Morning Dew

Morning Dew
9


__ADS_3

Kami kembali melaju menuju istana, dari Pangeran, Aku tau jika Pendeta Serfa dan teman bangsawannya yang lain datang untuk menyusul Kami. Raja memerintahkan membawa Kami hidup-hidup. Sepertinya, masalah kali ini sangat berat karena berhubungan dengan masa depan negara. Rencananya Kami akan bertemu dengan rombongan yang menjemput Kami dipertengahan jalan. Dugaan bahwa para prajurit yang menyerang Perdana Menteri adalah prajurit sendiri sudah dibuktikan. Serfa berhasil menangkap dua orang prajurit yang terhipnotis kekuatan hitam ketika mencoba menerobos kediaman Pangeran Riana untuk mencariku. Mereka bergerak diluar kesadaran. Mereka hanya ingat saat itu sedang berlatih bersama prajurit yang lain, ketika seseorang misterius yang mengenakan jubah panjang menutupi wajahnya datang. Orang itu membawa arang yang ditaburi dupa. Saat mencium aromanya, mereka semua langsung lumpuh dan tidak sadarkan diri. Setelahnya,mereka tidak ingat apa yang mereka lakukan ataupun siapa yang menyuruh mereka sama sekali.


Serfa menyimpulkan ini ada hubungannya dengan kekuatan sihir yang begitu besar. Sihir hitam yang terlarang.


Kami memacu kuda memasuki hutan yang gelap. Bulan bersinar dengan dinginnya. Aku merasakan perasaan aneh, rasanya bulu kudukku berdiri semua. Ada sesuatu yang seolah memanggilku.


Pangeran melihat kekhawatiranku. Dia memegang kepalaku, mengusapnya lembut. Dia seperti bisa membuatku mengantuk walau Aku baru bangun dari tidur sekalipun. Seolah terbius, Aku memejamkan mata.


Kuil didepanku sudah sangat tua. Batu-batunya ditumbuhi lumut. Lembab. Kuil yang tidak terawat.


Aku melihat sekeliling.Dimana Aku ?


Aku berjalan menapaki bebatuan, lantainya sebagian besar sudah rusak. Batu-batunya banyak yang pecah. Aku membuka pintu, masuk kedalam kuil. Terdengar teriakan nyaring, Aku berhenti. Teriakan kesakitan yang amat sangat. Aku mengenali suara itu.


Aku berjalan lebih cepat, mengusir ketakutanku akan tempat ini. Mencari sumber teriakan yang memekakan telinga. Akhirnya Aku menemukannya.


Di sebuah ruangan, Aku melihat Sei berdiri dengan kedua tangan terikat rantai. Tubuhnya penuh luka.


"Seiiii......seiiiiiii" teriakku. Namun seperti yang sudah-sudah Dia tidak menyadari kehadiranku. Aku mengoncangkan jeruji keras sampai berbunyi. Tapi tidak ada siapapun yang merespon. "Seeiii...tidakkk....Seiiiiii..lepaskannn Seiiii"


terdengar seseorang berbisik, Aku tidak begitu mendengar suaranya.


"Matipun Aku tidak akan mengatakan dimana Putri Yuki berada ?" teriak Sei dengan sisa tenaganya. "Keluarga Olwrendho sudah sangat baik padamu, tapi Kau malah berniat mencelakainya. Kau ini binatang"


kilau pedang yang sangat tajam muncul. Seorang bertudung berdiri membelakangiku.


"Tidakkkk Seiiiiii...tidakkk" Aku berteriak histeris.


Tanpa keraguan, orang itu mengayuh pedangnya.


Debuman keras terdengar. Aku terperangah menyaksikan saat kepala Sei terlempar keras ke tembok. Darah keluar dari lehernya. Orang itu memenggal Sei.


