Morning Dew

Morning Dew
123


__ADS_3

"Kerajaan Garduete mengucapkan terimakasih atas hadiah indah yang diberikan kerajaan Aguerda. Sebentar lagi acara pengesahan akan di mulai. Silahkan Pangeran dan rombongan duduk di tempat yang telah di sediakan"  kata Raja Bardana tenang.


Seorang pelayan Garduete mendekati Pangeran Sera dan menuntun Pangeran Sera untuk duduk di mejanya. Pelayan yang lain menyajikan makanan untuknya. Pangeran Sera tidak terpengaruh dengan suasana tegang yang terjadi di dalam aula. Dia bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. Tetap tenang namun mawas. Pendeta Naru duduk mendampingi Pangeran Sera.


Gong di pukul kembali dengan ritme tertentu. Upacara pengesahan akan segera di mulai. Ibu Suri berdiri dari duduknya ketika dua orang pelayan datang mengapitnya sembari membawa nampan berisi mahkota kerajaan yang sangat indah, dan lambang kerajaan khusus untuk calon ratu Pangeran Riana.


"Sekarang lepaskan Aku, sebentar lagi calon ratumu akan datang. Aku tidak mau mendapat masalah karena hal ini" pinta Yuki sembari menggeser tubuhnya menjauh. Dia melepaskan cengkraman tangan Pangeran Riana di pinggangnya. Pangeran Riana tidak menjawab. Dia berdiri dan menarik pergelangan tangan Yuki untuk mengikutinya. Semua pandangan mata mengarah ke pintu yang terbuka. Dimana barisan pelayan Garduete, berdiri dua banjar dengan mengenakan pakaian cantik berbaris rapi di depan pintu. Pendeta Serfa berdiri di tengah barisan untuk memimpin penobatan.


Mereka memasuki aula di iringi suara musik gong yang di tabuh berulang-ulang. Yuki menjulurkan kepala, merasa penasaran dengan sosok wanita yang akan menjadi calon ratu bagi Pangeran Riana. Ketika rombongan Pendeta Serfa berdiri di depan mimbar. Yuki kebingungan karena tidak melihat wanita yang di cari. 


Pendeta Serfa setelah memberi hormat kepada Raja Bardana dan seluruh keluarga kerajaan yang hadir. Dia berdiri untuk berpidato mewakili kerajaan Garduete.


"Berkat restu dari Dewa Aiswara, Dewa penjaga Negeri Garduete. Pangeran Riana, Putra Raja Bardana dengan Ratu Elmira mendapatkan anugerah untuk melanjutkan pemerintahan negeri menggantikan Raja Bardana kelak. Sebagai bukti dari restu Dewa Aiswara, Telah di tunjuk seorang wanita yang akan mendampingi Pangeran Riana menjalankan pemerintahan dan melahirkan calon-calon perwaris kerajaan selanjutnya. Hari ini...di sini..kerajaan Garduete akan memperkenalkan dan mengesahkan status kerajaan kepada wanita yang di tunjuk oleh Dewa Aiswara. Sebagai perwakilan kerajaan Garduete Aku mengucapkan terimakasih kepada hadirin. Yang bersedia datang untuk menjadi saksi kebahagian Kami" ucap Pendeta Serfa lantang.


"Apa yang Kau inginkan sebenarnya ?" Bisik Yuki kesal ketika Pangeran Riana menariknya untuk mengikuti Pangeran Riana berjalan menuju singasana Raja Bardana. Baik Raja Bardana dan Ibu Suri telah berdiri dengan posisi siap. Yuki tidak berani melawan Pangeran Riana karena Ibu Suri telah memelototinya terlebih dahulu.


Yuki berdiri di belakang Pangeran Riana. Dia memilih untuk menyembunyikan diri. Bersiap jika Calon Ratu muncul. Pangeran Riana mengambil batu amara yang di berikan pelayan Garduete di atas nampan. Batu suci yang di anugerahi Dewa, hanya akan bersinar jika di pegang oleh perwaris tahtah kerajaan Garduete yang sah. Namun entah kenapa, Batu itu juga bersinar ketika di sentuh oleh Yuki. Batu Amara langsung bersinar di tangan Pangeran Riana. Warnanya biru es. Seperti warna mata Pangeran Riana. 


Setelah itu, tanpa di duga Pangeran Riana berbalik dan menarik Yuki maju ke depan. Dia memaksa Yuki untuk menggegam batu Amara di tangannya, dan mengangkat tangan Yuki yang memegang batu Amara tinggi-tinggi ke atas.

__ADS_1


Batu bersinar di tangan Yuki.


Yuki menatap Raja Bardana dan Pangeran Riana dengan sorot tidak mengerti. Selama ini Raja selalu memperingatkannya untuk tidak memberitahu siapapun mengenai kenyataan bahwa Yuki mampu membuat batu Amara bersinar. Tapi kenapa sekarang Mereka malah menunjukan ke hadapan orang banyak.


