Morning Dew

Morning Dew
139


__ADS_3

"Tunangan ?!. Jangan bermimpi. Kami tidak akan mengakui wanita ****** seperti Dia sebagai tunangan Pangeran Sera" ujar Putri lain dengan nada tinggi. "Dia tidak pantas menjadi pendamping Pangeran Sera"


"Lalu siapa yang pantas menjadi pendampingnya ?. Adakah di antara Kalian yang bisa memberitahukanku" 


Semua orang berbalik. Seorang Pemuda berambut hitam berjalan mendekat dengan tenang. Senyumnya sangat manis. Sepintas Dia terlihat seperti Pangeran Sera dalam versi yang jauh lebih muda. Umurnya hampir sama dengan Yuki.


Semua pelayan sontak membungkukkan badan untuk memberi hormat.


"Salam hormat Kami untuk Pangeran Arana"


"Salam hormat Putri Yuki. Senang sekali Kita pada akhirnya dapat bertemu" Sapa Pangeran Arana ketika sudah berada di depan Yuki. 


"Putri Yuki, Perkenalkan beliau adalah Pangeran Arana. Adik kandung Pangeran Sera" ujar Pelayan Senior memberitahukan Yuki dengan sikap takjim.


Yuki langsung membungkukkan badan membalas hormat dari Pangeran Arana.


"Salam hormat Pangeran"


"Maafkan Para Putri di sini Putri Yuki. Mereka masih belum bisa bersikap dewasa dan menerima kenyataan" ujar Pangeran Arana santai.


"Apa maksud Pangeran ?" Tanya Putri Bangsawan yang tidak terima. "Kami hanya mengatakan sebuah kebenaran. Di mana salahnya ?"


"Apa Aku harus mengingatkan, Bahwa status Putri Yuki sebagai Tunangan sah Pangeran Sera telah di akui oleh kerajaan semenjak lama. Kedudukan Dia jauh lebih tinggi daripada status Kalian. Jadi sangatlah tidak pantas jika Kalian berbicara tidak sopan kepada Putri Yuki" meskipun Pangeran Arana tersenyum hangat tapi Dia menunjukan sikap defisit kepada Para Putri di depannya.


"Dia tidak pantas sebagai pendamping Pangeran Sera" tegas Para Putri tidak mau kalah.


"Pantas atau tidaknya Putri Yuki sebagai pendamping Pangeran Sera adalah keputusan kerajaan dan Kakak sendiri. Kalian sama sekali tidak berhak menghakimi Putri Yuki. Atau Kalian meragukan penilaian Kerajaan ?" 


Para Putri terdiam. Mereka tidak bisa melawan Pangeran Arana. Meskipun Mereka sangat membenci Yuki, tapi Mereka masih berpikir logis untuk tidak membuat masalah dengan kerajaan. Nyawa keluarga Mereka akan terancam bahaya.


"Lebih baik Kalian pergi dan sudahi perdebatan ini. Jika Pangeran Sera mendengar kejadian ini, menurut Kalian Dia akan senang ?"


Pangeran Arana memandang lurus ke depan, ekpresi wajahnya sangat misterius dan sesaat Yuki seperti melihat kilat ancaman di matanya. Para Putri mundur dengan wajah kesal. Berbelok di ujung lorong tanpa berkata apa-apa. Menghilang dari pandangan.


"Terimakasih karena membantuku Pangeran" Ujar Yuki tulus setelah memastikan Para Putri telah pergi menjauh.

__ADS_1


"Apa yang Mereka bicarakan tidak perlu di ambil hati. Mereka hanya cemburu kepada Putri Yuki karena Kakak lebih memilih Putri untuk menjadi pasangannya"


Yuki diam.


"Jika Putri tidak nyaman, Putri bisa membicarakannya dengan Kakak, Aku yakin Kakak bisa segera mengatasinya"  usul Pangeran Arana kemudian ketika melihat Yuki hanya diam tidak mengatakan apa-apa.


Yuki menghela nafas sesaat. Dia mendongak menatap Pangeran Arana seolah menujukan bahwa Dia tidak terpengaruh dengan omongan Para Putri, sambil tersenyum tenang kemudian Dia berkata. "Terimakasih, tapi akan lebih baik jika Pangeran Sera tidak mengetahuinya"  


Pangeran Arana terkejut. Dia awalnya menyangka Yuki akan memanfaatkan masalah ini untuk menarik simpati Pangeran Sera. Tapi gadis itu dengan tegas menolak.


"Pangeran Sera sudah terlalu banyak memiliki beban masalah yang harus di hadapinya. Aku tidak ingin menambah pikirannya, jadi Aku mohon dengan sangat agar Pangeran dan semua yang ada di sini untuk tidak memberitahukan kepada Pangeran Sera" ujar Yuki halus. "Meskipun Kita baru pertama kali bertemu, tapi Aku mohon Pangeran bisa mengabulkan keinginanku ini"


Pangeran Arana diam. Menilai keseriusan Yuki. Gadis itu membalas tatapannya dengan sinar penuh permohonan yang tulus.