"TIdakkkkkkkk"


"Yukii..." Aku mengerjap bangun. Pangeran Riana mengoncangkan bahuku keras membuatku tersadar dari tidurku. Aku langsung memeluknya terisak.


Mimpi yang sangat mengerikan. Apa itu tadi. Kenapa Aku selalu memimpikan kematian orang-orang yang Kukenal. Bukan sekali dua kali bahkan saat kematian Mama Aku memimpikannya.


Kesunyian terasa datang dengan tiba-tiba.


Mereka ada disini


Aku tahu itu


Aku mengencangkan pelukanku. Tercium wangi yang seharusnya tidak ada dalam hutan. Sontak, kuda-kuda berhenti. Mereka meringkik gelisah.


Aku memandang sekeliling, wajah-wajah penjaga. Mereka tidak akan terkena mantra karena sudah dilindungi oleh Serfa, tapi tetap saja membuatku tertekan. Sudah begitu banyak nyawa melayang karena Aku. Ayah, para penjaga dan para pelayan di istana Ayah, semuanya meninggal karena Aku.


Siapa lagi yang sekarang akan jadi korban. Dadaku terasa sesak. Bayangan kematian Sei menghantamku. Aku merasa yakin itu bukan mimpi. Aku berada disana. Menyaksikan Sei dipenggal dengan sadisnya demi melindungiku.


"Kalian pergilah. Tinggalkan Aku disini" bisikku pada Pangeran. " Mereka mengincarku,jika Kalian meninggalkanku disini, Kalian akan selamat"


"Diamlah Yuki, sampai matipun Aku tidak akan meninggalkanmu" ujar Pangeran serius.


Para prajurit sudah mencabut pedangnya masing-masing. Mereka membentuk formasi melindungi.


Aku menanti dengan jantung berdebar. Akhirnya, terdengar suara gemerisik ranting yang diinjak. Dari kanan kiri pasukan kerajaan yang terhipnotis muncul. Mata mereka kosong seolah tidak berjiwa. Di tengah dahi mereka muncul simbol berwarna merah darah. Aura hitam menyelimuti sekitar.


"Serahkan gadis itu" ujar seorang prajurit pemberontak sambil menunjuk kearahku. "Maka kalian akan selamat"


"Langkahi dulu mayatku" ujar Pangeran Riana dingin.


Prajurit tadi menatap Pangeran kosong. Lalu sejurus kemudian Dia tersenyum.


"Dengan senang hati Pangeran"


Kedua pasukan mengangkat pedang, Mereka bergerak maju untuk menyerang. Pangeran Riana mengayunkan pedangnya. Dia turun dari kuda, melawan dengan tangkas setiap serangan yang diarahkan disekitarku. Denting pedang, teriakan dan bau darah menyatu. Dari atas kuda Aku dapat menyaksikan dengan jelas pertempuran ini. Darah dimana-mana. Kami kalah dalam jumlah. Sehebat apapun pasukan kami, tidak mungkin menghadapi pasukan sebanyak ini tanpa rencana. Aku menatap Pangeran, jika Dia sampai terbunuh, negara akan hancur lebur. Itu tidak boleh terjadi, jangan hanya gara-gara Aku orang lain mendapatkan getahnya.


"Yuki awas" Aku berbalik. Seorang prajurit pemberontak meloncat menerjangku hingga Kami berguling diatas tanah. Aku berhasil melepaskan diri, merangkak menggapai pedang yang tergeletak didekatku. Refleks menyabetkan pedang tersebut hingga mengenai lengan prajurit yang menyerangku. Prajurit itu tampak marah. Dia mengambil pedangnya dan mengayunkan padaku. Aku berguling menghindar. Pedang itu menancap didekatku. Nyaris sedikit saja mengenaiku.


"YUKII.....!!!"


"PUTRI YUKIII"


Teriakan nyaring memanggil namaku.


