
Saat Radolft mendarat ke tanah. Pintu depan rumah terbuka dengan keras. Ferlay berlari keluar tanpa alas kaki. Menghampiri Yuki dengan cepat dengan kakinya yang kecil.
Wajahnya berbinar senang dengan semburat rona merah di pipinya yang bulat.
"Mamaaa..." Panggil Ferlay senang. Senyumnya lebar membuat Yuki selalu merindukan Ferlay apalagi jika Dia melihat anak kecil seumuran dengan Ferlay.
Yuki merentangkan tangan lebar dan menyambut Ferlay yang meloncat riang ke pelukannya. "Akhirnya Mama pulang, Aku kangen sama Mama"
"Mama juga sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu ?. Apa Kau sehat ?"
"Ya Mama"
Yuki menciumi pipi Ferlay. Seolah dengan menghirup aroma Ferlay membuat rasa lelah yang di rasakan hilang dari tubuhnya.
"Mama ?" Tanya Bangsawan Voldermont sambil menaikan sebelah alisnya pada Yuki. Menuntut jawaban Yuki.
"Dia anakku" Kata Yuki cepat.
Secara spesifik Ferlay sangat mirip dengan Yuki. Rambutnya dan matanya berwarna coklat tanah seperti Yuki. Banyak orang yang mengira Yuki adalah Ibu Ferlay. Yuki sengaja meminta Ferlay memanggilnya Mama. Yuki berharap Dia bisa menggantikan kekosongan yang ada di dalam hati Ferlay akibat kematian Ibunya.
George, Kepala Rumah Tangga Lekky Darmount berjalan dengan langkah tegap. Menghampiri Yuki. Dia membungkuk untuk memberi hormat pada Yuki dan yang lainnya.
"Nona, Anda sudah tiba, Saya sudah menyiapkan kamar untuk para tamu"
"Terimakasih, apakah Lekky belum datang ?"
"Tuan Lekky hanya berpesan agar menunggu sampai Dia datang"
Pelayan Pria datang membantu menurunkan barang dan mengambil Coracal untuk di bawa ke kandangnya. Pangeran Riana mengusap pipi Radolft pelan, matanya lurus memandang Radolft. Seperti sedang berkomunikasi dengannya, terdengar dengkuran halus dari tubuh Radolft. Seperti seekor kucing.
"Kami sudah menyiapkan makan dan kandang untuk Naga Pangeran" Kata George lagi.
Pangeran Riana kembali berkomunikasi dengan Radolft. Radolft dengan patuh mengikuti seorang pelayan yang akan memandunya menuju tempat peristirahatannya.
Setelah itu, George berjalan di samping Yuki yang sedang menggendong Ferlay. George sudah mencegah Ferlay saat Dia mengulurkan tangan untuk meminta Yuki menggendongnya. Yuki sedang hamil. Tapi Yuki meyakinkan George bahwa Dia baik-baik saja. Semuanya berjalan masuk ke dalam bangunan rumah.
Saat Yuki masuk tercium aroma kue yang menyebar ke ruangan.
__ADS_1
"Nenek Marple sedang membuat Pie" jelas George.
Tak lama, Nenek Marple keluar sambil mendorong kereta besi berisi kue dan teh yang di susun di atas nampan.
Dia tampak jauh lebih sehat daripada terakhir Yuki melihatnya. Lekky mengurusnya dengan baik.
"Hamba sudah menyiapkan makanan untuk Pangeran dan yang lainnya. Apa Pangeran dan Tuan Bangsawan ingin beristirahat dan mandi terlebih dahulu atau langsung makan ?" Tawar Nenek Marple dengan sopan.
"Ferlay, Ayo beri salam dengan teman-teman Mama" kata Yuki lembut sambil menurunkan Ferlay dari gendongannya. Dia duduk di sofa dan segera menggigit Pie Apel yang di suguhkan Nenek Marple di meja. Teh hangat dan Pie membuatnya jauh lebih fokus dari sebelumnya.
Ferlay menundukkan kepala hormat dengan gaya khas anak kecil.
"Aku akan mandi dulu" kata Yuki setelah Dia cukup nyaman.
"Mama Aku juga belum mandi" kata Ferlay merajuk.
"Benarkah ?!"
"Bisakah Kita mandi bersama Mama"
"Boleh...Ayuk ikut Mama ke kamar. Mama ingin mendengar bagaimana sekolahmu"
Yuki menggandeng Ferlay. Naik ke lantai dua dan menyerahkan sisanya pada Nenek Marple dan George.
"Bagaimana kalau Aku memandikanmu juga ?" Tanya Pangeran Riana.
"Jangan mendekatiku. Aku tidak butuh Pria sepertimu" kata Bangsawan Voldermont penuh ancaman.
