Morning Dew

Morning Dew
201


__ADS_3

"Jadi apa rencanamu Pangeran ?" Tanya Yuki kembali ke tujuan awal Pangeran Arana memanggilnya.


"Aku akan ke Rasyamsah. Kakak dan Ayah tidak akan setuju. Karena jika Kakak maju untuk bertempur di medan perang, Aku harus di istana untuk melindungi Ayah jika terjadi pemberontakan yang memanfaatkan pertempuran nanti. Tapi Magitha adalah adikku. Kami tumbuh dalam rahim yang sama. Ikatan Kami lebih kuat dari siapapun"


"Pangeran akan ke Rasyamsah membawa pasukan ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


Pangeran Arana menggelengkan kepala. "Tidak, terlalu mencolok jika Aku membawa terlalu banyak orang. Karena Aku berencana menyusup ke sana. Aku akan pergi hanya dengan membawa tiga prajurit kepercayaanku"


Yuki merasa rencana Pangeran Arana sangat beresiko. Pangeran Arana pernah tinggal di Rasyamsah dalam waktu yang cukup lama. Dia akan sangat mudah di kenali di sana.


"Kalau begitu Aku akan ikut" Kata Yuki datar.


Pangeran Arana nyaris berdiri saking terkejutnya. 


"Kenapa...bukankah Pangeran Arana mengajakku bicara untuk masalah ini" 


"Apa...tidak bisa. Kakak bisa marah dan membunuhku jika Putri ikut" tolak Pangeran Arana dengan wajah pucat.


Yuki mengerjap beberapa saat. Dia mencondongkan badannya ke depan. "Memang siapa orang bodoh yang mau memberitahu Pangeran Sera ?" Tanya Yuki perlahan. "Pangeran akan pergi diam-diam, tentu saja Aku juga akan ikut pergi diam-diam. Kita tidak akan memberitahukan masalah ini pada Pangeran Sera sampai kita cukup jauh dari istana"


Pangeran Arana mengulurkan tangannya. Menempelkan pada dahi Yuki untuk memeriksa kondisi Yuki.


"Apa yang Pangeran lakukan ?"


"Aku hanya khawatir Putri sedang tidak normal saat berbicara sekarang"


Yuki mendengus marah. Dia menepis tangan Pangeran Arana dari dahinya.


"Akuilah, Pangeran sebenarnya juga ingin mengajakku bukan. Tapi meski Pangeran tidak membawaku, Aku juga pasti akan menyusul Pangeran bagaimanapun caranya" ujar Yuki lagi. "Putri Magitha dan Ratu Warda sudah sangat baik padaku selama ini. Jadi Aku pikir ini saat yang tepat untuk membalas budi Mereka"


"Kakak tidak akan suka ini"


"Ya, Pangeran Sera akan marah pada Kita. Tapi, jika Kita bisa membuktikan padanya Kita mampu dan berhasil kembali dengan membawa Ratu Warda dan Putri Magitha. Pangerann Sera pasti akan memaafkan perbuatan Kita" bujuk Yuki optimis.


Pangeran Arana terdiam sebentar. Kemudian Dia memandang Yuki menyerah. "Tapi, jangan berpakaian seperti itu" ujar Pangeran Arana pada Yuki.


"Tidak masalah, kapan Kita akan berangkat"


"Jika Putri siap, Kita bisa berangkat sekarang. Kakak sedang tidak ada di istana dan semua orang sedang sibuk mempersiapkan pertempuran. Hanya ini kesempatan Kita untuk bisa keluar diam-diam dari istana"


"Bukan masalah. Aku akan bersiap ssbentar"

__ADS_1


 


 


Yuki menatap lurus ke depan. Mengendarai kuda diiringi Pangeran Arana di sampingnya. Keduanya masuk ke dalam hutan agar tidak terlihat.


Yuki mengenakan pakaian pelayan yang di siapkan Pangeran Arana. Sementara Pangeran Arana mengenakan pakaian prajurit kerajaan Argueda, seperti tiga prajurit kepercayaannya yang mengikuti di belakang.


Tidak ada yang mengenali Pangeran Arana untuk sementara.


Mereka berhasil menyusup ke luar istana Pangeran Riana. Yuki melepaskan semua perhiasannya. Menggelung rambutnya ke atas. Siap melakukan perjalanan panjang menuju Rasyamsah.


Tanpa keraguan. Mereka terus melaju. Derap langkah kuda Mereka terdengar bergema di dalam hutan.


 


Pangeran Sera baru saja kembali dari istana dan menemukan para pelayan berlari ke sana kemari dengan wajah cemas. Membuatnya mengerti sesuatu telah terjadi. Dengan cepat Pangeran Sera turun dari kuda dan menghampiri Ibu Tania yang menunggu di depan pintu masuk istana.


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Sera kepada Ibu Tania.


Ibu Tania tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan selembar kertas yang di lipat rapi kepada Pangeran Sera.


Pangeran Sera, Aku pergi ke Rasyamsah bersama Pangeran Arana untuk menyelamatkan Ratu Warda dan Putri Magitha. Maaf, Aku tidak bisa mengatakan masalah ini sebelumnya pada Pangeran. Aku akan segera kembali.


