
Bangsawan Voldermont mendesah. Dia duduk di dekat Yuki dan merangkul bahu Yuki dengan lembut. "Yuki dengarkan Aku. Riana sebenarnya sangat mencintaimu. Namun kecemburuan telah membutakan hati dan akal sehatnya"
Yuki diam. Mengatup bibir rapat. Dia tidak ingin lagi mendengar apapun mengenai Pangeran Riana. Termasuk cintanya. Yuki sudah tidak percaya lagi pada Pangeran Riana.
Melihat Yuki yang hanya diam. Bangsawan Voldermont akhirnya berkata. "Sera telah tiba semalam di Ibukota dan Dia langsung mengajukan pengadilan Ksatria untuk membersihkan namamu"
Yuki menatap Bangsawan Voldermont terkejut.
Pengadilan Ksatria adalah Pengadilan yang hanya bisa di lakukan oleh para Ksatria perang tingkat tinggi, dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran dari ucapannya.
Dalam pengadilan itu, akan di hadirkan api suci dalam sebuah tungku api kejujuran milik Kuil Suci.
Seorang Ksatria yang di adili, akan meneteskan darahnya ke dalam tungku kejujuran sembari mengucapkan masalah yang di ajukan dalam pengadilan. Jika ucapannya benar, maka dari tungku tersebut akan menguarkan aroma yang sangat wangi. Yang dapat tercium semua orang bahkan bisa sampai keluar ruangan. Namun, jika ternyata Dia berbohong. Dalam tungku tersebut akan menguarkan bau busuk yang sangat menyengat sehingga bisa membunuh Ksatria itu sendiri.
"Dia tidak perlu melakukan itu" bisik Yuki tertahan. Yuki tidak takut jika pengadilan itu di lakukan. Tapi Dia merasa tidak enak dengan Pangeran Sera. Pangeran Sera bahkan masih mau datang untuk membantunya. Padahal Yuki sudah sering kali menyakiti hatinya.
"Tidak ada yang bisa mencegahnya melakukan itu. Hari ini Aku bertemu dengannya dan Aku melihat keputusannya sudah bulat" ujar Bangsawan Voldermont sembari menggengam kedua tangan Yuki ke dadanya. "Sebagai laki-laki, Aku mengakui bahwa Dia sangat tergila-gila padamu. Dia akan melakukan apapun untukmu Yuki. Aku sudah merasa dari dulu, Kau ini memang wanita berbahaya Yuki"
Bangsawan Voldermont menatap mata Yuki tulus. "Dengarkan Aku, Aku sangat berharap Kau berada di sini sebagai Calon Ratu Negeri ini. Tapi semua terserah padamu. Aku tidak bisa memaksa hidupmu meskipun Aku sangat ingin melakukannya. Jadi Yuki apapun keputusan yang Kau ambil ke depannya, ingatlah bahwa Aku akan selalu berada dj belakangmu. Apa Kau mengerti ?"
Yuki menghela nafas. Kemudian Dia mencondongkan badannya dan memeluk Bangsawan Voldermont penuh persahabatan.
"Terimakasih" bisik Yuki lirih.
"Sama-sama kucing kecil" ujar Bangsawan Voldertmont setelah terdiam cukup lama, dan balas memeluk Yuki erat.
Keesokan harinya. Yuki baru saja selesai minum obat ketika Ibu Jaine masuk ke dalam kamar. Yuki segera berdiri untuk menyambut kedatangan Ibu Jaine.
"Putri Yuki, maaf menganggu. Aku mengantarkan tamu untuk Putri"
"Tamu ?" Tanya Yuki kebingungan.
__ADS_1
"Yuki..."
Jantung Yuki seolah berhenti. Suara yang sangat Familiar. Yuki segera berbalik dan mendapati Pangeran Sera sudah berada di dalam kamar. Rupanya Dia datang bersama Ibu Jaine.
Pangeran Sera berjalan pelan mendekati Yuki yang hanya berdiri mematung dengan wajah kebingungan.
"Jangan khawatir. Aku mendapat izin dari Ibu Suri untuk menjemputmu sendiri ke istana" ujar Pangeran Sera lagi mencoba memberi penjelasan agar Yuki tidak merasa semakin binggung dengan kedatangannya di dalam kamar. Dia kemudian merengkuh wajah Yuki dengan pandangan meminta maaf. "Maaf, Aku terlambat datang"
Yuki menggelengkan kepala pelan. Melepaskan tangan Pangeran Sera dari wajahnya.
"Yuki, ikut Aku ke istana Raja. Aku akan membersihkan namamu" bujuk Pangeran Sera lembut.
Yuki kembali menggelengkan kepala. Menatap Pangeran Sera nanar. "Aku tidak memerluhkannya Pangeran. Jangan lakukan apapun lagi untukku. Aku sudah terlalu banyak berhutang budi padamu Pangeran. Aku mohon hentikanlah" pinta Yuki lirih dengan suara bergetar. "Biar saja Mereka berkata apapun sesuka hati Mereka. Aku sudah tidak perduli"
"Meskipun Kau sudah tidak perduli akan hidupmu sendiri. Tapi Aku perduli Yuki. Aku tetap perduli padamu" bisik Pangeran Sera tegas. "Kau adalah wanitaku. Sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu"
"Kenapa Kau melakukannya, padahal Aku sudah begitu banyak menyakitimu" ujar Yuki dengan suara tercekat.