Gumanan terdengar setelah hening sesaat. Suaranya nyaris memenuhi seluruh isi aula. Yuki masih berdiri kebingungan. Menatap Raja Bardana dan Pangeran Riana dengan tatapan penuh tanda tanya.


Yuki semakin terkejut ketika seluruh menteri Garduete dan tamu undangan, kecuali Pangeran Sera dan rombongannya, menundukkan badan untuk memberi hormat. Ada kegembiraan di raut wajah Mereka semua. Hanya Pangeran Sera yang berbeda. Wajahnya terlihat tegang bercampur marah. Tidak ada lagi ketenangan di dalam dirinya. Pendeta Naru berbisik di dekat Pangeran Sera. Berusaha menenangkan Pangeran Sera agar tidak terbawa suasana.


"Ada apa ini ?" Bisik Yuki pada Pangeran Riana kebingungan. 


Pangeran Riana memegang bahu Yuki. Memposisikan Yuki tepat di depannya. Matanya tampak puas. "Selamat Putri Yuki, kKau adalah calon ratu yang di pilih Dewa Aiswara untuk mendampingiku kelak. Sekarang kedudukanmu sudah sah di mata hukum dan dunia" 


Calon ratu ? Aku ? 


Yuki nyaris tidak mempercayai ucapan Pangeran Riana ketika seruang kegembiraan terdengar silih berganti. "Selamat Pangeran Riana, Selamat Putri Yuki. Terimakasih dewa atas anugerahmu kepada negeri ini"


Sebuah mahkota yang sangat indah di letakan di kepala Yuki, begitu juga dengan jubah kerajaan di sampirkan di bahunya. Yuki mengerjap, Dia masih tampak lilung dengan kabar berita yang baru saja Dia dengar.


Pangeran Riana tiba-tiba membalikan badan Yuki untuk menghadapnya. Dia langsung menunduk, mencium bibir Yuki. Yuki langsung tersadar. Dia berusaha melepaskan ciuman Pangeran Riana. Sementara sorak-sorak dan gemuruh tepuk tangan terdengar membahana di udara.

__ADS_1


Ketika akhirnya Yuki berhasil melepadkan diri. Dia melihat Pangeran Sera sudah tidak ada lagi di tempatnya. Dia sudah pergi.


Yuki tidak bisa berbuat banyak. Dia juga tidak berani memberi perlawanan karena Pangeran Riana telah mengancamnya. Jadi Yuki terpaksa menuruti keinginan Pangeran Riana. Dia mengikuti upacara pengesahan calon ratu dan menerima perhiasan tanda Dia sekarang sudah masuk dalam keluarga kerajaan.


Usai pengesahan selesai. Yuki langsung meminta izin kepada Raja Bardana dan Ibu Suri untuk kembali ke istana Pangeran Riana. Emosinya sudah naik di atas ubun-ubun. Yuki nyaris meledak karena amarah.


Pangeran Riana dan Pendeta Serfa mengantarkan Yuki pulang. Yuki sama sekali tidak berbicara sepanjang perjalanan. Dia diam seribu bahasa. Ketika sampai di istana Pangeran Riana, baik Pendeta Serfa maupun Pangeran Riana mengikutinya kembali ke kamar dengan tenang.


Mereka sampai di ruang kerja Pangeran Riana. Yuki langsung melepaskan mahkota di kepalanya dan meletakan dengan kasar ke atas meja. Kemudian Dia berbalik. Menatap Pangeran Riana dan Pendeta Serfa sambil menahan emosi yang berkecamuk di dada.


"Adakah seseorang yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku ?" pinta Yuki langsung pada keduanya.


Pangeran Riana duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Dia tampak tenang. Kemudian Pangeran Riana mulai bercerita.


Yuki adalah gadis yang selama ini di cari oleh Mereka. Dia adalah gadis yang dipilih oleh Dewa Aiswara untuk mendampingi Pangeran Riana. Calon Ratu kerajaan Garduete selanjutnya.


Selain Pangeran perwaris tahtah, batu amara akan bersinar jika di sentuh oleh gadis yang dipilih dewa untuk menjadi pendamping Pangeran. Begitulah cara Mereka menguji setiap gadis. Dengan menyentuhkan batu amara ke kulit Mereka.


Sekarang menjadi jelas bagi Yuki, kenapa tiba-tiba saja Pangeran Riana mendekatinya dan memaksa Yuki untuk menjadi kekasihnya. Sikap Mereka berubah ketika Yuki menunjukan batu amara yang bersinar di tangannya, ketika Mereka sedang makan malam bersama di istana Raja.

__ADS_1


Yuki terlalu bodoh tidak memikirkan sebelumnya. Dia juga tidak bertanya kepada Rena bagaimana sebenarnya Kerajaan Garduete mengetahui calon ratu Mereka.


__ADS_2