
Yuki menyadari Dia dalam masalah besar. Jadi Dia hanya diam, sambil berdoa dalam hati agar Dia beruntung malam ini.
Setibanya di istana, Yuki melihat Rena dan beberapa pelayan mengintip dari kejauhan. Wajah Mereka sangat ketakutan, jelas Mereka sudah di marahi oleh Pangeran Riana sebelumnya.
Tidak ada satupun yang berani mendekat. Mereka memilih mencari aman dengan menghindar sejauh mungkin.
Pangeran Riana masih diam. Dia belum mengatakan apapun semenjak meninggalkan lokasi sampai tiba di istana. Ini jauh lebih menakutkan daripada biasa. Bangsawan Dalto berhasil memancing kemarahan Pangeran Riana sampai tidak ada seorangpun yang bisa memadamkannya sekarang.
Yuki berjalan lebih dulu, sementara Pangeran Riana mengikutinya dari belakang.
Ketika akhirnya Mereka tiba di kamar. Tempat yang paling Yuki ingin hindari sekarang. Tapi Dia sadar, jika Dia melawan, akan menambah masalah. Dengan berat hati Yuki masuk ke dalam kamar. Berharap, Pangeran Riana tidak terlalu menghukumnya kali ini. Dia tidak di temukan bersama Pangeran Sera. Kebersamaannya dengan Bangsawan Dalto juga merupakan kebetulan yang tidak di sengaja. Yuki bisa beralasan Dia ingin mencari udara segar seorang diri untuk menenangkan pikiran.
Pangeran Riana menutup pintu di belakangnya. Para penjaga juga ikut melarikan diri semenjak tadi daripada mencari api. Suasana menjadi sepi. Hanya ada Mereka berdua.
Pangeran Riana berjalan acuh melewati Yuki yang berdiri mematung di depannya. Dia menghempaskan badannya di sofa tinggi yang di letakkan dekat cendela ruang kerjanya. Yuki meremas roknya, keringat dingin mengalir di keningnya.
Pangeran Riana mengambil gelas anggur di depannya, mengisinya sampai penuh kemudian meminum habis isinya dalam sekali teguk. Yuki hanya diam memandanginya. Dalam hati Yuki, Dia berharap Pangeran Riana melupakan keberadaanya di kamar itu.
"Puas berkencan dengan Dalto ?" Tanya Pangeran Riana akhirnya setelah aksi bisu yang di lakukannya.
Yuki menghela nafas, berharap semua akan selesai dengan baik tanpa ada pertengkaran atau tragedi penyerangan.
"Sudah ku bilang, Aku bertemu dengannya tanpa sengaja di jalan. Sesaat sebelum Kau datang. Dia tidak ada hubungannya dengan pelarianku kali ini" jelas Yuki dengan nada bersalah.
"Benarkah ?" Tanya Pangeran Riana tidak puas. "Lalu kenapa Aku melihat Kalian berpelukan mesra sekali ?"
"Kami.." Yuki menautkan alis dengan wajah binggung. Semua kata yang sudah di susunnya seolah menghilang entah kemana. "Itu tidak seperti yang Kau pikirkan" Katanya akhirnya.
__ADS_1
"Pikirkan apa ?, Kenyataan bahwa Kau masih mengejarnya meskipun statusmu sudah sah sebagai wanitaku ?" Tuduh Pangeran Riana membuat Yuki terpancing emosi. "Atau Kau juga bisa menceritakan betapa senangnya Kau bisa menghilang bersama dengan Sera sebelumnya ?"
"Tidak seperti itu kejadiannya" Bantah Yuki cepat.
"Kenapa saat Kau menghilang, Dia juga tidak bisa di temukan di manapun. Apakah Kau juga bisa mengatakan itu hanya sebuah kebetulan ?" Desak Pangeran Riana tak puas.
Yuki mengepal kedua tangannya. Berusaha menahan emosi yang sudah naik ke kepala. "Ada apa denganmu ?, Sikapmu yang sekarang seperti orang yang sedang cemburu"
Pangeran Riana langsung berdiri dengan kasar, menghampiri Yuki yang masih berdiri di dekatnya. Tanpa peringatan, kedua tangannya mencengkram bahu Yuki. Mendorongnya ke belakang sehingga punggung Yuki menabrak dinding dengan keras.
"Cemburu ?" Ujar Pangeran Riana dingin. "Aku bahkan ingin membunuhmu agar tidak ada laki-laki lain yang mendekatimu lagi"
Yuki meronta mencoba melepaskan diri. Sepanjang jalan kembali ke istana Pangeran Riana,Yuki menghibur dirinya untuk siap menghadapi kemarahan Pangeran Riana. Tapi, nyatanya Dia tidak akan pernah siap. Pangeran Riana selalu mampu mengintimidasinya dengan mudah.