Pangeran Sera menarik Yuki ke dalam pelukannya. Seolah sedang mengambil semua beban yang menekan Yuki selama ini. "Bukankah Kau sudah tau alasannya Yuki. Apa rasa cinta ini tidak bisa Kau lihat ?"
Bukan Yuki tidak bisa melihat perasaan Pangeran Sera padanya. Tapi Yuki merasa tidak pantas menerima semua kebaikan Pangeran Sera. Dia tidak mengerti hati Pangeran Sera terbuat dari apa. Kenapa Pangeran Sera begitu lapang memaafkan semua sikap Yuki padanya.
Yuki sudah menyakiti hati Pangeran Sera berkali-kali dengan kejam. Tapi Pangeran Sera tetap ada ketika Yuki membutuhkannya.
Pangeran Sera berhasil membujuk Yuki untuk ikut ke istana Raja bersamanya. Mereka pergi dengan mengendarai Kereta kuda.
Kereta kuda berhenti di depan istana Raja Bardhana. Ketika Yuki turun. Dia nyaris berbalik pergi ketika melihat semua mata memandangnya dengan sorot aneh.
Pangeran Sera menahan tangan Yuki lembut. Yuki memandang Pangeran Sera memohon. "Hentikan Pangeran, Aku mohon. Hentikan"
"Yuki.."
__ADS_1
"Pangeran sudah cukup baik padaku. Tidak ada alasan Pangeran untuk menghancurkan reputasi Pangeran demi Aku"
"Kenapa Kau mengatakan itu ?"
"Apa Pangeran tidak melihat tatapan semua pada Kita di sini. Aku tidak sanggup melihatnya. Sudah hentikan. Biarkan saja Mereka berbicara buruk mengenaiku. Aku bisa menerimanya, tapi Aku tidak bisa melihat Pangeran ikut terseret masalahku ini dan menjadi hinaan orang"
"Aku tidak perduli pada penilaian Mereka" Kata Pangeran Sera dengan wajah serius. "Bukankah Aku pernah mengatakan padamu sebelumnya Yuki. Aku akan menutup mata dan telingaku dari hal-hal buruk mengenaimu Yuki. Apa Kau lupa ?"
Yuki ingat. Pangeran Sera mengatakannya ketika tahu kesucian Yuki telah di ambil oleh Pangeran Riana.
Hati Yuki bergetar. Kesedihan merayapinya. Kenapa Dia tidak mencintai Pria di depannya ini. Pria yang selalu menerima dirinya dan segala kekurangannya dengan tulus. Menerima Yuki apa adanya. Mempercayaiku tanpa pernah ragu pada Yuki. Pria yang selalu datang mendamaikan hati Yuki. Tetap tersenyum meskipun Yuki sering menyakiti hatinya.
Seolah mengetahui isi hati Yuki. Pangeran Sera kemudian berkata. "Mulai sekarang, Aku akan menggengam tanganmu dan tidak akan melepaskannya. Seiring waktu yang berjalan, Kau bisa belajar untuk mencintaiku Yuki"
Pangeran Sera kemudian menarik Yuki untuk mengikutinya.
"Kau adalah wanitaku. Jadi jangan pernah menunduk pada kebenaran. Berjalanlah dengan penuh percaya diri"
Mereka telah sampai di depan aula istana kerajaan Garduete. Di depan pintu sudah menunggu Pendeta Naru dan pengawal kerajaan Argueda. Pangeran Sera menggengam tangan Yuki erat. Menguatkan Yuki untuk melangkah.
Pintu terbuka perlahan.
Aula istana sudah penuh dengan orang. Ada Raja Bardhana dan Ibu Suri. Pangeran Riana, teman-teman Bangsawannya, Putri Marsha dan para Menteri kerajaan. Semua penasaran pada hasil sidang Ksatria yang di ajukan Pangeran Sera.
Semua menanti kedatangan Mereka.
Ketika Mereka telah tiba di tengah aula. Dengung suara saling berbisik terdengar.
"Aku sudah siap" jawab Pangeran Sera tenang. "Segera mulai persidangan ini"
Raja Bardhana mengangkat tangan memberikan aba-aba. Empat orang prajurit masuk membawa tungku dengan api yang menjilat. Tungku itu di letakan di depan Pangeran Sera.
"Putri Yuki, lebih baik anda mundur. Jika nanti hasilnya tidak baik. Nyawa anda akan ikut terancam" ujar Pendeta Serfa mengingatkan.
"Putri Yuki, sebelum hasilnya keluar. Anda harus mengingat dengan baik hari ini. Mengingat bagaimana orang-orang yang tidak mempercayai Anda memperlakukan Anda dan Bayi dalam kandungan Putri" sambar Pendeta Naru tidak mau kalah.
__ADS_1