Morning Dew

Morning Dew
222


__ADS_3

Jika sampai terjadi sesuatu pada Pangeran Riana, Yuki tidak akan memaafkan dirinya. 


Kenapa Mereka selalu seperti ini. Dekat tapi selalu terpisah. Seolah takdir sedang mempermainkan Mereka dengan kejam.


Malam semakin larut. Yuki mengusap lembut rambut Pangeran Riana. Dia mulai berpikir untuk memapah Pangeran Riana keluar meninggalkan gua untuk mencari pertolongan. Tapi bagaimana jika Mereka malah bertemu dengan Pasukan Pangeran Sera. Apa yang akan di lakukan Pangeran Sera jika Dia sampai menemukan Pangeran Riana sekarang ?.


Yuki percaya Pangeran Sera tidak akan main-main dengan ucapannya. Dengan kekuasaan yang di miliki Argueda sekarang, Dia bisa membunuh Pangeran Riana dan menghancurkan Garduete dalam sekejap.


Yuki tidak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi.


 


Terdengar suara ranting diinjak. Yuki yang sempat ketiduran langsung menegakan bahunya. Memandang ke depan dengan sikap waspada. Dia langsung terjaga dari tidurnya. Melihat sekeliling dengan panik.


Pangeran Riana masih belum sadar di pangkuan Yuki. Sementara itu di luar sana terdengar ringkikkan suara kuda dan suara orang yang bercakap-cakap.


Prajurit Pangeran Sera.


Yuki sangat yakin itu. Ternyata Mereka masih belum menyerah mencari Yuki dan Pangeran Riana di dalam hutan.


Yuki beringsut meletakan kepala Pangeran Riana dengan hati-hati ke atas tanah. Kondisi Pangeran Riana semakin parah. Dia tidak mungkin menunggu sampai para prajurit pergi meninggalkan Mereka.


Saat Yuki sedang memikirkan langkah apa yang akan di ambil. Pangeran Riana tiba-tiba terbatuk dengan keras. Suaranya bergema di dalam gua. Seketika suara di luar sunyi. 


Mereka telah ketahuan.


Terdengar langkah kaki yang mendekat. Yuki segera menyambar ranting kayu di dekatnya untuk di gunakan sebagai senjata. Dia berdiri dengan sikap waspada di depan Pangeran Riana yang masih terbaring tanpa daya di atas alas daun yang di buat Yuki.


Para Prajurit Kerajaan Argueda masuk dengan persenjataan lengkap. Seolah sedang mencari seorang penjahat kelas kakap. Mereka berdiri menutupi pintu gua. Dalam sekejap Gua menjadi lebih terang karena obor yang Mereka bawa.


"Yuki.." Pangeran Sera menyeruak masuk dari belakang barisan. Ada perasaan lega yang terpancar dalam dirinya ketika melihat Yuki yang berdiri di depannya.


Yuki memegang kuat ranting di tangannya. Masih tergiang jelas percakapan Pangeran Sera dan Putri Marsha yang di dengar Yuki.

__ADS_1


"Yuki kemarilah.." Pangeran Sera mengulurkan tangannya pada Yuki. Namun Yuki tidak bergeming. Rahangnya terkatup rapat. 


Yuki bergerak mundur ketika Pangeran Sera mencoba mendekatinya. Dia mengayunkan ranting di tangannya menolak kedatangan Pangeran Sera. "Yuki..." Panggil Pangeran Sera merasa frustasi.


Pangeran Riana kembali terbatuk keras. Membuat Yuki berpaling dan memandang Pangeran Riana cemas 


"Yuki...ikutlah denganku"


"Tidakk !!" Tolak Yuki keras. 


Dia menepis tangan Pangeran Sera yang mencoba menyentuhnya. Air mata Yuki kembali tumpah. Dia menangis terisak. Bahunya bergetar.


"Semua keluar" perintah Pangeran Sera tegas ketika melihat Yuki menangis di depannya.


Para Prajurit langsung mematuhi perintah. Tanpa banyak bertanya Mereka berbaris rapi meninggalkan Gua. Sekarang hanya ada Yuki, Pangeran Riana dan Pangeran Sera di dalam gua.


"Dia sedang sekarat, Jika terus membiarkannya di sini dan tidak mendapat pertolongan yang tepat. Dia akan mati" Kata Pangeran Sera acuh.


"Panah itu beracun bukan ?" Tanya Yuki sambil menatap Pangeran Sera dengan sorot menuntut.


Pangeran Riana terbatuk kembali.


Yuki terdiam. Perkataan Pangeran Sera benar. Jika Dia membiarkan Pangeran Riana tetap berada di tempat ini, bertahan dengan keegoisan Yuki. Pangeran Riana akan mati. Dia tidak boleh membiarkan Pangeran Riana mati seperti ini. Tidak.