Aku beringsut mundur ketika prajurit itu berjalan mencabut pedangnya. Pangeran masih melawan tiga prajurit yang menyerangnya. Bangsawan Xasfir juga masih menerjang prajurit lain yang seolah memusatkan serangan padanya. Aku menggengam pedang erat. Aku akan kalah. Inikah akhirku ?.


Aku menutup wajahku dengan kedua lenganku ketika prajurit itu kembali menghunuskan pedangnya. Aku memejamkan mata rapat bersiap menerima kematian.


Bruuukkkk


Aku berteriak mundur ketika sesuatu menghantamku. Saat membuka mata Aku melihat prajurit yang berniat membunuhku sudah meninggal tertancap panah didadanya.


Dari belakangku melesat panah kembali yang menancap di prajurit lainnya. Seseorang menarikku. Aku mengerjap. Seorang pemuda yang menutupi rambut dan wajahnya dengan kain muncul. Dia membawa pedang. Maju menghadapi prajurit lain yang datang menyerangku. Aku ditariknya kebelakang dalam posisi melindungi. Panah-panah lain masih dilepaskan membunuhi prajurit yang memberontak.


Terdengar teriakan dan derab kuda mendekat.


Apakah masih ada lagi pasukan pemberontak ?. Aku memandang panik kesekeliling. Kita sudah kehabisan tenaga dan orang.


Ternyata itu adalah pasukan bantuan kerajaan. Pendeta Serfa datang bersama para bangsawan dan pasukannya. Mereka mengangkat pedang membantu mengamankan situasi.


"Jangan membunuh jika tidak perlu" perintah Pangeran Riana disela-sela pertempuran. "Tangkap mereka semua"


Denting pedang beradu. Pemuda didepanku terus saja melindungiku dari serangan prajurit yang datang. Aku didorong merapat kesebuah pohon besar. Tanpa sadar aku memungut kembali pedang yang tadi sempat terlepas. Ada darah mengalir dari pedang itu. Aku berdiri diam. Menyaksikan pertempuran yang sedang berlangsung. Saat Pangeran sudah bisa mengendalikan situasi. Pemuda itu berjalan didepanku. Aku seperti mengenalinya, Dia tampak familiar bagiku. Pemuda itu mengelus pipiku sebentar sebelum akhirnya berlalu pergi masuk dalam kegelapan malam.


Peperangan dimenangkan Pangeran Riana. Para prajurit pemberontak berhasil diringkus. Pangeran memerintahkan untuk memisahkan antara prajurit yang terluka dan prajurit yang tewas. Serfa merampalkan mantera yang menyadarkan para prajurit dari pengaruh sihir. Mereka tampak kebingungan. Seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur panjang.


Perlahan Pangeran datang menghampiriku. Dia melihatku sesaat sebelum kemudian melangkah pelan kearahku.


"Yuki.." panggilnya berhati-hati. Pangeran masih bersimba darah segar. "Tidak apa-apa. Kau sudah aman sekarang" ujarnya lagi.


Aku diam mengawasi Pangeran. Tidak bergeming dari tempatku berada. Pangeran menyerahkan pedangnya pada Bangsawan Xasfir.


"Kau sudah aman...sekarang...berikan pedangmu"


"Pedang ?" tanyaku binggung. Aku mengangkat kedua tanganku. Ternyata sembari tadi Aku masih mengenggam erat pedang di tanganku.


"Berikan padaku" dengan patuh Aku menyodorkan pedang itu kepada Pangeran Riana. "Bagus" ujar Pangeran Riana. Dia menerima pedangku dan langsung menyerahkan kembali kepada Bangsawan Xasfir.


"Dia mengalami shok. Lebih baik Kau tampar Dia agar kembali sadar" ujar Bangsawan Voldermon yang dibalas tatapan memprotes dari Pangeran Riana.

__ADS_1


Pangeran Riana semakin mendekatiku. Aku mundur. Binggung.


