Morning Dew

Morning Dew
255


__ADS_3

"Dia adalah wanita yang telah mengkhianati negerinya. Kau tentu tidak lupa bagaimana Dia menipu Riana. Membuatnya terluka parah dan meninggalkannya begitu saja dengan menikahi Sera. Untuk apa Kau terus menerus membelanya Vold. Sadarlah wanita ****** seperti Dia tidak pantas untuk menerima belas kasihanmu" 


"Cukup Marsha. Sekali lagi Kau berkata begitu tentangnya Aku tidak akan segan menghajarmu meskipun Kau wanita"


"Menghajarmu ?. Bisa apa Kau. Statusku jauh lebih tinggi darimu. Aku ini tunangan Riana. Dan lagi semua yang Aku katakan adalah benar" teriak Putri Marsha lantang.


"Kau terlalu berlebihan menanggapi kemunculannya. Kenapa Marsha ?" Tanya Bangsawan Voldermont dingin. "Apa Kau takut padanya ?"


"Apa maksudmu ?" Tanya Putri Marsha masih bersikap tidak mau kalah.


"Kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya telah terjadi lima tahun lalu. Jadi berhentilah bersikap seolah Kau tidak tahu apa-apa dengan terus memojokannya. Dia tidak kembali untuk merebut posisimu. Atau Kau yang tidak percaya pada dirimu sendiri, karena apapun yang Kau lakukan tidak bisa membuatmu bisa di bandingkan dengannya"


Hening sejenak. 


"Apa maksud Kalian ?" Tanya Bangsawan Asry memecah keheningan yang sempat terjadi. Tercium aroma ketegangan di sana.


"Aku tidak jadi pergi. Kalian saja yang ke sana" kata Bangsawan Voldermont sambil berbalik. Mengacuhkan pertanyaan dari Bangsawan Asry. 


Dari tempatnya Yuki bisa mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia semakin rapat menempel ke tembok untuk menyembunyikan diri. Terlihat Bangsawan Voldermont menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya. 


Bangsawan Voldermont tidak berbalik meskipun berulang kali Bangsawan Asry memanggil namanya untuk kembali bersama. Meskipun Dia terlihat tenang namun Yuki bisa merasakan Bangsawan Voldermont sedang menyimpan emosi di dalam dirinya.


Yuki lega karena Bangsawan Voldermont memutuskan pergi. Tadinya Dia khawatir jika Putri Marsha terus memicunya, Bangsawan Voldermont akan kelepasan bicara dan mengatakan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu.


Garduete tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terutama Pangeran Riana. Yuki tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika sampai Pangeran Riana mengetahuinya.


"Apa yang terjadi sebenarnya, apa yang di maksud dengan Vold ?. Marsha adakah sesuatu yang Kalian sembunyikan dari Kami ?" Tanya Bangsawan Xasfir berusaha mengkonfrontasi Putri Marsha. Putro Marsha yang masih memandang kepergian Bangsawan Voldermont dengan sorot marah berbalik menatap Bangsawan Xasfir gusar. 


"Jangan tanya Aku. Aku tidak tahu apa-apa" jawab Putri Marsha sembari memalingkan wajah dengan mengatupkan rahang kuat. Menyembunyikan perasaannya.


"Dia mengatakan kejadian lima tahun lalu" ujar Bangsawan Xasfir menegaskan lagi pertanyaannya. 


"Kau percaya bualannya ?" Ujar Putri Marsha sinis. "Dia sudah mabuk. Orang mabuk banyak berbicara"


Bangsawan Xasfir berpaling pada Pangeran Riana yang sembari tadi duduk diam memperhatikan pertengkaran yang terjadi. Dia tidak terlalu terkejut ketika mengetahui Yuki berada di rumah Bangsawan Voldermont. 

__ADS_1


"Sekarang bagaimana Riana ?" Tanya Bangsawan Xasfir meminta pendapat.


"Apanya ?. Vold punya hak untuk mengundang siapapun ke rumahnya" 


"Tapi yang Dia sembunyikan adalah ****** itu" protes Putri Marsha kesal. "Apa Kau tidak khawatir Dia akan mempermainkannya. Jelas sekali Voldermont termakan oleh rayuan ****** itu. Dan Dia hanya di manfaatkan olehnya"


"Voldermont sudah cukup dewasa untuk mengatasi masalahnya. Marsha, sebaiknya Kau menjaga sikapmu jika Kau masih menginginkan pernikahan ini"


Putri Marsha terdiam.


"Voldermont adalah saudaraku. Kau ingat itu baik-baik"


"Sudahlah, masalah ini sebaiknya jangan di perpanjang. Riana Kau tahu sejak dulu, kalau Marsha dan Voldermont tidak pernah cocok. Sekarang yang harus Kita pikirkan adalah bagaimana jika nanti sampai Argueda mengetahui Voldermont menyembunyikan Yuki di rumahnya" ujar Bangsawan Xasfir menengahi.


