
"Nadira cukup !!" Perintah Raja Jafar keras, menghentikan pertingkaian yang terjadi. Membuat seluruh hadirin terdiam.
"Mohon maaf Yang Mulia, Putri Yuki memiliki instuisi yang tajam seperti ibunya, Putri Ransah. Bukankah karena memutuskan memercayai Putri Ransah, Ratu Warda dan Putra Mahkota dapat selamat dari marabahaya" ucap Pendeta Naru yang berdiri di samping Yuki. Sebagian hadirin kembali menganggukan kepala, menyetujui pernyataan Pendeta Naru.
"Ayah, ada baiknya Kita dengarkan dulu apa yang ingin di katakan Putri Yuki baru kemudian Kita bisa memutuskan apakah akan memercayai ucapan Putri Yuki atau tidak" Pangeran Arana yang sembari tadi diam ikut memberikan pendapat kepada Raja Jafar.
Raja Jafar menganggukan kepala menyetujui. Dia kemudian kembali memandang Yuki. "Lanjutkan Putriku" perintah Raja Jafar tenang.
"Di dalam mimpi, Hamba melihat Putri Magitha dan Ratu Warda berada di sebuah kamar yang terletak di sebuah menara yang cukup tinggi dalam salah satu bangunan istana. Putri Magitha mengatakan kepada Hamba bahwa Mereka di culik dan di tawan oleh Raja Trandem dari Negeri Rasyamsah ketika dalam perjalanan kembali menuju Istana Kerajaan"
"Apa Magitha juga mengatakan, tujuan Raja Trandem melakukan itu semua ?" Tanya Raja Jafar lagi.
Yuki menatap Pangeran Sera. Meminta dukungan. Pangeran Sera menggengam tangan Yuki erat. Seolah menyampaikan kepada Yuki bahwa semua akan baik-baik saja. Yuki mengangggukan kepala ragu, menjawab pertanyaan Raja Jafar.
"Selain ingin menggunakan Putri Magitha dan Ratu Warda untuk mengambil keuntungan dari Argueda, Dia juga ingin mengambil Putri Magitha sebagai salah satu selir yang bisa menghasilkan keturunan untuknya"
"Ayah, Apakah Ayah akan mempercayai semua ini begitu saja ?" Ujar Putri Nadira geram. "Perkataan Putri Yuki cukup berbahaya, dan bisa membuat Kedua negeri berperang"
"Putri Yuki, apakah Kau bisa melihat sekelilingmu dengan baik di dalam mimpi itu ?" Tanya Pangeran Arana mengabaikan Putri Nadira.
Yuki menganggukan kepala lagi.
"Apa Kau bisa menceritakan padaku secara lebih spesifik apa saja yang Kau lihat dalam mimpimu"
Yuki menatap Pangeran Sera. Pangeran Sera kemudian berkata dengan tenang. "Ceritakan saja apa yang Kau ketahui Yuki. Arana sebelum ini dekat dengan Raja Terdahulu, Dia tumbuh dan besar di Rasyamsah. Arana sudah lebih dari sepuluh tahun berada di istana Kerajaan Rasyamsah, dan sudah pasti Dia sangat mengetahui setiap sudut dari ruangan yang ada di dalam istananya"
__ADS_1
"Aku berada di sebuah kamar yang berada di atas menara yang cukup tinggi, kamarnya sangat kecil dengan kamar mandi tanpa pintu di dalamnya. Ada tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang dengan meja kayu kecil di dekatnya, seperti sebuah penjara. Sebuah pintu baja yang cukup tebal berada di sana, jika melihat dari warnanya dengan sekitar, pintu itu baru saja di pasang belum lama sebelum Putri Magitha di tawan di dalamnya" jelas Yuki lirih, Karena Pangeran Arana diam mendengarkan dengan wajah serius. Yuki kembali meneruskan ceritanya. "Di dalam kamar itu ada sebuah jendela kecil dengan jeruji besi. Dari jendela itu Aku melihat sebuah sungai yang meliuk di bawah istana. Ada sebuah patung seorang wanita setinggi tiga meter, sedang menuangkan air di tengah sungai. Patung itu menghadap ke arah menara"
"Menara barat. Aku tidak mungkin salah" ucap Pangeran Arana yakin.
"Kalian mempercayai ucapan yang tidak berdasar seperti itu ?" Tanya Putri Nadira sinis.
Yuki tidak menyangka kebencian Putri Nadira terhadapnya begitu besar. Putri Nadira memandang Yuki dengan tatapan jijik. Seolah Yuki barang busuk yang harus segera di singkirkan dari hadapannya.