"Kau sudah aman sekarang"


Aku mengelengkan kepala. "Mereka mati karena Aku" bisikku lirih. Pangeran meraihku, meredam penolakanku. Badanku terasa bergetar, Aku menggigil. Aku menyurukkan wajah didada Pangeran. Air mataku langsung tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya.


Raja sangat marah saat mengetahui kabar penyerangan terhadap Pangeran Riana dan Diriku. Dia hampir menghukum mati semua prajurit pemberontak, tapi Pangeran mencegah karena mereka tidak berniat memberontak. Para prajurit telah disihir sehingga mereka sendiri tidak sadar apa yang telah mereka lakukan. Sama seperti keterangan prajurit yang ditangkap Serfa sebelumnya. Mereka sedang berlatih ketika seorang memakai tudung dan jubah panjang berwarna gelap datang sambil membawa arang dan dupa yang dibakar. Setelah itu mereka sama sekali tidak ingat apa yang terjadi. Tidak ada yang tahu siapa orang berjubah itu,karena dia menyembunyikan dirinya dengan baik didalam jubahnya.


Serfa telah membuat benteng mantera disekeliling istana Pangeran. Siapapun yang berada diistana tidak akan dapat dipengaruhi sihir hitam. Dan jika ada sihir hitam yang mencoba masuk akan ditangkal oleh pelindung yang dibuat Serfa.


Pagi ini Aku berjalan ditaman istana sambil berpikir. Walau Pangeran telah menambahkan penjagaan di istana, namun tetap saja istana ini masih terlihat sepi. Pangeran memang hanya mengizinkan orang-orang dekatnya saja yang tinggal didalam. Tidak sembarang pelayan dapat bekerja di istana ini.


Apa hubunganku dengan pemberontakan ini ?. Kenapa Aku begitu penting bagi mereka ?. Aku tidak merasa menyimpan rahasia negara apapun. Aku juga bukan orang penting. Aku hanya seorang gadis berusia enam belas tahun yang tidak mengerti apa itu politik atau urusan kerajaan lainnya. Aku hanya seorang gadis yang secara tiba-tiba diangkat menjadi kekasih Pangeran Riana. Tapi kenapa Aku menjadi sasaran utama mereka. Aku terus bertanya dalam hati. Namun tetap saja walau Aku sudah memikirkannya seribukalipun Aku tidak menemukan jawabannya.


"Kau ada disini" Bangsawan Voldermon tiba-tiba muncul dari balik pohon. "Aku mencarimu dikamar tapi Kau tidak ada. Tumben Riana tidak memasukkanmu kedalam sangkar. Apa Dia lupa ?"


"Untuk apa mencariku?" kataku malas untuk berdebat.


"Sebenarnya Riana yang menyuruhku kemari, Dia menyuruhku untuk menjemputmu"


Aku mengernyit panik. "Ada apa ? Apa telah terjadi sesuatu lagi ?"


"Mau berpikir apa. Bodoh. Tenanglah jangan terlalu tegang"


"Bagaimana Aku tidak tegang, setengah pelayan dirumah Ayah bahkan masih belum diketahui kabarnya sampai hari ini." Gerutuku marah.


"Kita sedang berusaha menyelidikinya. Sekarang hentikan membahas masalah itu dulu. Ayo ikut denganku. Aku tidak boleh terlambat datang sekarang"


"Kemana ?" tanyaku binggung.


"Tentu saja festival sekolah. apa Kau lupa ?"


Aku mengerjap sesaat. otakku mulai berputar.


"Ahh.." kataku ingat. Hari ini festival sekolah akan dibuka. Aku terlalu banyak berpikir sampai lupa jika hari ini festival yang kutunggu dimulai.


