
Yuki terdiam. Bekas gigitan yang Dia buat untuk menyelamatkan dirinya waktu itu justru membuat masalah yang tidak di perlukan.
"Kerajaan sangat ingin tahu mengenai wanita itu. Dia berhasil membuat Pangeran Riana tidur dengannya. Kerajaan mempunyai harapan yang besar agar wanita itu segera mendapatkan keturunan dari Pangeran Riana"
"Apa bukan Putri Marsha ?" Tanya Yuki berkilah. "Mereka bertunangan dan akan menikah" Yuki mengatakan dengan tenang. Bersikap seolah yang di katakan Bangsawan Asry tidak berarti untuknya.
"Tidak mungkin Dia. Kami menduga Riana merahasiakan wanita ini untuk melindunginya dari Marsha dan keluarganya. Marsha sangat ingin tahu siapa wanita itu. Setiap hari Dia akan datang menemuiku dan terus merorongku dengan berbagai pertanyaan yang membuat pusing kepala. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Dia sampai menemukan wanita itu."
Yuki tahu bagaimana Putri Marsha memperlakukan wanita milik Pangeran Riana di istana Harem. Beberapa di buat celaka, beberapa di fitnah dengan kejam sehingga di hukum kerajaan. Dan yang lain memilih meninggalkan istana untuk menyelamatkan diri.
Pangeran Riana mengetahuinya tapi Dia tidak mengambil sikap apapun untuk Putri Marsha. Istana harem milik Pangeran Riana tetap kosong berkat Putri Marsha.
"Itu Riana" Bangsawan Asry menoleh ke arah jendela. Di luar Pangeran Riana bersama Bangsawan Xasfir baru turun dari kudanya. Dua orang prajurit datang untuk mengambil kuda Mereka.
Yuki meletakan cangkirnya ke atas meja. Berusaha tenang dan tidak panik agar tidak terlalu mencurigakan.
"Sepertinya Kalian akan membicarakan hal penting. Aku sudah kenyang dan akan tidur cepat hari ini" ujar Yuki sambil menunjukan wajah kelelahan.
"Baiklah, Selamat malam" kata Bangsawan Voldermont membiarkan Yuki pergi.
Setelah berpamitan, Yuki langsung berjalan keluar dengan langkah tenang. Namun ketika Dia sudah cukup jauh dari tempat Bangsawan Voldermont berada. Dan yakin Bangsawan Voldermont tidak melihatnya. Yuki langsung berjalan cepat nyaris berlari menuju kamarnya.
Mulai sekarang, sebisa mungkin Yuki harus menghindari Pangeran Riana. Dia tidak mau menambah masalah. Tujuannya kemari bukan untuk mengacaukan hidup siapapun.
Pangeran Riana baru saja datang bersama dengan Bangsawan Xasfir memasuki ruang kerja Bangsawan Voldermont. Pangeran Riana langsung memilih duduk di sofa dengan sandaran tinggi. Menatap ke meja dan menemukan ada satu piring bekas pakai di atas meja.
"Siapa yang baru datang ?" Tanya Pangeran Riana pada Bangsawan Voldermont dan Bangsawan Asry yang masih melanjutkan makan malam Mereka.
"Yuki" jawab Bangsawan Voldermont.
Genggaman tangan Pangeran Riana di gelas mengeras sesaat.
"Aku dengar hari ini Dia tiba-tiba muncul di lingkungan sekolah. Apa keluarga Darmount sudah kembali ?" Tanya Bangsawan Xasfir mengambil makanannya.
"Dia tidak pergi dengan keluarga Darmount. Katanya Dia melakukan tugas lain"
__ADS_1
"Tugas apa ?"
"Aku tidak menanyakan lebih lanjut. Dia terlihat lelah dan pucat ketika Aku bertemu dengannya tadi"
"Bagaimana perkembangan yang terjadi ?" Tanya Pangeran Riana mengalihkan topik pembicaraan antara Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermont.
"Aku dengar Mereka sudah berhasil keluar dari dunia peri bawah tanah, dan sekarang sedang menuju ke Garduete"
Pangeran Riana diam. Dia sudah tidak mempunyai banyak waktu sedang Yuki belum menunjukan hasil yang diinginkannya.
Ini membuat wajah Riana menjadi muram. Dia harus bergerak dengan cepat. Lekky Darmount adalah penghalang terbesarnya selain Sera.
