
"Ya...Ya...Tentu...Aku akan menemanimu" kata Bangsawan Voldermont balas menggengam tangan Yuki.
Keringat dingin mengalir di kening Yuki. Karena Bangsawan Voldermont yang menemani Yuki melahirkan. Para perawat membuat tirai penutup yang menutupi tubuh bagian bawah Yuki.
Rasa sakit terus menyerang Yuki. Yuki berteriak setiap perasaan sakit itu menghantam. Tulang-tulangnya seolah di patahkan dari dalam. Meskipun para perawat mengajari Yuki mengatur nafas dan sebisa mungkin tidak berteriak ketika rasa sakit menyerangnya. Agar tidak membuat otot di dalam *********** ikut tegang yang memperlama proses pembukaan dan juga resiko Yuki akan kehabisan tenaga ketika harus mengejan nanti. Tapi Yuki tidak bisa. Bukan karena tidak ingin. Yuki merasa jika Dia tidak berteriak, Dia justru akan merasa stress karena rasa sakit yang terus menghantamnya ke segala arah.
Yuki tidak punya kesiapan mental untuk melahirkan. Dia juga tidak tahu apakah Dia bisa melahirksn bayinya dengan selamat. Yuki hanya bergerak sesuai instingnya.
Yuki tidak tahu harus bagaimana. Berbaring miring ke kiri sambil menahan setiap sakit yang mengoyak tubuhnya dari dalam. Beberapa perawat mencoba memberi Yuki makanan. Tapi Dia justru memutahkan semuanya karena stress yang di hadapinya.
Bangsawan Voldermont terus menemani Yuki dengan sabar. Dia sengaja melarang semua orang untuk memberi kabar pada Pangeran Sera dan Pangeran Riana yang masih berada dalam medan pertempuran.
Dua belas jam berlalu.
Dua orang perawat mengangkat kedua kaki Yuki dan memposisikan Yuki sedemikian rupa. Yuki yang sudah lemas tidak berdaya tahu, anaknya akan segera lahir. Jadi Dia terus menyemangati dirinya sendiri untuk tidak menyerah dan bertahan.
"Putri, fokus dan ikuti petunjuk Kami. Kepala Bayi sudah terlihat. Kami akan membantu Putri sebisa mungkin tapi semua keberhasilan ini tergantung pada Putri"
Yuki menganggukan kepala. Keringat sudah membasahi tubuhnya.
Dia mulai mengejan mengikuti instruksi para perawat yang menemani. Menggengam erat tangan Bangsawan Voldermont yang berada di samping Yuki. Yuki sempat kehabisan nafas ketika mengejan. Tapi saat mengetahui anaknya sudah berada setengah jalan. Dia mengumpulkan semua sisa tenaganya, dan mengejan dengan kuat menggunakan tenaga terakhirnya.
"Aaaa..."
Yuki merasa sensasi licin di kemaluaannya ketika kepala bayinya keluar. Seketika semua rasa sakit di dalam perutnya yang di rasa lebih dari dua belas jam lamanya menghilang. Berganti dengan perasaan lega yang tidak dapat di ucapkan. Badan Yuki terasa lemas tanpa daya. Dua orang perawat membawa bayi Yuki ke sebuah meja yang telah di alasi kain dengan raut cemas. Terus menepuk-nepuk bayi Yuki yang berwarna putih pucat. Diam tidak menangis. Membuat Yuki menjadi panik. Dia langsung menggoyangkan tangan Bangsawan Voldermont dengan tatapan mengiba. "Lihatlah Nara..." Pinta Yuki lirih.
Beberapa hari terakhir, Yuki sudah memikirkan nama yang baik untuk bayinya. Dia mengambil kata terakhir dari nama Pangeran Riana dan Pangeran Sera.
Nara..
Na dari Pangeran Riana.
Dan Ra dari Pangeran Sera.
__ADS_1
Yuki berharap dengan kehadiran Nara dapat menyatukan kedua Pangeran itu agar tidak saling bermusuhan untuk kedepannya. Terutama ketika Yuki mati nanti.
Bangsawan Voldermont menganggukan kepala. Dia baru akan beranjak ketika terdengar tangisan yang cukup kencang dari Nara.
"Selamat Putri Yuki, Pangeran kecil kita sangat tampan dan semua anggota tubuhnya normal"
Yuki tertegun sejenak. Kemudian, air matanya tumpah. Dia mendengar tangisan bayi yang paling merdu untuk pertama kalinya. Suara terindah yang pernah Yuki dengar sebelummya. Yuki mengulurkan tangannya.