"Kau sudah ingat rupanya"


"Aku benar-benar lupa"


"Jadi sekarang Kau ingin pergi atau tidak ? Riana tidak bisa menjemputmu karena Dia sibuk menyambut tamu negara"


"Tentu saja, tunggu sebentar Aku akan bersiap-siap"


Kami memasuki gerbang sekolah yang disulap sedemikian rupa menjadi lebih indah dan megah. Hasil tangan para bangsawan disini benar-benar diacungi jempol. Dilapangan berkuda dekat danau, empat gerbang telah didirikan dengan sempurna. Mewakili negara masing-masing yang ikut serta dalam perlombaan.


Kemeriahan begitu terasa, gerbang sekolah terbuka lebar sehingga masyarakat dapat ikut menikmati jalannya festival.


Bangsawan Voldermon membawaku ke aula yang telah disulap menjadi ruang ganti pakaian untuk peserta festival.


"Aku harus bersiap, Kau tunggu disini" ujar Bangsawan Voldermon sambil mengambil pakaiannya. "Ingat, jangan kemana-mana. Riana akan membunuhku jika terjadi sesuatu padamu"


Aku menganggukkan kepala mengerti.


"Oke bantulah agar Aku tidak terkena masalah hari ini" katanya lagi, Dia kemudian menuju ruang berganti baju.


"Ah itu Dia" Elber datang bersama dengan dua orang putri. Mereka menghampiri ku yang duduk diam memperhatikan kesibukan sekitar. Para putri yang bertugas sebagai penari sudah bersiap. Mereka berpakaian sangat cantik dengan warna-warna cerah. Para bangsawan yang berperan sebagai prajurit juga tampak gagah.


"Apa..." kataku terkejut. "Aku tidak.."


"Sudahlah jangan banyak bicara. Ayoo" Elber menarikku paksa mengikutinya. "Pangeran juga pasti tidak akan marah. Pasanganmu hari ini Bangsawan Voldermon"


Aku didudukkan ke sebuah bangku, serentak semua putri mengelilingiku. Ada yang menata rambutku, ada yang mewarnai kukuku dan membuat lukisan dari hena ditangan dan kakiku. Ada pula yang mendandani wajahku.


"Aku tampak seperti badut" keluhku pada Elber saat Dia menyapukan bedak diwajahku.


"Tidak akan ada yang mengataimu badut jika Kami yang mendandanimu" bantahnya menolak.


Aku mengenakan hiasan kepala yang sangat berat. Elber memulaskan lipstik warna merah terang di bibirku.


"Aku tidak pernah memakai warna semerah ini" protesku Padanya.


"Sudahlah diam saja dan serahkan pada Kami"


mereka terus memolesku. Aku merasa bedak diwajahku sudah berlapis.


Selesai berdandan, Aku dibawa menuju tandu yang telah dipersiapkan. Bangsawan Xasfir bertindak sebagai panglima perang tertinggi. Ternyata tema yang dibawa Negeri Garduete adalah pernikahan kerajaan. Aku dinaikkan kedalam tandu yang diangkat oleh sepuluh orang bangsawan bertubuh kekar. Aula sudah ramai. Penuh dengan penonton yang ingin menyaksikan upacara pembuka dari empat negara.


Para puteri menari dengan gerakan dan koreografi yang indah, diiringi permainan musik dari para bangsawan. Aku menyaksikan semuanya dari atas tandu. Mereka membawaku ketengah lapangan tempat Bangsawan Voldermon-yang rupanya berperan sebagai pengantin lelakinya- menunggu.Pintu dibuka. Aku menerima uluran tangan Bangsawan Xasfir. Melangkahkan kaki keluar. Sorak penonton terdengar memekakan telinga. Mahkota yang kukenakan sangat berat, belum lagi jubah yang panjangnya hampir lima meter ini. Apa pernikahan kerajaan akan serumit ini ?.


Bangsawan Xasfir menuntunku mengikutinya. Kami menghampiri Bangsawan Voldermon yang tersenyum sumringah melihatku. Dengan gaya dibuat-buat Dia memajukan pipinya kedepanku.


"Apa" kataku binggung.