"Putri adalah gadis yang baik, Kakak sangat pandai menilai seorang wanita untuk menjadi pendamping hidupnya" Katanya kemudian.


Yuki membungkukkan kepala sopan, membalas pujian Pangeran Arana. "Terimakasih"


Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya Yuki berpamitan untuk kembali ke kamar. Para pelayan mencoba menenangkan Yuki agar tidak terpengaruh dengan kebencian para Putri. Yuki tidak mengatakan apa-apa dan hanya tersenyum menenangkan.


Sisa hari kemudian, di habiskan Yuki dengan tetap berada di dalam kamar untuk menghindari masalah. Yuki yang biasanya tidak betah berlama di dalam kamar saat di kurung Pangeran Riana, sekarang justru merasa jauh lebih nyaman ketika berada di dalam kamar.


Sentuhan halus di tangan membuyarkan lamunan Yuki. Dia mengerjap menatap ke depan. Pangeran Sera memandang Yuki lembut. 


"Apa telah terjadi sesuatu yang membuatmu susah ?" Tanya Pangeran Sera lagi lirih.


Yuki tersenyum menenangkan. Dia menggelengkan kepala pelan. Menatap Pangeran Sera bersungguh-sungguh agar kebohongannya tidak mudah di baca Pangeran Sera.


"Tidak ada. Kenapa Pangeran berbicara seperti itu ?" Tanya Yuki balik.


"Apa Kau yakin ?"


"Ya" ujar Yuki dengan nada ceria, Yuki berharap sandiwaranya berhasil.


Pangeran Sera menghela nafas. Dia tetap menggengam lembut tangan Yuki. "Maafkan Aku jarang menemanimu belakangan ini. Ada banyak hal yang harus Aku selesaikan di istana" ujar Pangeran Sera dengan nada menyesal.

__ADS_1


Yuki menggelengkan kepala. 


"Aku mengerti. Tidak perlu meminta maaf. Pangeran adalah perwaris tahtah kerajaan. Banyak tugas dan tanggung jawab yang harus Pangeran kerjakan" hibur Yuki tenang. 


Pangeran Sera merengkuh wajah Yuki dengan kedua tangannya, mendongakkan agar menatapnya. "Terimakasih" bisik Pangeran Sera lembut.


Yuki tersenyum.


Pangeran Sera mencium Yuki mesra.


"Jika ada sesuatu yang menganggumu katakan saja. Jangan di sembunyikan" 


Yuki terkejut. Pangeran Sera mengetahui kebohongan Yuki. Seolah tidak ada rahasia yang tidak dapat di bacanya dari dalam diri Yuki. Dia mampu mengetahui segala emosi yang berkecamuk di hati Yuki dengan baik.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" Kata Pangeran Sera kemudian.


Pangeran Sera menjauhkan tangannya dari wajah Yuki. Duduk tegak sambil memandang ke arah pintu. Yuki mengernyit kebingungan. Dia tidak dapat menebak siapa tamu yang di maksud Pangeran Sera. Dia tidak mempunyai seorang temanpun di sini. Semua Putri mengibarkan bendera perang padanya begitu Yuki pertama kali menginjakkan kaki ke istana Pangeran Sera.


"Siapa yang ingin bertemu denganku" Kata Yuki dengan nada waspada. 


Dia tidak mempunyai bayangan sama sekali siapa yang akan datang.


Apakah itu Pangeran Riana ?.


Yuki sangat takut ketika memikirkannya. Teringat adegan salah satu film yang pernah di tontonnya. 


Penyusup yang masuk ke dalam wilayah musuh, di bawa masuk ke istana untuk di hukum mati. 


Jantung Yuki berdebar cukup kencang. Dia berharap semua itu hanya pikirannya saja. Pangeran Sera tidak mungkin bisa sekejam itu. 


Andaikan jika benar itu Pangeran Riana, Yuki tidak yakin Pangeran Sera akan mengizinkan Mereka bertemu, apalagi sampai mengundang Pangeran Riana ke kamar pribadinya.


Yuki menghardik dirinya sendiri. Merasa konyol dengan pikiran yang menggelayutinya. Dengan cepat Dia menyingkirkan semua kekhawatirannya. Dia tidak tahu bagaimana bisa berpikir Pangeran Sera bisa berbuat kejam. Selama ini bukankah Pangeran Sera selalu bersikap lembut dan baik hati. Bahkan Yuki tidak yakin Dia bisa menyakiti seekor semut.


"Siapa ?" Tanya Yuki akhirnya. Dia tidak menyadari Pangeran Sera memperhatikan semua sikapnya. 

__ADS_1


 


 


__ADS_2