"Aku ingin melihatnya" bisik Yuki lagi sambil menahan perasaan haru di dada.
Perawat yang menggendong Nara mendekati Yuki. Bangsawan Voldermont menjauh untuk memberi ruang Yuki dengan anaknya. Dengan lembut, Perawat yang lain membantu membuka kancing baju Yuki dan meletakan Nara ke dada Yuki.
Secara alami Nara menggerakan kepalanya mencari ****** Yuki. Yuki sedikit berjengit ketika Nara mulai mengisap putingnya. Rasanya aneh dan sedikit sakit.
"Pangeran Nara harus sering menghisap ****** Putri agar asi Putri keluar. Terutama asi pertama. Dia sangat bagus untuk ketahanan tubuh Pangeran, jangan sampai terlewatkan"
"Aku mengerti" kata Yuki sambil tersenyum lembut pada Nara di dekapannya.
"Anakku...Nara..." Bisik Yuki sambil mencium kening bayinya.
Pangeran Riana baru saja turun dari kuda ketika utusan Bangsawan Voldermont dan Tabib Yandha datang menghampirinya. Semenjak pagi perasaan Pangeran Riana tidak tenang. Dia terus memikirkan Yuki selama di pertempuran. Untunglah, semua sudah berakhir dan kini Dia bisa pulang untuk melihat Yuki. Sementara itu di dekatnya, Sera juga baru saja tiba dan sedang mengikat kudanya.
Meskipun Mereka berdua tidak saling menyapa. Tapi Mereka juga tidak saling bersitegang ketika bertemu. Keduanya sudah melihat pertempuran yang terjadi dan tahu, jika Mereka saat ini terus meributkan masalah pribadi Mereka. Mereka justru akan membuat pepecahan yang menggagalkan semua misi. Riana tidak ingin Yuki sampai harus terlibat untuk melepaskan segel suci.
Jadi Dia menahan perasaan dan memutuskan akan menyelesaikan dengan Sera ketika pertempuran telah berakhir nanti.
"Pangeran.." para utusan datang sambil memberi hormat. Mereka sudah cukup lama menunggu kedatangan Pangeran Riana dan Pangeran Sera.
__ADS_1
"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana sambil melepaskan topeng baja yang di kenakannya.
"Putri Yuki baru saja melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat"
Pangeran Riana terdiam sejenak. Kemudian ketika kesadarannya kembali. Dia langsung berlari dengan cepat. Menuju kamar yang telah di persiapkannya untuk Yuki.
Terdengar suara pintu di buka dengan keras. Membuat semua orang yang berada di dalam berpaling.
Yuki sedang bersandar di tumpukan bantal sambil menggendong Nara yang telah di bersihkan dan di beri pakaian. Wangi Nara sangat enak. Yuki senang sekali menciumnya sambil mencoba memberi putingnya pada Nara meskipun Asinya belum keluar. Aroma yang di miliki Nara adalah aroma khas yang dimiliki bayi.
Meskipun telah memeluk Nara, Yuki masih tidak percaya. Bayinya sangat tampan. Membuat Yuki jatuh hati ketika pertama kali melihatnya.
Pangeran Riana langsung masuk ke dalam kamar. Bangsawan Voldermont yang masih berada di dalam ruangan berjalan cepat menghampirinya.
"Selamat Riana, Kau telah resmi menjadi seorang ayah sekarang" ucapnya tulus.
Pangeran Riana diam. Dia melangkah perlahan mendekati Yuki dan anaknya. Rasanya Dia tidak percaya apa yang di lihatnya.
Seorang bayi laki-laki yang sempurna.
Tangan Pangeran Riana terulur seolah ingin menggapai Nara. Tapi Dia terlihat canggung. Kemudian matanya beralih menatap Yuki. "Apa Kau baik-baik saja ?"
"Ya.." bisik Yuki lirih.
Pangeran kembali terdiam. Dia terus memandangi Nara. Yuki melepaskan putingnya. Dan berkata kepada Perawat dengan tenang. "Berikan pada Pangeran Riana"
Perawat menganggukan kepala dan langsung mengangkat Nara dari gendongan Yuki.
__ADS_1
"Selamat Pangeran, Pangeran kecil telah lahir dengan selamat. Ibunya juga sehat" ucap perawat sambil menunjukan Nara pada Pangeran Riana. Yuki ingin tertawa saat melihat betapa kakunya Pangeran Riana ketika menggendong Nara. Perawat dengan sabar mengajari Pangeran Riana bagaimana menggendong seorang bayi.