Sangat susah untuk menghindari Pangeran Riana. Apalagi jika Dia sering berkunjung ke tempat Bangsawan Voldermont. Yuki tidak mungkin terus membuat alasan atau mengurung diri di dalam kamar. Itu akan membuat yang lain curiga. Sementara itu kerajaan terus mencari wanita yang telah tidur dengan Pangeran Riana. Mendengar penjelasan Bangsawan Asry membuat Yuki mengerti bahwa Pangeran Riana tidak pernah meniduri wanita lain selama ini. Dia tidak pernah mau bersama bahkan menyentuh Mereka sama sekali termasuk Putri Marsha.
Beberapa kali kerajaan sengaja menyiapkan seorang wanita untuk menemani Pangeran Riana, tapi Pangeran Riana memilih untuk menghindar dan pergi atau malah akan mengusir wanita itu dengan kejam. Bahkan Putri Marsha sekalipun tidak diizinkan untuk berada terlalu lama di istana Pangeran Riana apalagi memasuki kamarnya.
Apa yang Pangeran Riana harapkan dari Yuki ?
Yuki keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kering seusai mandi. Dia agak terlambat mandi karena baru saja berbicara dengan Lekky. Yuki senang Lekky akan segera pulang. Yuki jauh merasa lebih aman jika ada Lekky di dekatnya.
Di luar terdengar suara para penjaga yang saling mengobrol. Sesekali terdengar gelak tawa di tengah obrolan Mereka. Para Prajurit itu di utus oleh Bangsawan Voldermont untuk menjaga kamar Yuki. Sepertinya Bangsawan Voldermont tidak mau lagi kecolongan. Dia tahu nyawa Yuki menjadi incaran beberapa pihak dengan berbagai tujuan yang berbeda.
Yuki mengenakan pakaian tidur dengan tali satu. Duduk di depan meja rias masih sibuk mengeringkan rambutnya. Bekas ciuman Pangeran Riana yang tersebar di dada dan lehernya sudah mulai memudar. Beberapa bahkan sudah menghilang.
Yuki cukup lega karena tidak ada yang menyadarinya. Tentunya akan menjadi kecurigaan sendiri jika ada yang melihat bekas ciuman di tubuh Yuki. Orang-orang akan menyangkutkan dengan Pangeran Riana yang juga memiliki bekas ciuman di lehernya.
Pangeran Riana sangat marah saat mengetahui Yuki telah kabur meninggalkan kamar rahasianya. Yuki bisa mengetahuinya dari cara Pangeran Riana memandangnya. Mood nya berubah menjadi sangat buruk akhir-akhir ini. Hal itu yang menjadi alasan Yuki untuk menghindarinya dan tidak mau terlibat dengan Pangeran Riana.
__ADS_1
Yuki mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya. Dia sangat lelah hari ini karena seharian membahas masalah pergerakan iblis Balgira dengan pendeta suci. Setelah ini Yuki ingin tidur lebih cepat. Hari-hari berat masih akan menantinya esok hari.
Namun saat Yuki mendongak. Menatap cermin di depannya. Gerakan tangannya langsung berhenti.
Dia menyadari ada sesuatu yang salah di dalam kamarnya.
Pangeran Riana duduk dengan tenang di sudut ruangan. Dia nyaris tidak bergerak sama sekali. Sehingga orang tidak menyadari Dia telah lama duduk di sana dan menunggu.
Di jarinya, ada rokok yang menyala.
Bagaimana Dia bisa ada di sini ?
Tanya Yuki dalam hati sambil memandang Pangeran Riana melalui pantulan bayangan yang ada di dalam cermin. Pangeran Riana menggerakan tangannya dan menghisap rokoknya. Asap mengepul di udara.
Sudah berapa lama Dia ada di sana ?. Kenapa tidak seorangpun menyadari keberadaannya.
Berbagai pertanyaan silih berganti menghantui Yuki. Tapi Dia tidak dapat mengatakan apapun. Mulutnya seakan terkunci rapat. Perlahan Dia meletakan sisirnya di meja dan berbalik untuk memandang Pangeran Riana secara langsung.
Pangeran Riana mematikan rokoknya dan berdiri dari duduknya. Berjalan mendekati Yuki dengan cepat. Yuki menahan diri untuk tidak berteriak atau membuat keributan yang menarik perhatian para penjaga di luar. Pangeran Riana menarik Yuki agar berdiri. Tangannya di cengkram dengan kuat.
"Sakit..lepaskan Aku !!" Bisik Yuki tegas. Yuki meronta berusaha membebaskan diri.
"Aku tidak melarangmu untuk berteriak atau memanggil bantuan Yuki"
Yuki menatap Pangeran Riana dengan kesal. "Kau sudah mendapatkan apa yang Kau mau. Kenapa Kau terus mengangguku"
"Siapa yang mengizinkanmu pergi dari sana ?" Kata Pangeran Riana dingin.
"Aku bukan pemuas nafsumu" kata Yuki geram.
__ADS_1