hidupnya. Dia berhak untuk menikah dengan banyak wanita sesuka hatinya"


Yuki memalingkan wajahnya. Binggung.


"Aku sudah membicarakan keinginanku ini pada Pangeran Riana. Aku harap Putri Yuki dapat mengerti situasinya"


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2