"Aku cemburu melihatmu dengan Dalto, Aku cemburu ketika memikirkanmu bersama Sera. Aku cemburu pada setiap laki-laki yang berusaha mendekatimu. Apa Kau puas sekarang !!" Pangeran Riana berteriak penuh amarah.
Yuki mencoba melepaskan diri. Tapi gagal. "Lepaskan Aku" pinta Yuki ketika kesekian kalinya Dia tidak berhasil bebas dari cengkraman Pangeran Riana.
"Lepaskan Aku.." Kata Yuki memohon. Dia merasa tidak nyaman dengan sikap mengintimidasi yang di tunjukan Pangeran Riana kepadanya. Pangeran Riana menolak melepaskan Yuki, Dia justru semakin kuat menahan Yuki yang memberontak untuk tetap di tempatnya. Tenaga Yuki bukan lawannya. Dia bisa mematahkan perlawanan Yuki dengan mudah. "Kau gila, lepaskan Aku" teriak Yuki akhirnya sambil terus memberontak.
"Melepaskanmu, jangan mimpi. Matipun Aku tidak akan melepaskanmu" balas Pangeran Riana tidak mau kalah.
Keduanya saling berpandangan dengan emosi masing-masing. Sampai Pangeran Riana menarik lengan Yuki kuat, membawanya masuk ruang tidur. Yuki berusaha melepaskan cekalan Pangeran Riana, tapi gagal. Ketika Mereka sampai di dekat tempat tidur, Pangeran Riana langsung melemparkan Yuki ke atas tempat tidur.
Tubuh Yuki berayun sesaat, setelah berhasil menguasai diri Dia segera berbalik.unfuk berdiri. Tapi terlambat, Pangeran Riana sudah berada di atas Yuki. Yuki mencoba mendorong Pangeran Riana menjauh, tapi kedua tangannya berhasil di cekal ke atas tempat tidur. Pangeran Riana berhasil mengunci tubuh Yuki hingga Dia tidak dapat bergerak.
Tatapan mata Pangeran Riana bagai seekor elang yang telah berhasil menangkap mangsanya.
__ADS_1
Yuki menelan ludah dengan kalut. Jantungnya berdebar kencang. Tercium aroma bahaya dari dalam diri Pangeran Riana. Membuat Yuki semakin takut. Posisi Mereka sangat berbahaya. Pangeran Riana menggunakan berat tubuhnya untuk menghalangi gerakkan Yuki.
Keduanya kembali bertatapan dari jarak yang cukup dekat.
"Kenapa Kau melakukan ini padaku ?" Bisik Yuki tertahan.
"Aku sudah sering memperingatkanmu apa resikonya jika melawanku" jawab Pangeran Riana tegas tanpa keraguan. Dia mengelus pipi Yuki dengan tangannya yang bebas, sementara satu tangan yang lain masih mencekal kedua tangan Yuki di atas kepala.
Pangeran Riana menatap Yuki dengan sorot aneh yang membuat Yuki merasa tidak nyaman. Sorot seorang pria dewasa kepada wanita dalam konteks yang paling intim.
"Kau adalah wanitaku, hatimu, tubuhmu dan nyawamu adalah milikku"
"Kenapa Kau terus memaksaku menjadi milikmu sedangkan Aku sendiri tidak berminat dengan semua posisi yang Kau janjikan. Bahkan Aku sama sekali tidak mencintaimu" kata Yuki cepat.
Ada kilat aneh di mata Pangeran Riana yang membuat Yuki menyesali perkataannya.
Yuki diam menyesali kesalahannya. Dia telah mengucapkan sesuatu yang salah, sesuatu yang seharusnya tidak boleh di katakan meskipun dalam kondisi normal. Sesuatu yang akan di sesalinya seumur hidup.
Sirine tanda bahaya meraung-raung di kepala Yuki. Memberi peringatan agar Yuki tidak menyulut kemarahan Pangeran Riana.
Tapi Yuki telah terlanjur melangkah, Dia tidak bisa mundur lagi. Sekarang atau tidak selamanya. Jadi Yuki mencoba membuang sifat pengecutnya dan memberanikan diri mengutarakan kebenarannya meski itu menyakitkan.
Yuki berharap Pangeran Riana akan memahaminya.
"Aku tidak bisa mencintaimu. Di hatiku sudah ada orang lain. Jadi biarkan Aku mohon lepaskanlah Aku. Biarkan Aku pergi"
Pangeran Riana nyaris kehilangan kendali. Luapan emosi memenuhi setiap rongga di tubuhnya. Membakar amarahnya dengan cepat.
__ADS_1
Cengkraman di kedua pergelangan tangan Yuki semakin erat.