 


 


"Sera tidak akan melakukan apapun pada Voldermont" Pangeran Riana berkata cukup yakin sehingga tidak ada yang membantahnya. Terdengar suara Gulf milik Pangeran Riana. Ibu Jaena memanggil. "Kami akan ke sana" Kata Pangeran Riana saat mengangkat panggilan Ibu Jaena. 


 


Yuki keluar dari persembunyiannya ketika Dia sudah cukup yakin semua orang telah pergi. Dengan gotai Dia berjalan kembali ke dalam kamarnya.


 


Malam harinya, saat makan malam Yuki kembali menyuarakan keinginannya untuk pergi meninggalkan rumah Bangsawan Voldermont. Bangsawan Voldermont langsung menolak keinginan Yuki. Dia memberikan berbagai alasan yang membuat Yuki tidak bisa berkutik.


Lekky sedang sibuk dengan tugas yang di berikan pendeta suci padanya. Sementara itu Pangeran Sera masih terus menyisir seluruh ibukota untuk mencari keberadaan Yuki. Dia tidak punya tempat lain untuk bersembunyi selain di rumah Bangsawan Voldermont. 


Akhirnya setelah pertimbangan yang cukup matang. Yuki mengurungkan niatnya untuk pergi dan tetap berada di rumah Bangsawan Voldermont untuk sementara waktu. Setidaknya sampai suasana kembali aman.


 


 

__ADS_1


 


Yuki selesai berdoa di dalam kuil. Ketika Dia akan kembali ke rumah. Dia menyadari hujan mulai turun. Dengan terburu-buru Yuki berlari sebelum hujan semakin deras.


Beruntung Dia berhasil sampai di lorong rumah ketika hujan deras mengguyur. Yuki mengibaskan rambut dan pakaiannya dari air hujan yang sempat mengenainya. Dia memutuskan untuk langsung kembali ke dalam kamar dan berganti pakaian. Bangsawan Voldermont belum kembali. Dia sedang ada pekerjaan yang harus di lakukannya.


Ketika di pertengahan jalan menuju ke kamar. Di lorong yang sunyi. Yuki terkejut ketika Dia berpapasan dengan Pangeran Riana. 


Apa yang di lakukannya di sini ?


Dia berjalan mendekat dari ujung lorong ke arah Yuki seorang diri. Yuki langsung menyingkir dan menundukan kepala ketika Pangeran Riana akan melewatinya.


 


Terdengar suara dentingan yang cukup keras saat nampan yang di pegang Yuki jatuh ke lantai. Isinya berhamburan di sekitar Yuki. Yuki meringis kesakitan saat punggungnya menghantam dinding di belakangnya dengan cukup keras.


Pangeran Riana berdiri tepat di depan Yuki. Jarak Mereka cukup dekat sampai Yuki bisa mencium aroma tubuh Pangeran Riana yang terasa familiar di hidung Yuki. Membuat Yuki terkejut, setelah sekian lama Dia bahkan masih mampu mengenali aroma tubuh Pangeran Riana. 


Kedua tangan Yuki di cekal kuat di tembok. Membelenggu Yuki sedemikian rupa sehingga Dia sulit untuk bergerak. 


"Apa yang Pangeran lakukan, lepaskan Aku" pinta Yuki cemas. Dia berusaha memberontak untuk melepaskan diri. Tapi Pangeran Riana tidak mau melepaskan Yuki dan malah semakin mempererat genggamannya. 


Yuki khawatir jika ada orang yang melihat Mereka. Pasti akan menimbulkan kesalahpahaman yang membuat masalah semakin runyam.


Cekalan Pangeran Riana semakin kuat. Yuki meringis kesakitan. "Sakit" kata Yuki tak tahan. Seolah Pangeran Riana akan menghancurkan Yuki dengan cara meremasnya kuat.


"Katakan padaku, Apa yang coba kalian sembunyikan dariku ?" Tuntut Pangeran Riana dingin. 


Yuki terkejut. Dia menatap mata Pangeran Riana yang tajam melihatnya. Yuki merasakan banyak emosi yang terpancar di mata Pangeran Riana. 


"Aku tidak mengerti apa yang sedang Kau bicarakan. Lepaskan Aku" pinta Yuki berusaha menghindari pembicaraan. 


"Jangan mengelak, apa yang Kau dan Vold coba sembunyikan dariku ?" Tanya Pangeran Riana lagi dengan lebih tegas. 


Yuki mengerjap sesaat. Kepanikan menguasainya tapi Dia berusaha untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Pangeran Riana sudah curiga dengan kejadian lima tahun yang lalu. Dia tidak boleh mengetahui masalah ini. Yuki sudah sangat hafal sifatnya.

__ADS_1


 


__ADS_2