"Pilihannya hanya ada dua, Aku yang menciummu atau Kau yang menciumku"


"Apa..mana ada yang seperti itu. Ini hanya sebuah pertunjukan" protesku kesal.


"Para putri tidak memberimu arahan ? apa Kau ingin mengecewakan penonton disini"


"Cium...ciummm..ciumm" terdengar gemuruh penonton nyaring.


"Tenang saja, Riana tidak akan membunuh Kita hanya karena ini"


"Justru Aku berharap Dia membunuhmu" gerutuku. Aku mendekatkan wajahku kearah Bangsawan Voldermon dan dengan cepat menciumnnya. Para penonton berteriak histeris.


"Terimakasih," kata Bangsawan Voldermon puas. Kami melambaikan tangan bak Raja dan Ratu yang baru saja melangsungkan pernikahan. Selanjutnya Kami berjalan menuju bangku perwakilan. Pangeran Sera sudah lebih dulu berada disana bersama dua perwakilan dari negeri Humaira dan Celfana . Kemudian, Kami menyaksikan pertunjukan empat negara yang berlangsung sangat meriah dengan tema yang diusung masing-masing negara.


Setelah itu, Aku berhasil memaksa Elber melepaskan mahkota dan jubah yang kukenakan.Kami berkeliling menyaksikan pertandingan yang berlangsung di area sekolah.


Bangsawan Xasfir memenangkan pertandingan ketangkasan, Pangeran Riana memenangkan pertandingan pedang, Bangsawan Asry dia unggul telak dalam pertandingan dasar dan hukum negara, Sedangkan Bangsawan Voldermon...aku tidak menduga Dia dapat dengan mudah memenangkan perkelahian tongkat diatas kayu.Aku pikir Dia tidak bisa bertarung sehebat temannya yang lain, bisanya hanya mengodaku dan mempermainkan para gadis diluar sana. Ternyata Aku salah. Banyak pertandingan dipertontonkan sampai aku binggung yang mana yang ingin kuikuti. Setelah bertanding, Pangeran Riana menemukanku. Dia membawaku berkeliling mengantikan Elber.


"Kau mau ini?" tanyaku kepada Pangeran,menyodorkan makanan yang baru saja kubeli. Daging bakar yang begitu lezat ditusuk sedemikian rupa. Seperti sate tapi dalam bentuk sepuluh kali lipat besarnya. Dagingnya empuk gampang untuk digigit.


"Kau ini perutmu terbuat dari apa ?, biasanya putri lain akan menghindari makan banyak apalagi jenis yang begini"


Aku mencembik mendengar perkataan ,Pangeran.


"Aku sedang dalam masa pertumbuhan" kataku kesal. Pangeran meraih tanganku, mengigit daging yang kupegang.


"Bagaimana ? enak kan?" kataku tersenyum senang.

__ADS_1


Tiba-tiba Pangeran menarikku dan langsung menciumku.


"Apa yang Kau lakukan" seruku kaget sembari melepaskan diri dari pelukannya. Beberapa orang yang melihat kejadian tadi berbisik-bisik.


"Kau yang mengodaku"


"Siapa yang mengodamu. Aku sama sekali tidak pernah mengodamu" kilahku marah.


"Jadi saat di penginapan apakah tidak disebut mengoda?"


Pangeran menatapku dalam. Wajahku langsung memerah. Aku berpaling dan berjalan cepat.


Akhirnya acara perwakilan dimulai. Pangeran Sera duduk disebelahku. Aku agak terkejut ketika Dia memilih duduk didekatku. Pangeran Riana memandang kami dengan wajah masam.


Sebenarnya ini adalah acara lucu-lucuan dimana setiap perwakilan akan mendapat pertanyaan, bisa seputar masalah pribadi atau masalah lainnya. Seorang pemandu acara pria muncul, memberi salam dan sambutan yang kadang membuat orang tertawa geli.