 Yuki mengepalkan kedua tangannya kuat. Sementara itu Pangeran Riana kembali terbatuk. Wajahnya pucat dengan nafas yang lemah.


"Jika Aku ikut denganmu, apakah Kau bisa berjanji untuk menyelamatkannya ?" Tanya Yuki lirih sembari menatap mata Pangeran Sera dalam untuk menilai keseriusan Pangeran Sera. "Jika Aku menuruti keinginanmu, Apakah Kau bisa menjamin Dia dapat kembali dengan selamat ke negaranya ?"


"Ya, Aku berjanji" 


Yuki menahan nafas sesaat. Kemudian Dia kembali berkata setelah terdiam beberapa saat "Jika memang begitu, tolong selamatkan Dia dan biarkan Dia kembali ke Garduete. Sebagai gantinya Aku akan ikut denganmu"


Pangeran Sera memandang Yuki sejenak.

__ADS_1


"Aku mohon..." Bisik Yuki lagi ketika melihat Pangeran Sera tampak terdiam berpikir.


Pangeran Sera berbalik ke belakang. "Prajurit" panggilnya kencang. Seorang kepala prajurit masuk ke dalam.


"Siapkan tandu dan bawa Pangeran Riana ke balai pengobatan Tabib Zein" 


Prajurit itu langsung keluar untuk menjalankan perintah. Tak berapa lama sebuah tandu di bawa masuk. Tubuh Pangeran Riana di angkat ke atas tandu. Diikat agar tidak jatuh. Empat orang prajurit memikulnya di bahu.


Yuki langsung mengikuti di belakang tandu Pangeran Riana. Menolak berjauhan. Yuki takut jika Pangeran Sera berubah pikiran sewaktu-waktu dan melukai Pangeran Riana. Sementara itu Pangeran Sera berada didekat Yuki. Memegang tangan Yuki kuat. Seolah memperingatkan Yuki akan perjanjian yang telah Mereka buat.


Sesampainya di jalan hutan, tubuh Pangeran Riana langsung di pindah di atas gerobak tanpa penutup. Dia di perlakukan sebagai seorang tawanan yang tidak berharga. Yuki berjalan melewati Pangeran Sera, menolak uluran tangannya yang mengajak Yuki untuk naik kuda bersamanya. Yuki mrngacuhkan Pangeran Sera dan memilih berjalan kaki di samping gerobak Pangeran Riana. Yuki mengusap kening Pangeran Riana dengan sapu tangan yang telah di basahi air. Mengompres dahinya agar suhu tubuhnya tidak semakin naik. Dia menggunakan mantelnya untuk melindungi terik matahari yang menerpa Pangeran Riana secara langsung.


Selama perjalanan, Sesekali Yuki akan mengecek suhu tubuh Pangeran Riana dan memastikan Pangeran Riana masih bernafas. Yuki hanya bisa berharap Pangeran Riana mampu bertahan dan dapat kembali ke Garduete dengan selamat.


 


Hampir dua jam Mereka berjalan. Hingga akhirnya Mereka tiba di sebuah gubuk sederhana yang terletak di tepi hutan. Yuki memandang Pangeran Sera dengan ragu. Bukankah Pangeran Sera akan membawa Pangeran Riana ke balai pengobatan. 


Tapi belum sempat Yuki bertanya, seorang Pria tua yang baru saja datang dengan membawa keranjang berisi tanaman herbal yang di dapatnya dari gunung datang. Dia tampak terkejut ketika melihat rombongan Pangeran Sera berada di depan rumahnya. Bergegas Dia mendekat untuk memberi salam.


"Hamba Tabib Zein datang memberi hormat kepada Pangeran Sera, Pangeran perwaris tahtah kerajaan Argueda" ujar Tabib Zein sambil membungkuk di depan Pangeran Sera.


"Di sana ada Pangeran dari Negeri Garduete yang terluka. Apa Kau bisa menanganinya ?" Tanya Pangeran Sera langsung.


Tabin Zein terkejut ketika mendengar perkataan Pangeran Sera. Dia langsung berjalan mendekati gerobak tempat Pangeran Riana di baringkan. "Astaga....cepat bawa Dia ke dalam" Kata Tabib Zein segera ketika melihat kondisi Pangeran Riana dengan panik.


Dua orang prajurit membantu memapah Pangeran Riana. Yuki menyeruak masuk mengikuti ke dalam rumah Tabib Zein. Tapi Pangeran Sera mencekal tangan Yuki.


"Kita tunggu di sini" ujarnya tenang namun tidak ingin di bantah. Yuki akhirnya mundur dan memilih menurut. Dia duduk di bangku panjang yang ada di teras. Sementara di dalam Tabib zein mulai memeriksa kondisi Pangeran Riana dan memberikan pertolongan sebelum terlambat.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2