 


 


Sepanjang perjalanan, Yuki membayangkan bagaimana Pangeran Sera ketika membaca surat Yuki. Dia pasti sangat marah.


Yuki kasihan pada para penjaga dan pelayan di istana. Mereka pasti di marahi habis-habisan oleh Pangeran Sera.


"Bagaimana bisa Kalian kecolongan seperti ini. Jika terjadi sesuatu pada Yuki dan Arana. Apa Kalian mau bertanggung jawab ?. Cepat kejar Mereka" begitulah kira-kira yang akan di ucapkan Pangeran Sera.


Tapi Yuki berpikir lagi. Bisa jadi malah Pangeran Sera sendiri yang mengejar Mereka. Yuki menjadi cemas. Dia tidak boleh tertangkap oleh Pangeran Sera sebelum berhasil menyelamatkan Putri Magitha dan Ratu Warda.


Jika sampai tertangkap, Yuki kasihan pada Pangeran Arana. Dia pasti akan jadi sasaran objek kemarahan Pangeran Sera. Yuki merasa, Pangeran Arana sangat takut pada Pangeran Sera.


 


 

__ADS_1


"Kita beristirahat dulu di sini" Kata Pangeran Arana. Sudah lebih dari tiga minggu lamanya, Yuki dan Pangeran Arana melakukan perjalanan menuju Negeri Rasyamsah. Yuki tidak tahu pasti tepatnya berapa hari Mereka sudah berjalan. Perhitungan waktunya kacau karena Mereka siang malam terus bergerak. 


Memburu waktu sekaligus menghindari kejaran pasukan Pangeran Sera.


Hawa pengap terasa meskipun Mereka berada di dalam hutan yang rimbun, menurut Pangeran Arana hawa pengap ini berasal dari Negeri Rasyamsah yang terbawa angin sampai ke hutan tempat Mereka berada.


Yuki turun dari kuda. Mengikatnya di batang pohon terdekat. Rasanya semua persendiannya seperti akan terlepas. Yuki bersandar di batang pohon. Duduk meluruskan kaki. Sementara pengawal yang bernama Tabi menumpuk kayu kering di sekitarnya untuk membuat api. 


"Di sana ada sebuah sungai jika Putri ingin membersihkan diri" tunjuk Pangeran Arana pada sebuah jalan kecil di depan Yuki.


Yuki menganggukan kepala senang. Wajahnya seolah di lapisi debu. Yuki ingin sekedar mencuci muka dan membersihkan diri sedikit. Tanpa menunggu lama Yuki langsung bangun, dengan sisa tenaga yang Dia punya. Berjalan menuju sungai yang di maksud Pangeran Arana.


Sungai itu dekat dengan tempat Mereka beristirahat.


Suara gemericik air yang terdengar, memudahkan Yuki untuk menemukan letak sungainya. Setelah memastikan sekelilingnya aman. Yuki berjongkok untuk membasuh wajahnya. 


Dia tidak berniat mandi meski segarnya air mengundang Yuki untuk menceburkan diri ke dalamnya. Dia tidak mau lagi pengalaman buruk saat tenggelam di danau tengah hutan, di tengah perjalanan ketika Pangeran Sera untuk pertama kali membawanya menuju Argueda terulang kembali. Jadi setelah membasuh wajahnya, Yuki melanjutkan dengan mencuci leher, ketiak dan tangannya. Kemudian lanjut mencuci kaki.


Ketika Yuki sedang menunduk membilas kakinya. Terdengar suara desiran di belakang Yuki. Ketika berbalik, Yuki mendapati bayangan hitam berdiri tegak di depannya.


Seekor ular yang cukup besar menatap Yuki, siap untuk memakan Yuki hidup-hidup.


Sontak, Yuki merasa lemas. Dia paling takut dengan ular. Apalagi ular sebesar tubuh pria dewasa. Ular itu semakin menegakkan badannya. Memandang Yuki sebagai makanannya. 


Seluruh tubuh Yuki terasa lumpuh tidak berdaya. Tatapannya terpaku pada ular di depannya. Ular itu sudah setinggi dua meter. Yuki tercekat. Tenggorokannya terasa kering. Dia tidak menemukan seorangpun di sekitarnya.


Ular itu melengkungkan tubuhnya dengan cepat sambil membuka mulutnya lebar ke arah Yuki. 


Sebuah teriakan yang berasal dari tenggorokan Yuki terdengar di sepanjang hutan. Yuki memejamkan mata. Bersiap. Dia akan mati.


Bbbrrraaakkk !!!


Sebuah hantaman cukup keras terdengar di depan Yuki. Yuki meloncat kaget kebelakang. Dia nyaris saja terpeleset jatuh ke sungai. 


Ketika membuka mata. Yuki menemukan ular yang akan menyerangnya, sedang menggelempar kesakitan di depan Yuki. Di mata kirinya tertancap panah yang menembus ke mata kanannya.


 


 


               

__ADS_1


 


__ADS_2