Setelah bertanya pada perwakilan negara Humaira, pembawa acara tersebut beralih kepada Pangeran Sera.


"Baiklah, untuk Pangeran banyak pertanyaan yang diamanatkan ke Saya khususnya dari para puteri. Jika kita balas satu-satu Saya yakin sampai besokpun tidak akan selesai"


Para hadirin berseru "HHhuuuu" dengan suara nyaring.


Aku terpana saat melihat betapa antusiasnya para puteri pada Pangeran Sera. Panggung sampai terasa bergetar.


"Pada intinya, semua hadirin termasuk Saya, penasaran. Pangeran begitu tampan, secara fisik dan materi cukup sempurna. Wanita manapun bisa Pangeran dapatkan dengan mudah, tetapi kenapa Pangeran memilih sendiri ?,Tanpa selir, Tanpa kekasih.Apa Pangeran tidak mempunyai wanita yang Pangeran cintai"


Pangeran Sera tersenyum, selain tampan Dia juga lembut dan hangat.Yang paling penting Dia tidak mempermainkan wanita seenaknya,pantas banyak wanita tergila-gila padanya."Jadi Kita akan membahas pribadiku ?"


"Jangan tersinggung Pangeran, ini adalah keinginan para putri ?mereka begitu penasaran terhadap Anda?"


Pangeran berpikir sejenak.


"Tentu saja Aku memiliki wanita yang kucintai" katanya setelah terdiam beberapa saat.


Sorak riuh terdengar membahana.


"Berita yang sangat mengejutkan. Ini sangat menarik. Siapa wanita yang beruntung itu Pangeran"


"Tunanganku" riuh kembali terdengar mengetarkan panggung.


"Menarik sekali. Apa kerajaan sudah mengakuinya ?"


"Ya, Kami dijodohkan semenjak kecil oleh kedua orang tua kami. Kerajaan sudah mengakuinya sebagai wanitaku bahkan dari sebelum Kami bertemu"


"Apa gara-gara gadis ini, Pangeran menolak wanita lain. Bukankah sebagai Pangeran, Pangeran bisa memiliki banyak wanita semau Pangeran, apa gadis itu melarang Pangeran memiliki wanita lain?, apa Pangeran setuju dengan perjodohan ini?"


Pangeran mengelengkan kepala tenang. "Tidak, Aku lah yang tidak menginginkan wanita lain. Tunanganku ini, Dia adalah gadis yang Kuinginkan bersamaku. Bagiku, Dia saja sudah cukup untukku."


Para putri berseru menolak.


"Seperti apa sosok gadis yang beruntung ini Pangeran ? apa Saya pernah bertemu"


Pangeran menatap pembawa acara tersebut dengan tatapan penuh arti. "Dia gadis yang manis,gadis lugu,polos dan mengemaskan. Seorang gadis yang berpikiran lurus, Dia hanya tau hitam dan putih dalam hidupnya, tidak akan mengerti bahaya atau tidak ?, melihatnya membuatku selalu ingin melindunginya"


"Kenapa yang Dia katakan itu seperti dirimu" bisik Bangsawan Voldermon disampingku.


"Jangan bercanda, jelas Dia mengatakan tunangannya semenjak mereka masih kecil. Kenapa Kau menyangkut pautkan denganku" gerutuku lirih membalas Bangsawan Voldermon. "Gadis itu pasti gadis istimewa, Dia tidak bisa dibandingkan denganku"


"Siapa bilang, Kau juga istimewa"


"Terimakasih"


"Kau pernah bertemu dengannya" ujar Pangeran mengejutkan pembawa acara.


"Apakah benar, dimana ?"


"Disini"


"Benarkah" para putri menjerit. "Siapa ? Apa Dia ada disini sekarang ?"