Terdengar suara gong di pukul dengan nyaring. Serentak perhatian seluruh orang berpusat pada pintu. Seorang Prajurit masuk ke dalam aula dengan langkah tergesa-gesa, menghentikan pertingkaian.
"Hormat Kepada Yang Mulia Raja Jafar dan Pangeran Sera"
"Ada apa ?" Tanya Pangeran Sera langsung.
"Utusan sudah mendapatkan informasi yang telah di perintahkan Pangeran" jawab Prajurit itu dengan hormat.
"Baik"
Prajurit membungkukan badan hormat, kemudian berbalik pergi dengan cepat. Tidak berapa lama Dia masuk kembali bersama dengan dua orang utusan Pangeran Sera.
Setelah memberi hormat dengan sikap takjim. Seorang Utusan melangkah maju memberikan amplop kertas dengan segel kerajaan. Tertutup rapat. Kepada Prajurit penjaga yang kemudian meneruskannya kepada Raja Jafar.
Setelah memberikan amplop pada Raja, Utusan itu baru memberikan amplop yang lain kepada Pangeran Sera secara langsung.
"Yang Mulia Raja, Pangeran, Kami telah menghubungi prajurit penjaga yang berada di wilayah istana kerajaan Rasyamsah.Mereka telah menyelidiki dan mengirimkan hasil penyelidikan Mereka"
__ADS_1
Pangeran Sera menyobek amplop di tangannya sementara Utusan terus berbicara.
"Dari informasi yang dapat di percaya, Putri Magitha dan Ratu Warda saat ini berada dalam tawanan Raja Trandem di istananya"
Suara gemuruh terdengar membahana. Putri Nadira mencibir. Tampak tidak puas. Tapi Dia tidak lagi berkomentar, Karena Raja Jafar sudah memegang bukti kebenaran ucapan Yuki. Selembar foto yang di ambil diam-diam. Tampaknya Mereka berhasil menyuap pelayan untuk mengambil gambar Putri Magitha dan Ratu Warda. Di dalam foto itu, terlihat jelas wajah Putri Magitha dan Ratu Warda yang duduk berdampingan di atas tempat tidur kecil, dengan kaki terikat rantai. Wajah Ratu tampak sangat pucat, berat badannya menurun dratis. Sementara Putri Magitha menatap ke depan denganntatapan kosong. Mereka di tawan dalam sebuah kamar yang berada di menara. Tepat seperti yang Yuki jabarkan sebelumnya.
"Kurang ajar Trandem, Dia ingin bermain-main denganku" Raja Jafar mengebrak meja keras dengan marahnya. Dia berdiri. Wajahnya memerah karena emosi. "Sudah Kita perang saja, Siapkan pasukan"
Pangeran Arana membungkuk ke lantai untuk mengambil foto yang jatuh dari tangan Raja Jafar. Dia terdiam kemudian ketika melihat gambar Ibu dan adik kembarnya yang begitu menyedihkan. Wajahnya mengeras melihat pemandangan di dalam foto.
"Aku akan memenggal kepalanya dan menyeretnya ke jalanan, agar Dia tahu dengan siapa Dia bermain api" ucap Raja Jafar lagi geram.
Yuki melirik pada foto yang di pegang Pangeran Sera. Hatinya sakit ketika melihat keadaan Putri Magitha dan Ratu Warda. Tapi Yuki merasa bersyukur, Dia belum terlambat untuk menyelamatkan Mereka.
"Ayah tenanglah" pinta Pangeran Sera mencoba menenangkan kemarahan Raja Jafar,
"Sera Apa Kau tidak marah Ibu dan Adikmu diperlakukan seperti itu ?" Tanya Raja Jafar masih dengan emosi yang meluap.
"Bukan begitu Ayah, Aku pasti akan membunuh Trandem denganntanganku sendiri, Jika Dia sampai berani menyentuh Magitha meskipun hanya seujung rambutnya. Tapi Ayah, pikirkanlah, Jika sekarang Kita menyerang Mereka tanpa ada persiapan yang matang. Aku khawatir justru malah akan membahayakan nyawa Ibu dan Magitha. Niat Trandem sudah tidak baik, terbukti sampai sekarang, Rasyamsah tidak mengajukan tuntutan apapun kepada Argueda. Pasti Mereka sudah membuat rencana yang licik jika Kita menyerang Mereka membabi buta"
Raja Jafar terdiam. Mencerna ucapan Pangeran Sera. Emosinya sudah mereda ketika Dia memikirkan semuanya dengan tenang.
"Kau benar" Kata Raja Jafar akhirnya.
Raja Jafar mendongak. Memandang utusan Pangeran Sera yang masih menunggu. "Teruskan penyelidikan dan laporkan setiap hasil nya padaku"
__ADS_1
"Baik Yang Mulia".