Yuki memutuskan untuk makan malam di kamar Ferlay sembari menemani Ferlay belajar. Dia sangat bangga dengan prestasi Ferlay yang pintar dan cepat memahami apa yang di ajarkan kepadanya.
Setelah Mereka makan malam, Yuki membantu Ferlay berganti baju dan menidurkan Ferlay dengan menceritakan sebuah dongeng untuknya. Dia juga menjawab beberapa pertanyaan Ferlay mengenai hal-hal menarik selama Yuki berada di Garduete.
Di luar petir menyambar. Hujan turun cukup deras. Badai datang tanpa di duga. Yuki menyembunyikan kecemasannya saat tahu Lekky belum juga datang meskipun hari sudah malam.
Setelah memastikan Ferlay tidur. Yuki mematikan lampu dan berjingkat keluar kamar. Namun, betapa terkejutnya Yuki ketika mendapati Pangeran Riana sudah berdiri di depan kamar. Dia sudah ada di sana cukup lama. Hanya diam memandang Yuki dan Ferlay dari kejauhan.
__ADS_1
"Ada apa ?" Tanya Yuki pelan agar tidak membangunkan Ferlay.
"Aku sedang bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana rasanya memiliki seorang Ibu ?. Apakah Dia akan melakukan hal yang sama seperti yang Kau lakukan ?. Memandikannya ketika sore tiba. Menyuapinya sambil bertanya hal-hal yang di laluinya. Menemaninya belajar dan mendongengkan cerita ketika Dia tidur ?"
Yuki tersadar ketika mendengar pertanyaan Pangeran Riana. Tampaknya Pangeran Riana telah memperhatikan Yuki dan Ferlay semenjak tadi. Selama hidupnya, Pangeran Riana tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Dia hidup dan di besarkan oleh para pelayan dan selir raja.
Pangeran Riana harus sangat berhati-hati di dalam hidupnya. Seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis. Sekali Dia salah melangkah maka akan membahayakan hidupnya.
Entah sudah berapa banyak orang yang berusaha membahayakan hidupnya. Berusaha memanfaatkannya untuk kepentingan Mereka. Pertemanan dengan para Bangsawan yang begitu kuat, tidak Dia dapat dalam satu dua tahun perkenalan. Butuh proses yang panjang untuk membuat Pangeran Riana mempercayai Mereka.
"Ferlay adalah anak dari Pernikahan Lekky dengan Camila. Pangeran pasti sudah pernah mendengar kisah Lekky dan Bangsawan Tua Argueda. Saat pertama kali Aku bertemu dengan Ferlay, Dia masih sangat kecil. Usianya sekitar tiga tahun waktu itu. Namun, ketika melihatnya Aku langsung bersumpah, Dia akan selalu mendapat kasih sayang seorang Ibu dariku" kata Yuki lirih agar tidak membangunkan Ferlay di dalam kamarnya.
"Kenapa ?"
"Aku pernah hidup tanpa sosok seorang Ayah. Pangeran juga tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang Ibu. Aku tidak ingin Ferlay merasakan apa yang pernah kualami. Dia anak yang sangat luar biasa. Begitu pengertian dan tabah"
"Lalu, bagaimana dengan anak Kita nanti ?" Tanya Pangeran Riana tiba-tiba. Membuat Yuki terdiam.
Yuki mendongak dan beradu mata dengan Pangeran Riana yang memandangnya serius.
"Apakah Kau akan membiarkan anak Kita akan merasakan perasaan yang sama seperti yang pernah Kita rasakan. Hidup tanpa orang tua yang lengkap ?"
Yuki berpaling. Menghindari tatapan Pangeran Riana padanya. Dia menggaruk lengannya yang tidak gatal. Berusaha menyembunyikan perasaaannya.
Tatapan Pangeran Riana seolah menembus jauh ke dalam lubuk hati Yuki.
"Sudah malam, selamat malam" Kata Yuki mengabaikan pertanyaan Pangeran Riana. Tanpa menunggu jawaban, Yuki segera berjalan dengan cepat. Meninggalkan Pangeran Riana.
Pangeran Riana masih berdiri tenang di tempatnya. Memandangi Ferlay yang tidur di atas ranjang dari celah pintu yang di biarkan Yuki terbuka.
Pertanyaan yang sangat sulit di jawab Yuki. Di dalam lubuk hati Yuki, Dia tidak ingin anaknya menjadi korban atas keegoisannya. Tapi di lain pihak, Yuki tidak bisa mengindahkan Pangeran Sera begitu saja.
__ADS_1
Pangeran Riana telah membuat pilihan yang begitu sulit untuknya.