Pangeran tersenyum misterius. Aku jadi penasaran siapa gadis itu yang tetap tenang menyembunyikan identitasnya sebagai tunangan pangeran. Gadis itu sangat hebat.Jika gadis biasa,pasti Dia akan mengembar-gemborkan dirinya sebagai tunangan Pangeran Sera.


"ya Dia putri di sekolah disini"


Jeritan histeris terdengar lebih kencang. Aku sampai takut panggung benar-benar akan rubuh.


Pembawa acara menunggu sampai suasana reda."Mungkin disini ada yang ingin bertanya langsung pada Pangeran ? Putri yuki anda ingin mengajukan pertanyaan ?" Agak kaget karena namaku disebut.


"Tampaknya Pangeran masih ingin merahasiakan identitas putri tersebut. Tapi beri sedikit petunjuk. Seperti apa Putri itu ?"


Pangeran diam sebentar berpikir. Dia lalu memandangku dengan tatapan yang sukar ditebak.


"Dia seperti dirimu" ujar Pangeran akhirnya.


dari ekor mata Aku bisa merasakan wajah Pangeran Riana langsung berubah menyeramkan. Aku tertawa pasrah pada Bangsawan Voldermon. Gemuruh putri terus berseru tidak setuju. Pembawa acara rupanya memahami bahwa jika Dia melanjutkan pembicaraan dengan Pangeran Sera maka kemungkinan terburuk akan terjadi. Sepertinya Dia sudah mendengar insiden antara Pangeran Sera dan Pangeran Riana tempo hari


"Baiklah Pangeran, terimakasih sudah memberikan jawaban yang sedikit mengurangi rasa penasaran Kami walau, setelah ini Kami makin menjadi penasaran. Sekarang Kita berlanjut ke Negeri Garduete"


Bangsawan Voldermon mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan penuh percaya diri. Kemudian giliranku tiba. Aku harus berhati-hati sebab putri dari Negeri Humaira yang sekarang mewakili negaranya bersamaku, Dia beberapa kali menyatakan cinta pada Pangeran Riana namun ditanggapi dingin oleh Pangeran.


"Salam kenal Putri, Saya ucapkan sebelumnya selamat atas terpilihnya Putri menjadi kekasih Pangeran. Saya dengar Pangeran memperlakukan putri dengan spesial,apakah itu benar"


"Terimakasih banyak, menjadi kekasih Pangeran adalah sebuah anugerah untukku" Kataku berakting dengan baik. Aku tidak mungkin mempermalukan Pangeran dengan menceritakan kebenaran. Putri Humaira mengangkat tangan meminta kesempatan untuk bertanya padaku.


"Menurut Putri apa yang membuat Pangeran memilih Putri, apalagi Pangeran terkenal pemilih pada wanita ?" tanya Putri Humaira sinis.


Aku berpikir sejenak. "Mungkin karena penampilanku" terdengar bisik cemohan.


"Penampilan" Putri Humaira memandangku dengan tatapan merendahkan. "Bahkan Putri masih terlihat seperti anak kecil"


"Aku tidak tahu, Aku bukan Pangeran. Jika bisa, bagaimana kalau Kita bertanya sendiri pada Pangeran. Karena sejujurnya Putri, Aku juga ingin tahu jawabannya."


Pangeran Riana tampak tersenyum angkuh.


"Kenapa Dia menyukai anak kecil sepertiku dan bukan wanita dewasa seperti Putri untuk menjadi kekasihnya.Bagiku ini juga merupakan misteri"


"Kau.." Putri Humaira ingin mengatakan sesuatu saat terdengar jeritan nyaring dari belakang panggung yang kemudian disusul jeritan lain.


Bangsawan Voldermon berdiri dan memposisikan diri melindungiku.


Jeritan yang terdengar bukan riuhan para putri terhadap Pangeran Sera atau Bangsawan Voldermon. Tapi jerit ketakutan akan sesuatu. Sebuah kengerian yang amat sangat.

__ADS_1


__ADS_2